CINTA Itu KAMU !

CINTA Itu KAMU !
* Diaz , Aleena, Lian *


__ADS_3

" Tok ,,, Tok ,,, Tok "


suara ketukan pintu.


"Sayang , boleh Mama masuk?" Seru Sang Mama dari balik pintu.


"Masuk Ma ,,," Jawab Aleena.


Sang Mama membuka pintu dan menghapiri Aleena yang masih di atas tempat tidurnya.


"Kamu gak ke Kampus Sayang?" Tanya Sang Mama.


"Enggak ,,, hari ini gak ada jadwal kuliah Ma " Ucap Aleena sambil tersenyum.


"Pantes ,,, Diaz sudah menunggu tuh di bawah" Ucap Sang Mama memberitahu.


"Diaz,,," Ulang Aleena.


"Iya ,,, Ayo mandi temui Diaz" Ucap Sang Mama.


"Pasti terjadi sesuatu sama Lian kalo Diaz datang " Ucap Aleena dalam hati.


"Aku temui Diaz dulu Ma ,,, " Ucap Aleena sambil berlarian kecil keluar menemui Diaz.


"Lian kenapa lagi Diaz ,,,?" Ucap Aleena kawatir.


"Lian? ,,, " Jawab Diaz bingung.


"Iya , biasanya kamu datang kesini kalo Lian mulai kacau ,,," Ucap Aleena.


"Ohh jadi kamu pikir Aku kesini harus selalu tentang Lian" Ucap Diaz.


"Gak gitu,,, susah jelasinnya " Ucap Aleena sambil duduk di sebelah Diaz.


"Hei, Lian baik-baik aja. Langsung ngantor hari ini" Ucap Diaz memberitahu.


"Ohhh ,,, good " Ucap Aleena lega.


"Gak ngampus ?" Tanya Diaz.


"Gak ada kuliah hari ini ,,, " Jawab Aleena.


"Yaudah ,,, kita pergi" Ajak Diaz.


"Where?" Tanya Aleena.


"Around Jakarta, maybe ?" Ucap Diaz.


"Ok ,,, wait" Ucap Aleena.


Aleena melangkah ke kamar untuk menukar pakaiannya.


Tak lama Aleena susah kembali menghampiri Diaz yang masih menunggu di ruang tamu.


"Ok, we have to go now!" Ucap Aleena.


Diaz bangkit dari duduknya lalu mengikuti langkah Aleena ke luar rumah dan menuju mobil milik Diaz.


Diaz men-starter Mobilnya perlahan mobil melaju meninggalkan rumah Aleena.


"Enaknya Keman ya?" Tanya Diaz.


"Whatever,,,Aku ikut aja " Jawab Aleena tersenyum.


Diaz memutar Mp4 di dalam mobilnya, Diaz memilih single milik Radio Head - Creep. Menurut Diaz lagu ini keren banget untuk dirinya.


"Btw ,,, kamu bisa main gitar?" Tanya Aleena.


"Hmmm ,,, bisa cuma gak jago. Sekedar bisa main aja" Jawab Diaz.


"Next ,,, Aku mau liat kamu nyanyi sambil main gitar trus mainin lagu ini hehe" Ucap Aleena.


"Kamu suka lagu ini?" Tanya Diaz sambil melirik ke arah Aleena.


"He'eh ,,, liriknya kena banget ya" Ucap Aleena.


"Serius ,,, Aku juga suka banget lagu ini, karena liriknya" Ucap Diaz semangat.


"Yaudah kita ke studio teman Aku, kita pinjam gitarnya hehe ,,," Ucap Diaz.


"Kamu punya teman?" Ucap Aleena tersenyum.


"Hei, kamu pikir Aku gak pernah Stay di Jakarta. Dan gak punya teman?" Ucap Diaz.


"Gak gitu , maksud Aku. Kamu tuh selalu bingung kalo di Jakarta mau kemana, wajar Aku pikir kamu memang gak ada teman" Ucap Aleena menyesal.


"It's ok ,,, Aku dari kecil di Jakarta. Jadi Aku masih adalah teman lama jaman sekolah dulu hehe" Ucap Diaz.


"Yaudah ,,, Aku mau liat kamu main gitar " Ucap Aleena semangat.


"Oke ,,," Seru Diaz setuju.


Diaz menginjak pedal Gas untuk segera meluncur ke Rumah Tito, teman masa SMA nya dulu.


Entah kenapa jika bersama Diaz Aleena lebih rileks, karena Diaz memang orangnya ceplas-ceplos dan lebih hiperaktif di banding Lian.


Lian lebih sensitif dan lembut, jadi Aleena lebih menjaga perasaan Lian.


Hampir 45  menit , Mereka sudah berada di Studio milik teman Diaz. Diaz meraih ponselnya lalu mencoba menghubungi Reno.


"Tuuutttt ,,, Tuuutttt ,,,, Tuuutttt " Nada tersambung.


"Bro ,,, Lo dimana? Ada di studio gak?" Seru Diaz.


"Masuk sini ,,, Gue tau Lo udah ada di depan " Seru Reno.


"Okayyy ,,," Ucap Diaz sambil menutup panggilan telepon.


"Yuk ,,, turun. Untung Reno ada di tempat. Biasanya dia ngayab " Ucap Diaz sambil membuka pintu mobil.


Aleena mengikuti langkah Diaz menuju Studio Musik.


Diaz membuka pintu, lalu membiarkan Aleena masuk lebih dahulu. Reno sudah menunggu Diaz dan Aleena. Diaz mendekati Reno dan mereka saling berpelukan.


"Gimana kabar Ren ,,,," Ucap Diaz.


"I'm Good, Lo sendiri gimana?. Gue dengar Lo cabut ke Belanda?" Ucap Reno.


"Haha iya suntuk di Jakarta cari view baru " Seru Diaz.


"Oya Ren , kenalin Aleena ... " Ucap Diaz lagi sambil menatap Aleena.


"Heeiii, Aku Aleena " Sapa Aleena.


"Reno. Btw ,mau Lo jadi pacarnya Diaz hahaha" Seru Reno asal.


Aleena hanya tersenyum lalu melirik ke arah Diaz.


"Hmmm gimana yahh Ren, Doi itu calon hehe" Ucap Diaz lebih asal.


"Gokil ,,, udah mau nikah aja Lo!" Seru Reni terkejut.


"Sssstttt ,,,udah-udah stop bercandanya" Seru Aleena.


"Reno ,,, Aleena ini ceweknya Lian" Diaz meralat.


"What ? Setau Gue Lian bukanya sama Raya. Cinta matinya" Ucap Reno terkejut.


"Haduuhhh ,,, panjang dahh ceritanya. Gue kesini mau pinjem gitar Lo, bolehkan?" Ucap Diaz.


"Tapi ,,,," Reno masih bingung.


"Boleh gak Gue pinjem ?" Tanya Diaz meyakinkan.


"Masih kaku aja Lo , tinggal ambil" Ucap Reno masih bingung.


"Oke ,,," Ucap Diaz sambil melangkah ke dalam Studio untuk mengambil gitar.


Tak lama Diaz kembali dengan membawa sebuah Gitar.


"Gue pake dulu Ren!" Seru Diaz.

__ADS_1


"Selow ,,," Ucap Reno setuju.


"Reno , Aku pergi dulu yah ,,," Ucap Aleena berpamitan.


"Ok "Jawab Reno.


Diaz dan Aleena masuk kedalam Mobil, Diaz akan membawa Aleena pergi ke rumahnya.


Mungkin lebih nyaman main gitar di balkon kamarnya.


"Ke rumah ku yuk, main di balkon kamar lebih seru ,,," Ucap Diaz.


"He'eh " Ucap Aleena mengangguk.


Tiba di rumah Diaz menarik lembut tangan Aleena menuju kamarnya. Agak aneh, biasanya Aleena bersama Lian. Kali ini dengan Diaz, entahlah Aleena hanya ingin semua baik-baik saja.


Meski Lian tidak bersamanya atau bersama Raya. Saat ini Lian dan Diaz menjadi orang terdekatnya.


Mereka saling mensupport satu sama lain, saling menopang satu sama lain. Namun Aleena tidak bisa membohongi perasaannya yang masih sama terhadap Lian.


"Hei , bengong!" Seru Diaz.


Aleena hanya tersenyum.


"Ayo nyanyi,,," Ucap Aleena.


"Tapi Aku mau nyanyi lagu yang lain ,,," Ucap Diaz.


"Oke gapapa " Jawab Aleena.


Diaz mulai memetik gitar lalu menyayikan lagi Dari Boyzone - Everyday i love you Boy Band Legend di tahun 90an.


" .... I don't know, but I believe


That some things are meant to be


And that you'll make a better me


Everyday I love you ... "  Diaz mulai bernyanyi sambil menatap wajah cantik Aleena.


Aleena membalas tatapan Diaz, sambil tersenyum. Aleena tau ini ungkapan dari perasaan Diaz.


"...If I asked would you say yes?


Together we're the very best


I know that I am truly blessed


Everyday I love you


And I'll give you my best


Everyday I love you..."  Diaz masih terus bernyanyi dengan harapan Aleena akan mengerti tentang perasaan Diaz terhadapnya.


"Yaazzzz ,,,, " Terdengar suara Lian mendekati Diaz dan Aleena


Diaz menghentikan permainan gitarnya.


"Yoo Mas ,,, Gue di balkon" Seru Diaz.


Tak lama Lian sudah berada di depan sliding door.


"Aleena ,,," Ucap Lian.


Lian duduk di dekat Diaz lalu meraih gelas milik Diaz yang sudah berisi Wine.


"Udah balik Lo ?" Tanya Diaz.


"Boring Gue ,,," Ucap Lian sedikit kesal.


"Keep calm " Ucap Diaz.


"Kamu sejak kapan di sini?" Tanya Lian pada Aleena.


"Baru banget sampe , Diaz culik Aku kesini" Ucap Aleena.


"Ohhh sekarang yang doyan nyulik kamu Diaz ?" Ucap Lian.


Diaz tau ada rasa cemburu pada Lian.


"Selow Yaz ,,, Aleena juga tau Gue sibuk ngantor" Ucap Lian tenang.


"Cabut yukk ,,, " Seru Lian.


"Kemana? " Tanya Diaz.


"Enaknya kemana? " Tanya Lian.


"Yee ,,, di tanya nanya lagi" Keluh Diaz.


"Biasanya Lo banyak ide ,,," Ucap Lian.


"Lo mau tempat yang macam apa?" Ucap Diaz.


"Taman langit..." Ucap Aleena.


Lian menatap Aleena dan tersenyum.


"Udah lama kita melupakan tempat itu ,,," Ucap Lian.


"Ayo cabut " Seru Diaz semangat.


"Oke ,,," Ucap Aleena dan Lian berbarengan.


Mereka melangkah keluar kamar Diaz menuju mobil. Kali ini Lian yang mengemudi mobil, Aleena duduk di belakang sementara Diaz menemani Lian duduk di samping Lian.


@Taman Langit.


Tiba di Taman Langit, Diaz langsung membuka pintu dan melangkah menuju tepi bukit.


Aleena membuka pintu mobil dan menunggu Lian keluar dari mobil, Lian meraih tangan Aleena lalu menggenggam tangan Aleena sesekali Lian mengusap lembut rambut milik Aleena. Lalu melangkah mendekati Diaz yang sudah menunggu di tepi bukit.


"Mas ,,, Lo Nemu aja tempat keren kaya gini" Ucap Diaz.


Lian hanya tersenyum.


Aleena berharap malam ini Bintang terang itu akan muncul, karena saat ini ada Lian dan dirinya.


Lian pun berfikiran sama dengan Aleena, berharap malam ini


"Gue ambil gitar dulu deh, biar gak sepi" Ucap Diaz.


Sengaja tadi Diaz membawa gitarnya, ternyata bener dugaan Diaz ada gunanya juga tuh gitar di bawa. Jadi gak sepi bisa nyanyi sambil main gitar.


"Yuk nyanyi,,,!" Seru Diaz semangat.


"Lo aja yang nyanyi, suara Gue gak bagus Yaz ,,," Ucap Lian.


"Beneran Gue yang nyanyi, lagu yang Gue bisa aja yah ,,," Ucap Diaz.


"Whatever deh haha" Ucap Lian sambil tertawa.


Malam ini Aleena berada di tengah-tengah dua pria kakak beradik. Diaz duduk di samping kirinya dan Lian berada di samping kanannya.


Diaz mulai memetik gitarnya lalu menyayikan lagu milik Dewa - Risalah Hati.


"...Hidupku tanpa cintamu


Bagai malam tanpa bintang


Cintaku tanpa sambutmu


Bagai panas tanpa hujan


Jiwaku berbisik lirih


Kuharus memilikimu


Aku bisa membuatmu


Jatuh cinta kepadaku

__ADS_1


Meski kau tak cinta kepadaku beri sedikit waktu


Biar cinta datang karena telah terbiasa.."


Lian tau lagu yang Diaz nyanyikan itu isi hatinya terhadap Aleena, namun Lian tidak bisa menahan perasaan Diaz terhadap Aleena.


Menurut Lian cinta terkadang datang salah sasaran. Seperti saat ini, mereka yang sama-sama menunggu keajaiban untuk cinta yang mereka miliki.


Diaz mencintai Aleena, sementara Aleena mencintai Lian, Lian sendiri masih berharap pada Raya.


Aleena menatap langit begitu juga Lian, Aleena dan Lian berharap malam ini 'Aleena' Si Bintang terang akan muncul.


Mungkin ini salah satu jawaban untuk Lian dan Aleena. Walaupun nantinya 'Aleena' tidak muncul di langit malam ini.


Perasaan untuk Lian akan sama tidak akan pernah berubah. Aleena percaya jodoh takkan lari, dan memang cinta tak harus memiliki.


Walau Aleena tau saat ini Diaz memiliki rasa terhadapnya, Aleena masih belum yakin untuk membuka hatinya.


"Lahhh kenapa pada diem?" Protes Diaz.


"Aku lagi dengerin kamu nyanyi,,," Jawab Aleena.


"Btw sampe kapan kita disini?" Tanya Diaz.


"SAMPAI ALEENA MUNCUL ..." Ucap Lian dan Aleena bersamaan.


Aleena dan Lian saling bertatapan dan tersenyum.


"Oke ,,, kali ini Gue ngikut aja deh hehe" Ucap Diaz kaku.


Diaz tau saat ini Lian dan Aleena sama-sama akan menentukan perasaan mereka yang akan Kemana arahnya.


Diaz juga tidak bisa memaksa Aleena untuk mencintai dan menerimanya untuk berada hatinya.


Posisi mereka sangat sulit, karena saling menjaga perasaan dan hubungan mereka. Kedekatan mereka saat ini sudah terjalin sangat baik.


Mereka tidak ingin merusaknya hanya karena ego atas perasaan yang mereka miliki.


Lian merebahkan tubuhnya di atas rumput, sambil menatap langit. Lian meraih tangan Aleena mereka saling berpegangan tangan.


Mungkin pikir Lian dengan saling berpegangan tangan 'Aleena' akan muncul. Doa yang sama pada Aleena, jika 'Aleena' muncul Dia berharap semua akan baik-baik saja.


Tidak akan merubah hubungan mereka bertiga.


Sudah pukul 00:15 taburan bintang-bintang mulai menampakkan dirinya. Satu persatu mereka terlihat dengan kerlap kerlip seperti menari-nari diatas langit.


"Waaawww ,,, it's so Beautiful" Ucap Diaz kagum.


"Kamu suka kan Yaz ,,," Ucap Aleena sambil menatap wajah Diaz.


"Yup ,,, tempat ini emang keren. Natural banget ,,," Ucap Diaz


"Makanya Yaz ,,, jangan Clubing terus Lo hehe" Ucap Lian meledek.


"Bener Mas, Gue baru sadar. Ternyata ada tempat yang lebih keren dan asik selain di Club or Bar " Ucap Diaz jujur.


"Yaudah nikmat aja malam ini ,,, kalo bisa sampe pagi haha" Ucap Lian asal.


Lian berkata seperti itu karena batas waktu bintang-bintang itu muncul sampai hampir menjelang pagi.


Angin semilir mulai bertiup, Aleena mulai merasakan dingin. Sesekali Aleena mengusap telapak tangannya lalu menempelkan pada Pipit.


Melihat apa yang dilakukan Aleena membuat Lian dan Diaz ingin memberikan jacket yang mereka kenakan.


"PAKE INI ,,,," Ucap Lian dan Diaz bersamaan.


Aleena tersenyum melihat kelakuan kedua kakak beradik ini.


"Oke sini Aku pake semuanya,,," Ucap Aleena.


Lian membantu Aleena memakai jacket nya pada tubuh Aleena.


Dan Diaz menutupi kaki Aleena dengan Jacketnya.


"Thanks kalian ,,," Ucap Aleena tulus.


Jujur Aleena tidak mau merusak hubungan Lian dan Diaz. Aleena sudah nyaman dengan hubungan saat ini.


Waktu terus berlalu Diaz mulai bosan, akhirnya Diaz memilih berjalan-jalan di sekitar Taman Langit.


Sementara Lian dan Aleena masih menunggu kehadiran 'Aleena'. Sudah hampir jam 3 pagi. Sepertinya 'Aleena' tidak akan muncul.


Mungkin ini jawaban atas perasaan mereka berdua. Lian menatap wajah Aleena, lalu mengusap pipi Aleena.


"Kamu akan selalu ada di dalam hati Aku ,,," Ucap Lian lembut.


"Yes, i know ,,," Ucap Aleena.


"Kamu juga tau, rasa ini akan selalu ada. Meski Aku juga gak tau sampai kapan rasa ini ada" Ucap Aleena lagi.


"Ikuti kata hati kamu,,," Ucap Lian.


"Aku harap kita masih bisa seperti ini, Aku , kamu dan Diaz ,,," Ucap Aleena.


"Kalian dua orang yang paling care sama Aku, kalian juga orang yang terpenting buat Aku selain Mama dan Papa Aku..." Ucap Aleena lagi.


"Kita gak tau kedepannya seperti apa? Apa aku akan tetap dengan perasaan Aku terhadap Raya, Atau kamu sudah lelah dengan rasa yang kamu miliki untuk Aku. Kamu bisa memulai bersama Diaz ,,," Ucap Lian.


"Entahlah,,, yang pasti saat ini Aku bahagia memiliki kamu dan Diaz. Dua orang yang berbeda namun saling melengkapi" Ucap Aleena.


"Thanks Aleena, kamu yang sudah merubah Aku jadi Lian yang sekarang, Aku jadi semakin kuat dan yakin bisa lalui ini meski tanpa Raya" Ucap Lian.


"Aku bahagia bisa liat kamu yang sekarang, mungkin di luar sana masih akan ada Raya yang lain yang bisa buat kamu jauh lebih bahagia " Ucap Aleena.


"Kamu tuh baik dan tulus,,, kamu selalu berdoa untuk kebahagiaan Aku. Tanpa mikir kebahagiaan kamu sendiri,,," Ucap Lian.


Lian menarik nafas dalam-dalam lalu tersenyum.


"Untuk saat ini, biarlah Aku seperti ini. Gak ada luka, gak ada air mata, dan gak akan ada yang tersakiti,,," Ucap Lian lagi.


"Apapun itu Aku mau kita semua bahagia ,,," Ucap Aleena tulus.


"Yup Benar, meski diantara kita gak akan bisa bersama. Tapi Aku mau kamu tau, rasa yang Aku miliki saat ini masih sama untuk kamu" Ucap Lian sambil memeluk Aleena.


"Kita harus kembali, sudah hampir pagi ,,," Ucap Lian lalu mengecup kening Aleena.


"Iya ,,," Jawab Aleena sambil mengangguk.


"Yaazz ,,, Cabut yukk. Udah hampir pagi!" Seru Lian pada Diaz yang berada di ujung tepi bukit.


Diaz berlarian kecil menghampiri Lian dan Aleena. Mereka menuju mobil dan kembali ke rumah untuk pulang.


"Mas, Gue aja yang bawa " Seru Diaz.


"Oke,,, " Jawab Lian sambil melempar kunci mobilnya.


Diaz yang mengemudi mobil, Lian bersama Aleena duduk bersama di belakang. Karena memang Diaz belum terlalu lelah untuk mengemudi.


Aleena mulai mengantuk kedua matanya sudah berat. Akhirnya Aleena tertidur di pundak Lian.


"Yaz ,,, sori yah. Jadi Lo yang bawa mobilnya" Ucap Lian.


"Selow Mas , Gue tau Lo capek. Abis kerja seharian,,," Ucap Diaz santai.


"Kita kemana dulu Mas? Antar Aleena apa langsung balik ke rumah?" Tanya Diaz.


"Enaknya kemana dulu yah? Kalo antar Aleena jam segini gila gak enak sama Ortunya " Ucap Lian.


"Yaudah balik ke rumah aja, biar Aleena tidur di kamar Lo. Kata biasa Lo sama Gue hehe" Ucap Diaz.


"Seneng banget Lo tidur sama Gue ,,," Ucap Lian.


"Hahaha secara terakhir kita tidur bareng waktu masih TK Mas" Ucap Diaz sambil tertawa.


"Masih inget aja Lo " Ucap Lian.


"Semua hal tentang kita Gue masih ingat Mas ,,," Ucap Diaz.


"Thanks Lo emang Adek Gue yang paling paling Gue sayang ,,," Ucap Lian tulus.


"Satu-satunya Mas, makanya paling Lo sayang hahaha" Ucap Diaz tertawa.

__ADS_1


__ADS_2