
Aleena masih bermalas-malasan di atas kasur, sudah beberapa hari Lian tidak menghubunginya. Mungkin Lian sibuk dengan pekerjaan nya. Semenjak Lian bekerja Mereka jadi jarang bertemu.
Aleena bisa mengerti kesibukan Lian, paling tidak Lian sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya. Tidak lagi menutup diri.
Aleena beranjak dari tempat tidur, untuk pergi mandi dan ke kampus. Ada dua mata kuliah hari ini yang harus Aleena ikuti.
"Ma, Aku pergi dulu yah" Pamit Aleena pada Sang Mama, sambil mengecup pipi Sang Mama.
"Iya sayang hati-hati" Ucap Sang Mama membalas Kecupan Aleena.
Aleena melangkah keluar, Taxi Online pesanan nya sudah menunggu di luar. Aleena selalu menggunakan Taxi Online, untuk keluar rumah. Meski Sang Papa sudah membelikan nya sebuah Land Rover Defender untuk Aleena.
Aleena bukan type wanita yang suka show off, Aleena lebih suka duduk manis di belakang supir. Dari pada Dia harus mengendari mobil nya sendiri.
Mungkin nanti jika Aleena sudah bisa membeli Mobil dari hasil kerjanya. Dengan bangga Aleena akan mengendarai Mobil nya sendiri.
Tiba Kampus, Aleena langsung memasuki Ruang kelasnya. Tara sudah menunggu nya di sana.
Aleena menghampiri Tara.
"Eh, gimana. Udah di tembak Si Gunung Es belum?" Ucap Tara penasaran.
Aleena hanya tersenyum.
"Ihhh bukan nya jawab" Ucap Tara manyun.
"Tara Ku sayang, Jodoh gak akan lari. Santai aja" Ucap Aleena tenang.
"Up to you, Tapi paling gak Lo berdua ada ikatan" Ucap Tara.
"Iya, nanti kalo Gue udah di tembak Lo orang pertama yang Gue kasih tau" Ucap Aleena meyakini sahabatnya.
"Janji?" Ucap Tara.
"Janji" Ucap Aleena.
Dosen pembimbing sudah memasuki Ruangan, Aleena dan Tara mulai mengikuti pelajaran.
Satu persatu Mata kuliah hari ini sudah Aleena ikuti, Aleena menghela nafas panjang. Cukup lelah hari ini.
Sebenarnya Aleena ingin menemui Lian di kantor nya. Entah kenapa langkahnya terasa berat untuk ke sana. Sepertinya Aleena akan pulang ke rumah.
Aleena melangkah keluar kelas, melewati koridor.
"Aleena tunggu !"
Terdengar suara seseorang memanggil nya.
Aleena mencari asal suara yang memanggil nya.
Aleena menoleh ke belakang, terlihat sosok Gadis cantik melambaikan tangannya ke arah Aleena.
Sepertinya wajah cantiknya tidak asing menurut Aleena, Dia Raya. Aleena pernah melihat foto Raya di kamar Lian.
Gadis itu menghampiri Aleena, Lalu tersenyum.
"Heeiii, Aku Raya" Sapa Raya sambil mengulurkan tangannya ke arah Aleena.
"Deeggg ,,,"
Jantung Aleena berdebar. Aleena tetap tenang dan menyambut uluran tangan Raya sambil tersenyum.
"Sibuk gak?" Tanya Raya.
"Gak sihh, kebetulan udah gak ada kuliah lagi" Jawab Aleena.
"Bisa bicara sebentar? " Tanya Raya lagi.
"Kita ke kantin Aja, lebih nyaman ngobrol di sana" Ucap Aleena.
Mereka melangkah menuju kantin, Jantung Aleena masih berdebar.
"Suatu kebetulan Diaz dan Raya kembali dalam waktu bersamaan " Ucap Aleena dalam hati.
Aleena mencoba bersikap biasa saja, dan bersikap tenang. Aleena memesan secangkir kopi, karena matanya sudah mulai berat. Raya hanya memesan soft drink. Pesanan mereka sudah sampai di atas meja.
"Kamu kapan datang?" Tanya Aleena sambil senyum mencairkan suasana.
"Mmmm, kemarin pagi. Masih rada-rada jet lag nihh" jawab Raya.
"Raya memang sangat cantik" Bisik Aleena dalam hati. Sambil melirik ke arah Raya.
"Kamu pasti udah tau tentang Aku dari Lian ?" Tanya Raya. Aleena mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu juga udah tau tentang Aku ?" Ucap Aleena.
"Sedikit kaget sih, setelah tau tentang kamu" Ucap Raya.
"Karena yang Aku tau Lian itu susah adaptasi sama orang yang belum Dia kenal" Ucap Raya lagi.
"Lian pasti happy kamu sudah kembali" Ucap Aleena.
"Iya, tapi Aku gak lama di Jakarta. Nanti juga Aku kembali lagi" Jelas Raya.
"Kenapa?" Tanya Aleena.
"Kuliah Aku belum selesai, dan lagi Mama dan Papa Aku menetap di sana" Ucap Raya menjelaskan.
"Sejujurnya Aku jealous setelah tau kedekatan kalian. Tapi ini semua salah Aku" Ucap Raya jujur.
"Kami memang dekat, tapi di antara kami gak ada apa-apa" Jelas Aleena.
"Karena Aku tau, Lian masih berharap kamu kembali" Ucap Aleena lagi.
"Lian gak mungkin bisa lepas dari Aku" Ucap Raya.
"Iya Aku tau" Ucap Aleena berusaha untuk tenang.
"Sebenernya Aku kesini mau kenal dan berteman sama kamu, bolehkan?" Ucap Raya sambil tersenyum.
"Kita bisa jadi teman baik" Ucap Aleena.
__ADS_1
"Aleena, kamu gak keberatan kan, selama Aku di Jakarta Lian habiskan waktu sama Aku. Jadi Aku harap kamu merelakan Lian kembali sama Aku" Ucap Raya panjang lebar.
Aleena hanya tersenyum dan mengangguk.
"Aku gak pernah mengekang apalagi membatasi Lian. Selama itu buat Lian nyaman" Ucap Aleena pada Raya.
"Kamu menyinggung Aku? " Tanya Raya sedikit terkejut.
"Maaf kalo kamu tersinggung, gak ada maksud apa-apa. Saat ini Lian memang butuh adaptasi sama banyak orang, karena Lian udah bekerja di perusahaan papa nya." Aleena menjelaskan.
"It's ok, Aku tau. Niat kamu baik" Jawab Raya santai.
"Thanks Aleena, sudah menjadi teman untuk Lian di saat Aku gak ada" Ucap Raya lagi.
"Aku harus pulang, thanks untuk waktunya" Ucap Raya sambil beranjak dari duduknya, lalu melangkah meninggalkan Aleena.
Aleena menatap Raya yang berlalu meninggalkan nya, Aleena menghela nafas panjang.
Ada rasa takut kehilangan Lian, tapi di satu sisi Aleena tidak memiliki hak apapun pada Lian.
Tiba di rumah Aleena langsung masuk ke dalam kamarnya, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Pikiran nya selalu tertuju pada Lian, sakit memang menerima kenyataan bahwa Raya tiba-tiba datang.
Meski Raya bilang tidak akan lama di Jakarta, Aleena kawatir sikap Lian kembali seperti dulu.
Lian sudah melabuhkan hatinya untuk Raya, seharusnya Aleena bahagia. Kembali ke tujuan awal Aleena ingin menyatukan mereka.
"Aku ingin Lian bahagia" Ucap Aleena.
Mata Aleena mulai mengantuk, sejenak ingin mengistirahatkan pikiran nya. perlahan Aleena mulai tertidur.
️Pukul 19.30 Pm.
Aleena terbangun dari tidurnya, Aleena meraih ponsel yang ada di dekatnya. Aleena menatap layar ponselnya.
"Non,,, " Seru Bik Nah dari luar kamar Aleena.
"Ada tamu cari Non" Ucap Bik Nah.
"Siapa Bik" Ucap Aleena lemas.
"Bibik Ndak kenal, belum pernah datang" Jelas Bik Nah.
Aleena bangun dari atas tempat tidur nya, untuk menemui siapa yang datang.
Ternyata Diaz, untuk apa Diaz ke sini? dan mau apa ?.
"Diaz" Panggilan Aleena.
"Gue ganggu gak?" Tanya Diaz.
"Gak ko, Aku baru banget bangun, pulang dari kampus ketiduran." Jelas Aleena.
"Ohhh, tadinya Gue mau ajak Lo keluar. Tapi kayanya Lo capek yah?" Ucap Diaz.
"Mau kemana?" Tanya Aleena.
"Gue gak bisa jelasin sekarang" Ucap Diaz.
Selang beberapa menit Aleena menemui Diaz yang sudah menunggu nya. Diaz terpaku melihat Aleena, Aleena benar-benar cantik. Aleena menggunakan Atasan berwarna pink dengan model Jewel Neck yang membuat Aleena makin terlihat cantik.
"Diaz" panggil Aleena sambil menggerakkan tangannya ke arah wajah Diaz. Karena Aleena bingung cukup lama Diaz diam terpaku.
"Ehh, iya. Malah jadi bingung" Ucap Diaz gugup karena malu.
"Berangkat sekarang?" Tanya Aleena.
Diaz mengangguk lalu melangkah keluar di ikuti oleh Aleena.
Diaz melajukan Jeep Wrangler Hitam nya. Entah mau di bawa kemana Aleena malam ini.
"Diaz,,, kita mau kemana?" Tanya Aleena.
"Kamu tau Raya tiba-tiba datang? " Tanya Diaz sambil melirik ke arah Aleena.
"Yup , tadi Raya datang ke kampus mencari Aku" Jawab Aleena tenang.
"Gokil, masih aja kaya gitu" Ucap Diaz sedikit kesal.
"Santai Diaz ,,, " Ucap Aleena sambil tersenyum.
"Gapapa kan kalo kita gabung bareng mereka ?" Tanya Diaz ragu.
"I'm fine ,,, " Ucap Aleena yakin.
Sepertinya Aleena kenal dengan jalan yang mereka lalui, Aleena masih diam tidak mau bertanya lagi. Benar dugaan Aleena, Diaz membawa Aleena ke Skye Bar.
Tiba di pintu masuk, Seorang petugas menyambutnya.
"Sudah pesan tempat Mas?" Tanya seorang pelayan sambil membuka buku tamu.
"Sudah, Atas nama Diaz Chandra" Jawab Diaz.
"Oke silahkan masuk" Ucap pelayan.
Diaz melangkah masuk, Aleena mengikuti langkah Diaz.
"Duduklah Aleena" Ucap Diaz mempersilahkan Aleena.
Aleena masih bingung mau apa Diaz mengajak nya kesini.
Aleena melihat sekeliling, satu persatu meja yang di dekatnya.
"Deeeggg"
Jantung Aleena berdebar kencang. Di salah satu meja terlihat sosok Lian dan Raya. Diaz tau Aleena sudah melihat Lian dan Raya.
"Aleena, sori sebelum nya. Sengaja Gue bawa Lo kesini" Ucap Diaz.
"Untuk apa?" Tanya Aleena tenang sambil mengatur nafasnya.
__ADS_1
"Gue bukan mau ikut campur dalam urusan kalian. Cuma Gue mau Lo tau kenyataan yang udah Lo liat sekarang" Jelas Diaz.
"Diaz, Aku bukan anak kecil yang marah atau menangis jika sesuatu yang dia miliki hilang." Ucap Aleena.
"Aku harus terima kenyataan. Meski itu sulit bahkan sakit" Ucap Aleena lagi.
"Jujur Gue gak suka dengan sifat Raya, terlalu egois dan mengatur Lian. Dan bodohnya Lian selalu saja menuruti Raya" Ucap Diaz.
"Kamu tau kan, Lian sangat mencintai Raya" Ucap Aleena.
"Karena cinta, makanya Lian menjadi bodoh." Ucap Diaz.
"Cinta kadang bisa membuat orang lupa segalanya. Terkadang bisa membuat orang menjadi bodoh. Itulah hebatnya cinta" Ucap Aleena.
"Gue udah tau cerita kalian dari Bik Nina dan Mama. Banyak perubahan dari Lian setelah ketemu kamu" Ucap Diaz.
"Lian yang dulu sulit beradaptasi dengan orang-orang. Karena Raya selalu mendoktrin Lian, hanya Raya yang dia butuhkan. Jadi Lian gak bisa lepas dari bayang-bayang Raya" Jelas Diaz.
"Sempat kaget waktu Gue dengar dari Mama Lian sudah mulai bekerja, dan dekat sama Lo. Akhirnya Lian bisa lepas dari bayang-bayang Raya" Ucap Diaz.
"Makanya Setelah Raya pergi, Gue putuskan pindah Kuliah. Gue gak bisa liat Lian kaya gitu. Gue udah coba bantu Lian buat lepas dari bayang-bayang Raya. Namun sulit, makin hari Lian makin terpuruk dan menutup diri" Ucap Diaz masih bercerita.
"Awalnya Aku hanya simpatik oleh Lian. Karena sejak Lian masih Kuliah, Lian itu terlalu diam dan menyendiri. Aku jadi penasaran dengan sosok Lian. Aku coba menyapa dan menjadi temannya. Tapi Lian mengabaikan Aku. Emang dasar Aku nya bandel udah di tolak masih aja mencoba" Ucap Aleena.
" Sampai akhirnya, Lian mendatangi ku. Lalu memberikan nomor ponsel ke Aku. Dan saat itu kami mulai dekat, sampai Lian sendiri bercerita tentang keluarga kalian dan juga Raya"
"Kalo Aku tanya tentang Raya, Lian selalu diam. Wajah nya langsung sedih. Aku tau Lian terluka betapa Lian sangat mencintai Raya. Sampai Aku berjanji ingin menyatukan mereka" Jelas Aleena.
"Dan akhirnya Aku terjebak oleh perasaan ku sendiri" Ucap Aleena lagi.
"Sekarang apa yang mau Lo lakukan?" Tanya Diaz.
"Sederhana ko' Aku mau Lian bahagia!" Ucap Aleena.
"Dengan cara menyatukan Lian dan Raya?" Tanya Diaz.
"Jika itu memang kebahagiaan untuk Lian, kenapa gak" Jawab Aleena.
"Jujur Aleena, gimana perasaan Lo sama Lian?" Tanya Diaz.
"Aku udah bilang, Aku terjebak oleh perasaan Aku sendiri. Yang mulai mencintai Lian" Ucap Aleena.
"Sampai Aku takut jika nanti Raya kembali, tapi Aku gak boleh egois. Karena Raya kebahagiaan Lian" Ucap Aleena.
"Aleena" Ucap Diaz pelan sambil memegang jemari Aleena.
"Lo juga berhak bahagia" Ucap Diaz.
"Melihat orang yang kita cintai Bahagia, itu suatu kebahagiaan buat Aku. Aku gak mau Lian sedih, Aku gak mau Lian sakit" Ucap Aleena.
"Berani mencintai, harus berani juga ambil resiko. Dan ini resiko yang harus Aku terima, meski nantinya Aku sakit." Jelas Aleena.
"Hari terus berganti meski tanpa Lian, dan artinya Aku akan tetap jalani hari ku yang sekarang. Dan akan menjadi teman yang baik untuk Lian dan Raya" Ungkap Aleena tulus.
Diaz terharu mendengar ucapan Aleena. Aleena sungguh mencintai Lian, Aleena mengorbankan rasa cintanya demi kebahagiaan Lian.
Kalau Diaz di posisi Aleena, mungkin dengan berbagai cara dilakukan agar bisa mendapatkan cinta nya. Tapi Aleena tidak, Aleena mengorbankan perasaan demi kebahagiaan orang yang Aleena cintai.
Aleena melirik ke arah Lian dan Raya, mereka berdua sangat menikmati kebersamaan mereka. Sesekali Aleena melihat Lian mengecup Raya, ada rasa sakit dalam hati nya.
Aleena harus bisa terima kenyataan, dan bersikap tenang. Aleena harus bisa menjadi teman yang baik untuk Lian dan juga Raya.
Diaz meraih lengan Aleena, lalu beranjak dari duduknya.
"Kita cari udara segar yukk!" Ajak Diaz. Diaz tau Aleena sudah tidak nyaman berada di sini.
Aleena mengangguk sambil tersenyum, lalu mengikuti langkah Diaz.
Sementara Lian terkejut melihat Sosok Aleena bersama Diaz. Sejak kapan Aleena dan Diaz berada di sini.
Ada perasaan cemburu di dalam hati Lian, melihat Aleena bersama Diaz.
"Raya, kita pulang" Ajak Lian.
"Lian, Aku masih mau menikmati malam ini" Ucap Raya.
"Aku bosan di sini" Ucap Lian.
"Kamu mulai bosan saat kita bersama?" Ucap Raya sinis. Lian diam tak menjawab.
"Karena Aleena?" Tanya Raya sedikit cemburu.
"Aku capek Raya, Aku mau istirahat" Ucap Lian berbohong.
"Oke, kita pulang ke rumah kamu, Aku mau menghabiskan malam sama kamu" Ucap Raya.
Lian tidak menjawab, Lian beranjak dari duduknya lalu meraih tangan Raya untuk membawanya pulang.
Entah pikiran Lian melayang-layang memikirkan Aleena, sudah cukup lama Lian tidak menghubungi Aleena sejak kedatangan Raya.
Lian terus melajukan Mobilnya ke arah rumahnya. Mereka saling diam dalam perjalanan pulang.
Tiba di rumah Lian, Lian membawa Raya masuk ke dalam kamarnya.
"Di sini lebih baik, hanya kita berdua" Bisik Raya. Sambil memeluk Lian.
Raya begitu agresif, Raya mulai mengecup bibir milik Lian. Lian membalas kecupan Raya. Raya hilang kendali, Dia membuka satu persatu kancing baju milik Lian.
Lalu menghujani tubuh Lian dengan kecupan lembut. Lian pasrah dengan apa yang akan Raya lakukan.
"Raya,,," Ucap Lian lembut.
Raya masih terus melanjutkan aksinya.
"Kamu suka ini kan Lian? Aku merindukan saat-saat seperti ini. Kita akan mengulangi lagi seperti dulu" Ucap Raya.
Lian merebahkan tubuh Raya di atas kasur nya, Raya menarik tubuh Lian agar segera berada di atas tubuhnya.
"Ayo Lian lakukan, sudah lama kita tidak melakukan ini" Pinta Raya.
Lian buka baju Raya, lalu mengecup bagian dada lalu turun ke perut Raya.
__ADS_1
Permainan baru saja dimulai, mereka begitu menikmatinya.
"Lian, Oouugghhh" Ucap Raya dengan suara mendesah. Mereka tenggelam dalam irama permainan mereka.