
Kali ini Lian membawa Aleena ke arah Cipanas Bogor. Roda AUDY Q7 terus berputar menuju Bogor, Sesekali Lian mengusap rambut dan pipi milik Aleena.
Lian menghentikan laju mobilnya di sebuah Villa milik keluarganya. Lian membunyikan klakson agar penjaga Villa membuka pintu pagarnya.
Terlihat Mang Diman, membuka pintu gerbangnya. Lalu Lian memasuki mobilnya ke garasi.
"Makasih Mang" Ucap Lian tersenyum.
"Sami-sami Mas" Balas Mang Diman.
"Yuk masuk" Ajak Lian pada Aleena sambil merangkul pundak Aleena.
Aleena melihat sekelilingnya, Villa yang bersih dan begitu mewah.
"Mas Lian, datang gak kasih kabar?" Ucap Bik Elis sambil tersenyum.
"Lian gak lama ko Bik, cuma mampir sebentar kebetulan lewat sini" Jawab Lian.
"Bibik siapkan minuman dulu Mas" Ucap Bik Elis.
"Bik, Lian mau Wine. Bawain ke kamar Lian yah" Ucap Lian.
"Baik Mas,,," Ucap Bik Elis melangkah menuju dapur.
Lian membawa Aleena ke kamar, Lian membuka Sliding door untuk duduk di Balkon kamarnya.
Lian memeluk Aleena dari belakang, aroma parfum Aleena sudah menyatu dengan tubuh milik Aleena.
Tok,,, Tok
Suara ketukan pintu, Bik Elis masuk membawakan minuman untuk mereka dan beberapa Snack.
"Maaf Mas, cuma ada ini aja" Ucap Bik Elis.
"Gapapa Bik, makasih" Ucap Lian.
Bik Elis melangkah meninggalkan kamar.
Lian membuka tutup botol Wine Lalu menuangkan kedalam gelas.
Lian mulai meneguk wine yang berada di tangannya.
Aleena menatap Lian.
"Kamu mau?" Ucap Lian sambil mengarahkan gelas ke arah Aleena.
Aleena menggelengkan kepalanya.
"Aleena, Orang Tua ku sudah kembali" ucap Lian membuka obrolan.
"Ohh yaa, pasti kamu senang dong. Bisa kumpul lagi" seru Aleena.
Lian tersenyum lalu mengusap rambut milik Aleena.
"Buat Aku ada atau tidak ada mereka sama aja" Ucap Lian.
"Heeiii, kamu gak boleh kaya gitu" Ucap Aleena sambil memegang pipi Lian.
"Papa minta Aku Back up Anak Perusahaan nya," Lian mulai bercerita.
"Good , Aku harap ini awal yang baru untuk kamu" Ucap Aleena semangat.
"Papa juga bilang akan buka jalur di London " Ucap Lian.
"Deeggg ... " Jantung Aleena berdetak kencang.
"Aku masih ragu, apa Aku bisa." Ucap Lian.
"Sementara mereka berharap banyak sama Aku" Lanjut Lian.
"Jangan kecewakan mereka. Ini saat yang tepat untuk kamu tunjukan sama mereka kalo kamu mampu" Aleena memberi saran.
"Aku belum paham Aleena" ucap Lian
"Heeiii, semua butuh waktu dan proses" Ucap Aleena.
"Papa kamu mungkin dulu sama kaya kamu, dia banyak belajar dan sampai sukses seperti sekarang"
__ADS_1
Ucap Aleena panjang lebar.
"Aku support kamu, dan selalu berdoa untuk kamu" ucap Aleena lagi.
Lian memeluk Aleena, lalu menggigit lembut hidung mancung milik Aleena.
"Awww,,, sakit Lian" keluh Aleena.
"Ucapan kamu bikin Aku gemes" ucap Lian.
"Thanks, kamu yang udah buat Aku berubah" Ucap Lian.
"Asal kamu Bahagia, aku pasti jauh lebih bahagia" bisik Aleena dalam hatinya.
Sambil menatap wajah Lian lalu mengusap rambut Lian.
"Aku udah minta ijin sama Orang Tua kamu, kita pulang telat " seru Lian nakal.
"Serius ?" Aleena terkejut.
"Lucu ya, masa mau nyulik ijin dulu" ucap Lian lalu tertawa.
"Aku bingung kenapa mereka begitu percaya sama kamu, padahal sebelumnya Pulang malam aja mereka khawatir" ucap Aleena heran.
Lian hanya tertawa.
"Boleh Aku sharing sedikit?" Ucap Lian. Aleena mengangguk pelan.
"Mungkin kamu udah tau dari Bik Nina tentang Aku, keluarga ku, dan juga Raya" ucap Lian lagi.
"Deegg,,,"
jantung Aleena bergetar.
"Aku memang tidak dekat dengan orang tua ku, sejak kecil Aku dan Diaz di besarkan oleh Bik Nina" Lian mulai bercerita. Kali ini Aleena menjadi pendengar yang baik untuk Lian.
"Aku tau, mereka sibuk dengan Bisnisnya supaya keluarga kami tidak kekurangan. Tapi semua itu bukan tentang materi, tapi kasih sayang mereka" Lian masih bercerita.
"Lalu, Raya dan keluarga nya datang menempati rumah di depan rumah ku. Papa Raya memang selalu berpindah tempat tinggal karena pekerjaan nya" Lian terus bercerita.
"Hari-hari ku selalu bersama Raya hingga kami dewasa, Aku bahagia saat itu. Raya sangat dewasa kadang Raya bersikap seperti seorang Ibu. Sampai akhirnya aku jatuh hati pada Raya, dan Aku selalu berdoa agar Raya dan keluarganya stay di Jakarta" Lian terus bercerita.
"Raya tidak pernah bertanya tentang perasan Ku terhadap nya, Raya benar-benar pergi dan melupakan Aku" Lian tertunduk.
Aleena memeluk Lian, agar Lian sedikit tenang.
"Hari-hari ku semakin sepi, di tambah Diaz adik ku memutuskan pergi dari rumah memilih Kuliah di Belanda" Ucap Lian.
"Aku tau Diaz juga butuh kasih sayang dari orang tua kami, Diaz lebih memilih mencari kesenangan di luar rumah.Dan akhirnya jadilah Sikap Aku kaya gini" cerita Lian panjang lebar.
"Aku lebih suka menjauh dari keramaian" Ucap Lian lagi sambil bersandar di lengan Aleena.
"Mmmm,,, dan akhirnya jadilah sosok Si Gunung Es" Goda Aleena sambil menarik hidung Lian lalu beranjak dari duduknya.
"Dasar kamu yahh,,," ucap Lian sambil mengejar Aleena yang berlarian kecil masuk kedalam.
Lian meraih Aleena lalu memeluknya dari belakang, Aleena membalikan tubuhnya menghadap Lian. Lama mereka saling bertatapan, Lian merapihkan rambut mereka milik Aleena.
Lian mengangkat dagu milik Aleena, bibir Lian mendarat lembut di bibir Aleena. Aleena menyambutnya dan membalas kecupan demi kecupan.
Lian merebahkan tubuh Aleena di atas kasur, begitu juga Lian merebahkan tubuhnya di sebelah Aleena. Lian membelai pipi Aleena menatap mata Aleena begitu dalam.
Lian kembali mengecup lembut bibir Aleena, Lian menghujani Aleena dengan kecupan. Dari leher, hingga belahan dada milik Aleena.
"Lian" bisik Aleena lembut sambil mengeratkan pelukannya.
"Permainan kita belum selesai Sayang" bisik Lian nakal.
"Jangan lakukan itu Lian, Aku takut" pinta Aleena lembut. Aleena melepaskan pelukannya, Aleena beranjak dan duduk di tepi tempat tidur.
"Kamu kenapa?" Ucap Lian sambil memeluk Aleena.
"Aku takut, ini belum saatnya Lian" ucap Aleena menatap Lian.
"Sorry, harusnya Aku gak lakukan ini sama kamu" ucap Lian sambil mengecup kening Aleena.
Aleena terdiam, lalu bangun dari duduknya. Kembali menuju balkon.
__ADS_1
"Are you ok?" Ucap Lian memeluk Aleena dari belakang.
"I'm Good" Jawab Aleena Membalikan tubuhnya agar bisa menatap wajah Lian.
"Aku cuma belum terbiasa dengan hal-hal kaya gitu" Ucap Aleena menjelaskan.
"I'm so sorry" Ucap Lian menyesal.
Aleena memeluk Lian lalu mengecup kening Lian.
"Hmmm ,,, kamu tau?. Pertama kali Aku melakukan itu sama Raya. Karena Aku pikir dengan cara itu kami tidak akan terpisah. Tapi malah sebaliknya Raya benar-benar pergi dan menghilang ,,,," Ucap Lian tertunduk.
Aleena sedikit terkejut dengan kejujuran Lian, ada rasa kecewa. Kenapa Lian berani melakukan hal itu dengan Raya di saat usia mereka belum cukup.
Pantas saja Lian benar-benar tidak bisa melupakan Raya, karena separuh hatinya bersama Raya.
"Kamu marah? Aku cuma mau jujur sama Kamu agar kamu tau siapa Aku" Ucap Lian.
"Aku gak marah, cuma sedikit terkejut aja" Ucap Aleena tenang.
"Setelah Aku dengar dari Raya kalo Keluarganya akan pindah ke London. Malam itu Aku melakukan bersama Raya. Saat itu Aku dengan pedenya Raya akan terus bersama Aku. Karena hubungan kami sudah terlalu jauh. Dan bodohnya Aku malah punya ide gila akan membawa Raya pergi jauh ,,, " Cerita Lian.
Aleena mencoba tenang dan menjadi pendengar yang baik untuk Lian.
"Setiap harinya kami selalu melakukan itu, kamu menikmatinya bersama. Karena kami bosan dengan suasana kamar ku. Akhirnya Raya putuskan untuk melakukan di rumahnya. Saat itu orang tua Raya tidak dirumah " Lian masih bercerita sambil meneguk wine yang ada di tangannya.
"Tapi sialnya Orang Tua Raya tiba-tiba pulang, dan kami lupa mengunci pintu. Murkalah orang tua Raya. Saat itu juga kamu jadi sulit bertemu" Lian terus bercerita.
"Terakhir Aku melihat Raya akan pergi meninggalkan Jakarta dari dalam kamar ku. Aku melihat wajah Raya begitu sedih" Ucap Lian kesal.
"Ini semua salah Aku, kalo aja kami gak melakukan itu mungkin Raya gak akan pergi " Ucak Lian menyesal.
"Kamu melakukan itu apa gak, bukannya Raya akan tetap pergi?" Ucap Aleena.
"Iya benar. Tapi hubungan kami pasti akan baik-baik aja kalo aja orang tua Raya tidak melihat apa yang kami lakukan" Jelas Lian.
Aleena kembali diam, sudah tidak bisa berkomentar apa-apa lagi.
"Kamu takut? Setelah tau ini semua ?" Tanya Lian menatap wajah Aleena.
Aleena membalas tatapan ke arah Lian.
"Aku harap kamu jangan pergi yahh ,,, Raya pergi meninggalkan Aku" Ucap Lian sambil memeluk Aleena.
"Sssstttt ,,,, " Ucap Aleena sambil meletakkan jari telunjuk pada bibir Lian.
"Aku gak akan kemana-mana, Aku janji " Ucap Aleena menenangkan Lian.
"Thank you so much ,,, " Ucap Lian.
"Sekarang boleh Aku cerita? " Tanya Aleena.
Lian mengangguk pelan.
"Dari awal Aku liat kamu, dan Aku nyapa kamu tapi kamu gak perduli. Bukan buat kesal atau sakit hati, malah makin penasaran sama kamu" ucap Aleena.
"Aku tau waktu itu kita selalu berpapasan di koridor, kamu selalu senyum dan menyapa Aku. Tapi Aku malah pergi dan gak perduli sama kamu. Kalo ingat itu Aku merasa bersalah" Ucap Lian menyesal.
"Aku pelajari tiap harinya, kalo kita ketemu di kampus. Sebelum dan sesudah habis kelas kamu selalu datang ke danau belakang kampus kita" Ucap Aleena.
"Dan feeling Aku gak salah, ada yang kamu tunggu... " Ucap Aleena.
"Kamu juga harus tau, Aku tuh salut sama kamu gak ada nyerahnya. Dan akhirnya Aku cari tau tentang kamu ,,, " Ucap Lian jujur.
"Really ... ?" Ucao Aleena terkejut.
"Yup ,,, Dalam hati Aku berpikir Kamu tuh tangguh dan beda gak kaya kebanyakan cewek-cewek di kampus ini. Yang takut sama Si Gunung Es" Ucap Lian tersenyum.
"Saat Aku liat tatapan mata kamu ,,, Aku tuh mulai jatuh hati sama kamu. Aku gak tau kenapa harus kamu. Padahal Aku tau ada Ryan yang berusaha mendekati Aku. Tapi Aku terang-terangan kalo Aku lebih suka kamu. Aku tau Ryan pasti marah, Aku cuma berkata jujur dan gak mau kasih harapan sama Ryan hehe ,,, " Ucap Aleena sambil tertawa kecil.
"Trus ,,, sekarang kita apa?" Tanya Lian.
"Entahlah, yang jelas Aku udah coba jujur yang sebenarnya" Ucap Aleena.
Lian memeluk Aleena lalu mengecup bibir milik Aleena, Aleena membalas kecupan Lian dan mereka menikmati ******* demi *******.
"Love of my life ,,, itulah kamu Lian. First Love, First Kiss ,,, " Bisik Aleena dalam hati.
__ADS_1
***