CINTA Itu KAMU !

CINTA Itu KAMU !
* Dilema *


__ADS_3

Aleena, Fera dan Aliya keluar dari kamar, lalu menuju tempat makan yang sudah di sediakan oleh panitia. Aleena mencari sosok Elio, namun Elio tidak nampak.


Dan ternyata Elio merangkul lengan Aleena dari arah belakang. Aleena terkejut lalu tersenyum.


"Kamu dari mana?" Tanya Aleena.


"Kangen yah?" Ucap Elio jahil.


"Gak sih, cuma panik kalo kamu gak ada. Karena Aku belum kenal sama semua member Club kamu hehe" Jawab Aleena.


"Dengan kata lain, you need me" Ucap Elio.


Aleena hanya diam lalu melangkah mengikuti langkah Elio menuju meja makan. Mereka mulai duduk dan menunggu makanan datang.


Selesai dinner bersama, Elio mengajak Aleena berjalan-jalan sekitar penginapan. Sambil menikmati udara malam.


Aleena memandang sekeliling, Cukup luas dan nyaman. Apalagi Aleena memandang langit malam yang cukup cerah, Aleena tersenyum karena banyak bintang di atas langit.


"Duduk yuk, sambil liat langit malam dan juga kesukaan kamu. Bintang yang udah menyapa kamu" Seru Elio.


Aleena mengangguk tanda setuju.


Mereka duduk di atas rumput yang membentang, Elio menatap wajah Aleena.


Aleena tau Elio sejak tadi hanya memandangi wajah nya.


"Kenapa liatin Aku kaya gitu? Ada yang aneh?" Tanya Aleena.


"Aku lebih suka liat wajah kamu" Jawab Elio tenang.


Elio merogoh saku Jaket, untuk mengambil Rokok dan korek api. Baru pertama kali nya Aleena melihat Elio merokok.


Elio menyalakan api dan menyulut rokok yang sudah berada di mulutnya, lalu Elio menghisap rokok.


"El, kamu punya adik atau kakak?" Tanya Aleena sambil menatap wajah Elio.


"Heeiii ,,, liat. Ada bintang jatuh" Seru Elio sambil mengarahkan tangannya ke atas langit. Aleena menatap langit, memang benar ada cahaya kecil yang turun dari langit. Banyak yang bilang bintang jatuh.


"El ,,, Kamu belum jawab pertanyaan Aku tadi?" Ucap Aleena.


"Aku lebih suka kita bicarakan, mitos bintang jatuh. Yang katanya bisa wujudkan keinginan kita" Jawab Elio.


"Make a wish?" Ucap Aleena.


"Oke, Aku punya keinginan. Aku akan menyebut nya dalam hati dan doa ku" Ucap Elio sambil menatap langit dan memejamkan matanya.


Aleena memperhatikan Elio, sepertinya Elio menghindari pertanyaan Aleena tentang keluarganya. Aleena tidak akan memaksa, mungkin Elio tidak nyaman jika Aleena bertanya masalah pribadi apa lagi keluarga.

__ADS_1


Aleena lebih memilih diam, raga Aleena di sini namun hati dan pikirannya berada di Jakarta. Aleena memikirkan Diaz, Lian dan juga keinginan Tante Martha.


"What do you think?" Tanya Elio.


Aleena menghela nafas, lalu menatap Elio.


"Banyak yang Aku pikirkan, sampai Aku bingung harus yang mana lebih dulu Aku pikirkan" Ucap Aleena sambil menyandarkan dagunya di kedua tangannya.


"Lepaskan ,,, itu saran Aku" Ucap Elio.


"Aku bukan type orang seperti itu" Ucap Aleena.


"Kamu memang beda, maka dari itu Aku lebih nyaman berada di dekat kamu" Ucap Elio jujur namun terlihat tenang.


"Beda?" Ucap Aleena.


"Mungkin kamu udah dengar dari Arga atau juga Fera dan Aliya. Gimana sikap Aku terhadap cewek" Jelas Elio.


"Pertama liat kamu di kampus, Aku refleks sapa kamu. Dan entah kenapa Aku sama sekali gak menolak, biasanya Aku paling gak bisa dekat sama cewek. Sampai sedekat seperti sekarang sama kamu" Ucap Elio lagi.


"Apa yang membuat sikap kamu seperti itu?" Tanya Aleena.


"Hmmm ,,, Trauma mungkin?" Jawab Elio.


"Trauma?" Ucap Aleena.


"Al ,,, " Panggil Elio lembut.


"Hmmmm ,,, kenapa ?" Jawab Aleena.


"I love you" Ucap Elio to the point.


"What?" Aleena terkejut.


"I LOVE YOU" Ulang Elio lagi.


"You are kidding" Ucap Aleena yang masih tenang.


"Aku serius Al!" Elio menatap Aleena.


"Saat ini Diaz sakit sangat serius, dan kami juga gak tau sampai kapan Diaz bisa terus hidup dan sembuh. Orang tua nya tau kalo Diaz juga mencintai Aku. Mereka meminta Aku untuk bisa membuat Diaz bahagia, paling tidak Diaz masih bisa bertahan melawan penyakitnya dengan adanya ikatan sama Aku" Jelas Aleena tertunduk.


"Diaz sakit? Sakit apa?" Tanya Elio penasaran.


"Leukemia, Dan kami semua berharap Diaz segera mendapatkan Donor Tulang sumsum yang cocok untuk Diaz " Ucap Aleena.


"Astaga, separah itu penyakit Diaz?" Elio tidak percaya.

__ADS_1


"Faktanya seperti itu" Ucap Aleena.


"Lian tau, Kedua orang tua nya meminta kamu untuk tunangan sama Diaz?" Tanya Elio.


"Entahlah, Lian belum bahas itu sama Aku" Ucap Aleena.


"Ini gak fair, Kamu punya hak untuk menolaknya dan memilih siapa yang akan menjadi pendamping kamu. Bukan orang tuanya" Ucap Elio.


"Memang Aku punya hak untuk menolak karena Seperti yang kamu bilang, Aku yang menentukan jalan hidup Aku" Ucap Aleena.


"Tapi satu sisi, demi kemanusiaan. Untuk Diaz agar Diaz bisa melewati dan melawan penyakitnya. Aku gak munafik, Aku sayang sama Diaz. Dan juga Aku ingin Diaz sembuh" Ucap Aleena lagi.


"Seharusnya Aku juga gak mencintai kamu, tapi perasaan ini datang dengan sendirinya. Sebelumnya Aku gak pernah kaya gini. Aku orang yang paling sulit untuk jatuh cinta, Tapi entah kenapa sama kamu dengan begitu mudah rasa ini datang, dalam waktu yang singkat" Jelas Elio.


"Perasaan kamu gak salah, hanya waktunya gak tepat" Ucap Aleena.


"Seandainya Diaz gak sakit, apakah kamu menerima pesanan Aku saat ini?" Tanya Elio penuh harap.


"Aku gak bisa jawab untuk saat ini" Ucap Aleena.


"Aku tau, kamu sangat mencintai Lian " Tebak Elio.


"Dalam hati Aku memang masih sangat mencintai Lian, gak ada yang berubah" Ucap Aleena.


"Apa yang membuat kamu jatuh cinta sama Lian?" Tanya Elio.


"Rasa itu udah ada sejak pertama kali Aku liat Lian di kampus, Aku suka tatapan mata Lian yang teduh. Ekspresi wajahnya kalo dia senyum apalagi kalo Lian mimik mukanya ngambek" Ucap Aleena.


"Mungkin seharusnya kami sudah bersama, entah ada apa dengan kamu berdua. Seperti ada dinding di antara kami sehingga kami belum bisa bersatu" Ucap Aleena tertunduk.


"Heeiii ,,, Ada aku di sini. Aku akan menunggu sampai kamu bisa menerima Aku" Ucap Elio.


"Aku lebih nyaman kita seperti ini, tanpa ada yang tersakiti, tapi kita masih saling care" Ucap Aleena.


"Tapi Aku mau hanya ada Aku di hati kamu Al" Ucap Elio.


"Will see, hanya waktu yang bisa menjawab. Aku sendiri saat ini belum mendapatkan jawab atas keinginan Orang tua Diaz" Ucap Aleena.


"Yaudah kita masuk yuk, hampir larut malam " Ucap Elio.


Aleena mengangguk tanda setuju dan tersenyum. Aleena dan Elio melangkah menuju penginapan. Elio merangkul pundak Aleena.


"Lian, Diaz, Elio ,,, Tiga pria yang memiliki sifat dan karakter berbeda. Masing-masing punya kelebihan sendiri. Sejujurnya Aku lebih nyaman seperti ini, bebas tanpa ikatan" Ucap Aleena dalam hati.


Sekali lagi Aleena akan berfikir siapa yang benar-benar ia cintai. Seharusnya Aleena Traveling seorang diri tanpa salah satu dari mereka.


Mungkin nanti Aleena akan menemukan jawabannya.

__ADS_1


__ADS_2