CINTA Itu KAMU !

CINTA Itu KAMU !
* Only Hope *


__ADS_3

Aleena melangkah menuju kamar tidurnya, dengan langkah terburu-buru. Dia menahan tangis, tiba di dalam kamarnya Aleena mulai menangis. Agar perasaan nya sedikit tenang.


Aleena merebahkan tubuhnya, Aleena berharap agar Aleena segera tertidur.


Aleena mengingat kembali kejadian saat pertama kali melihat Lian.


Lian dulu memang terkenal Angker, sosok Pria dingin yang tidak pernah mau bergaul dengan teman sekampusnya. Sampai-sampai Lian dapat julukan ' Si Gunung Es '.


Tiap kali Aleena bertemu Lian di koridor Lian berjalan seorang diri dengan pandangan mata lurus ke depan. Tapi Lian mempunyai sorot mata yang sangat teduh dan senyum yang khas.


Ketika Aleena ingin menyapa dan berusaha mendekati. Lian acuh tak pernah menghiraukan Aleena. Hanya sesekali melirik ke arah Aleena dan berlalu melewati Aleena.


Terus saja sikap Lian seperti itu, hingga Lian lulus dari kampus. Dan menyandang Gelar sebagai S.Mb ( Sarjana Manajemen Bisnis )


' Lian Devandra Pratama S.Mb '


Meski sudah Lulus dari kampusnya, Lian selalu datang ke Danau belakang Kampus. Sejak masih kuliah Lian selalu pergi ke sana. Hingga Lian mulai bosan.


Aleena selalu memperhatikan Lian dari kejauhan. Sampai rasa penasaran nya tidak bisa di hentikan.


Aleena selau berusaha mendekati, atau sekedar menyapa, sampai akhirnya Aleena memberanikan diri menghampiri Lian.


Lian selalu menolak kehadiran Aleena, tapi Aleena tidak menyerah. Semakin Lian menolak semakin Aleena penasaran.


Ada apa dengan diri Lian hingga tidak mau berteman, selalu menutup diri. Sampai akhirnya Lian mendatangi Aleena lalu memberikan Aleena nomor ponsel nya.


Kalau ingat saat itu, Aleena penuh perjuangan untuk mendekati Lian. Sampai akhirnya Aleena terjebak dengan perasaan nya sendiri.


️Pukul 00:10 Am.


Malam semakin larut, namun Aleena Belum juga bisa memejamkan matanya. Entah mengapa banyangan Lian selalu menari-nari di kepala Aleena.


"Cinta memang tak harus memiliki" Ucap Aleena dalam hati.


"Move on Aleena, hidup bukan tentang hari ini, masih ada hari esok yang lebih baik menanti" Ucap Aleena sambil tersenyum.


Sekarang Aleena hanya ingin melihat Lian bahagia bersama Raya. Dia tidak mau larut dalam kesedihan dan meratapi nasib cintanya.


"Okay enough, time to sleep" Ucap Aleena sambil menarik selimutnya dan memejamkan matanya.


️Pukul 10:00 Am.


Seperti biasa Aleena sudah memesan Taxi Online untuk ke kampus. Sambil menunggu Taxi Online datang Aleena duduk santai di teras rumahnya.


Hampir 30 menit Aleena menunggu, namun Taxi Online pesanannya belum juga datang.


Aleena melangkah ke arah gerbang pintu pagarnya, untuk memastikan apakah Taxi nya sudah datang.


Namun belum juga ada, jalanan sepi tidak ada kendaraan yang melintas.


Lalu Aleena meraih ponselnya untuk menghubungi Driver Taxi Online.


"Tuuttt ,,, Tuuttt ,,, Tuuttt"


Panggilan tersambung.


"Hallo Pak, gimana? Kenapa belum jemput saya?" Tanya Aleena.


"Maaf Mbak, cancel aja. Ban mobil saya pecah Mbak" Jawab Sang Driver.


"Ohh iya Pak" Ucap Aleena.


"Maaf yah Mbak" Ucap Sang Driver meminta maaf.


Aleena menutup panggilannya.


"Heeiii Aleena" Terdengar suara memanggil Aleena.


Aleena melihat ke seberang jalan, ada Diaz melambaikan tangan. Lalu menghampiri Aleena.


"Diaz" Ucap Aleena.


"Ngapain? Kaya orang bingung?" Tanya Diaz.


"Mau ke kampus, Taxi Online gak bisa datang. Ban nya bocor" Ucap Aleena.


"Ya udah Aku antar" Ucap Diaz.


"Serius?" Tanya Aleena.


"Iya" Ucap Diaz sambil mengangguk meyakinkan Aleena.


Aleena tersenyum, melangkah menuju mobil milik Diaz. Diaz men Starter Mobilnya lalu menginjak pedal Gas untuk menuju kampus Aleena.


"Memang kamu mau kemana?" Tanya Aleena.


"Mau ke rumah kamu" Ucap Diaz.


"Mau apa?" Tanya Aleena tersenyum.


"Mau ijin sama Ortu kamu" Ucap Diaz santai.


"Kamu?" Ucap Aleena.


"Iya kamu? Kenapa?" Diaz bingung.


"Biasanya kamu selalu pake Gue, Lo. Sekarang jadi Aku kamu"


Aleena tertawa sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan Aleena, Diaz bingung melihat Aleena tertawa.


"Kayaknya kalo sama Kamu gak pantes aja pake Lo dan Gue" Diaz menjelaskan.


"Jadi pindah topik, tadi kamu mau ijin sama Ortu Aku kan?" Tanya Aleena tertawa.


"Memang lucu yah, minta ijin ke Orang Tua?" Ucap Diaz bingung sambil menggaruk kepalanya.


"Kamu kebalikan dari Lian, Dia suka Nyulik Aku. Tapi kamu dengan sopan minta ijin sama Mama dan Papa Aku" Ucap Aleena.


"Gak sesuai sama style kamu dan Lian, kamu Cuek dan Lian pendiam. Tapi Lian hobinya Nyulik Aku dan kamu ijin sama Orang Tua Aku" Jelas Aleena.


"Dasar bisa aja" Ucap Diaz.


"Iya sih kalo di pikir-pikir Aku kebalikan dari Lian" Ucap Diaz lagi.


"Nanti pulang jam berapa? Aku jemput kamu. Sekalian ketemu Orang Tua kamu" Ucap Diaz.


"Hari ini cuma ada satu mata kuliah aja, jadi gak terlalu lama" Jelas Aleena.


"Ya udah Aku tunggu kamu aja deh, biar gak bolak-balik" Ucap Diaz.


"Kamu yakin mau nunggu?" Tanya Aleena.


"Serius" Ucap Diaz mantap.


"up to you" Ucap Aleena tersenyum.


Sudah sampai di Kampus, Diaz menghentikan mobilnya. Lalu memarkirkan mobilnya.


"Aku masuk kelas dulu" Ucap Aleena.

__ADS_1


"Aku tunggu kamu di kantin yah" Ucap Diaz.


"Oke, thanks ya" Ucap Aleena. Sambil melangkah menuju kelas.


Diaz menatap Aleena dari dalam Mobil, Aleena begitu tenang. Dia bisa menutupi kesedihannya.


"Bodoh banget Lo Mas, kalo sampe lepasin cewek macam Aleena" Ucap Diaz.


Diaz keluar dari mobilnya, menuju kantin. Diaz bingung semua mata tertuju ke arah Diaz.


"Emang ada yang aneh sama Gue? Kenapa pada mandang  Gue gitu?" Ucap Diaz dalam hati.


Diaz yang aslinya memang super cuek, Diaz tidak menghiraukan mereka.


Dengan santai Diaz memesan Soft drink dan beberapa Snack untuk menunggu Aleena.


Hampir 1 jam Diaz menunggu Aleena, namun Aleena belum juga selesai. Diaz mulai bosan, lalu melangkah keluar kantin.


Diaz menuju kelas Aleena, sepertinya Diaz akan menunggu Aleena di sana.


Diaz tersenyum melihat Aleena yang tengah fokus membaca bukunya.


"Aleena benar-benar sangat cantik" Puji Diaz dalam hati.


Mudah bagi Diaz untuk mencari celah dalam situasi seperti ini. Diaz bisa merebut hati Aleena.


Hanya saja, Diaz tidak ingin egois. Bisa dekat dengan Aleena saja, sudah membuat Diaz senang.


"Al, ada cowok ganteng di luar. Kayanya perhatiin Lo dehh" Ucap Tara sambil mencolek lengan Aleena.


Aleena menatap ke arah kaca, Diaz tersenyum ke arah Aleena.


"Itu Diaz, adiknya Lian" Ucap Aleena santai.


"What's" Tara terkejut.


"Ganteng banget, emang yahh kalo udah turunan ganteng mah susah. Sekeluarga pasti ganteng semua"Tara masih bicara.


"Lo naksir?" Goda Aleena.


"Percuma Dia gak naksir Gue sih" Ucap Tara manyun.


"Btw, ngapain Dia ke sini?" Tanya Tara penasaran.


"Tadi Gue di anter sama Diaz, terus Diaz ngotot mau nunggu Gue" Jelas Aleena.


"Keren juga Lo punya Bodyguard ganteng macam itu" Ucap Tara iri.


"Ngaco Lo" Ucap Aleena.


Sudah waktunya pulang, Dosen pembimbing sudah meninggalkan kelas. Aleena membereskan buku, lalu melangkah keluar menemui Diaz.


"Sori yah, nunggu lama?" Tanya Aleena.


"Selow , iseng aja tadi di kantin. Jadi Aku kesini" Ucap Diaz.


"Oya Diaz, ini Tara. Sohib Ter the best Aku" Ucap Aleena mengenalkan Diaz pada Tara.


"Hai, Aku Diaz" Ucap Diaz mengulurkan tangannya.


"Tara" Balas Tara mengulurkan tangannya.


"Cabut yuk" Ajak Diaz.


"Ra, Gue balik yah" Ucap Aleena.


Tara mengangguk.


@Aleena's Home.


"Kamu masih mau ketemu Mama dan Papa?" Tanya Aleena.


Diaz mengangguk.


"Ayo masuk" Ajak Aleena.


Diaz mengikuti langkah Aleena.


"Bentar yah, Aku panggil mereka dulu" Ucap Aleena.


Melangkah ke dalam mencari Sang Mama.


Sang Mama tengah asik berbincang-bincang dengan Sang Papa sambil menikmati kopi hangat di ruang keluarga.


"Ma, Pa, " Seru Aleena sambil memeluk Kedua Orang Tua nya.


"Ada yang mau ketemu" Ucap Aleena.


"Siapa?" Tanya Papa Aleena.


"Diaz, Adiknya Lian" Ucap Aleena.


"Adik satu-satunya Lian?" Tanya Sang Mama.


"He'eh" Ucap Aleena mengangguk.


"Mau apa cari kami?" Tanya Sang Papa.


"Gak tau" Ucap Aleena.


"Ayo Pa, coba temui" Pinta Sang Mama.


Papa Aleena beranjak dari duduknya, untuk menemui Diaz.


Diaz tersenyum melihat Aleena dan Sang Papa menemuinya.


"Sore Om, Aku Diaz. Adiknya Lian" Sapa Diaz sambil mengulurkan tangannya.


"Aditya, Papa Aleena" Balas Sang Papa mengulurkan tangannya.


"Ada apa Nak Diaz, mencari Om?" Tanya Sang Papa.


"Diaz mau minta ijin sama Om dan Tante" Ucap Diaz.


"Ijin untuk apa?" Tanya Sang Papa kembali.


"Diaz mau ajak Aleena berlibur ke Bali Om, Boleh?" Ucap Diaz penuh harap.


Aleena terkejut mendengar ucapan Diaz. Apa maksud Diaz ingin berlibur?.


"Terserah Aleena saja, Om sebagai Orang Tua tidak pernah melarang Aleena. Selama ini Aleena selalu menjaga kepercayaan Om dan Tante" Jelas Sang Papa.


"Iya Om, makanya Diaz minta ijin" Ucap Diaz.


"Iya Om ijinkan, tapi ingat jaga kepercayaan Om dan Tante" Ucap Sang Papa.


"Kenapa bukan Lian yang meminta ijin?" Tanya sang Papa.


"Lian sibuk di kantor Om" Ucap Diaz tersenyum.

__ADS_1


"Ya sudah, kapan kalian berangkat?" Tanya Sang Papa


"Nanti kami atur waktu lagi, yang penting Om sudah memberi ijin" Ucap Diaz.


"Oke, kalau gitu Om masuk lagi ya. Biar Aleena yang menemani kamu" Ucap Sang Papa meninggalkan Diaz.


"Terimakasih Om" Ucap Diaz sambil menghela nafas.


Aleena hanya tersenyum melihat tingkah Diaz yang begitu gugup.


"Papa kamu asik yah orang nya" Puji Diaz.


"Aku bersyukur punya Orang Tua seperti mereka" Ucap Aleena.


"Kamu punya rencana apalagi, mau ajak Aku bergabung dengan kalian" Ucap Aleena.


"Gak ada maksud apa-apa, udah lama aja gak liburan" Ucap Diaz tenang.


"Kenapa harus ada Aku?" Tanya Aleena lagi.


"Aleena, percaya sama Aku. Aku gak ada maksud jahat sama kamu" Ucap Diaz meyakinkan Aleena.


"Oke, Aku percaya" Ucap Aleena.


"Weekend kita berangkat" Ucap Diaz semangat.


Aleena bingung dengan sikap Diaz, mengapa Diaz begitu semangat ingin mengajak Aleena berlibur.


"Aku pulang yah" Pamit Diaz.


"Hati-hati Diaz" Ucap Aleena.


Diaz melangkah ke luar, untuk kembali pulang.


"Mas,,,Mas Lo dimana?" Panggil Diaz mencari Lian.


Lian tidak berada di dalam kamarnya, Diaz mencari Lian di Kolam renang. Ternyata Lian berada di sana.


Tengah duduk sambil menikmati segelas Wine.


"Mas, Lo disini" Ucap Diaz menghampiri Lian lalu duduk di sebelah Lian.


"Kenapa?" Ucap Lian.


"Gue udah dapet ijin dari Om Adit, weekend kita berangkat" Ucap Diaz semangat.


"Good" Ucap Lian pelan.


Diaz menatap aneh wajah Lian.


"Lo kenapa lagi Mas?" Ucap Diaz ingin tahu.


"Raya gak ada kabar" Ucap Lian datar.


"Kenapa sih Mas, kalo udah nyangkut Raya Lo selalu kaya gini" Ucap Diaz.


"Gue juga gak mau kaya gini" Ucap Lian.


"Lo sadar gak Mas, Raya tuh...Udahlah susah Gue jelasinnya" Ucap Diaz.


"Gak perlu Lo jelasin, Gue paham" Ucap Lian.


"Gue tuh gak mau liat Lo kaya gini terus" Ucap Diaz kesal.


"Thanks Diaz, Lo udah care sama Gue" Ucap Lian sambil memegang bahu Diaz.


"Memang seharusnya gitu Mas, kita harus saling menjaga. Karena kita saudara" Ucap Diaz.


Lian mengangguk lalu tersenyum.


"Ya udah Gue masuk kamar, besok banyak banget kerjaan" Keluh Lian.


Diaz yakin liburan kali ini menyenangkan, karena ada Aleena. Kalau dulu tiap kali liburan Diaz selalu saja sendiri. Hanya jadi penonton Lian dan Raya.


@Office.


Lian meraih tumpukan dokumen yang berada di depan matanya. Banyak juga kerjaan Lian hari ini, semua harus selesai sebelum weekend.


Lian tidak ingin di saat sedang berlibur, ada yang menghubungi nya dari Kantor. Lian membaca Ulang Proposal lalu menandatangani satu persatu Proposal nya.


Lian memijat kepalanya, cukup lelah hari ini. Masih ada beberapa Proposal yang belum Lian baca dan pelajari.


Mungkin akan di lanjutkan setelah makan siang nanti. Lian membuka ponselnya, ingin sekali Ia menghubungi Aleena.


Tapi Lian urungkan niatnya, Lian tidak ingin mengganggu Aleena. Lian tidak ingin Aleena sedih.


Akhirnya Lian mencoba bermain Game yang ada di Ponselnya. Untuk menunggu waktu makan siang.


Terdengar pintu terbuka, Lian melirik ke arah pintu. Terlihat sosok Raya sambil tersenyum dan menghampiri Lian.


"Honey, ganggu gak?" Tanya Raya sambil memeluk Lian dari belakang kursi.


"Gak ko' Aku lagi tunggu waktu makan siang jadi nge Game" Ucap Lian.


"Ya sudah kita Lunch, Aku lapar" Ucap Raya.


Lian melirik jam tangannya.


"Oke" Ucap Lian beranjak dari duduknya.


Mereka melangkah ke luar ruangan menuju sebuah Cafe yang berada di lantai dasar di Gedung Kantor Lian.


Lian memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua. Lian tidak perlu bertanya pada Raya apa yang ingin Raya pesan.


Lian sudah tau makanan kesukaan Raya, sambil menunggu makanan datang. Lian menatap wajah Raya, Raya tengah asik melihat-lihat Ponsel milik Lian.


Lian tidak pernah mengunci Ponselnya sejak dulu, karena Raya selalu saja membuka dan mengecek isi Ponsel Lian.


"Ini maksudnya apa?" Tanya Raya sinis. Sambil menunjukkan kontak nama Aleena yang Lian beri nama


' Peri Hatiku '


"Kenapa?" Jawab Lian santai.


"Kamu anggap Aku apa?" Ucap Raya sambil meletakkan Ponsel milik Lian di atas meja.


"Raya, itu cuma sebuah nama. Gak ada maksud apa-apa" Ucap Lian.


"Bukannya kamu bebas buka ponsel Aku, gak ada yang harus kamu curigai" Ucap Lian lagi.


"I am jealous" Ucap Raya.


"Kamu masih juga belum percaya sama Aku" Ucap Lian.


"I believe you." Ucap Raya sambil memegang tangan Lian.


"Penantian Aku selama ini belum cukup buat kamu?" Ucap Lian.


"I'm sorry" Ucap Raya memohon.

__ADS_1


Lian hanya diam menatap wajah Raya.


__ADS_2