
Aleena membolak balikan tubuhnya di atas tempat tidur. Aleena masih teringat semua ucapan Tara tentang Raya dan Justin. Memang ada benarnya semua ucapan Tara.
Mungkin untuk mengetahui hal yang sebenarnya Aleena harus pergi ke London untuk mencari tau semuanya. Dan juga Aleena ingin bertemu dengan Justin.
Mungkin dengan bertemu langsung dengan Justin, Aleena jadi tau karakter Justin seperti apa. Apakah seperti yang pernah Raya jelaskan semua tentang Justin.
Aleena harus membicarakan hal ini pada Diaz, Aleena tidak bisa bergerak sendiri untuk mencari tau tentang kebenarannya.
Aleena mencoba memejamkan matanya, berharap pagi akan segera datang Aleena akan menghubungi Diaz.
Namun Aleena terbangun dari tidurnya, Aleena meraih ponselnya untuk melihat pukul berapa saat ini.
Terlihat di layar ponselnya sudah pukul 01.27. Aleena hanya tidur kurang lebih 2 jam saja. Aleena menyalakan lampu kamar dan melangkah menuju Balkon kamarnya.
Aleena mencoba menghubungi Diaz, semoga saja Diaz belum tidur. Walupun sudah tidur, Aleena berharap Diaz akan terbangun mendengar bunyi ponselnya berdering.
"Tuuutttt ,,, Tuuutttt" Nada panggilan tersambung.
Namun tidak ada jawaban dari Diaz, Aleena mencoba sekali lagi. Berharap Diaz menjawab panggilan dari Aleena.
"Heeiiii ,,, Are you ok?" Jawab Diaz dengan nada suara kawatir.
"Akhirnya kamu jawab telpon ku" Ucap Aleena.
"Ada apa?" Tanya Diaz kawatir.
"Ada hal yang ingin Aku bicarakan sama kamu, Aku kesal menunggu pagi" Ucap Aleena.
"Maksud kamu malam ini juga kita harus bicara?" Tanya Diaz.
"Iya, tapi sudah hampir tengah malam" Jawab Aleena.
"Besok kamu ngampus?" Tanya Diaz.
"Entahlah, mood Aku masih random banget" Ucap Aleena.
"Yaudah besok Aku jemput yah, kita bicarakan hal yang kamu maksud tadi" Ucap Diaz.
"Tapi----" Ucap Aleena ragu.
"Al, gak mungkin sekarang Aku datang ke rumah kamu. Aku gak mau Keluarga kamu berfikir aneh sama Aku" Ucap Diaz.
"Oke, Aku juga harus jaga nama baik kamu di mata orang tua ku" Ucap Aleena.
"Thanks, yaudah sekarang kamu tidur lagi. Lepaskan sejenak semua pikiran kamu. Besok Aku pasti jemput kamu" Ucap Diaz meyakinkan.
"Baiklah, Nite " Ucap Aleena.
"Nite too" Jawab Diaz lalu mengakhiri panggilannya.
Aleena melangkah kembali masuk ke dalam kamarnya. Dan berharap rasa kantuk kembali menyerang agar Aleena tertidur dan pagi akan segera datang.
...***...
"Non ,,, Non ,,, " Terdengar suara Bik Nah memanggil Aleena dari balik pintu kamar.
Aleena mendengar suara Bik Nah, namun Aleena sangat berat membuka kedua matanya.
Tepatnya Aleena masih mengantuk, entah pukul berapa Aleena kembali tidur setelah menghubungi Diaz.
"Aleena masih ngantuk Bik" Seru Aleena.
"Ada Mas Diaz Non" Seru Bik Nah.
__ADS_1
mendengar nama Diaz mata langsung terbuka, sebelumnya kedua mata Aleena sangat berat.
"Sebentar Bik, Aleena mau mandi dulu" Seru Aleena yang langsung melangkah menuju kamar mandi.
Usai mandi Aleena bergegas keluar kamar dan menuruni anak tangga dengan langkah cepat untuk menemui Diaz yang sudah menunggunya di ruang tamu.
"Sori, nunggu lama. Aku ngantuk banget Yaz" Ucap Aleena.
"Tidur jam berapa semalam?" Tanya Diaz.
"Aku gak tau" Jawab Aleena tersenyum.
"Sekarang kita mau kemana?" Tanya Diaz.
"Cari tempat yang enak buat cerita, yang pasti tempat yang tenang" Ucap Aleena.
"Hmmm ,,, Aku tau. Taman Langit?" Jawab Diaz.
"Sepagi ini?" Ucap Aleena.
"Kita belum pernah ke sana saat terang. kenapa gak kita coba. Mungkin Lian juga belum pernah hehe" Jawab Diaz.
"Oke, kita coba. Aku pamit sama Mama dulu ya" Ucap Aleena.
Aleena melangkah menuju Taman belakang rumahnya, biasanya di jam seperti ini Sang Mama sibuk dengan tanaman kesayangannya.
"Mama ,,," Seru Aleena sambil memeluk Sang Mama.
"Pangeran kecil udah jemput?" Goda Sang Mama.
"Ihhh Mama" Aleena tersipu.
"Sekarang Diaz yang lebih rajin datang kesini" Ucap Sang Mama.
"Aku yang minta Diaz datang untuk jemput Aku" Jawab Aleena jujur.
"Deeggg" Jantung Aleena bergetar.
"Mmmm Mama kan tau sejak bekerja Lian jadi super sibuk. Jadi yang bisa menemani Aku cuma Diaz sekarang hehe" Jawab Aleena berbohong.
"Ohhh ,,, Kalo sering bertemu bisa jatuh cinta nanti. Bisa-bisa posisi Lian bergeser" Ucap Sang Mama.
"Ihhhh Mama bisa aja, Aku pamit yah mau keluar dulu sama Diaz" Ucap Aleena sambil mencium tangan Sang Mama.
"Kamu gak ke kampus?" Tanya Sang Mama.
"Lusa Ma, jadi Masih ada waktu main-main sama Diaz hehe" Jawab Aleena.
"Oke take care and have fun sayang" Ucap Sang Mama.
"Thank you Mama" Jawab Aleena tersenyum lalu melangkah meninggalkan Sang Mama.
@Taman Langit.
Aleena takjub melihat suasana Taman Langit di waktu seperti ini. Taman Langit jauh lebih indah ketika langit terang.
View malam kedua mata tidak bisa melihat sekelilingnya. Hanya ada lampu-lampu dan dan terang nya Bulan dan juga Bintang.
Saat terang seperti ini, dari kejauhan Aleena bisa melihat birunya langit, dan rumah penduduk. Dan Aleena juga bisa melihat sungai yang mengalir di sepanjang pemukiman penduduk.
Suasana masih sama, sepi tidak banyak orang yang datang ke sini. Tempat ini sangat cocok untuk tempat sharing.
"Kamu benar Diaz, Taman Langit lebih indah ketika terang" Ucap Aleena tersenyum sambil menatap wajah Diaz.
__ADS_1
"Itulah bedanya Aku dan Lian, Lian lebih suka dengan suasana sunyi dan gelap" Ucap Diaz.
"Yup, Kalian memang dua orang yang berbeda " Jawab Aleena.
"Btw, kamu mau cerita apa?" Tanya Diaz penasaran.
"Waktu baru sampai kemarin, Entah kenapa tiba-tiba Aku kangen Tara. Masih ingat Tara?" Tanya Aleena.
"Yup, kenapa?" Jawab Diaz.
"Seperti biasa, kalo Aku dan Tara bertemu. Hal pertama yang Tara bahas itu hubungan Aku dan Lian" Ucap Aleena.
"Lalu?" Ucap Diaz sambil mendengarkan ucapan Aleena.
"Kamu bahas tentang Raya yang tiba-tiba kembali, dan lari dari Justin. Entah kenapa Tara mengambil kesimpulan ada yang aneh dari hubungan pernikahan Raya dan Justin" Ucap Aleena.
"Anehnya?" Tanya Diaz.
"Pernikahan itu sangat sakral bukan untuk main-main. Tapi yang beda dengan pernikahan Raya dan Justin. Waktu pertama Raya kembali ke Jakarta setelah bertahun-tahun Raya menghilang. Raya cukup lama berada jauh dari Justin. Tapi Justin sama sekali gak mencari Raya" Ucap Aleena.
"Jadi maksud kamu, pernikahan Raya dan Justin hanya drama?" Ucap Diaz.
"Bukan Drama, maksud Aku. Sepertinya Raya punya niat atau rencana lain untuk Lian. Yang kita juga gak tau" Ucap Aleena.
"Raya selalu bilang Justin mempunyai sifat kasar, keras dan buruk. Tapi kita gak tau apa benar Justin seperti yang di ucapkan Raya?" Ucap Aleena lagi.
"Haduh Aleena, Intinya aja. Aku bingung kalo kamu cerita sebanyak ini hehe" Ucap Diaz.
Aleena menarik nafas, agar tetap tenang. Diaz benar Aleena bercerita bukan langsung pada intinya.
H
"Sori kalo kamu jadi bingung" Ucap Aleena.
"Gapapa, lanjut lagi" Ucap Diaz.
"Aku tuh berniat mencari tau tentang Justin, dan juga pernikahan mereka" Ucap Aleena.
"Untuk apa?" Tanya Diaz.
"Diaz, Aku lakukan ini bukan ingin memisahkan Lian dan Raya. Aku cuma mau tau kebenaran dan membuktikan ucapan Raya tentang Justin dan masalah pernikahan mereka dan juga soal Papanya yang berhutang pada keluarga Justin " Ucap Aleena menjelaskan.
"Kamu tau, Lian pernah sharing sama Aku perihal hutang Om David pada keluarga Justin" Ucap Diaz.
"Sebelum kita kembali ke Jakarta waktu itu, ternyata diam-diam Lian menemui Om David. Lian merasa iba pada Raya. Jadi Lian menawarkan bantuan pada Om David untuk melunasi semua hutang Om David" Ucap Diaz. Aleena sangat terkejut mendengar ucapan Diaz.
"Lian minta saran dari Aku, Karena Lian ingin. Meminta bantuan atau meminjam uang sama Papa untuk melunasi hutang keluarga Raya. Agar Raya bisa terbebas dari Justin dan keluarganya" Jelas Diaz.
"Aku tanya berapa jumlah nominal hutang Om David, Lian gak kasih tau angkanya. Lian cuma bilang jumlahnya sangat besar" Ucap Diaz.
Aleena terdiam, Apa mungkin kedatangan Raya yang sangat tiba-tiba berhubungan dengan niat Lian ingin membantu orang tua Raya untuk melunasi hutang-hutangnya pada keluarga Justin.
"Menurut Aku kita jangan terlalu cepat mendatangi Justin. Aku bisa mint bantuan teman Aku. Lian tau alamat rumah Raya di London berkat jasa teman ku. Kita selidiki Justin lebih dahulu. Keseharian Justin dan lainnya" Jelas Diaz.
"kenapa kamu gak bilang dari tadi, jadi kita gak harus datang ke sana" Ucap Aleena.
"Setelah ini Aku akan hubungi teman ku, kamu cukup tenang tunggu kabar dari Aku" Ucap Diaz.
"Oke, pikiran ku jadi tenang kalo kaya gini " Ucap Aleena.
"Oya, Lian udah kasih kabar ke kamu?" Tanya Aleena lagi.
"Belum, mungkin Lian masih sibuk dan Lian harus adaptasi dengan lingkungan barunya bersama Raya " Ucap Diaz.
__ADS_1
Aleena, Diaz dan Lian. Mereka memang saling perduli satu sama lain. Seharusnya diantara mereka tidak saling memiliki rasa.
Namun Rasa itu datang dari hati mereka masing-masing, Dan sebuah Anugerah dari Tuhan.