CINTA Itu KAMU !

CINTA Itu KAMU !
* Debat Dikit *


__ADS_3

" Tookk ,,, Tookk ,,, "


Lian mengetuk pintu kamar Diaz.


Diaz membuka pintu kamar nya, lalu Lian menerobos masuk ke dalam kamar Diaz. Diaz menatap heran ke arah Lian, lalu menghampiri Lian.


"Lo kenapa Mas?" Tanya Diaz bingung.


Lian membuka sliding jendela kamar Diaz untuk ke Balkon kamar Diaz. Lalu duduk di sofa, Diaz mendekati Lian dan duduk di sebelah Lian.


"Tadi Lo ke Skye Bar juga?" Lian mulai bicara.


"Ya, kenapa?" Jawab Diaz santai sambil menyalakan Rokoknya.


"Maksud Lo apa?" Ucap Lian masih tenang.


"Gak ada maksud apa-apa, tadinya mau kasih kejutan sama Aleena. Tapi Aleena udah tau Raya datang. Lo tau Mas ? Raya datang ke kampus cari Aleena" Jawaban Diaz lalu menghisap rokok nya.


"Raya ke kampus?" Lian terkejut.


"He'eh " Jawab Diaz santai.


"Jangan ikut campur urusan Gue, Ini masalah Gue!" Lian mengingatkan.


"Mas, Gue gak ikut campur. Cuma Gue liat Lo gak punya sikap, Untuk Aleena. Apa Lo pernah bicara sama Dia setelah Raya datang? Seolah-olah Lo lupa sama Dia" Jelas Diaz.


"Gue gak lupain Aleena, cuma belum saatnya Gue bicara sama Aleena" Ucap Lian.


"Sampai kapan Mas? Sementara Aleena nunggu Lo buat bicara sama Dia" Ucap Diaz.


"Gue harus jaga perasaan Raya, Lo tau sifat Raya gimana" Ucap Lian.


"Justru karena Gue tau Raya gimana, makanya lebih baik Aleena tau dari sekarang" Ucap Diaz.


"Tapi Lo gak jaga perasaan Aleena, Lo gak tau Sakitnya Aleena" Ucap Diaz lagi.


Lian diam, lalu menatap wajah Diaz.


"Lo suka sama Aleena?" Tanya Lian.


"Gue cowok normal bohong aja Gue gak suka Aleena, di sini yang kita bicarakan tentang perasaan Lo, Aleena dan Raya. Bukan tentang Gue" Jelas Diaz.


"Jangan takut Mas, Gue gak akan macem-macem sama Aleena. Karena Gue tau Aleena cuma cinta sama Lo, bukan Gue" Jelas Diaz mengingatkan.


"Gue percaya sama Lo" Ucap Lian sambil memegang pundak Diaz.


"Aleena sempat ngomong sama Gue. Dia rela lepasin Lo, karena yang Dia pikirin cuma Kebahagiaan Lo. Dia juga bilang, liat orang yang kita cintai bahagia itu suatu kebahagiaan juga buat Dia" Jelas Diaz.


Lian menarik nafas dalam-dalam, ada rasa sakit di hatinya. Kenapa Dia melukai Aleena.


"Bahkan Aleena bilang, Dia harus tetap jalani hidupnya. Dan akan menjadi teman yang baik buat Lo dan Raya" Diaz masih bicara.


"Aleena" Ucap Lian dengan nada penyesalan.


"Masih mau Lo lepasin cewek tulus kaya Aleena? Bodoh kalo Lo sampe lepasin!" Ucap Diaz.


"Biar hati Gue yang akan tentuin, selama Raya di Jakarta. Waktu Gue pasti untuk Raya" Ucap Lian.


"Terserah Lo Mas, Gue dukung apapun keputusan Lo. Gue cuma minta bicara baik-baik sama Aleena, Kasih waktu satu hari untuk bicara sama Dia" Ucap Diaz.


"Oke, Gue akan atur waktu untuk bertemu Aleena" Ucap Lian berjanji.


"Good Luck Mas, tapi sori Gue gak akan diam aja kalo Aleena sampe sakit karena ulah Lo dan Raya" Ucap Diaz mengingatkan.


"Thanks, Lo emang Adik paling Gue sayang" Ucap Lian.


"Iyalah paling Lo sayang, Adik Lo cuma Gue" Ucap Diaz sambil tertawa.


"Hahaha, bener juga" Lian ikut tertawa.


"Refresh otak yuk, suntuk Gue di Jakarta" Ucap Diaz.


"Maksud Lo?" Ucap Lian.


" Kita ke Bali, berempat" Jelas Diaz.


"Tapi Gue gak yakin Raya bakal setuju kalo berempat" Ucap Lian ragu.


"Gue yang atur semua, Lo tinggal terima beres" Ucap Diaz.


"Ok,,," Jawab Lian.


"Gue tidur dulu, besok Gue harus Kerja" Ucap Lian lagi lalu melangkah keluar kamar Diaz.


Raya terbangun dari tidurnya, Raya melihat di sebelah nya tidak ada Lian. Raya segera beranjak dari tempat tidur, lalu melangkah keluar kamar.


"Dimana Lian? Kenapa gak bangunin Aku?" Keluh Raya kesal.


Raya berjalan menuju dapur untuk menemui Bik Nina, Terlihat Bik Nina tengah asik mengolah sayuran untuk di masak hari ini.


"Bik, pada kemana?" Tanya Raya menghampiri Bik Nina.


"Ehh, Non Raya. Mas Lian dari pagi sudah pergi ke kantor, Mas Diaz baru aja pergi" Jawab Bik Nina.


"Ohhh, kenapa Raya gak di bangunin sama Lian?" Ucap Raya.


"Gak tega mungkin bangunin Non Raya" Ucap Bik Nina.


"Oya Bik, Aleena suka main ke sini yahh?" Tanya Raya penasaran.


"Iya, udah beberapa kali ke sini. Belum lama ini juga keluarga Non Aleena di undang makan malam sama Papa Mas Lian" Ucap Bik Nina.


Raya terkejut mendengar ucapan Bik Nina, sudah sedekat itu keluarga Lian dan Aleena. Ada rasa cemburu dalam hati Raya.


"Mas Lian sejak kenal Non Aleena, berubah. Sekarang Mas Lian sudah mau bekerja di Kantor Papa nya. Kalo dulu Ndak pernah mau di suruh kerja" Bik Nina masih bercerita.


"Maksud Bibik, sejak kenal Aleena jadi berubah" Ucap Raya sedikit ketus.

__ADS_1


"Sepertinya Non" Ucap Bik Nina santai, Bik Nina tau Raya mulai cemburu.


"Oya Bik, tau gak kenapa Papa Lian. Ajak keluarga Aleena makan malam disini?" Raya masih penasaran.


"Setau Bibik, Papanya Mas Lian teman lamanya Papanya Non Aleena" Jelas Bik Nina sambil melirik ke arah Raya.


"Ohhh gitu,,," Ucap Raya datar.


"Non Raya mau sarapan apa? Nanti Bibik buatin" Tanya Bik Nina.


"Kayanya Aku mau pulang aja deh Bik" Ucap Raya.


"Sekarang Non Raya tinggal di mana?" Tanya Bik Nina.


"Di rumah Tante Aku Bik" Jawab Raya.


"Non Ndak tunggu Mas Lian pulang dulu? Soalnya Mas Lian pesan sama Bibik, Non Raya Ndak boleh ke mana-mana tunggu Mas Lian yang antar" Jelas Bik Nina.


"Raya pulang aja deh Bik, nanti Raya telpon Lian kalo Raya pulang" Ucap Raya.


"Nanti Mas Lian marah sama Bibik" Ucap Bik Nina.


"Gak akan Bik, Lian itu sayang sama Bik Nina" Ucap Raya.


"Raya pamit yah Bik" Ucap Raya sambil meninggalkan Bik Nina.


Raya cemburu mendengar cerita dari Bik Nina tentang Aleena dan keluarga nya. Apakah ini sebuah ancaman untuk Raya?. Posisi Raya akan tergeser oleh Aleena.


Tapi Raya yakin, Lian hanya mencintai dirinya. Aleena hanya sebagai pelarian untuk mengisi kekosongan Lian di saat dirinya tidak ada.


"Hanya Aku yang Lian cintai." Ucap Raya tersenyum.


Raya menuju pulang ke rumah Tantenya.


Sementara Lian masih memikirkan Ucapan Diaz, tentang Aleena. Lian harus menemui Aleena, untuk meminta maaf.


Lian meng Off kan Laptop nya, lalu menutup nya. Lian melangkah keluar ruangan nya, dan pergi mencari Aleena.


Lian melajukan Mobilnya ke arah Kampus, hari ini Aleena mungkin di kampus.


@Kampus.


Lian tidak menemui Aleena di Ruang kelas, Lian terus mencari ke kantin, lalu ke Danau belakang Kampus tempat biasa mereka bertemu. Namun Aleena tidak juga terlihat.


"Mungkin di perpustakaan" Ucap Lian dalam hati.


Lian terus mencari Aleena ke Perpustakaan, tiba dan perpustakaan Lian mencari sosok Aleena. Aleena berada di lorong buku, Dia sedang mencari buku yang Aleena butuhkan.


Lian menghampiri Aleena, lalu memegang jemari Aleena.


Aleena terkejut dengan kedatangan Lian.


"Lian" Ucap Aleena pelan.


"Aku cari-cari kamu, ternyata di sini" Ucap Lian.


"Aku mau culik kamu sekarang" Ucap Lian.


"Nanti Aku yang urus, aku hubungi Dosen kamu nanti" Ucap Lian.


"Lian, gak bisa kaya gitu" Ucap Aleena.


"Kamu ingin menghindar dari Aku?" Tanya Lian.


Mendengar ucapan Lian seperti itu membuat Aleena berubah pikiran. Aleena tidak mau di anggap menghindari Lian.


"Baiklah" Ucap Aleena menyerang.


Lian menarik pelan tangan Aleena, untuk keluar dari Perpustakaan.


Menuju parkiran Mobil.


Dalam perjalanan mereka saling diam, entah harus mulai dari mana mereka bicara.


"KAMU APA KABAR?" Ucap Lian dan Aleena berbarengan. Mereka saling bertatapan lalu tersenyum.


"Kamu dulu deh" Ucap Lian.


"I'm good seperti yang kamu liat" Ucap Aleena.


"Aku juga baik" Ucap Lian.


"Kita mau kemana?" Tanya Aleena.


"Mmmm, Aku juga belum tau mau kemana" Ucap Lian tenang.


Aleena kembali diam, entah mau kemana mereka. Jujur Aleena senang bisa bertemu dengan Lian, Aleena merindukan saat-saat bersama Lian.


Meskipun keadaannya sudah berada, Aleena harus menjaga sikapnya.


Roda terus berputar, Lian melajukan mobilnya ke arah Cisarua Bogor. Tepatnya ke perkebunan teh. Hanya tempat itu yang tidak memakan waktu lama menuju ke sana.


Tiba di perkebunan Teh, Lian menginjak pedal Rem. Lalu  menghentikan mobilnya. Lian keluar membukakan pintu mobil untuk Aleena.


Aleena menarik nafas panjang, menghirup udara segar. Lian memperhatikan Aleena, Aleena bersikap biasa saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara mereka.


"Kita mau apa di sini?" Tanya Aleena tersenyum.


"Mau jadi petani" Ucap Lian sambil mendekap tubuh Aleena.


"Deeggg ,,,"


Jantung Aleena berdebar, Aleena hanya menghela nafas.


"Aleena, Aku mau bicara" Ucap Lian tenang.


"Bicaralah, apa yang ada di dalam pikiran kamu" Ucap Aleena.

__ADS_1


"Kita duduk di sana" Ajak Lian sambil mengarahkan jari nya ke arah saung kecil yang berada di dekat mereka.


Mereka melangkah menuju saung kecil itu. Lalu duduk bersebelahan.


"Aleena, maafkan Aku" Ucap Lian sambil memegang jemari Aleena.


"Maaf untuk apa?" Tanya Aleena.


"Atas luka di hati kamu" Ucap Lian dengan wajah menyesal.


"Aku baik-baik aja, seperti yang kamu liat" Ucap Aleena masih tenang.


"Kamu pandai menutupi rasa sedih kamu" Ucap Lian.


"Lalu aku harus bersikap gimana? harus meratapi kesedihan ku?" Jawab Aleena.


"Aku bukan orang seperti itu" sambung Aleena.


"Itulah istimewa nya kamu" Ucap Lian.


"Aku memang terluka, Aku hancur, tapi itu semua gak akan merubah keadaan" Ucap Aleena.


Lian menatap wajah Aleena yang tertutup oleh rambutnya yang terkena hembusan angin.


"Aku gak bisa melepaskan Raya." Ucap Lian.


"Raya cinta pertama kamu?" Jawab Aleena.


"Salah satunya itu, tapi yang pasti hubungan Aku dan Raya sudah terlalu jauh. Jadi Aku harus tetap bersama Raya" Lian menjelaskan.


Dada Aleena terasa sakit, nafasnya mulai berat. Aleena berusaha menenangkan dirinya.


"Secara moral Aku harus bertanggung jawab pada Raya, Aku gak mungkin meninggalkan Raya" Jelas Lian lagi.


"Walaupun Raya memilih untuk pergi, dan menyudahi hubungan kalian?" Tanya Aleena.


"Entahlah, tapi kemungkinan itu kecil" Ucap Lian.


"Lanjutkan hubungan kalian. Aku baik-baik aja" Ucap Aleena.


"Di saat Raya ada di dekat ku, Hati dan pikiran Aku selalu saja memikirkan kamu" Ucap Lian.


"Kamu gak bisa menjalani dua-duanya" Ucap Aleena.


"Aku paham Aleena" Ucap Lian.


"Jujur Aku takut kamu menjauhi Aku" Ucap Lian.


"Lian, Aku gak akan kemana-mana. Meski sekarang kita harus menjaga sikap di depan Raya" Jelas Aleena.


"Seperti janji Aku pada Raya, Aku akan menjadi teman yang baik untuk kalian" Ucap Aleena lagi.


"Raya?" Ucap Lian heran.


"Iya, beberapa hari lalu Dia menemui Aku di kampus. Dia ingin kami berteman, sebenarnya tanpa Dia meminta Aku pasti akan tetap menjadi teman untuk kalian" Aleena menjelaskan.


"Aleena, sekali lagi maafkan Aku" Pinta Lian tulus.


"Sudahlah Lian, tanpa kamu minta Aku sudah memaafkan semuanya" Ucap Aleena.


"Melihat orang yang kita cintai bahagia, suatu kebahagiaan buat Aku" Ucap Aleena pelan lalu Aleena tertunduk.


Lian memeluk Aleena, lalu mengecup kening Aleena. Air mata Aleena terjatuh, Aleena tidak bisa menahannya. Lian membasuh lembut air mata Aleena.


"Kenapa bukan kamu orang pertama yang mengisi hati ku" Ucap Lian. Air mata Aleena masih menetes.


"Sudahlah Lian, sekarang kita hanya berteman" Ucap Aleena menatap lembut mata teduh milik Lian.


"Entah kenapa begitu berat Aku melepaskan kamu" Ucap Lian.


"Aku baik-baik saja Lian, hari terus berganti, waktu terus bergulir Aku tetap Aleena yang kamu kenal" Ucap Aleena.


Bibir Lian mulai mendekati Bibir milik Aleena, lalu mulai mengecup nya dengan lembut.


Aleena membalas kecupan Lian, Aleena merindukan saat-saat seperti ini. Mungkin Dia akan kehilangan Moment seperti ini.


Lama mereka saling berciuman, mereka saling menikmatinya. Sudah mulai gelap, mereka harus kembali ke Jakarta.


Mereka saling bergandengan tangan menuju Mobil. Sepanjang perjalanan Lian terus memegang jemari Aleena.


Berat rasanya melepaskan genggaman nya.


@Aleena's Home.


Tiba di depan rumah Aleena, Lian menatap lama wajah Aleena. Sekali lagi Lian memeluk Aleena lalu mengecup kening Aleena.


"Aku harus pulang" Pinta Aleena pelan.


"Baiklah" Lian melepaskan pelukannya.


Aleena membuka pintu mobil, lalu melangkah keluar. Aleena berjalan begitu pelan menuju gerbang rumahnya.


"Aleena,,," Seru Lian memanggil.


Langkah Aleena terhenti, lalu menoleh ke arah Lian.


Lian keluar dari mobilnya, lalu berlarian kecil menghampiri Aleena.


"Aku sayang kamu Aleena" Ucap Lian.


Aleena mengangguk pelan. Lalu memeluk Lian.


"Pulanglah Lian, kita harus menjaga perasaan Raya" Ucap Aleena. Dengan berat Lian melangkah menuju mobilnya.


Begitu pula Aleena melangkah pelan menuju pintu rumahnya sesekali menoleh ke belakang ke arah Lian.


Setelah Lian melajukan mobilnya, Aleena berlarian kecil membuka pintu gerbangnya.

__ADS_1


Untuk melihat mobil milik Lian yang semakin menjauh dan hilang dari pandangan mata Aleena.


"Apa ini takdir Tuhan, kita tidak boleh bersama?" Ucap Aleena sambil menatap langit.


__ADS_2