
Tubuh Diaz terasa lemas dan tidak enak, benar-benar menyiksa setelah Kemoterapi. Diaz sudah yakin penyakitnya sudah menyebar ke seluruh tubuhnya.
Diaz punya satu keinginan sebelum benar-benar pergi, Diaz ingin melihat Lian dan Aleena menikah. Seharusnya Lian dan Aleena sudah bersama, Kalau bukan karena Diaz dan Raya.
"Yaz ,,, " Lian masuk ke dalam kamar Diaz.
"Gimana keadaan Lo? Pusing ? Mual gak?" Lian kawatir.
Diaz hanya mengangguk, karena menahan rasa mual dan pusing kepalanya.
"Kenapa harus Lo yang menderita Yaz" Ucap Lian.
"Takdir Mas, Mungkin Tuhan punya rencana dari penyakit Gue" Ucap Diaz.
"Gue cuma berharap dan berdoa buat kesembuhan Lo" Ucap Lian.
"Mas, sori badan Gue gak enak banget. Gue mau istirahat" Ucap Diaz memohon.
"Oke, kalo ada apa-apa panggil Gue. Lo bisa telpon Gue" Lian mengingatkan.
"Thanks Mas" Ucap Diaz lalu merebahkan tubuhnya.
Lian membantu Diaz untuk menutupi tubuh nya dengan Bedcover. Lian menatap wajah Diaz yang begitu pucat, Diaz mulai tertidur mungkin efek dari obat kemoterapi tadi.
Lian melangkah ke luar menuju mini Bar, Lian meraih kaleng Beer lalu membawanya ke kamar. Lian akan menikmati Beer di Balkon kamarnya.
Lian membuka Kaleng Beer lalu meneguknya, sudah hampir setengah kaleng Lian menikmati Beer yang ada di genggamannya.
Lian jenuh seorang diri, biasanya Diaz selalu menemani ketika minum bersama.
Lian menatap jam di layar ponselnya, hampir menjelang Magrib. Lian ingin pergi ke Taman Langit bersama Aleena. Sudah lama mereka tidak pergi ke Taman Langit.
Lian keluar kamar menuruni anak tangga, lalu meraih kunci mobilnya di atas meja sudut ruang tamu.
Terlihat Bik Nina tengah merapihkan meja dan menata bantal sandaran kursi.
"Bik, Lian pergi dulu. Titip Diaz Bik" Ucap Lian.
"Baik Mas, Mas Lian hati-hati " Ucap Bik Nina.
Lian tersenyum lalu melangkah ke luar rumah.
Lian melajukan mobilnya ke arah rumah Aleena, dengan kecepatan mobil Lian sudah tiba di rumah Aleena. Lian terkejut melihat ada Motor Sport Kawasaki NINJA H2r berada di dalam rumah Aleena.
Lian bertanya-tanya siapa yang datang? Sudah pasti seorang Pria, dan apa hubungannya dengan Aleena?. Lian membuka pintu mobilnya lalu turun dari mobil menuju pintu rumah Aleena yang sudah terbuka sedikit. Lian sangat penasaran siapa yang berada di dalam.
"Tok ,,, Tok"
Lian mengetuk pintu, meski pintu sudah terbuka sedikit. Tak lama kemudian terlihat Aleena berada di depan pintu.
__ADS_1
"Heeiii ,,, Ayo masuk!" Seru Aleena tersenyum.
"Aku ganggu gak? Ada tamu kan?" Tanya Lian.
"Nope, Hanya teman kampus aja" Jawab Aleena.
Lian melangkah masuk, Lian menatap Elio yang sudah lebih dulu datang dan duduk di sofa.
"Lian, ini Elio teman kampus Aku" Seru Aleena memperkenalkan Elio pada Lian.
"Elio ,,," Ucap Elio sambil mengarahkan tangannya ke Lian.
"Lian ,,," Lian pun memperkenalkan diri.
"Jadi ini yang namanya Lian?" Ucap Elio dalam hati.
"Yaudah Al, Aku cabut dulu. Mau ke Basecamp dulu, Anak-anak yang lain udah tunggu Aku" Ucap Elio.
"Kenapa pergi, jadi gak enak?" Ucap Lian.
"Selow Bro, Gue cuma mau kasih baju aja ke sini. Masih ada urusan lain" Jawab Elio tersenyum.
"Thanks El ,,, nanti Aku kabari lagi" Ucap Aleena.
Aleena mengantar Elio sampai depan pintu, lalu kembali duduk di samping Lian. Aleena menatap wajah Lian yang sedikit bete melihat Elio datang ke rumah Aleena.
"Gapapa, ini baju apa?" Tanya Lian penasaran.
"Ini baju touring milik Club Motor nya Elio" Jawab Aleena tenang.
"Kamu join Club Motor sama Dia?" Tanya Lian.
"Gak, Cuma Elio ajak Aku untuk Join acara Club Motornya" Aleena jujur.
"Ohhhh ,,, mau ikut Touring Club' Dia?" Lian terus bertanya.
"Hmmm ,,, He'eh. Awalnya, sebelum Aku tau penyakit Diaz. Tapi Aku ragu untuk ikut karena Diaz" Ucap Aleena.
Lian sedikit cemburu dengan Elio, tapi Lian tidak berhak untuk melarang Aleena. Karena Lian tau diantar mereka belum ada ikatan.
"Aku culik yahh hehe" Seru Lian.
"Aku kangen dengan kata-kata itu,,," Ucap Aleena.
"Yaudah Yuk ,,,," Ajak Lian sambil menarik tangan Aleena agar segera pergi.
...***...
@ Taman Langit.
__ADS_1
Aleena sudah menduga Lian akan mengajak nya ke Taman Langit. Terakhir Aleena pergi ke Taman Langit bersama Lian beberapa Bulan yang lalu.
Lian merebahkan tubuhnya di atas rumput sambil menatap langit, Aleena duduk di samping Lian.
"Kamu gak cari Aleena's Star?" Tanya Aleena sambil menatap wajah Lian.
"Saat ini Aku kalau Aleena's Star gak muncul, Aku gak perlu menunggu Dia muncul. Karena Aku hanya ingin The Real Aleena" Jawab Lian membalas tatapan mata Aleena.
"Aku mau di sini sampai menjelang pagi,,," Ucap Lian.
"Kamu seriusan?" Ucap Aleena tidak percaya.
"Yup, kenapa? Keberatan?" Tanya Lian.
"Aku belum ijin sama Papa dan Mama" Ucap Aleena.
"Setau Aku, kalo nyulik orang itu gak perlu ijin kan" Ucap Lian sambil mencubit pipi Aleena.
Aleena hanya tersenyum.
"Berada di sini jauh lebih tenang, saat di rumah Aku takut. Beberapa kali Aku masuk ke dalam kamar Diaz, Untuk memastikan keadaan Diaz. Apalagi saat Diaz tertidur Aku takut Diaz gak akan bangun lagi" Ucap Lian sedih.
"Heeeiii ,,, kenapa harus berfikir kaya gitu. Positif thinking agar bisa berpengaruh terhadap kesehatan Diaz" Aleena mengingatkan.
"Jujur Aku takut " Ucap Lian.
"Aku juga takut Diaz Kenapa-kenapa, Tapi Aku banyak baca tentang penyembuhan penyakit seperti Diaz. Seharusnya kita orang terdekat Diaz harus bisa memberikan energi positif untuk Diaz. Jangan berfikir hal yang gak baik, nanti akan berpengaruh sama kondisi badan Diaz. Jadi mulai saat ini kita jangan tunjukan rasa kawatir dan takut kita ke Diaz" Jelas Aleena.
"Menurut kamu, kalo kita ajak Diaz Traveling gimana?" Tanya Lian.
"Gak bisa, kondisi Diaz belum stabil. Aku takut Diaz ngedrop" Ucap Aleena.
"Aku akan cari rumah sakit terbaik untuk pengobatan Diaz, Sekalian kita Traveling" Ucap Lian.
"Tapi tunggu kondisi Diaz benar-benar Fit, Jangan terburu-buru" Ucap Aleena.
"Aku boleh tanya?" Lian menatap wajah Aleena.
"He'eh" Aleena mengangguk.
"Saat ini perasaan kamu terhadap Diaz bagaimana?" Lian sangat ingin tau perasaan Aleena terhadap Diaz.
"Kenapa kamu bahas tentang ini?" Tanya Aleena.
"Semalaman Aku berfikir ini, Mungkin kalo kalian bersama bisa membuat kondisi Diaz jauh lebih baik. Dan mungkin sembuh" Ucap Lian.
Aleena diam tidak menjawab, Aleena hanya menatap langit. Sejak awal Aleena tau tentang perasaan Diaz, Aleena lebih memilih seperti ini. Mengalir seperti air, karena ini cinta segitiga. Yang jauh lebih rumit, Lian dan Diaz kakak beradik.
Aleena tidak mau merusak hubungan mereka berdua. Tapi jika di lihat dari sisi baik demi kesembuhan Diaz, bisa saja. Namun Aleena harus menjaga sikap dan perasaan Lian jika Diaz dan Aleena sedang bersama.
__ADS_1