
Lian membuka pintu kamar Diaz, Lian menatap wajah Diaz adik satu satunya, ada rasa sakit dan sedih melihat keadaan Diaz.
Kenapa Diaz harus menderita Kanker Darah, jujur Lian takut kehilangan Diaz. Sejak kecil mereka tumbuh bersama dan saling menjaga.
Lian mendekati Diaz untuk merapikan Bedcover yang sedikit terbuka.
"Mas ,,, " Seru Diaz tiba-tiba terbangun.
"Sori kalo buat Lo jadi kebangun" Ucap Lian.
"Lo kapan datang?" Tanya Diaz terkejut.
"Dua jam lalu" Jawab Lian.
"Kenapa Lo balik? Aleena yang kasih kabar?" Tanya Diaz lagi.
"Kemarin Aleena hubungi Gue, Kasih tau keadaan Lo. Kenapa Lo gak kabarin Gue, dan kenapa Gue harus tau dari orang lain. Gue Kakak Lo Yaz ,,," Ucap Lian.
"Mas , Gue gapapa. Besok Gue udah mulai Kemoterapi" Jawab Diaz tenang.
"Lo masih bisa tenang, Gue salut sama Lo" Puji Lian.
"Trus Gue harus apa? Meratapi sakit Gue gitu. Malu sama Aleena, cowok apaan cengeng hehe" Diaz tertawa kecil.
"Besok Gue sama Aleena antar Lo Kemo yah" Ucap Lian.
"Thanks Mas, jadi repotin Lo harus balik ke Jakarta" Ucap Diaz.
"Selow Yaz, waktu Gue di London. Lo sama Aleena juga gitu, kalo gak ada Lo sama Aleena mungkin Gue udah lewat" Ucap Lian.
Diaz masih terlihat tenang, seperti tidak ada beban tentang penyakitnya.
"Lo mau makan apa, biar nanti Gue minta Bik Nina siapin" Tanya Lian.
"Bebas, sebenarnya Gue gak nafsu makan" Keluh Diaz.
"Tapi Lo harus makan, obat Lo juga harus di minum" Ucap Lian.
"Gue gak butuh itu Mas, Lambat lain juga Penyakit Gue gak bisa di sembuhkan" Jawab Diaz.
"Lo nyerah?" Ucap Lian.
"Nyerah sih Gak, Gue cuma nunggu keajaiban bisa sembuh Mas. Gue tau sakit Gue ini sulit banget buat sembuh" Ucap Diaz.
"Lo harus semangat, ada Gue sama Aleena yang support Lo" Ucap Lian sambil menepuk pundak Diaz.
"Thanks Mas, Dengan ada nya Lo sama Aleena udah cukup buat Gue" Diaz tersenyum.
"Btw, gimana Lo sama Raya? Jadi nikah ?" Tanya Diaz.
"Gue gak mau bahas Raya, Saat ini Gue mau fokus kesembuhan Lo" Jawab Lian.
Diaz paham dengan ucapan Lian, dan Diaz sudah menebak pasti Lian dan Raya bertengkar. Sejak dahulu memang seperti itu Lian dan Raya.
__ADS_1
"Mas, Bokap sama Nyokap tau tentang penyakit Gue?" Tanya Diaz.
"Udah, tapi mereka blm bisa kembali. Mereka cuma bilang bakal cari Donor Tulang sumsum buat Lo. Dan kalo bisa Lo berobat Di London Meraka akan cari Dokter terbaik buat Lo" Jelas Lian.
"Gue gak mau, Gue cuma mau di rawat di sini" Ucap Diaz.
"Nanti kita bicarakan sama mereka kalo udah pulang" Ucap Lian.
"Yaudah Lo istirahat, Besok Lo harus fit karena mau Kemo" Lian mengingatkan.
"Thanks Mas" Diaz tersenyum.
Lian membalas senyuman Diaz lalu mengusap kepala Diaz. Terlihat dari sikap Lian, Lian sangat menyayangi Diaz. Lian melangkah ke luar kamar menuju kamar tidurnya.
......***......
Pukul 08.47 menit, Lian dan Diaz sudah berada di depan rumah Aleena. Lian meminta Diaz menunggu di dalam mobil, Lian akan menjemput Aleena dan menemui Orang tua Aleena.
"Tok ,, Tok " Lian mengetuk pintu.
Terlihat Tante Mila membuka pintu, dan terkejut karena Lian yang datang. Mungkin sudah lama Lian tidak datang ke rumah.
"Lian ,,," Seru Tante Mila.
"Tante , Aleena ada?" Ucap Lian sambil bersalaman.
"Aleena masih di kamar, sebentar Tante panggil dulu. Nak Lian silahkan duduk " Ucap Tante Mila.
Tante Mila melangkah meninggalkan Lian menuju kamar Aleena. Tak lama Aleena datang bersama Sang Mama.
"Ok, take care" Ucap Sang Mama.
Lian melangkah bersama Aleena menuju Mobil. Aleena tersenyum melihat Diaz.
"Gimana enakan badan kamu?" Tanya Aleena.
"Yup, karena ada Kalian. Sekarang Aku jauh lebih baik" Ucap Diaz tersenyum.
"Syukurlah " Jawab Aleena tersenyum.
Lian melajukan mobilnya menuju salah satu Rumah Sakit Kanker ternama di Jakarta.
Tiba di Rumah Sakit, mereka langsung membawa Diaz bertemu Dokter untuk melakukan Kemoterapi.
Sementara Lian dan Aleena menunggu di ruang tunggu. Aleena melangkah menuju Ruang perawat, untuk menanyakan berapa lama menjalani Kemoterapi.
"Mbak , maaf mau tanya. Berapa lama kemoterapi?" Tanya Aleena.
"Tergantung, paling lama enam puluh menit " Jawab Sang Perawat.
"Ohhh Oke, Makasih Mbak" Ucap Aleena lalu melangkah menghampiri Lian yang masih duduk menunggu dengan wajah gelisah.
"Kita ngopi nge-Bucks Yukk " Ajak Aleena.
__ADS_1
"Yuk, Aku yang nervous nih" Ucap Lian.
"Makanya kita Ngopi hehe.
Aleena menarik pelan tangan Lian agar ikut bersamanya ke Starbucks di Floor ground Area Rumah Sakit.
Lian memesan Kopi kesukaannya dan minuman untuk Aleena. Lian sangat Kawatir terhadap Diaz. Sehingga Lian menjadi panik dan cemas.
"Kamu kenapa?" Tanya Aleena.
"Aku takut dengan keadaan Diaz, Aku gak mau kehilangan Diaz" Ucap Lian sedih.
"Begitu juga Aku, Kita berdoa untuk Diaz" Ucap Aleena menenangkan Lian.
"Aku mau buat Diaz bahagia, mungkin ada keinginan Diaz yang belum terwujud. Kalo aja bisa Aku akan keinginan Diaz terwujud " Ucap Lian.
"Deggg ,,,, "
Jantung Aleena berdebar.
Aleena menerka yang di maksud ucapan Lian adalah, impian Diaz saat ini?. Apa mungkin Aleena terlalu yakin dan percaya diri, tentang keinginan Diaz bisa bersama Aleena dalam satu ikatan komitmen.
"Yuk, kita kembali. Aku takut Diaz sudah selesai" Ucap Aleena. Aleena tidak ingin mendengar Lian membahas tentang keinginan Diaz. Bukan ingin menghindari tapi bagi Aleena saat ini kesembuhan Diaz jauh lebih penting.
Lian hanya mengangguk dan mengikuti langkah Aleena, Tiba di depan ruang Kemoterapi. Terlihat seorang Dokter yang menangani Diaz keluar ruangan.
"Maaf kalian keluarga dari Sodara Ardiaz?" Tanya Sang Dokter.
"Iya Dok, saya kakaknya Diaz" Jawab Lian.
"Orang tua kalian mana?" Tanya Sang Dokter.
"Mereka masih di New York" Jawab Lian.
Sang Dokter mengerutkan dahinya, mungkin sedikit terkejut karena Orang tua Diaz tidak ada di saat Sang Anak tengah sakit.
"Baiklah, kalo begitu kita bicara di ruangan saya" Ucap Sang Dokter.
Lian mengikuti Sang Dokter menuju ruangan.
"Dengan siapa saya bicara?" Tanya Sang Dokter.
"Saya Lian, Kakak dari Diaz" Jawab Lian.
"Kondisi Pasien saat ini memang sedang Drop, Tolong di jaga suasana hati nya. Buat pasien lebih tenang, Yang terpenting support dari keluarga sangatlah penting" Jelas Sang Dokter.
"Baik Dok, saya mohon Donor Tulang sumsum untuk adik saya di usahakan " Lian memohon.
"Kamu sedang usahakan,.jika ada kabar baik segera kami hubungi " Ucap Sang Dokter.
"Oya kondisi pasien setelah Kemo, akan mengalami mual, mudah lelah, dan nafsu makan menurun. Itu hal wajar setelah kemoterapi, jadi jangan panik dan buat pasien down" Jelas Sang Dokter.
"Baik Dok, tolong bantu kesembuhan adik saya" Ucap Lian.
__ADS_1
"Banyak berdoa dan meminta ke pada Tuhan itu saran saya" Ucap Sang Dokter.