CINTA Itu KAMU !

CINTA Itu KAMU !
* Good bye London *


__ADS_3

Diaz membawa sebotol Whiskey, Diaz ingin mengajak Lian untuk minum bersama. Diaz membuka Sliding door dan memanggil Lian untuk join bersama.


"Mas ,,, Relax dikitlah sini" Seru Diaz.


Tanpa bicara Lian menghampiri Diaz, dan duduk di sebelah Diaz.


"Aleena mana?" Tanya Diaz.


"Lagi keluar beli sesuatu" Jawab Lian.


Diaz membuka tutup botol, lalu menuangkan Whiskey ke dalam gelas. Diaz memberikan gelas yang sudah terisi Whiskey pada Lian.


Lian meraihnya dan meneguknya.


"Lo marah sama gue Mas?" Tanya Diaz.


"Marah?" Ulang Lian.


"Hyde Park tadi ?" Ucap Diaz.


"Gak usah di bahas" Jawab Lian.


"Sorry Mas Gue refleks aja tadi" Ucap Diaz pelan.


"Gue gak ada hak sama Aleena, Lo juga berhak suka sama Aleena" Jawab Lian.


"Gue tau, Lo suka sama Aleena. Lo pernah bilang sama Gue" Ucap Lian.


"Gue gak mau hanya karena Aleena kita jadi ribut Mas" Ucap Diaz.


"Santai aja, justru Gue makasih banget sama Lo dan Aleena. Lo berdua udah care sama Gue" Ucap Lian.


"Itu udah kewajiban Gue Mas, Lo Kaka Gue. Masalah Lo masalah Gue juga" Ucap Diaz.


"Krriiiinggg ,,,, krriiiinggg ,,, " Suara telpon masuk dari Resepsionis.


Lian mencoba menjawab panggilan, tapi sudah ada Aleena yang menjawab panggilan.


Aleena menutup telponnya, lalu menghampiri Lian.


"Raya ada di Lobby" Ucap Aleena memberi tau.


Lian terkejut mendengar ucapan Aleena.


"Biar Aku yang jemput Raya, kamu di sini aja. Aku takut kalo Raya datang bersama Justin" Ucap Aleena.


Lian hanya diam, dan kembali duduk menikmati Whiskey.


Aleena melangkah ke luar menuju Lobby untuk menjemput Raya.


Tiba di Lobby, Aleena menghampiri Raya dan mengajak Raya untuk masuk ke dalam kamar.


"Justin gimana? Apa Dia tau kamu pergi?" Tanya Aleena dengan wajah kawatir.


"It's Ok" Ucap Raya tersenyum.


"Kamu yakin? Aku gak mau kamu kenapa-kenapa" Ucap Aleena.


"Al ,,, walaupun nantinya Justin tau itu resiko Aku. Aku cuma gak mau menyesal belum menjelaskan semua ke Lian" Ucap Raya.


Aleena tersenyum, tiba di depan kamar Aleena membuka pintu. Lalu menyuruh Raya masuk dan duduk di sofa.


"Lian bersama Diaz di Balkon, sebentar Aku panggil yah" Ucap Aleena.


Raya mengangguk dan tersenyum. Aleena melangkah menuju Balkon untuk memanggil Lian.


"Lian,,," Ucap Aleena sambil mengangguk.


Lian tau maksud Aleena, untuk menemui Raya.


Lian bangun dari duduknya dan menemui Raya.


Diaz meraih tangan Aleena dan membawa Aleena keluar kamar untuk menunggu di Lobby.


"Kita tunggu di Lobby, Aku takut suami Raya tiba-tiba datang" Ucap Diaz pada Aleena.


Aleena mengangguk pelan. Mereka pergi menuju Lobby, untuk memastikan situasi.


"Semoga Lian bisa mengerti keadaan Raya" Ucap Aleena.


Diaz hanya tersenyum mendengar ucapan Aleena.


Raya mendekati Lian yang masih diam menatap wajah Raya, Raya memeluk Lian.


"I'm Sorry Honey,,," Ucap Raya.


"Why? You lied to me" Ucap Lian.


"Mungkin Aleena udah cerita semua sama kamu, maaf Aku gak ada maksud melukai kamu" Ucap Raya menangis.


"Aku gak punya pilihan lain, yang bisa menolong Papa hanya Aku" Ucap Raya terisak.


"Firasat Aku benar, ada yang kamu tutupi. Tapi yaudah ini semua udah terjadi" Ucap Lian.


"Aku gak ada maksud menutupi itu semua, Aku gak lagi menghubungi kamu karena Justin selalu mengawasi Aku. Dia tau tentang kita" Jelas Raya.


"Sebaiknya kamu pulang, Aku gak mau kamu dapat masalah baru lagi. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa" Ucap Lian memeluk Raya.


"Iya, maafkan Aku" Ucap Raya.


"Besok Aku kembali ke Jakarta, jaga diri kamu baik-baik" Ucap Lian sambil mengecup kening Raya.


"Thank you so much" Ucap Raya.


"Maaf Aku gak bisa antar kamu, kamu pahamkan?" Ucap Lian.


Raya mengangguk pelan dan melangkah meninggalkan Lian seorang diri dikamar.


Raya melangkah tertunduk menuju Lobby, tiba di Lobby Raya menghampiri Diaz dan Aleena.


"Are you ok, Raya?" Tanya Aleena sambil memeluk Raya.


"Aku gapapa, thanks ya. Kalian memang teman yang menyenangkan" Ucap Raya.

__ADS_1


"Raya, jujur Gue kecewa sama Lo. Tapi Gue juga Simpatik sama Lo. be a strong woman" Ucap Diaz.


"Thanks Diaz,,," Ucap Raya.


"Satu lagi jaga diri Lo baik-baik" Ucap Diaz mengingatkan.


Raya mengangguk dan tersenyum.


"Aleena, Aku titip Lian. Cuma kamu dan Diaz yang Lian miliki saat ini, Aku percaya sama kamu dan Diaz" Pesan Raya pada Aleena dan Diaz.


"Baiklah, kamu hati-hati yah" Ucap Raya.


"Aku pergi yah,,, Bye " Ucap Raya sambil melangkah meninggalkan Aleena dan Diaz.


Aleena dan Diaz menatap Raya sampai Raya menghilang dari pandangan mereka.


"Kasian Raya ,,, " Ucap Aleena.


"Kita masuk kamar, Jangan sampai Lian down lagi" Ucap Diaz.


Aleena tersenyum lalu mengikuti langkah Diaz.


Tiba di kamar, Lian sedang berdiri di hadapan jenderal sambil menatap ke arah luar.


"Lian,,, Kamu gapapa?" Tanya Aleena menghampiri Lian.


Lian tersenyum lalu menarik hidup milik Aleena.


"Awww ,,, sakit Lian" Keluh Aleena.


"Yazz, kita main Bilyard yukk" Ajak Lian.


"Good Idea ,,, " Jawab Diaz semangat.


Mereka meninggalkan kamar untuk mencari tempat Bilyard terdekat. Aleena tersenyum melihat Lian suasana hatinya Lian.


"Mas, taruhan yuk ,,," Ajak Diaz.


"Boleh ,,," Jawab Lian.


"Buat seru-seruan aja, yang kalah jalan jongkok 3 puteran lewat kolong meja. Gimana?" Seru Diaz.


"Hahaha ,,, ide Gokil. Boleh ,,," Ucap Lian.


"Aleena, kamu cukup kasih support kami aja" Ucap Diaz.


"Oke, Aku dukung kamu berdua deh" Jawab Aleena.


Diaz mulai menyusun bola di atas meja, setelah bola di susun Diaz melempar koin untuk tau siapa yang lebih dahulu memulai permainan.


Ternyata Lian yang lebih dahulu memulai permainan.


"Yaz, siap-siap Lo jalan jongkok" Seru Lian.


"Hahaha, baru aja mulai Mas. Santai Bro" Jawab Diaz.


Lian mulai mengarahkan bola dengan stik Bilyard nya. Begitu serius agar bola bisa masuk kedalam lubang.


Lian memasukkan bolanya satu persatu, hingga hanya 2 bola yang tersisa.


Dan akhirnya Lian memasukkan semua bola tanpa memberi kesempatan untuk Diaz bermain.


"Gue akuin Lo hebat Mas. Sial , Gue jalan jongkok deh" Ucap Diaz sambil menggaruk kepalanya.


"Hahaha ,,," Lian tertawa.


Aleena ikut tertawa melihat ekspresi wajah Diaz.


"Yaudah, Lo jalan jongkok deh sekarang" Ucap Lian.


"Iya, ini Gue mau jalan Mas" Jawab Diaz.


Diaz mulai jongkok dan berjalan melewati kolong meja Bilyard tiga kali putaran.


...🍀🍀🍀...


Hari terakhir di London, Lian melangkah keluar kamar. Hari ini Lian akan menemui Om David Papanya Raya.


Lian tak berpamitan pada Aleena dan juga Diaz. Mereka masih tertidur, Lian mempercepat langkahnya.


Semalaman Lian tidak bisa tertidur karena memikirkan cara untuk menolong Raya.


Semoga kedatangan dan niat baik Lian di terima oleh Om David. Tiba di depan rumah Om David, Lian memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumahnya.


"Tok ,,, Tok ,,, "


Lian mengetuk pintu, tak lama kemudian Pintu terbuka. Terlihat Om David membuka pintu.


Menatap Lian dengan wajah yang terkejut.


"Lian, kenapa kamu masih berada di sini?" Tanya Om David.


"Boleh Lian masuk Om?" Tanya Lian.


"Masuklah ,,," Ucap Om David.


"Besok Lian kembali ke Jakarta Om, sebelum Lian kembali. Lian mau membantu Om dan keluarga demi Raya" Ucap Lian tanpa basa-basi.


"Maksud Kamu?" Ucap Om David sambil mengerutkan dahinya.


"Lian udah tau semuanya Om, Please jangan tolak niat baik Lian" Ucap Lian.


"Apa yang bisa kamu bantu untuk keluarga kami dan Raya?" Tanya Om David.


"Membayar semua hutang Om kepada keluarga Justin" Ucap Lian.


"Kamu yakin? Terlalu besar nilainya Lian" Ucap Om David ragu.


"Demi Raya Om, Lian akan coba bantu dan bicara pada Papa" Ucap Lian.


"Kami tidak mau memberatkan kamu apa lagi Keluarga mu" Ucap Om David.


"Tapi Om mengorbankan Raya, kasian Raya" Ucap Lian.

__ADS_1


"Kamu tau apa tentang Raya?" Tanya Om David.


"Pernikahan Raya tidak bahagia, Raya  selalu mendapat perlakuan kasar dari Justin" Ucap Lian.


Om David hanya diam, terlihat dari raut wajahnya ada rasa penyesalan dan bersalah.


"Kasian Raya, Lian ingin melindungi Raya. Tolong Om jangan tolak niat baik Lian" Ucap Lian memohon.


"Raya sudah terikat dengan pernikahan, jadi tidak semudah itu Lian!" Ucap Ok David mengingatkan.


"Mereka masih bisa bercerai kan om ?" Ucap Lian.


"Baiklah Lian, nanti akan Om coba bicarakan pada keluarga Justin. Om hanya kawatir Justin tidak akan mau melepaskan Raya" Ucap Om David ragu.


"Justin harus melepaskan Raya. Karena semua uang Keluarganya akan di kembalikan" Ucap Lian.


"Akan Om coba, nanti Om akan hubungi kamu" Ucap Om David.


"Setelah sampai Jakarta, Lian akan hubungi Om lagi" Ucap Lian.


Om David melangkah ke arah meja telepon, dan meraih memo dan menulis sesuatu.


Lalu merobek kertas dan melipatnya, Om David menghampiri Lian lalu memberikan kertas yang tadi Ia lipat.


"Ini Nomor telepon Om, kamu bisa hubungi Om setelah sampai Jakarta" Ucap Om David.


"Baik Om" Jawab Lian meraih kertas dan menyimpannya di dalam saku celananya.


"Lian pamit Om, tolong keep dari Raya dulu yah Om" Ucap Lian meyakinkan.


"Baiklah Nak Lian" Ucap Om David.


Lian melangkah keluar rumah, untuk kembali ke Hotel. Lian berharap Sang Papa mau membantu keluarga Raya,


Lian memikirkan ulang rencananya untuk membantu Papa nya Raya, Raya susah terikat dengan pernikahan apa masih bisa Raya lepas dari Justin.


"Mas ,,, jam 12 kita udah harus check out" Ucap Diaz mengingatkan.


"Iya ,,, Gue belum prepare "Ucap Lian sedikit lemas.


"Lo kenapa lagi sih ?" Tanya Diaz.


"Hmmm ,,, kalo udah sampe Jakarta Gue cerita sama Lo " Ucap Lian.


"Kenapa harus di rumah?"  Ucap Diaz penasaran.


"Udah gak ada waktu lagi, kita harus check out " Ucap Lian.


"Yaudah packing dulu sana, bentar lagi kita cabut " Seru Diaz.


Lian melangkah menuju kamar, namun Aleena sudah merapikan semua barang-barang milik Lian. Semua sudah masuk kedalam koper.


"Hei, kamu yang lakukan ini?" Tanya Lian pada Aleena yang masih menyusun baju miliknya.


"Iya , kenapa?" Jawab Aleena.


"Thanks ,,," Ucap Lian sambil mengusap rambut milik Aleena.


"Nice Girl,,," Puji Lian.


"Oke , Ready to go!" Seru Aleena tersenyum.


Lian menatap Aleena, terlintas di dalam hatinya tenang kebaikan dan ketulusan Aleena terhadapnya.


Aleena selalu support apapun itu keputusannya, selalu ada di saat dirinya rapuh. Tanpa memikirkan tentang hati dan perasaan.


Lian tau Aleena sangat terluka, namun Aleena masih berdiri dan selalu menawarkan pundaknya untuk dirinya bersandar pada Aleena.


"Mungkin untuk saat ini hubungan kita lebih baik seperti ini, saling menyayangi dan perduli" Ucap Lian dalam hati.


"Are you ok?" Tanya Aleena pada Lian.


"Aku gapapa,,," Ucap Lian tersenyum.


"Diaz mana?" Tanya Aleena.


"Diaz lagi menghayal kapan lagi bisa ke London lagi hehe" Ucap Lian asal.


"Aku serius Lian!" Ucap Aleena.


"Iya Aku juga serius, Diaz di balkon bersam Whiskey kesayangannya sambil menatap langit London" Jelas Lian.


"Heheh bisa aja kamu " Ucap Aleena tertawa.


"Hmmm ,,,. gimana perasaan kamu saat ini?" Tanya Aleena.


"Aku gapapa,,, thanks for all Aleena. Peri hatiku" Ucap Lian tulus.


Aleena tersenyum tidak bisa berkomentar apapun.


"We have to go guys ,,,," Seru Diaz Dari balik sliding door.


"Diaz, You're drunk!" Ucap Aleena lalu menghampiri Diaz.


"I'm good Aleena ,,," Jawab Diaz.


"Kamu yakin?" Ucap Aleena ragu.


"I'm sure ,,," Ucap Diaz meyakinkan sambil mengusap lembut rambut milik Aleena.


"Mas, cabut yuk... Bete gue " Seru Diaz.


"Ok ,,," Jawab Lian.


Mereka membawa koper mereka masingmasing untuk check out. Mereka melangkah menuju Lift untuk ke Lobby dan memesan Taxi.


Tak lama Taxi sudah datang, pelayanan membantu mereka memasukkan Koper ke dalam bagasi mobil.


Diaz duduk bersama pengemudi Taxi, Lian dan Aleena duduk bersama di belakang.


"Good bye Londo,,,," Ucap Aleena dalam hati.


Aleena menatap wajah Lian, terlihat ada kesedihan di raut wajahnya.

__ADS_1


Aleena meraih tangan Lian lalu menggenggam tangan Lian. Lian menatap wajah Aleena lalu mengecup lembut tangan Aleena yang masih menggenggam tangannya.


__ADS_2