CINTA Itu KAMU !

CINTA Itu KAMU !
* Down *


__ADS_3

Sudah pukul 10 siang, Lian masih berada di atas tempat tidur nya. Lian malas beranjak dari tempat tidur nya, Lian masih belum menerima penolakan Raya.


Apalagi ketika Raya bilang jangan mengantar nya ke Airport. Lian kecewa kenapa Raya harus berkata seperti itu.


"Tok ,,, Tok ,,, Tok"


Terdengar suara ketukan pintu.


"Mas ,,, Lo gak Ngantor?" Seru Diaz dari luar.


Lian belum menjawab dan belum membuka pintu kamarnya.


Diaz bingung ada apa dengan Lian, seharusnya Lian pergi ke kantor, atau Lian menghabiskan waktu bersama Raya, karena besok Raya akan meninggalkan Jakarta.


"Mas ,,, Mas ,,, buka pintu!" Dias masih teriak. Tapi belum ada respon dari Lian.


Diaz makin bingung, ada sesuatu yang terjadi pada Lian. Kenapa Lian kembali seperti dulu. Mengunci diri di dalam kamarnya.


Diaz mencoba menghubungi Raya, namun ponsel Raya tidak aktif. Diaz kembali berfikir.


"Aleena" Ucap Diaz.


Dengan cepat Diaz pergi ke rumah Aleena, karena hanya Aleena yang bisa membuat Lian tenang.


Diaz begitu khawatir dengan kakaknya, Diaz tidak ingin Lian kembali seperti dulu. Saat pertama Raya meninggalkan Jakarta.


Diaz melajukan mobilnya dengan cepat agar segera sampai di rumah Aleena.


Selang 45 menit Diaz tiba di rumah Aleena, dengan langkah cepat Diaz menuju pintu rumah Aleena.


"Tok ,,, Tok ,,," Pintu di ketuk.


Terlihat Aleena membuka pintu rumahnya, dengan terkejut melihat wajah Diaz yang panik.


"Ada apa Diaz?" Tanya Aleena bingung.


"Aleena ikut Aku, please" Ucap Diaz memohon.


"Iya kenapa?" Ucap Aleena.


Diaz menarik lengan Aleena, lalu membawanya ke mobil. Diaz melajukan mobilnya ke rumahnya.


"Kenapa Diaz ?" Tanya Aleena kembali.


"Sejak pulang dari Bali, dan terakhir Lian ngobrol dengan Raya. Lian gak keluar kamar" Ucap Diaz.


"Kenapa? Meraka bertengkar?" Ucap Aleena.


"Entahlah, Aku khawatir Lian kembali seperti dulu. Saat pertama Raya meninggalkan Jakarta" Jelas Diaz.


"Pasti terjadi sesuatu antara mereka" Ucap Aleena.


"Cuma kamu yang bisa buat Lian tenang" Ucap Diaz cemas.


Aleena dan Diaz segera pergi untuk bertemu dengan Lian. Terlihat wajah Aleena begitu kawatir terhadap Lian.


Tiba di rumah Lian, Aleena berlarian kecil menuju kamar Lian.


"Lian,,, buka pintu. Ini Aku Aleena" Seru Aleena sambil mengetuk pintu kamar Lian.


"Lian, buka. Lian" Aleena terus memanggil Lian.


Aleena masih berdiri di depan pintu kamar Lian. Masih menunggu Lian membuka pintu kamarnya.


"Aku akan tetap di sini, tunggu kamu sampai keluar" Ucap Aleena.


Dalam hitungan detik pintu kamar Lian sudah terbuka, terlihat Lian dari balik pintu.


"Are you ok?" Tanya Aleena pelan.


Lalu memeluk Lian, Lian hanya diam lalu menarik Aleena masuk ke dalam kamarnya.


"Kalo ada masalah jangan kamu simpan sendiri, ada Aku dan Diaz" Ucap Aleena sambil mengusap lembut wajah Lian.


Lian masih diam belum mau bercerita, Aleena tidak akan memaksa. Aleena akan menemani Lian, sampai Lian mau bicara.


Ekspresi wajah Lian kembali seperti awal pertama Aleena bertemu Lian. Penuh kesedihan.


Aleena mendekati Lian, lalu memeluk Lian.


"Aku gak akan maksa kamu untuk cerita, Aku disini akan menemani kamu sampai kamu baik-baik aja" Ucap Aleena.


Lian masih diam tak bereaksi, Aleena ingat Taman Langit. Mungkin jika ke sana Lian akan lebih tenang.


"Kita ke Taman Langit yuk, Kali ini biar Aku yang setir. Kamu duduk manis aja" Ucap Aleena.


Lian menatap Aleena sambil tersenyum.


"Kamu yakin mau nyetir? Jalannya ribet" Ucap Lian.


"He'eh, yang penting kamu tenang dan bisa tersenyum lagi" Ucap Aleena tertawa.


"Kamu bisa banget rayu Aku" Ucap Lian sambil mencubit hidung milik Aleena.


"Aku gak akan biarkan kamu yang nyetir" Ucap Lian lagi.


Lian beranjak dari duduknya, sambil meraih tangan Aleena. Untuk keluar kamar, menuju AUDY Q7 milik Lian.


Lian melajukan mobilnya ke arah Taman Langit. Sudah lama juga mereka tidak kesana.


Sementara dari jendela kamar Diaz, Diaz melihat Aleena dan Lian pergi.


Tidak salah Diaz membawa Aleena ke rumah nya. Hanya Aleena yang bisa membujuk Lian.


"Gue harap Lo peka Mas, cuma Aleena yang mampu kendalikan emosi Lo" Ucap Diaz.


@Taman Langit.


Tiba di Taman Langit, Aleena membuka pintu mobil. Lalu melangkah keluar.


Lian mengikuti langkah Aleena, Aleena tersenyum melihat Lian.


"Lian, Kangen juga udah lama kita gak kesini" Seru Aleena sambil menarik tangan Lian.


"Benar, udah lama kita melupakan tempat ini" Ucap Lian.


"Yang penting kamu gak melupakan Aku" Goda Aleena.


Lian hanya tersenyum melihat Aleena begitu semangat untuk menghiburnya.


"Heeiii, kamu tuh lebih ganteng kalo senyum" Ucap Aleena.


"Sejak kapan kamu pinter gombal?" Ucap Lian.


"Sejak hari ini, Kamu tau. Kenapa Aku suka sama kamu?" Tanya Aleena.


"Apa?" Ucap Lian penasaran.

__ADS_1


"Kamu ingat saat pertama kali kamu minta  kita ketemu di Danau belakang Kampus. Waktu itu kamu sebut nama panjang Aku, sambil tersenyum" Jelas Aleena.


"Saat itulah Aku mulai suka sama kamu" Ucap Aleena lagi.


Lian tersenyum sambil mengusap rambut Aleena.


"Jadi Aku mohon kamu selalu tersenyum meski kamu dalam keadaan gak baik" Ucap Aleena.


"Asalkan kamu selalu ada di saat Aku kaya gini, mungkin Aku bisa tersenyum seperti yang kamu mau" Ucap Lian.


"Sekarang kalo kamu gak keberatan, Aku mau tau kamu kenapa?" Ucap Aleena.


Lian menghela nafas panjang, dan mulai bercerita.


"Setelah dari Airport, Aku dan Raya sempat berbincang di rumah ku" Lian mulai bercerita.


"Aku minta kepastian pada Raya, kapan Dia akan kembali lagi ke Jakarta, Raya cuma bilang Aku jangan kaya anak kecil" Lian masih bercerita.


"Aku mohon pada Raya untuk tetap di Jakarta, Tapi Raya tetap pada keputusannya untuk kembali pulang. Akhirnya Aku bilang akan menikahi Raya, agar kami gak saling terpisah lagi. Tapi Raya menolak" Ucap Lian tertunduk.


"Apa alasannya Raya menolak niat baik kamu?" Tanya Aleena sambil mengusap wajah Lian.


"Dia bilang terlalu cepat, masih banyak hal yang belum Dia tau. Raya gak mau terikat, dan Raya belum siap menjadi seorang istri" Ucap Lian dengan wajah kecewa.


"Lian" Ucap Aleena.


"Raya juga bilang, besok jangan antar Dia ke Airport. Dia gak mau ada drama air mata" Ucap Lian lagi.


"Aku semakin yakin ada hal yang di tutupi Raya" Ucap Lian.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Aleena.


"Entahlah" Ucap Lian.


"Seharusnya Aku senang mendengar hal ini. Mungkin ini suatu keuntungan untuk Aku, tapi Aku bukan orang seperti itu" Ucap Aleena.


"Aku pikir kamu harus mengejar Raya, kamu harus pergi bersama Raya ke London untuk memastikan semua keraguan kamu" Ucap Aleena lagi.


"Aleena, kenapa kamu begitu keras agar Aku dan Raya bersama?" Tanya Lian sambil menatap wajah Aleena.


"Lian, bagaimana kamu akan memulai hubungan baru, jika kamu dan Raya belum ada kepastian" Jelas Aleena.


"Hubungan kamu dan Raya gak akan berakhir jika diantara kalian belum memberikan kepastian" Ucap Aleena.


"Raya pasti akan kembali meski belum tau kapan, Dia akan terus begini dan kamu akan semakin terpuruk" Ucap Aleena.


"Kamu benar Aleena, hubungan Aku dan Raya tidak akan pernah berakhir jika terus seperti ini" Ucap Lian.


"Apapun itu keputusannya nanti semua yang terbaik untuk kalian" Ucap Aleena.


Lian sudah tau apa yang harus Dia lakukan. Aleena sudah membuka pikirannya. Hanya karena sudah terlalu jauh hubungan Lian dan Raya membuat Lian tidak bisa meninggalkan Raya.


"Thanks sayang" Ucap Lian memeluk Aleena. Aleena tersenyum lalu membalas pelukan Lian.


Lian melangkah menuju kamar Diaz, membawa dua buah kaleng Beer. Lian membuka pintu kamar Diaz. Terlihat Diaz tengah asik menatap layar ponselnya.


Diaz menoleh ke arah Lian, lalu kembali fokus menatap layaonselnya.


"Lagi sibuk?" Tanya Lian.


"Mayan Mas, naikin Rank hehe" Ucap tertawa.


"Sial, Gue kira sibuk apa haha" Ucap Lian tertawa sambil memberikan Diaz Beer.


"Btw, ada apa? Dan kenapa?" Tanya Diaz.


"Wah, kacau. Gue stay di sini Lo malah cabut" Diaz menggerutu.


"Jadi stay disini ?" Tanya Lian.


"Niatnya,,, tapi Lo mau ke London. Jadi Gue pikirin lagi deh" Jawab Diaz sambil fokus pada layar ponselnya.


"Gue bolak balik Jakarta-London gak sepenuhnya stay di sanalah" Ucap Lian. Sambil memberikan Beer pada Diaz.


"Sebenernya Gue yang minta Papa buat Back up, awalnya Gue nanya punya mitra bisnis di London Gak. Ternyata ada" Ucap Lian.


"Maksudnya Lo sekalian jadi Spy buat Raya hehe" Ucap Diaz bercanda.


"Bisa di bilang gitu" Ucap Lian.


"Kedengarannya sih romantis, mengejar kekasih ribuan Mil hahaha" Diaz tertawa.


"Sial Lo, btw Lo punya kenalan gak, buat beli informasi!" Tanya Lian lagi sambil meneguk Beer.


"Buat apa?" Ucap Diaz penasaran.


"Gue butuh informasi tentang Raya, tempat tinggal Dia di sana" Ucap Lian.


"Kenapa gak dari dulu" Ucap Diaz sambil geleng-geleng kepala.


"Keraguan Gue baru muncul sekarang, kenapa Raya nolak Gue ajak nikah" Ucap Lian.


"Serius Lo!" Diaz terkejut.


"Ya, terlalu banyak pertimbangan. Raya belum mau terikat Dia masih mau bebas" Jelas Lian.


"Terus Lo mau apa setelah udah tau tentang Raya?" Tanya Diaz.


"Intinya Gue mau temuin Om David, Gue bakal minta ijin mau nikahin Raya" Ucap Lian.


"Masih belum nyerah juga Lo Mas?" Diaz heran.


"Mungkin ini opsi terakhir, kalo emang udah gak bisa. Give up" Ucap Lian.


"Oke, Gue punya kawan. Waktu di Amsterdam, Doi bisa di andalkan" Ucap Diaz.


"Oke Lo atur aja, berapa fee nya Lo info ke Gue aja" Ucap Lian.


"Gue minta waktu tiga hari buat hubungi Doi" Ucap Diaz.


"Lo atur aja, Gue terima beres aja" Ucap Lian.


"Cheers dulu dong" Seru Diaz sambil mengangkat kaleng Beer ke arah Lian.


"Lo seneng banget kayanya hahaha" Ucap Lian sambil tertawa.


"Gue udah capek liat hubungan Lo sama Raya, banyak drama episode nya gak kelar-kelar kaya sinetron" Ucap Diaz.


"Sial Lo hahaha" Lian tertawa.


"Mas,,, kalo Lo jadi sama Raya. Gue sama Aleena yah!. Gue rela jadi bayang-bayang Lo" Ucap Diaz serius.


"Gokil,,,!" Ucap Lian terkejut.


"Gue gak ikhlas aja kalo Aleena sama cowok lain hehe" Ucap Diaz.


"Itu juga kalo boleh sama Lo" Ucap Diaz lagi.

__ADS_1


"Entahlah" Jawab Lian tenang.


"Ayolah bolah yah , Gue sama Aleena hehe " Ucap Diaz terus memohon.


"Mohonnya jangan sama Gue, sama Aleena lah " Ucap Lian tersenyum.


"Di ACC nih Gue" Seru Diaz senang.


"Semua tergantung Aleena,,, Doi kan cinta sama Gue hahaha" Ucap Lian tertawa.


"Gue akan bikin Aleena jatuh cinta sama Gue " Ucap Diaz semangat.


"Ya udah, Gue tidur dulu. Besok Gue Ngantor" Ucap Lian meninggalkan Diaz.


"Good night" Seru Diaz.


@ Office


Hari pertama Lian masuk kantor setelah libur panjang dari Bali. Banyak tumpukan Map di atas meja kerja Lian.


Lian menarik nafasnya, sepertinya hari ini benar-benar sibuk dengan proposal-proposal yang harus Lian baca dan pelajari.


Meski suasana hatinya masih belum stabil. Kalau bukan karena Aleena mungkin Lian akan seperti dulu.


Lian yakin bisa lalui masalahnya dengan Raya, karena Aleena dan Diaz selalu men support Lian.


Lian melirik jam di lengannya, 15 menit lagi pesawat Raya akan segera Take Off meninggalkan Jakarta dan juga Lian.


Lian ingin segera menemui Om David Papanya Raya, mungkin semua pertanyaan akan terjawab.


"Tunggu surprise dari Aku Raya" Ucap Lian dalam hati.


Lian beranjak dari duduknya untuk pergi ke Cafe Resto dekat kantor nya. Sudah waktunya  makan siang perut Lian  sudah terasa lapar sejak pagi belum sarapan.


Tiba di Cafe Resto Lian mencari tempat duduk yang kosong, sedikit terkejut Lian melihat sosok Aleena tengah duduk seorang diri.


Lian tersenyum menghampiri Aleena, lalu kedua tangan Lian menutup mata Aleena.


"Diaz, jangan bercanda deh" Keluh Aleena. Lian terkejut mendengar ucapan Aleena memanggil nama Diaz lalu melepaskan tangannya dari mata Aleena.


"Diaz?" Ucap Lian.


"Lian, Aku pikir Diaz" Ucap Aleena cemberut.


"Kamu janjian sama Diaz?" Tanya Lian ingin tau.


"Iya, tadinya mau bikin surprise kamu. Aku sama Diaz mau culik kamu hehe" Ucap Aleena.


"Surprise?" Lian bingung.


"Iya Gue mau culik Lo sama Aleena, gak taunya Lo malah kesini" Seru Diaz yang tiba-tiba sudah berada di belakang Lian.


"Kalian emang anak-anak nakal" Ucap Lian tersenyum.


"Gimana mood Lo udah normal?" Tanya Diaz.


"Yang Lo liat gimana?" Ucap Lian tenang.


"Gue sama Aleena agak cemas sama Lo, makanya Gue janjian ketemu di sini" Jelas Diaz.


"I'm ok" Ucap Lian.


"Ya udah abis makan kita cabut yuk" Seru Diaz.


"Gue banyak kerjaan" Keluh Lian.


"Aku tunggu kamu sampai selesai kerjaan kamu" Ucap Aleena.


"Jangan, kelamaan nanti. Aku gak mau kamu tunggu lama" Ucap Lian sambil memegang tangan Aleena.


"Makan dulu deh, lapar nih" Keluh Diaz sambil mengelus perutnya.


Lian memanggil waitress untuk memesan makanan.


"Krriiinngg ,,, Krriiinngg ,,, "


Suara ponsel Diaz berdering.


Diaz meraih ponsel yang berada di atas meja, lalu menatap layar ponselnya.


"Bentar Gue angkat telpon dulu" Ucap Diaz sambil melangkah menjauhi Lian dan Aleena.


Selang beberapa menit Diaz kembali menghampiri Lian dan Aleena.


"Mas, Bentar Gue mau ngomong Urgent" Ucap Diaz sambil menarik tangan Lian.


Aleenan bingung melihat Lian dan Diaz berbicara dengan begitu serius. Apa yang terjadi dengan mereka.


Tidak lama mereka berdua menghampiri Aleena.


"Aleena Sorry Aku harus pergi, Urgent banget" Ucap Diaz pada Aleena.


"Ohh iya, take care" Ucap Aleena bingung.


"Mas nanti Gue kabarin kalo udah sampe rumah" Ucap Diaz sambil melangkah meninggalkan Lian dan Aleena.


Lian hanya mengangguk lalu duduk di sebelah Aleena. Aleena menatap Lian dengan wajah bingung.


"Kenapa liatin Aku kaya gitu?" Tanya Lian tersenyum.


"Sebenarnya ada apa?" Ucap Aleena heran.


"Bukan apa-apa, cuma masalah keluarga kami aja" Ucap Lian tenang.


"Kamu yakin?" Ucap Aleena ragu.


"Iya, gak ada apa-apa. Bukannya lebih baik kita berdua aja" Ucap Lian.


"Kalo kita berdua aja, judulnya Aku yang di culik kamu" Aleena tersenyum.


"Udah lama yah, gak Aku culik?" Ucap Lian tersenyum.


"Abis ini mau kemana?" Tanya Lian.


"Around the world hehe" Ucap Aleena tertawa.


"Serius! Next kita keliling dunia berdua" Ucap Lian tersenyum.


"Kamu udah beberapa kali ucapin ini ke Aku, hmmm lupain aja. I am just kidding " Ucap Aleena sambil memegang tangan Lian.


"Aku serius Aleena, kamu gak mau keliling dunia berdua Aku" Lian menatap wajah Aleena.


"Yakin?" Ucap Aleena.


"Aku beresin dulu satu-satu, karena ada hal yang gak akan berakhir kalo Aku belum beresin" Ucap Lian.


Aleena hanya diam menatap wajah Lian yang terlihat begitu serius.

__ADS_1


__ADS_2