CINTA Itu KAMU !

CINTA Itu KAMU !
* Seandainya bisa memilih? *


__ADS_3

Sepuluh menit terakhir mata kuliah, Aleena tidak sabar menunggu. Hari ini Aleena sangat gembira karena Lian sudah kembali ke Jakarta. Bersama Raya atau tidak Aleena tidak terlalu perduli, Aleena hanya ingin bertemu Lian.


"Al ,,, Gue salah liat gak?" seru Tara tiba-tiba sambil menyenggol lengan Aleena.


"Apa?" Ucap Aleena.


"Nih , Si Gunung Es di depan kelas" Ucap Tara.


Mendengar ucapan Tara, Aleena menoleh ke arah jendela. Ternyata benar Lian berada di depan kelasnya.


"Gue harap kedatangan Lian kali ini, bawa kabar baik buat Gue terutama buat Lo" Ucap Tara.


"Semoga aja ,,, tapi kemungkinan itu tipis Ra. Lian mau nikah sama Raya" Ucap Aleena.


"Tau dari mana?" Ucap Tara.


"Emang mereka mau nikah, makanya cabut dari Jakarta" Jawab Aleena.


"Tapi Lian kembali gak sama Tuan Putri nya Al" Ucap Tara.


Aleena diam, benar juga ucapan Tara. Lian datang seorang diri tanpa Raya. Mana mungkin Raya membiarkan Lian kembali ke Jakarta hanya seorang diri.


"Yes , Finally" Seru Aleena tersenyum.


"Ra, Gue duluan yah" Ucap Aleena lagi.


"Have fun Aleena sayang" Ucap Tara.


Tara menatap Aleena yang melangkah menghampiri Lian, dan juga Tara menoleh ke arah Elio. Yang juga memperhatikan Aleena yang menghampiri Lian.


"Miss you so much" Ucap Lian lalu meraih tangan Aleena dan mengecupnya.


"Heeiii ,,, banyak orang di sini" Seru Aleena tersipu.


"I don't care" Ucap Lian.


Lian menarik lengan Aleena untuk meninggalkan Kampus. Sejujurnya Aleena ingin bertanya pada Lian. Kenapa Lian datang seorang diri. Namun Aleena urungkan niat nya.


Takut merubah mood Lian, Aleena senang melihat Raut wajah Lian saat ini. Aleena mengikuti langkah Lian dengan tangan yang masih berada di genggaman Lian.


Lian membawa Aleena ke Danau belakang kampus, Mungkin Lian rindu tempat itu. Sepanjang koridor Lian selalu melirik ke arah Aleena.


Sepanjang koridor menuju Danau, Aleena melihat Metha berada di depan Club Basket. Mungkin Metha menunggu Elio, Karena Elio masuk Club Basket di kampus.


Metha menatap wajah Aleena dengan tatapan sinis, Aleena tidak perduli.


Sampai di Danau, mereka duduk di tempat biasa dan saling duduk berdampingan. Lian menatap wajah Aleena begitu lama.


"Aku Rindu tempat ini , dan rindu duduk disini bersama kamu" Ucap Lian.


"Posisi Aku sama seperti kamu dulu, menunggu pergantian hari di sini" Ucap Aleena.


"Udah ketemu Diaz?" Tanya Aleena.

__ADS_1


"Belum, dari Airport Aku langsung ke sini" Jawab Lian.


"Kita harus support Diaz, dan bantu mencari donor Tulang sumsum untuk Diaz" Ucap Aleena.


"Aku udah hubungi Semua Rumah sakit di Jepang untuk info Tulang sumsum" Ucap Lian.


"Diaz bodoh, kenapa harus diam menyimpan semuanya sendiri" Ucap Lian lagi.


"Mama papa kamu gimana? Udah kamu kasih tau?" Tanya Aleena.


"Sudah, Mereka belum bisa pulang dalam waktu dekat" Ucap Lian kesal.


Aleena menatap wajah Lian dengan ekspresi marah.


"Oya, besok jadwal Diaz Kemoterapi. Kita antar Diaz" Ucap Aleena.


"Aku jemput kamu yah sama Diaz, gak ada kuliah kan?" Tanya Lian.


Aleena mengangguk.


"Oya, apa kabar Taman Langit?" Ucap Lian.


"Sudah lama Aku melupakan tempat itu" Ucap Lian lagi.


"Terakhir Aku kesana bersama Diaz, tapi bukan malam hari. Ternyata sama cantik nya kaya malam" Ucap Aleena.


"Kalo ada waktu malam ini kita ke sana" Ucap Lian.


"Kamu benar, Jangan sampai kondisi Diaz drop" Ucap Lian.


"Sori Lian, saat ini Aku sangat Kawatir sama keadaan Diaz" Aleena menjelaskan.


"Aku paham" Jawab Lian.


"Yaudah kita pulang, Aku ingin bertemu Diaz" Ucap Lian.


Aleena mengangguk tanda setuju.


...***...


"Mas Lian ,,, " Seru Bik Nina terkejut melihat Aleena datang bersama Lian.


"Sssttt ,,, Diaz mana Bik?" Tanya Lian.


"Baru minum obat, sekarang mungkin sedang tidur Mas" Jawab Bik Nina.


"Yaudah Lian masuk kamar dulu, sambil tunggu Diaz bangun" Ucap Lian.


"Mau Bibik siapkan makanan Mas?" Tanya Bik Nina.


"Lian mau Wine aja Bik, tolong bawain ke kamar yah" Ucap Lian.


"Baik Mas" Jawab Bik Nina.

__ADS_1


Lian menaiki tangga bersama Aleena menuju kamar. Tiba di kamar Lian membuka Slidding Doornya. Seperti biasa mereka duduk bersama di sana.


"Sepertinya ada yang mau kamu tanyakan sama Aku?" Tebak Lian.


Aleena tersenyum.


"Baguslah kalo kamu tau, Aku cuma kawatir kalian bertengkar" Ucap Aleena.


"Raya gak mau ikut, Dia lebih memilih kembali ke London" Ucap Lian tenang.


"What? Trus kamu biarkan aja Raya pergi?" Ucap Aleena terkejut dan tidak percaya.


"Al, Kami hidup dalam satu atap. Raya membatasi Aku berkomunikasi dengan keluarga. Aku gak suka itu, dan Raya paling gak suka kalo Diaz menghubungi Aku dan selalu bahas tentang kamu" Jelas Diaz.


"Menurut Aku itu udah gak sehat, Demi Dia Aku meminta sama Mama dan Papa untuk mengurus Projects di Jepang. Agar Raya aman dan kamu bisa menikah. Namun Raya sama sekali tidak bahagia dan excited mendengar ke inginan Aku untuk menikahi Raya" Ucap Lian.


"Sejak kapan Raya pergi" Tanya Aleena.


"Aku udah gak perduli lagi sama Raya" Lian emosi.


"Kamu yakin, jika nanti Raya kembali ke sini. Kamu gak akan mampu melepaskan Raya. Hubungan kalian seperti itu sejak dulu. Saat ini kamu bilang begitu karena kamu hanya emosi" Ucap Aleena.


"Entahlah, Aku berharap Raya gak akan pernah datang lagi mencari Aku apalagi menemui ku" Ucap Lian kesal.


Lian meraih tangan Aleena dan menatap Cincin yang telah Lian berikan untuk Aleena. Lian tersenyum.


"Ternyata ucap Aku benar, Aku akan kembali untuk menepati janji Aku" Ucap Lian.


"Maksud kamu? Kita akan pergi?" Tanya Aleena.


"Tunggu Diaz membaik " Jawab Lian.


Aleena merasa lega, Aleena pikir dalam waktu dekat Lian akan membawa Aleena pergi.


Aleena pasti menolak, karena keadaan Diaz saat ini. Tidak mungkin mereka harus pergi.


"Saat ini buat Aku, kesembuhan Diaz lebih penting" Ucap Aleena.


"Kamu mencintai Diaz?" Tanya Lian tiba-tiba.


Aleena menatap wajah Lian, Aleena diam sejenak lalu mengatur nafasnya.


"Bukan saatnya kita bicarakan masalah perasaan, Aku mau Diaz membaik dan kita bisa bersama kaya dulu lagi" Ucap Aleena.


Lian diam mendengar ucapan Aleena, ucapan Aleena benar seharusnya Lian tidak boleh egois memikirkan tentang perasaan. Lian sejak lama menahan perasaannya terhadap Aleena, kalau saja saat itu Raya tidak kembali mungkin saat ini Lian dan Aleena sudah terikat.


Bahkan kedua orang tuanya sangat ingin Aleena menjadi calon Istri Lian. Bukan sebuah kebetulan Papa Aleena dan Papa Lian teman lama sejak masih jaman sekolah di bangku SMA.


Skenario yang sangat baik dari Tuhan, Ternyata Lian dan Diaz sama-sama mencintai Aleena. Pilihan sulit untuk Aleena, secara hati dan perasaan Aleena sangat mencintai Lian.


Namun sejak Aleena tau Diaz pun mencintai Aleena, Aleena sangat menjaga sikap dan perasaan terhadap Lian. Karena Aleena tidak ingin Lian dan Diaz bertengkar, lalu membuat hubungan mereka menjadi tidak baik.


Karena pada dasarnya mereka saling menjaga dan menyayangi.

__ADS_1


__ADS_2