CINTA Itu KAMU !

CINTA Itu KAMU !
* Finally di culik ( Lagi ) *


__ADS_3

Aleena berada di perpustakaan, ada beberapa materi yang harus Aleena catat. Karena sejak berlibur ke Bali, ada mata Kuliah yang tidak Aleena ikuti.


"Gue cari ternyata di sini" Tiba-tiba Tara datang langsung duduk di sebelah Aleena.


"Kenapa? Kangen yah" Ucap Aleena tersenyum.


"Kangen banget sama sohib Gue ini" Seru Tara mencubit pipi Aleena.


"Sakit Tara!" Keluh Aleena.


Tara hanya tersenyum.


"Btw, gimana hasil liburan bareng Si Gunung Es" Ucap Tara ingin tahu.


"Ya biasa aja" Jawab Aleena tenang.


"Berarti belum resmi jadian dong?" Tanya Tara terkejut.


"Gue gak akan merebut sesuatu yang bukan milik Gue" Ucap Aleena.


"Kenapa Lian gak bisa lepas dari Raya? Cinta mati atau ada hal lain?" Ucap Tara.


"Gue harap apapun itu, ending nya bahagia" Ucap Aleena yakin.


"Lo jujur deh, sebenarnya perasaan Lo gimana sama Lian?" Tanya Tara.


"Lian First Love Gue, dan Lian juga First Kiss Gue" Ucap Aleena pelan lalu tertunduk.


"Terus kenapa Lo gak Fight Aleena" Ucap Tara.


"Raya juga First Love Lian, Gue gak bisa maksa Lian buat cinta sama Gue. Cinta itu bukan paksaan tapi real dari hati Dia" Jelas Aleena.


"Saat Lian down Lo yang ada di samping Dia, bukan Raya. Lo yang udah merubah Lian. Tapi kenapa saat Raya kembali hati Lian Goyah!" Tara mulai kesal.


"Ssstttt, pelan-pelan!" Ucap Aleena sambil menutup mulut Tara.


"Gue jadi gak respect sama Lian, plin-plan banget jadi cowok" Ucap Tara.


"Paling gak Gue udah bisa bikin Lian berubah. Meski nantinya Gue harus sakit, itu resiko Gue." Jelas Aleena.


"Aleena, Gue bingung sama pikiran Lo. Alasan Lo!" Ucap Tara.


"Ra, Gue lakuin ini karena Gue sayang Lian, Gue mau Lian bahagia" Aleena mulai menangis.


Tara menatap wajah Aleena, baru kali ini Tara melihat Aleena menangis. Tara mendekati Aleena lalu memeluk Aleena.


"Iya Gue paham maksud Lo, maafin Gue yah udah buat Lo jadi nangis" Ucap Tara sambil mengusap rambut Aleena.


"Gue cuma mau Lian bahagia dengan pilihannya, Gue gak mau Lian pilih Gue karena terpaksa bukan karena cinta sama Gue" Ucap Aleena terisak.


"Iya ,,, iya Gue ngerti" Tara menenangkan sahabatnya.


"Gue selalu support Lo, apa pun keputusan Lo" Ucap Tara.


"Thanks, Lo emang sahabat terbaik Gue" Ucap Aleena.


"Ya udah kita masuk kelas, bentar lagi mau mulai" Ajak Tara.


Aleena mengangguk lalu mengusap air matanya.


Aleena dan Tara melangkah menuju kelas. Aleena terus berpikir ucapan Tara, Tara benar seharusnya Aleena Fight untuk mendapatkan cinta Lian.


Tapi di sini posisi Aleena sangat sulit, Aleena tidak mau egois memaksa Lian untuk melupakan Raya dan meninggalkan Raya.


Kecuali Lian sudah benar-benar memutuskan hubungan dengan Raya. Dan sudah melupakan Raya, biarlah rasa cinta Aleena untuk Lian akan Aleena jaga sampai Lian benar-benar sudah membuka hatinya untuk cinta Aleena.


Aleena terkejut melihat Lian sudah menunggunya di depan kelas. Dengan senyum khas dan tatapan mata teduh Lian memandangi Aleena yang sedang menghampiri Lian.


"Ikut Aku, ada hal yang ingin Aku bicarakan" Ucap Lian serius.


"Kemana?" Tanya Aleena penasaran.


"Aku culik kamu, kemarin kamu minta Aku culik?" Ucap Lian sambil menarik pelan tangan Aleena.


Lian melajukan mobilnya ke arah Taman Langit, Aleena melirik jam tangannya sudah Pukul 2 siang.


Aleena menatap wajah Lian dengan senyum manisnya. Aleena baru menyadari ternyata Lian setampan ini, Aleena terus menatap wajah Lian.


Lian merasa aneh dengan sikap Aleena, yang terus menatapnya dan tersenyum.


"Kamu kenapa?" Tanya Lian bingung.


"Entahlah Aku ingin terus menatap kamu kaya gini" Ucap Aleena.


Lian kembali diam dan fokus menyetir.


Tiba di taman langit, Lian melangkah ke luar di ikuti oleh Aleena. Lian merebahkan tubuhnya di atas rumput, lalu memejamkan matanya.


Aleena kembali menatap Lian, kali ini Aleena mendekati wajah Lian begitu dekat.


"Seandainya kamu sudah melupakan Raya, mungkin saat ini kita bisa bersatu" Bisik Aleena dalam hati.

__ADS_1


"Aleena" Panggil Lian pelan sambil mengusap wajah Aleena yang begitu dekat dengan wajah Lian.


Mereka saling bertatapan, Tatapan mata Lian begitu lembut dan teduh.


"Minggu depan Aku akan terbang ke London" Ucap Lian.


Aleena terdiam sejenak, ada rasa sakit didalam hatinya.


"Kebetulan Papa mau buka jalur lagi di sana, Papa mau Aku yang Back up di sana" Ucap Lian lagi.


Dada Aleena mulai sesak sulit bernafas.


"Apa ada hal lain yang buat kamu terima tawaran ini?" Tanya Aleena pelan.


"Jujur sih Aku mau sekalian mencari Raya di sana, jadi tanpa pikir panjang Aku terima tawaran Papa" Jelas Lian.


Ingin rasanya Aleena menangis, tapi Aleena berusaha tenang dan menahan tangisnya.


"Doain Aku yah, biar semua berjalan sesuai keinginan" Ucap Lian.


"Selalu ada Doa untuk kebahagian kamu" Ucap Aleena tertunduk.


Air mata Aleena terjatuh, Aleena tidak bisa menahannya.


"Kamu kenapa menangis?" Lian terkejut lalu mengusap air mata Aleena dengan tangannya.


"Entahlah, apakah ini air mata bahagia untuk kamu, atau air mata melepaskan kamu" Ucap Aleena.


"Maafkan Aku Aleena, Ini opsi terakhir Aku. Untuk meyakinkan semuanya" Ucap Lian.


"Asal kamu Bahagia, Aku jauh lebih bahagia dari kamu" Ucap Aleena.


"Thanks Aleena, kamu udah terlalu baik sama Aku. Tapi Aku hanya bisa menggores luka di hati kamu" Ucap Lian menyesal.


Lian memeluk Aleena, Aleena hanya diam. Sudah tidak ada lagi kata-kata yang ingin Aleena ungkapkan.


"Ikut antar Aku ke Airport yah" Ucap Lian.


"Apa perlu?" Ucap Aleena.


"Ya, Karena Aku butuh support dari kamu saat Aku meninggalkan Jakarta" Jelas Lian.


"Iya, Aku pasti akan antar kamu" Ucap Aleena.


"Thank you so much" Ucap Lian memeluk Aleena.


Aleena harus menerima keputusan Lian untuk pergi menemui Orang Tua Raya. Harusnya Aleena senang karena Lian sudah melabuhkan cintanya pada Raya.


Cinta untuk Lian akan selalu ada di ruang hati Aleena. Tidak banyak yang mereka bicarakan, mereka hanya diam menghabiskan waktu di sana.


Hingga langit mulai gelap mereka masih diam, entah apa yang ada di dalam pikiran Aleena dan Lian.


Mungkin saja mereka menanti keajaiban agar mereka bisa bersatu.


"Udah gelap, kita harus pulang" Lian mulai bicara.


Aleena hanya mengangguk, lalu beranjak dari duduknya.


Lian merangkul pinggang Aleena, menuju Mobil.


@Aleena's Home.


Lian menghentikan Mobilnya di depan rumah Aleena. Lian menatap wajah Aleena, kali ini raut wajah Aleena begitu sedih.


Lian tau Aleena kecewa dengan keputusannya. Namun Lian tetap pada keputusannya, Aleena pun pasti mengerti.


"Aku masuk yah" Ucap Aleena.


"Good night" Ucap Lian mengecup kening Aleena.


Aleena memeluk Lian dengan erat. Seperti enggan untuk melepaskan pelukannya.


"Aku pulang yah, kamu istirahat" Ucap Lian.


Aleena mengangguk pelan lalu melangkah keluar mobil.


Lian mulai melajukan mobilnya, Aleena masih berdiri memandangi Mobil Lian sampai tidak terlihat oleh pandangan mata Aleena.


Aleena melangkah memasuki rumahnya, menuju kamarnya. Aleena merebahkan tubuhnya di atas kasur. Lalu meraih Bed cover untuk menyelimuti tubuhnya.


Aleena ingin segera tertidur, agar pikiran Aleena tenang. Dan berharap esok bisa lebih tenang.


Aleena begitu gelisah berkali-kali melihat jam di dinding kamarnya. Sudah jam 6 sore. Tapi Lian dan Diaz belum juga datang menjemput.


Perasaan Aleena semakin Random, Aleena sudah berusaha mengikhlaskan kepergian Lian dan keputusan Lian untuk melamar Raya.


Terdengar suara Mobil dari luar, Aleena melihat dari balik jendela. Terlihat Mobil milik Diaz sudah berada di depan rumah Aleena.


Aleena berlarian kecil menuju luar rumah. Aleena mendekati mobil milik Diaz, Diaz membuka pintu mobilnya agar Aleena segera masuk. Aleena masuk kedalam mobil Lian sudah duduk di belakang Diaz. Aleena duduk di sebelah Lian.


"Sorry Aleena, macet banget" Ucap Diaz.

__ADS_1


"It's Ok, yang penting Lian jangan sampai telat" Ucap Aleena.


Lian meraih tangan Aleena lalu menggenggam tangan Aleena. Sepanjang perjalanan menuju Airport Lian terus saja menggenggam tangan Aleena.


Apakah ini sebuah perpisahan untuk Aleena dan Lian?.


Tiba di Airport, masih sekitar 2 jam Lian akan berangkat. Mereka memutuskan ke Cafe untuk minum kopi sambil menunggu waktu Lian pergi.


Detik demi detik berlalu, Aleena berusaha untuk tenang. Sebenernya sejak dalam perjalanan menuju Airport Aleena sudah menahan tangisnya.


Diaz tau dengan apa yang Aleena rasakan saat ini. Diaz menatap Lian dengan melirik Aleena, agar Lian membawa Aleena pergi untuk berbicara berdua saja.


Lian paham dengan maksud Diaz, Lian meraih lengan Aleena lalu menarik Aleena untuk ikut bersama Lian.


"Aleena, maafkan Aku. Aku pergi akan mencari semua jawaban atas pertanyaan Aku selama ini" Ucap Lian.


"Yes i know. Good Luck yah, semoga kamu bahagia" Ucap Aleena.


"Senang bisa bertemu dan kenal dengan kamu. Kamu yang merubah Aku, kamu yang buat Aku kuat sampai saat ini" Ucap Lian.


"Lian, Aku ingin kamu tau. Kamu First Love Aku, kamu orang pertama yang mengisi ruang hati Aku"


Ucap Aleena jujur.


"Berat rasanya melepaskan kamu, tapi Aku sadar posisi Aku bukan yang pertama di hati kamu. Bisa mengenal dan mencintai kamu suatu hal yang membuat Aku bahagia" Ucap Aleena lagi.


"Aleena, kenapa bukan kamu orang pertama yang mengisi hati Aku" Ucap Lian memeluk Aleena.


"Aku bukan orang yang mudah melepaskan seseorang yang Aku sayang, jadi kenapa Aku harus pergi kamu pasti paham. Maafkan Aku" Ucap Lian tulus.


"Mas, is time to go" Seru Diaz menghampiri Lian dan Aleena.


"Aleena Aku harus pergi, I will miss you" Ucap Lian sambil memegang tangan Aleena.


"Diaz, Gue titip Aleena" Ucap Lian sambil menepuk pundak Diaz.


"Siap Mas" Ucap Diaz Sambil mengangguk.


"Lian, I will always love you" Ucap Aleena sambil menangis dan melepaskan tangan Lian perlahan.


Lian kembali memeluk Aleena.


"Kamu jangan nangis, berat rasanya meninggalkan kamu dengan keadaan menangis" Ucap Lian Sambil mengusap air mata Aleena.


"I will let you go, take care" Ucap Aleena.


Lian melangkah pelan meninggalkan Aleena, sesekali Lian menoleh ke belakang menatap wajah Aleena.


Lian mempercepat langkahnya sambil membawa Travel Bag miliknya. Kali ini Lian sudah mantap untuk melangkah meninggalkan Jakarta dan Aleena.


Aleena masih diam terpaku melihat Lian yang semakin lama semakin menjauh meninggalkannya.


Diaz mendekati Aleena lalu memegang jemari Aleena. Lalu mengusap air mata Aleena yang masih menetes.


"Keep strong Aleena" Ucap Diaz.


"Aku khawatir sama Lian" Ucap Aleena.


"Kita berdoa agar semu berjalan sesuai yang Lian harapankan" Ucap Diaz.


Diaz sangat sadar betapa Aleena sangat mencintai Lian. Tapi ini pilihan Lian, Semoga semua itu informasi yang Lian dapat dari teman Diaz bisa membantu Lian di sana.


"Kita ke Skye Bar yuk, biar kamu sedikit tenang" Ucap Diaz.


Aleena mengangguk tanda setuju.


Diaz dan Aleena meninggalkan Airport menuju Skye Bar. Sesuai ke inginan Lian, Diaz harus menjaga Aleena.


@Skye Bar.


Diaz menatap wajah Aleena yang masih murung. Diaz ingin menghibur Aleena, tapi Diaz bingung melihat Aleena yang masih meneteskan air matanya.


"Aleena, kalo kamu terus kaya gini. Kamu makin sedih dan makin sulit melepaskan Lian" Ucap Diaz.


"Aku khawatir sama Lian, Lian sendiri di sana. Aku takut saat Lian tiba di sana, tidak sesuai yang Lian harapankan" Ucap Aleena.


"Aku takut emosi Lian kembali seperti dulu, Lian sendirian siapa yang akan buat Lian tenang di sana" Ucap Aleena lagi.


"Lian udah dewasa. Dia udah tau apa yang harus Lian lakukan" Ucap Diaz menenangkan Aleena.


"Kamu janji yah, kalo ada kabar tentang Lian segera hubungi Aku" Ucap Aleena memohon.


"Iya pasti, kamu orang pertama yang akan Aku cari" Ucap Diaz.


"Thanks Diaz" Ucap Aleena.


"Ya udah, kamu tenang. Jangan sedih terus. Nanti cantik kamu hilang" Goda Diaz.


"Bisa aja kamu" Ucap Aleena tersenyum.


"Cheers ,,, untuk Lian" Ucap Diaz.

__ADS_1


Aleena tersenyum.


__ADS_2