
Jarak yang harus di tempuh Jakarta - Amsterdam adalah 14 jam. Aleena mencoba memejamkan matanya, berharap ketika bangun tidak terlalu lama berada dalam pesawat.
Dalam perjalanan Diaz dan Aleena banyak diam, Diaz akan menjelaskan semuanya pada Aleena. Walaupun nantinya Aleena akan marah atau kecewa.
Diaz menatap wajah Aleena yang tertidur, di pundaknya. Diaz mengusap lembut kepala Aleena. Terdengar suara Pramugari memberi tahukan bahwa penerbangan akan segera sampai di Schiphol Airport, Amsterdam, Belanda.
Diaz mencoba membangunkan Aleena, Diaz kembali mengusap lembut kepala Aleena. Lalu berbisik membangunkan Aleena.
"Aleena ,,, sebentar lagi kita sampai" Bisik Diaz dengan lembut.
Aleena membuka matanya perlahan, lalu tersenyum.
"Waawww, perasaan Aku baru aja tidur" Ucap Aleena.
"Kamu menikmati perjalanan" Ucap Diaz.
"Maybe,,," Jawab Aleena.
Dalam hitungan detik pesawat sudah mendarat, Diaz dan Aleena turun dari pesawat. Diaz memesan Taxi untuk menunju Hotel di pusat kota.
@ Conservatorium Hotel - Amsterdam.
Diaz dan Aleena memasuki kamar Hotel.yang sudah Diaz pesan ketika masih di Jakarta. Diaz lebih memilih membawa Aleena ke Amsterdam karena memang Diaz lebih tau banyak Kota ini.
Diaz hampir tiga tahun berada di Amsterdam untuk menempuh pendidikannya. Dan Diaz juga tau tempat-tempat romantis dan natural di sini.
Aleena memang hampir sama dengan Lian, lebih suka pergi ketempat yang berbau alam. Di banding ke tempat Jaman sekarang Kaya Club' atau sejenisnya.
Tepat pukul 21.00 waktu Amsterdam, Diaz ingin mengajak Aleena Dinner dan berkeliling sekitar area hotel.
"Dinner yuk " Ajak Diaz.
"Mmmm ,,, makan di sini aja boleh?" Tanya Aleena.
"Kamu lelah yah?" Tanya Diaz.
"Gak juga, setelah makan baru kita keluar. Aku mau menghirup udara malam Amsterdam " Ucap Aleena.
Diaz tersenyum lalu mengangguk.
Diaz memesan makanan melalui pesawat telepon agar segera di kirim ke kamar mereka.
Tiga puluh menit Sang pelayan Hotel datang membawa pesanan Diaz.
"Diaz ,,, Aku boleh tanya?' Ucap Aleena pelan agar tidak menyinggung Diaz.
"Kamu gak perlu bertanya, nanti setelah ini Aku akan jelaskan" Ucap Diaz.
"Kamu gak marah kan?" Tanya Aleena.
__ADS_1
"Nope, mana bisa Aku marah sama kamu" Jawab Diaz.
"Thanks" Ucap Aleena tersenyum lalu kembali menikmati makanan yang berada di hadapannya.
***
Pukul 22.00 Waktu Amsterdam.
Diaz dan Aleena menyusuri Kanal-kanal yang ada di pusat kota, View yang sangat cantik dengan lampu-lampu redup.
Diaz meraih tangan Aleena, lalu menggenggamnya. Diaz mengarahkan Aleena untuk duduk di bangku yang menghadap langsung ke sungai.
Aleena mengikuti langkah Diaz, untuk duduk bersama. Malam ini Aleena menatap langit, meski langit yang sama namun di tempat yang berbeda.
"Where are you Lian?" Ucap Aleena dalam hati.
"What do you think?" Tanya Diaz lalu menatap wajah Aleena.
Aleena hanya diam, dan kali ini Aleena sudah tidak sanggup lagi menahan tangisannya. Air mata Aleena terjatuh perlahan turun.
Diaz mengusap air mata Aleena.
"Menangislah ,,, kalo memang bisa membuat kamu lebih lega" Ucap Diaz lalu mengusap rambut Aleena yang menutupi wajahnya karena terkena hembusan angin.
"Ternyata Gift yang kamu kasih untuk Aku, itu suatu pertanda. Kalo Aku akan pergi bersama kamu bukan bersama Lian" Ucap Aleena sambil terisak.
"Bukan itu maksud Aku, ini bukan sebuah rencana. Ini kebetulan, dan tiba-tiba Raya datang. Itu di luar rencana Lian dan Aku" Diaz menjelaskan.
"Kamu tau, malam itu Lian sangat excited prepare apa yang akan Lian bawa" Ucap Diaz.
"Semua udah siap, Lian packing. Saat itu Aku berada bersama Lian. Dan Raya sudah berada di depan pintu kamar Lian" Diaz masih menjelaskan.
"Cukup Diaz, Aku gak menyudutkan kamu dan Lian apa lagi menyalahkan kalian. Aku bodoh masih aja berharap sama Lian" Ucap Aleena.
"Jujur, Tadinya Setelah kalian pergi. Aku pun akan kembali ke sini. Aku sudah putuskan akan melanjutkan kuliah ku di sini. Aku merasa bersalah, seharusnya Aku gak kembali ke Jakarta dan berada di antara kamu dan Lian" Ucap Diaz jujur.
"Kamu benar, kamu kembali ke sini. Tapi bersama Aku bukan untuk stay di sini. Kita akan kembali ke Jakarta bersama" Ucap Aleena.
"Saat Raya datang, Lian tau Aku sangat marah. Aku pikir ini bagian dari rencana Lian, Karena sebelum Lian bilang mau ajak kamu Traveling. Aku dan Lian sempat membahas tentang kamu dan perasan kami" Jelas Diaz.
"Maksudnya?" Tanya Aleena penasaran.
"Lian bilang jangan menahan perasaan yang Aku punya terhadap kamu hanya karena Lian. Memang saat itu Lian masih yakin dengan hubungan nya bersama Raya. Dan Lian bilang punya janji untuk ajak kamu keliling dunia bersama. Jadi Lian akan wujudkan semuanya" Jelas Diaz.
"Feeling ku Setelah kalian kembali dari Traveling, Lian akan pergi menemui Raya dan berjuang untuk Raya. Tapi Raya malah datang menemui Lian dengan cara melarikan diri dari Justin " Jelas Diaz lagi.
"Lian menemui Aku, dan meminta Aku untuk menemani kamu ke tempat yang sudah Lian rencanakan" Ucap Diaz.
Aleena diam mendengarkan penjelasan dari Diaz.
__ADS_1
"Akhirnya Aku putuskan untuk membawa kamu ke sini. Karena menurut Aku di manapun Aku berada asal bersama kamu semua tempat itu indah dan romantis. Di Amsterdam banyak tempat yang indah dan juga natural" Ucap Diaz.
"Kalo Aku membawa kamu ke tempat yang sudah Lian rencanakan. Pasti akan berbeda, karena yang kamu bayangkan Lian yang berada di samping kamu" Ucap Diaz
"Kenapa mencintai itu sesakit ini" Ucap Aleena.
"Lian cinta pertama Aku, Dan Lian yang bisa membuat Papa dan Mama bisa melepaskan Aku jauh dari mereka. sebelumnya Papa dan Mama tidak bisa jauh dari Aku" Ucap Aleena.
"Kalo gitu perasaan kita sama" Ucap Diaz.
Aleena menatap wajah Diaz.
"Kamu juga sakit dengan perasaan kamu terhadap Aku" Tanya Aleena.
"Hmmm ,,, Cinta itu rasanya cuma ada dua. Bahagia dan sakit" Ucap Diaz.
"Mungkin saat ini perasaan kita sama-sama sakit. Mencintai orang yang tidak mencintai kita" Ucap Diaz lagi.
Aleena menghela nafas, ada sedikit rasa bersalah terhadap Diaz. Diaz mencintai dirinya, namun Aleena mencintai Lian. Dan Lian masih mencintai Raya.
Kalau saja masih bisa memilih, mungkin Aleena berharap rasa cintanya untuk Diaz. Namun semakin lama Aleena mencoba melupakan dan melepaskan Lian.
Semakin sakit di dalam hatinya.
"Diaz Aku minta maaf" Ucap Aleena.
"Untuk apa?" Tanya Diaz.
"Untuk rasa sakit kamu" Ucap Aleena.
"Heeiii ,,, jangan merasa bersalah gitu. Aku juga gak minta rasa ini ada. Rasa itu datang tiba-tiba sejak pertama Aku melihat kamu. Jujur Aku pernah mencoba menepis rasa itu" Ucap Diaz.
"Sama kaya kamu mencoba melupakan Lian, makin ingin melupakan, semakin sulit untuk melepaskan" Ucap Diaz.
" Dan Akhirnya aku semakin dalam masuk ke antara kamu dan Lian" Ucap Diaz.
"Semakin kamu terluka oleh perasaan kamu terhadap Lian, semakin Aku gak bisa melepaskan kamu" Ucap Diaz.
"Dan setiap rasa sedih dan kecewa kamu, membuat Aku ingin selalu berada di dekat kamu dan Aku ingin selalu menjadi orang yang pertama yang akan mendengar semua curahan hati kamu. Apa itu sedih atau senang, tapi Aku berharap semua curahan hati kamu bahagia" Ucap Diaz lagi.
"Diaz ,,," Ucap Aleena pelan.
Aleena terharu mendengar semua ucapan Diaz.
"Aku gak sanggup jika suatu hari Aku liat kamu menangis. Sebisa mungkin Aku akan buat kamu kembali tersenyum. Makanya saat ini Aku bawa kamu kesini, Aku berusaha membuat kamu untuk tidak menangis. Walau Aku tau kamu pasti akan menangis juga" Ucap Diaz.
Aleena hanya diam, mendengar isi hati Diaz. Ternyata di balik sifat Diaz yang cuek dan ceria, dan juga ceplas-ceplosnya. Masih ada sisi lain yang hampir sama dengan Lian.
Bedanya Diaz jauh lebih tegas dalam mengambil keputusan dan bersikap. Tapi Lian tidak berani keluar dari masa lalunya.
__ADS_1
Lian lebih memilih untuk tetap di sana, bersama masa lalunya.