CINTA Itu KAMU !

CINTA Itu KAMU !
* Serba Kebetulan ! *


__ADS_3

Diaz terkejut, saat terbangun dari tidurnya ada sosok Lian di samping nya.


"Mas, ngapain Lo tidur di kamar Gue" Ucap Diaz membangunkan Lian. Dengan berat


Lian membuka matanya perlahan.


"Gue masih ngantuk Diaz" Ucap Lian sambil menarik selimut.


"Lahhhh , tidur di kamar Lo kalo masih ngantuk " Ulang Diaz.


"Ada Aleena di kamar Gue, gak mungkin Gue tidur bareng sama Aleena" Jelas Lian sambil menutup mulutnya dengan tangannya karena menguap.


"Aleena?" Ucap Diaz terkejut.


"Bodoh Lo Mas, Ada Cewek Cantik Lo anggurin tidur sendirian" Ucap Diaz.


"Aleena Cewek baik-baik, Gue harus jaga kepercayaan Orang Tua nya" Jelas Lian.


"Lupa gue, Aleena bukan Raya. Mungkin kalo Raya Lo pasti udah tidur bareng Raya " Ucap Diaz.


Diaz Beranjak dari atas tempat tidur. Menuju jendela, lalu membuka Gorden kamarnya. Agar sinar mentari masuk kedalam kamarnya.


Lian benar-benar sudah berubah, apa mungkin Aleena yang membuat Lian berubah. Pikir Diaz , Aleena memberikan energi yang positif bagi Kakaknya.


Diaz keluar kamar menuju meja makan, perutnya sudah terasa lapar. Terlihat Baik Nina tengah sibuk menyiapkan sarapan.


"Bik, Diaz Laa--" Ucapan Diaz terputus, karena yang Diaz lihat sosok Aleena sedang menyiapkan sarapan.


"Kamu ngapain Aleena?" Tanya Diaz.


"Kenapa? Aku bantu Bik Nina buat sarapan untuk kita" Jawab Aleena tenang.


"Lian mana?" Tanya Aleena.


"Masih tidur, Lian kalo tidur lama" Ucap Diaz.


"Kamu udah lapar yah?" Ucap Aleena.


"Iya Lapar banget" Ucap Diaz.


"Oke Aku bangunin Lian, kasian kamu lapar" Ucap Aleena melangkah menuju kamar Diaz.


Aleena membuka pintu kamar Diaz perlahan, lalu menghampiri Lian yang masih terlelap dalam tidurnya.


Aleena memandangi wajah Lian cukup lama, baru kali ini Aleena melihat jelas wajah Lian saat tidur.


Tiba-tiba tangan Lian menarik tubuh Aleena, Aleena terjatuh tepat di atas tubuh Lian.


"Liiaaannn,,," Seru Aleena terkejut.


"Kamu ngapain di sini?" Ucap Lian sambil memeluk erat tubuh Aleena.


"Aku tuh mau bangunin kamu, kita sarapan" Ucap Aleena. Mencoba melepaskan pelukan Lian.


"Lian, nanti di liat Diaz, gak enak" Ucap Aleena. Lian melepaskan pelukannya. Lalu beranjak dari tempat tidur untuk ke kamar mandi.


"Aku turun duluan yah" Ucap Aleena.


Lian mengangguk.


Usai sarapan Lian mengajak Aleena ke teras belakang rumah, Lian masih ingin bersama Aleena.


Karena untuk saat ini hanya weekend saja mereka bisa bertemu, Lian sangat sibuk di kantor.


Jadi Lian memanfaatkan waktu seperti untuk bisa bersama Aleena.


"Kamu pulang sore yahh, Aku masih mau kamu disini" Pinta Lian pada Aleena.


Aleena mengangguk tanda setuju, sejujurnya Aleena juga masih ingin bersama Lian. Karena sejak Lian bekerja mereka jarang bertemu.


Diaz memperhatikan Lian dan Aleena dari kejauhan. Jujur Diaz mengagumi sosok Aleena. Menurut Diaz, Aleena gadis paling cantik yang pernah ia temui.


Kalau saja saat ini Aleena tidak dekat dengan Lian. Diaz ingin sekali memiliki Aleena.


Lian begitu beruntung di cintai dua gadis cantik, sedangkan Diaz beberapa kali menjalin hubungan selalu saja kandas.


Andai saja Raya kembali, mungkin Lian akan terus bersama Raya. Karena Diaz tau Lian sangat mencintai Raya.


Dan saat itulah Diaz bisa mencari celah untuk mendekati Aleena.


...***...


Lian tengah menikmati segelas Wine di balkon rumahnya. Tiba-tiba Diaz datang menghampiri lalu merebut gelas yang berisi Wine yang ada di tangan Lian. Lalu meneguknya.


"Lo gak kencan Mas?" Tanya Diaz sambil menjatuhkan tubuhnya di atas kursi.


"Mager banget Gue" Jawab Lian santai.


"Jujur ya Mas , Gue suka sama Lo yang sekarang. Ada baiknya Raya pergi jauh dari hidup Lo" Ucap Diaz jujur.


Lian melirik kearah Diaz tanda tidak suka.


"Tapi Seandainya Raya kembali gimana Mas?" Tanya Diaz. Lian hanya menatap Diaz.


"Lo gak takut Mas?" Tanya Diaz lagi.


"Gue lagi gak mau bahas tentang Raya!" Tegas Lian.


"Lo harus bisa terima kenyataan Mas, kalo nanti Raya datang. Lo harus punya pilihan" Ucap Diaz.


"Pertanyaan Lo hampir sama kaya Aleena" Ucap Lian.


"Aleena tanya itu karena Dia tau posisi nya?" Jelas Diaz.


"Jujur gue takut Aleena pergi, tapi satu hal hati gue masih berharap Raya kembali" Ucap Lian.


"Lo pasti tau siapa yang terbaik buat Lo, tanya hati Lo Mas" Ucap Diaz.


"Dan Lo harus ingat, disaat hati Lo memilih. Bakal ada satu hati yang terluka" Ucap Diaz mengingatkan.


Lian hanya diam menatap lurus ke depan.


"Apa yang buat hati Lo masih berharap Raya kembali?" Tanya Diaz.


"Raya cinta pertama Gue, Terlalu banyak yang udah Gue lewati sama Raya" Jelas Lian.


"Berarti Lo lebih berat ke Raya, itu udah jelas Mas. Kenapa masih ragu?" Ucap Diaz.


Dan jika Raya benar kembali ada sedikit celah dan harapan untuk Diaz bisa mendekati Aleena, dan mungkin Diaz rela menjadi bayang-bayang Lian untuk Aleena.


"Masalah nya cuma satu, Raya pergi" Ucap Lian.


"Mas, kalo Gue jadi Lo. Gue bakal pertahanin Aleena, Lo harus fight Mas" Ucap Diaz.

__ADS_1


"Itulah bedanya Gue sama Lo" Ucap Lian.


"Terus hadirnya Aleena buat apa?" Ucap Diaz.


"Gue berharap dengan hadirnya Aleena, bisa buat Gue lupa sama Raya" Ucap Lian.


"Nyatanya, Lo masih berharap Raya kembali" Ucap Diaz.


"Gue yakin suatu hari Raya akan kembali, saat itulah Gue akan tau siapa yang Gue pilih" Jelas Lian.


"Yang Gue pikirin cuma satu, perasaan Aleena kalo Dia tau Raya tiba-tiba datang"  Ucap Diaz


"Asli rumit banget, Drakor Versi Indonesia dahh " Ucap Diaz sambil menepuk keningnya.


"Gue masuk dulu yah, besok banyak kerjaan di kantor" Ucap Lian sambil melangkah menuju kamar tidur nya.


"Gue juga udah ngantuk Mas" Ucap Diaz.


@Office.


Hari ini Lian benar-benar sibuk, ada beberapa dokumen yang harus Lian Revisi.


Serta Lian juga harus membuat proposal penawaran untuk ke Perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan Papanya.


"Ternyata serumit ini pekerjaan di kantor" Keluh Lian sambil menarik nafas panjang.


"Krriiinngg ,,, Krriiinngg "


Ponsel Lian berdering.


Lian menatap layar ponsel nya, nomor tak di kenal menghubunginya. Lian mengabaikan panggilan nya.


"Krriiinngg ,,, Krriiinngg "


Deringan kedua dengan nomor yang sama.


Lian coba menjawab panggilan nya.


"Hello,,," Ucap Lian menjawab panggilan nya.


"Honey ,,, " Ucap seseorang yang menghubungi Lian.


"Raya! " Ucap Lian, Lian hafal dengan suara milik Raya.


"Besok kita meet up" Ucap Raya.


"Are you sure ?" Ucap Lian kaget.


"Ya, Miss you Honey" Ucap Raya.


"Tut ,,, Tut ,,, Tut"


Sambungan terputus.


Lian coba menghubungi Luna kembali tapi tidak bisa.Lian memastikan kembali nomor yang Raya pakai untuk menghubungi nya.


Ini nomor ponsel Jakarta.


"Kamu dimana Raya?, Belum cukupkah kamu siksa Aku seperti ini" Ucap Lian lemas.


Entah perasaan senang atau sedih, semua menyatu dalam pikiran Lian. Akhirnya waktunya telah tiba, saatnya Lian harus menetapkan hati.


Sepanjang hari Lian tidak bisa fokus pada pekerjaan nya, Lian terus saja memikirkan Raya.


Lian memutuskan untuk pulang ke rumah, otaknya sudah tidak dapat berfikir dan fokus pada pekerjaan nya. Lian meninggalkan kantornya menuju ke rumah nya.


@Home


Dengan langkah gontai Lian menuju kamarnya Lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Lian tidak membiarkan Ponsel nya lepas dari genggaman tangan nya. Lian masih berharap Raya akan menghubungi nya lagi.


Hingga larut malam Lian masih menunggu Raya menghubunginya. Sampai Lian tertidur dengan ponsel yang masih berada di dalam genggaman nya.


Hari ini Lian tidak masuk Kantor, Lian masih menunggu Raya untuk menghubungi nya. Dengan wajah yang gelisah Lian bolak-balik di dalam kamar nya.


"Lo gak Ngantor ?" Tanya Diaz masuk kedalam kamar Lian.


Diaz menatap aneh wajah Lian yang begitu cemas. Seperti ada yang Lian tunggu.


"Kemarin Raya hubungi Gue, Raya minta ketemu hari ini" Jawab Lian datar.


"What's?" Diaz terkejut.


"Gue nunggu Dia hubungin Gue lagi, sampe sekarang belum hubungin Gue" Ucap Lian.


" Keep calm brother " Ucap Diaz.


"Gue gak bisa tenang kalo kaya gini, Nomor yang Dia pake buat Hubungin Gue, gak bisa di telpon" Keluh Lian sambil menghela nafas.


"Mas Lian ,,, " Seru Bik Nina tiba-tiba sudah berada di depan pintu kamar Lian.


"Ada Non Raya, sudah menunggu di bawah " Ucap Bik Nina memberi tahu.


"Raya" Dengan langkah cepat Lian menghampiri Raya.


Lian menghampiri Raya, yang berdiri memandangi Lian. Raya masih saja terlihat cantik dan Sexy.


Namun sekarang Raya lebih berani dalam berpakaian. Lian segera memeluk Raya begitu erat.


"Kamu kemana aja?" Ucap Lian.


"Jangan buat Aku cemas lagi" Ucap Lian lagi.


"Miss you Honey" Ucap Raya pelan.


"Miss you so much Hiraya" Balas Lian.


Lian menarik lengan Raya, menuju kamar Lian. Raya mengikuti langkah Lian.


Diaz masih berada di dalam kamar Lian, Raya tersenyum menatap Diaz.


"Heeii Diaz, Miss you" Ucap Raya, menghampiri Diaz lalu memeluk Diaz.


"Akhirnya kita kumpul lagi" Ucap Raya.


"Iya akhirnya,,," Ucap Diaz.


"Ya udah, Gue mandi dulu. Kalian kangen-kangenan aja dulu" Ucap Diaz lalu meninggalkan Lian dan Raya.


"Waduhh, kacau. Bakal banyak Drama dan Air mata ini mah" Ucap Diaz dalam hati.


Lian dan Raya duduk di Balkon kamar Lian, Lian terus memandangi wajah Raya. Untuk melepas rasa rindunya selama ini.


"Kamu apa kabar?" Tanya Raya.

__ADS_1


Lian masih diam.


"Aku dengar kamu udah kerja di kantor Papa kamu ya?" Tanya Raya lagi.


"Kamu kenapa sih, diam aja" Ucap Raya sambil mengusap lembut wajah Lian.


"Aku rindu kamu Raya" Ucap Lian pelan.


"Aku kembali untuk bertemu sama kamu. Dan harus kembali lagi ke London." Jelas Raya.


"Kenapa?" Tanya Lian ingin tahu.


"Kuliah Aku belum selesai, dan lagi Mama dan Papa Aku menetap di sana" Jelas Raya tenang.


Lian menunduk dengan raut wajah kecewa. Raya mengangkat wajah Lian.


"Aku tuh kangen sama wajah kamu yang kaya gini" Ucap Raya sambil mengecup Pipi Lian.


"Kamu memang suka buat Aku kaya gini" Ucap Lian.


Raya beranjak dari duduknya, matanya mengarah ke meja di samping tempat tidur Lian, lalu Raya tersenyum.


"Foto kita masih saja ada di sana" Ucap Raya sambil mengarahkan jari nya ke atas meja.


"Foto itu akan tetap di sana" Ucap Lian.


"Oya, walaupun nantinya kamu sudah menikah?" Tanya Raya.


"Maksud kamu?" Tanya Lian.


"Siapa tau ada wanita lain selain Aku" Ucap Raya.


"Aku memang lagi dekat dengan wanita lain, tapi belum bisa ganti posisi kamu" Ucap Lian.


Raya terkejut lalu menatap wajah Lian.


"Siapa?" Ucap Raya penasaran.


"Dia datang di waktu yang tepat, di saat Aku bener-benar berada di titik nol" Ucap Lian.


"Di saat kamu pergi, di saat Diaz pergi. Aku kesepian dan terpuruk"


Ucap Lian lagi.


"Diaz? Maksudnya?" Tanya Raya bingung.


"Setelah kamu pergi, selang beberapa bulan Diaz juga pindah Kuliah di Belanda. Semua pergi ninggalin Aku" Jelas Lian.


"Hari-hari ku sepi, Aku selalu menghabiskan waktu di Danau belakang Kampus. Diam-diam Aleena memperhatikan Aku, Aku tau Aleena ingin sekali menyapa dan berteman dengan ku" Ucap Lian.


"Aleena, nama yang bagus. Pasti cantik orangnya" Ucap Raya.


"Awalnya Aku gak tertarik dengan kebaikan Aleena, Aku selalu mengacuhkan Aleena. Namun Aleena tidak menyerah Dia selalu saja berusaha ingin menjadi teman ku" Lian masih bercerita.


"Akhirnya Aku berfikir, kenapa tidak mencoba untuk berteman dengan orang yang belum Aku kenal. Karena selama ini yang Aku punya hanya Kamu dan Diaz" Lian terus bercerita.


"Aku ingin bertemu Aleena, boleh?" Tanya Raya.


"Untuk saat ini jangan, Aku belum siap jika Aleena menjauhi ku" Ucap Lian.


"Kamu mencintai Aleena?" Ucap Raya sedikit kecewa.


"Entahlah, sampai saat ini Aku sendiri bingung mau kemana arah kedekatan kami" Ucap Lian.


"Kamu masih menunggu Aku?" Tebak Raya.


"Iya, Aleena pun tau. Sampai saat ini Aku masih berharap kamu kembali" Jelas Lian.


"So Sweetie,,," Ucap Raya sambil memeluk Lian.


Setelah mendengar cerita Lian tentang Aleena, ada rasa cemburu di dalam hatinya.


Raya sadar ini semua kesalahan nya, ada rasa haru dan bangga. Ternyata Lian masih berharap dan menunggu nya sampai hingga sekarang.


"Aku akan mencari tau tentang Aleena" Bisik Raya dalam hati.


"Selama di Jakarta kamu stay di mana?" Tanya Lian.


"Di Pondok Indah, tempat Tante Tasya adik Mama " Jelas Raya.


"Kenapa gak di sini, rumah ku" Ucap Lian menawarkan.


"Mama dan Papa menitipkan Aku di tempat mereka, kalo Aku gak di sana Papa akan suruh Aku segera ke London" Jelas Raya.


"Raya, please stay with me! " Pinta Lian memohon.


"Honey, I'm sorry. Aku ke Jakarta karena harus mengambil dokumen milik Papa yang tertinggal" Jelas Raya.


Raya memang keras kepala, Dia tidak bisa merubah keinginan nya. Sejak dulu Lian selalu saja mengalah dan menuruti keinginan Raya.


"Oke Aku harus ke rumah Tante Tasya, Dia udah menunggu ku" Ucap Raya.


"Aku antar kamu pulang!" Ucap Lian.


"Aku bawa Mobil Tante Tasya " Ucap Raya.


"Besok malam kita ke Skye Bar, Please" Ucap Lian memohon.


"Oke, kita ke sana Jam 7" Ucap Raya sambil beranjak dari duduknya, lalu memeluk Lian.


Lian membalas pelukan Raya, Lian mengangkat dagu Raya lalu mengecup bibir Raya.


Raya tidak bisa menolaknya, lama mereka saling berciuman. Untuk melepas rasa rindu mereka, Lian rindu saat-saat seperti ini.


Pikiran Lian melayang-layang, terlintas bayangan Aleena. Lian menghentikan aksinya lalu melepaskan pelukannya.


"Kenapa?" Ucap Raya.


Terkejut karena Lian menyudahi permainannya. Sementara Raya sedang menikmatinya.


"Bukan karena Aleena kan?" Tanya Raya sedikit cemburu.


"Ada Diaz, gak enak" Ucap Lian berbohong.


"Sejak kapan kita melakukan ini gak enak sama Diaz?" Ucap Raya.


Raya tau Lian berbohong, ada sesuatu yang Lian sembunyikan.


"Raya, Please Aku gak mau debat. Kamu juga harus pulang" Ucap Lian.


"Oke, besok jam 7 " Raya mengingatkan. Lian mengangguk pelan.


__ADS_1


* Hiraya Zoya Zenatta *


__ADS_2