CINTA Itu KAMU !

CINTA Itu KAMU !
* A Thousand Miles *


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan hampir 16 Jam, Jakarta-London. Akhirnya Lian bisa bernafas lega.


Dari Airport Lian segera memesan Taxi untuk menuju Hotel The Ritz London, yang berada 150 Piccadilly, St. James's, London W1J 9BR, Britania Raya.


Dari Airport menuju Hotel hanya membutuhkan waktu 40 menit. Lian ingin segera sampai di Hotel, ingin segera merebahkan tubuhnya.


Lian sudah berada di depan Hotel The Ritz, Lian akan menginap di sana selama berada di London.


Lian keluar dari Taxi, sang Driver mengeluarkan Travel Bag milik Lian dari dalam bagasi.


@The Ritz, London.


Di depan receptionis Lian sudah memesan kamar, lalu mendapatkan kunci kamar, pelayan Hotel mengantar Lian menuju kamar Lian.


Lian merebahkan tubuhnya, Lian sangat lelah. Perjalanan yang Lian tempuh cukup jauh.


Lian melirik jam di atas meja, sekarang pukul 6 sore waktu London. Lian meraih ponsel yang berada di sampingnya. Lian akan menghubungi Diaz.


"Tuutt ,,, Tuutt ,,, Tuutt"


Nada tersambung ke ponsel Diaz. Diaz belum juga menjawab panggilan Lian. Lian mencoba beberapa kali untuk menghubungi Diaz.


"Ya Mas" Jawab Diaz dengan suara lemas.


"Lama banget, lagi ngapain Lo?" Tanya Lian curiga.


"Gue lagi tidur" Ucap Diaz.


"Gila jam segini udah tidur?" Ucap Lian terkejut.


"Lah mau ngapain lagi?" Ucap Diaz.


"Lo gak pergi? Masih sore udah Ngandang kaya anak perawan aja Lo?"


Ucap Lian.


"Lo amnesia yah? di Jakarta sekarang jam 12 malam" Ucap Diaz.


"Ya Ampun Gue lupa hahaha" Ucap Lian tertawa.


"Lo udah sampe?" Tanya Diaz.


"Iya lagi di Hotel, menurut Lo Gue ke kampus Raya apa langsung ke rumah Raya?" Ucap Lian.


"Langsung ke rumahnya aja, tapi Lo pastiin Raya gak ada di rumah. Gue khawatir kalo Lo ketemu Raya dulu, bakal kacau rencana Lo" Jelas Diaz.


"Ok, thanks my Bro. Sorry Gue ganggu tidur Lo" Ucap Lian.


"Selow Mas" Ucap Diaz sambil menutup telponnya.


Besok Lian akan mencari alamat rumah Raya, Lian berharap bisa bertemu dengan Om David Papanya Raya.


Menurut info dari Darren teman Diaz, rumah Raya di sekitar Chelsea. Sengaja Lian menginap di Hotel The Ritz karena tidak terlalu jauh ke tempat Raya, hanya butuh waktu sekitar 20 menit dari Hotel The Ritz.


Malam ini Lian akan pergi ke Bar sekitar Hotel The Ritz, menurut pelayan Hotel Bar favorit di sini adalah The Clarence. Lian akan mencobanya malam ini. Agar sedikit relax pikirannya untuk besok.


Lian melangkah ke Luar kamar, untuk pergi ke Bar. Lian memesan Cocktail, dan snack untuk teman minum.


Sejujurnya Lian tidak nyaman sendirian di sini. Seharusnya Diaz ikut bersamanya. Tapi Lian mau Diaz menjaga Aleena di saat Lian pergi.


Karena bosan, akhirnya Lian putuskan untuk kembali ke kamar Hotel. Agar besok punya power untuk mencari alamat rumah Raya.


️08:30 Waktu London.


Lian membuka matanya perlahan, lalu beranjak dari atas tempat tidur. Lian membuka Gorden kamarnya, lalu melangkah ke kamar mandi.


Setelah sarapan Lian segera mencari rumah Raya. Lian melangkah keluar Hotel, sepertinya Lian akan berjalan kaki mencari rumah Raya.


Lian sudah menanyakan kepada petugas Hotel alamat rumah Raya. Tidak terlalu jauh, Jalan kaki itu sehat pikir Lian. Sekalian Lian bisa menikmati pemandangan kota London.


Dengan penuh keyakinan Lian akan segera menemukan rumah Raya dan akan bertemu lagi dengan Raya.


Lian terus melangkah, matanya terus melihat sekelilingnya. Tepat di plang nama jalan, Lian menghentikan langkahnya. Sepertinya ini alamat rumah Raya, untuk memastikan Lian melihat Note di dalam ponselnya.


Memang benar ini jalan menuju rumah Raya, Lian tersenyum. Tidak sia-sia Lian datang jauh-jauh dari Jakarta menuju London.


Ribuan Mil Lian tempuh untuk memastikan perasaannya terhadap Raya. Hatinya sudah menemukan pelabuhan, yaitu Raya.


Lian segera melanjutkan langkah untuk mencari rumah Raya, Lian terus mencari nomor rumah Raya.


Mata Lian tertuju pada sebuah rumah berwarna putih, sepertinya ini rumah Raya. Lian mendekati rumah itu, untuk memastikan.


Langkah Lian terhenti di depan pintu, Lian mencoba mengetuk pintu rumah Raya.


Sebelum Lian mengetuk pintu, pintu rumah sudah terbuka. Terlihat sosok Om David Papanya Raya.


Om David terkejut melihat Lian berdiri di depan pintu rumahnya.


Lian tersenyum menatap Om David, Lalu menyapa.


"Om David" Sapa Lian Sambil tersenyum.


"Lian, benar ini kamu?" Ucap Om David sedikit tidak percaya.


"Iya Om, ini Lian" Jawab Lian.


"Mari masuk Nak!" Ucap Om David menyuruh Lian masuk kedalam rumahnya. Lian melangkah memasuki rumah Raya.


"Silahkan duduk" Ucap Om David.


Lian duduk berhadapan dengan Om David.


"Bagaimana kabar Papa dan Mama mu? Masih sibukkan mereka?" Tanya Om David.


"Mereka baik Om, seperti Om tau. Mereka tidak pernah berada di rumah" Ucap Lian.


"Ada apa kamu jauh-jauh datang ke sini?" Tanya Om David penasaran.


"Lian sengaja datang ke sini, untuk bertemu langsung dengan Om" Ucap Lian.

__ADS_1


"Ada hal penting apa?" Ucap Om David.


"Sebelumnya Lian minta maaf karena sudah lancang datang ke sini" Ucap Lian memberanikan diri.


"Om, Lian ingin meminta ijin langsung sama Om, untuk melamar Raya" Ucap Lian lega.


"Melamar?" Ucap Om David terkejut.


"Iya Om, maaf kalau Lian lancang" Ucap Lian.


"Haduh, Om bingung menjelaskan ini ke kamu" Ucap Om David sambil menghela nafas.


Lian menatap raut wajah Om David dengan wajah serius.


"Lian, sebelumnya Om sekeluarga minta maaf sama kamu, karena kamu sudah datang langsung menemui Om" Ucap Om David, Lian melihat ada keraguan dari Om David.


"Jujur Om salut sama keberanian kamu untuk melamar Raya anak Om" Ucap Om David.


"Tapi kami mohon maaf yang sebesar-besarnya sama kamu---" Belum selesai Om David mejelaskan Lian sudah memotong pembicaraan.


"Maaf Om, langsung aja pada intinya, ada apa? dari tadi Om hanya memutar kata aja" Ucap Lian memotong pembicaraan.


"Baiklah, Lian sebenarnya Raya sudah menikah. Maaf kalau kamu kecewa mendengar ini" Ucap Om David.


Lian terkejut mendengar ucapan Om David, sekujur tubuh Lian gemetar. Lian hanya diam terpaku, tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Om pikir Raya sudah memberi tahu kamu saat kemarin ke Jakarta" Ucap Om David.


"Saat Raya pergi ke Jakarta, Raya sedang bertengkar dengan Justin Suami Raya" Jelas Om David.


Lian masih diam dan tertunduk, hatinya begitu hancur. Raya membohongi Lian, pantas saja saat Lian bicara soal menikah Raya menolaknya.


"Om paham kamu kecewa, maaf Lian. Dan saat ini Raya tidak tinggal di sini. Raya tinggal bersama suaminya" Jelas Om David lagi.


"Boleh Lian tau alamat Raya?" Pinta Lian.


"Maaf Nak Lian, keadaannya sekarang sudah berbeda. Raya sudah memiliki keluarga, dan lagi mereka baru saja memperbaiki hubungan keluarganya" Ucap Om David.


"Baiklah Om, kalau begitu Lian pamit. Maaf kedatangan Lian bukan sengaja ingin mengganggu keluarga Raya. Tapi Lian benar-benar tidak tau kalau Raya sudah menikah" Ucap Lian dengan nada kecewa.


"Lian maaf sekali lagi atas nama keluarga dan juga atas nama Raya" Ucap Om David.


Lian hanya tersenyum lalu beranjak dari duduknya. Lian berjabat tangan dengan Om David lalu melangkah keluar rumah.


Papa Raya menatap Lian melangkah meninggalkan rumahnya. Langkah kaki Lian begitu berat. Ternyata ini jawaban dari semua keraguan Lian terhadap Raya.


Lian terus melangkah menuju Hotel, Lian ingin menenangkan hati dan pikirannya.


Sampai di Hotel Lian menghubungi pelayan Hotel untuk membawakan sebotol whiskey.


Seorang pelayan datang membawakan pesanan Lian, segera Lian membuka Botol Whiskey lalu ia tuangkan ke dalam gelas.


Terus saja Lian meminum Whiskey yang berada di hadapannya. Hati Lian benar-benar hancur. Lian menangis untuk yang kesekian kalinya karena Raya.


Sudah Dua hari Lian berada di London, Lian belum menghubungi Aleena sejak berada di sana. Aleena terus memikirkan Lian, apakah Lian baik-baik saja?.


Memang sudah tidak berhak untuk ikut campur dalam urusan Lian. Tapi entah kenapa Aleena begitu khawatir dan takut terjadi sesuatu pada Lian.


Seandainya Aleena punya keberanian untuk pergi menemani Lian, mungkin Aleena tidak seperti ini. Walau akhirnya Aleena tau Lian akan tetap memilih Raya.


Aleena meraih ponsel yang berada di atas bantal. Aleena mencoba menghubungi Diaz. Mungkin Diaz sudah dapat kabar dari Lian.


Aleena membuka kontak telepon, mencari nama Diaz. Lalu menghubungi Diaz.


"Tuutt ,,, Tuutt ,,, Tuutt"


"Kenapa Al,,,?" Ucap Diaz


menjawab panggilan Aleena.


"Ada kabar dari Lian?" Tanya Aleena dengan nada cemas.


"Kemarin Lian kasih kabar udah ada di Hotel. Dia belum telpon Aku lagi" Ucap Diaz mencoba menenangkan Aleena.


"Kalo udah ada kabar dari Lian, cepat hubungi Aku yah" Pinta Aleena.


"Pasti, kamu orang pertama yang Aku kabarin" Ucap Diaz.


"Thanks Diaz" Ucap Aleena, lalu menutup telponnya.


"Lian, dimana kamu berada. Semoga kamu baik-baik aja" Ucap Aleena dalam hati.


Baru kali ini Aleena merasakan cemas karena berada jauh dari Lian. Bukan hanya cemas namun hatinya juga terluka.


Namun Aleena masih bisa menutupi dan menahan demi seorang Lian. Aleena Membuka Sliding door di kamarnya.


Aleena menatap langit, ada banyak bintang di sana. Malam ini begitu cerah, Aleena mencari Bintang Terang seperti yang Aleena temukan di Taman Langit.


Aleena tersenyum ternyata malam ini Bintang Terang itu terlihat dari balkon kamarnya.


Aleena berharap Lian juga bisa melihat bintang terang itu. Meski mereka tidak berada di tempat dan waktu yang sama, namun dapat melihat bintang di langit yang sama.


Aleena terkejut melihat Mobil milik Diaz berhenti di depan rumahnya. Diaz membuka kaca Mobilnya, lalu melambaikan tangannya ke arah Aleena.


Aleena melangkah ke luar kamar, menuju Diaz yang sudah berada di depan rumahnya.


"Keliling dunia yuk hehe, bete banget" Ajak Diaz.


"Kemana?" Tanya Aleena.


"Ikutin roda berputar aja" Ucap Diaz.


Aleena mengangguk lalu membuka pintu mobil, dan masuk ke dalam mobil. Diaz melajukan mobilnya, ke arah .


Ganti suasana ke arah sana, di tempat nongkrong asik anak Jakarta. Diaz memilih sebuah cafe yang tidak terlalu ramai, Anomali Coffee.


Diaz membuka pintu mobil untuk Aleena, lalu mengulurkan tangan ke arah Aleena. Aleena membalas uluran tangan Diaz.


"Kita Ngaffee aja yahh" Ucap Diaz tersenyum.

__ADS_1


"Bosan sama Bar yah" Ledek Aleena.


"Ganti suasana sedikit romantislah" Ucap Diaz.


Aleena duduk di hadapan Diaz, Aleena menatap tiap gerakan Diaz. Dari memesan makanan dan minuman.


Usia Aleena dan Diaz memang sama, jadi nyambung buat teman ngobrol. Karena dulu mereka lahir hanya beda beberapa Minggu saja.


Diaz tau Aleena sedang memperhatikan dirinya. Diaz hanya tersenyum sendiri, hanya ada satu kemungkinan apakah Aleena mulai jatuh hati?.


Diaz makin tersenyum membayangkan jika benar Aleena mulai membuka hatinya dan tertarik padanya.


"Heeii, kenapa?" Tanya Aleena bingung.


"Gapapa" Ucap Diaz tersenyum.


"Aku mau ketaman langit" Ucap Aleena.


"Taman Langit?" Ucap Diaz.


"Iya, tempat favorit Aku dan Lian. Entah kenapa dari semalam Aku ingin kesana" Ucap Aleena.


"Kamu tau jalannya? Kita kesana!" Ucap Diaz.


Aleena mengangguk pelan lalu tersenyum.


Mereka beranjak dari duduknya, untuk keluar Caffe. Dan pergi menuju Taman Langit.


Tiba di Taman Langit, Aleena bergegas keluar dari mobil. Lalu melangkah ke tepi bukit, Aleena berdiri memandang sekitarnya.


Aleena menarik nafas dalam-dalam, dan memejamkan matanya. Hembusan angin membuat rambut milik Aleena menghalangi matanya.


"Woww, Beautiful. Lian tau aja tempat keren kaya gini" Ucap Diaz yang mendekati Aleena.


"Lian bilang gak banyak orang yang tau,, Raya pun belum pernah Lian bawa kesini" Ucap Aleena.


"Mana mau Raya ke tempat macam ini,,," Ucap Diaz tersenyum.


"Ya, Lian juga bilang. Raya lebih suka tempat ramai, kaya kamu" Ucap Aleena tersenyum dan menoleh ke arah Diaz.


"Tapi kayaknya pelan-pelan mulai memudar, sejak kenal kamu. Jadi agak melow dikit hehe" Ucap Diaz asal.


Aleena duduk di atas rumput, Aleena menarik pelan tangan Diaz agar segera duduk di sampingnya.


Aleena menatap Diaz begitu dalam, Dan Diaz membalas tatapan Aleena sambil memegang jemari Aleena.


"Andai kita berdua sepasang kekasih" Ucap Diaz.


"Kenapa?" Tanya Aleena pelan.


"Gapapa sih, Aku rela jadi bayang-bayang Lian untuk kamu" Ucap Diaz jujur.


"Tetaplah jadi Diaz yang Aku kenal. Kamu dan Lian dua orang yang berbeda. Justru Aku lebih suka gaya kamu yang ceplas-ceplos" Ucap Aleena.


Diaz memandangi wajah Aleena, lalu merapihkan rambut Aleena.


"Iya, kami memang dua orang yang berbeda. Tapi sama-sama mencintai satu wanita " Ucap Diaz.


"Bisa aja kamu ,,," Ucap Aleena malu.


"Ake senang bisa dikelilingi orang-orang seperti kamu dan Lian, Aku tuh paling susah buat dekat sama cowok. Dulu Aku pikir tempat ternyaman di samping cowok itu Papa" Ucap Aleena lagi sambil tersenyum.


"Tapi sekarang selain Papa, ada kamu dan Lian. Buat Aku itu udah cukup" Aleena masih bicara.


Aleena menyandarkan kepalanya di bahu Diaz, Diaz langsung merangkul pundak Aleena lalu mengusap lembut rambut milik Aleena.


"Kamu tau, Aku belum pernah yang namanya suka apalagi jatuh cinta sama cewek" Ucap Diaz.


"Meskipun Aku pernah menjalin hubungan sama cewek, tapi buat Aku itu bukan pure perasaan cinta" Ucap Diaz lagi.


"Kamu bisa menjalani hubungan tanpa ada rasa cinta?" Tanya Aleena.


"Aneh sih rasanya" Jawab Diaz asal.


"Saat ini Aku baru mulai merasakan jatuh cinta,,," Ucap Diaz pelan.


Aleena menatap wajah Diaz.


"Aku boleh jujur?" Ucap Diaz dengan wajah serius.


"Bukannya kamu itu suka bicara langsung? Jawab Aleena tersenyum.


"Benar juga hehe" Ucap Diaz.


"Kamu mau bicara apa?" Tanya Aleena.


"Dari awal pertama kali Aku melihat kamu, Aku udah jatuh hati sama kamu. Tapi Aku coba tahan karena ada Lian" Ucap Diaz.


"Sampai Aku berpikir rela jadi bayang-bayang Lian" Diaz masih bicara.


"Mungkin masih terlalu cepat Aku bilang ini, tapi Aku harap Lian dan Raya bisa bersama" Ucap Diaz lagi.


Aleena masih diam, Aleena bingung harus bicara apa pada Diaz. Dalam hati Aleena masih menyimpan cinta yang begitu besar terhadap Lian.


"Diaz Aku----" Ucap Aleena.


"Sstttt, gak perlu kamu jawab sekarang. Aku hanya ingin kamu tau perasaan ini" Ucap Diaz sambil mengusap wajah Aleena.


"Kita gak akan tau cinta itu kapan datangnya, dan sama siapa kita akan jatuh cinta. Buat Aku cinta itu sakral dan kenyamanan" Ucap Aleena.


"Aku harap, dengan kejujuran Aku jangan buat kamu menghindar atau berubah sikap sama Aku" Ucap Diaz.


"Never, Aku bukan orang yang seperti itu" Jelas Aleena.


"Kita gak akan tau gimana kedepannya. Besok atau lusa bisa aja semua berubah" Jelas Aleena lagi.


"Aku sih, berharap semua akan bahagia" Ucap Diaz.


Aleena hanya tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2