
Diaz duduk di balkon kamarnya, sambil menatap kosong lurus ke depan. Entah apa yang Diaz pikirkan. Saat ini Diaz menunggu keajaiban untuk dirinya dan juga penyakitnya.
Diaz menatap layar ponselnya, terlihat di layar ponselnya wajahnya yang semakin kurus dan juga pucat. Feeling sudah tidak lama lagi bertahan melawan penyakitnya.
Kemoterapi hanyalah sebagai memperpanjang hidupnya untuk beberapa bulan saja. Ada hal yang masih mengganjal di dalam hatinya. Sebelum Ia benar-benar pergi, Diaz akan mempersatukan Aleena dan Lian.
Aleena harus bersama Lian, Karena Diaz tau hanya Lian yang ada di dalam hati Aleena. Sudah cukup lama Aleena menahan dan menderita dengan perasaannya sendiri.
Mulai dari kedatangan Raya yang tiba-tiba, dan juga Perasaan Diaz yang mencintai Aleena. Membuat Aleena lebih memilih untuk tetap seperti ini.
"Yaz ,,, lagi ngapain?" Seru Lian tiba-tiba datang menghampiri Diaz.
"Di luar dingin, gak baik buat kesehatan Lo" Ucap Lian sambil menutupi tubuh Diaz dengan Jacket miliknya.
"Gue gapapa Mas, boring aja tiap hari di kamar cuma tiduran" Jawab Diaz tersenyum.
Diaz masih terlihat sangat tenang.
"Temani gue di sini Mas" Pinta Diaz.
"Oke,,," Jawab Lian.
"Mas, Aleena kemana yah. Hampir satu Minggu Dia gak kesini?" Tanya Diaz.
Lian bingung harus menjawab apa, Lian takut jika berkata yang sebenarnya kondisi Diaz akan drop.
"Kemarin Gue ke rumah Aleena, Tante Mila bilang Aleena pergi keluar kota. Saudara sepupunya akan menikah Minggu depan" Ucap Lian berbohong.
"Tapi ponselnya gak aktif Mas?" Ucap Diaz.
"Ponselnya ketinggalan, dia kejar pesawat pagi terburu-buru " Jawab Lian meyakinkan Diaz. Dan Lian berharap Diaz akan percaya.
"Ohhh Gue pikir sengaja Aleena menghindar" Ucap Diaz.
"Menghindar dari siapa? Buat apa juga Dia menghindar?" Ucap Lian.
__ADS_1
"Iya juga sih, Pikiran gue lagi kacau jadi mikir sampe ke sana" Ucap Diaz.
"Jangan mikir terlalu berat Yaz, Fokus sama kesehatan Lo itu paling penting " Ucap Lian.
"Gue udah lelah Mas, Feeling Gue juga gak akan lama lagi" Ucap Diaz.
"Jangan ngaco kalo ngomong, ucapan Doa Yaz" Seru Lian sambil menatap Diaz.
Lian terkejut melihat Diaz tengah membasuh darah yang keluar dari hidungnya menggunakan tangannya.
"Yaz , Kita masuk. Di luar gak Bagus buat kesehatan Lo" Ucap Lian lalu memapah Diaz untuk masuk ke dalam kamar.
"Gue gapapa Mas, ini udah biasa terjadi tiap hari. Jadi gak aneh lagi" Ucap Diaz sambil melangkah mengikuti Lian untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Ya Tuhan sembuhkan Diaz, jangan ambil Diaz dulu" Ucap Lian dalam hati.
Lian harus mencari tau dimana dan kemana Aleena pergi.
Sejak Aleena pergi, kondisi Diaz semakin Drop. Diaz butuh Aleena hanya Aleena yang bisa membuat Diaz semangat. Aleena membawa energi positif untuk Diaz.
"Lo istirahat yah, malam ini Gue mau tidur di sini. Boleh?" Tanya Lian.
"Gue gapapa Mas, Gue bukan anak kecil yang harus di jagain ketika sakit hehe" Jawab Diaz.
"Maksud Gue bukan ke arah sana Yaz, Gue kangen aja masa kecil kita dulu. Saat kebangun mimpi serem , Lo datang ke kamar Gue dan temenin Gue. Harusnya Gue yang bersikap kaya gitu, tapi malah Lo adek Gue yang temenin gue dan juga tenangkan Gue. Kalo Inget itu Gue berasa malu" Kenang Lian.
"Lo masih ingat aja Mas, Trus saat kita berdua sama-sama takut kita malah lari ke kamar Bik Nina minta di temani dia buat tidur sama kita" Ucap Diaz.
"Iya Gue juga masih ingat banget, Bik Nina emang yang paling tau dan paling ngertiin kita. Rasa sayang Bik Nina melebihi orang tua kita" Ucap Lian.
"Mas, Lo masih berharap hubungan Lo sama Aleena baik-baik aja?" Tanya Diaz.
Lian tersenyum lalu mendekati Diaz yang sudah lebih dulu berada di atas tempat tidurnya.
Lian merebahkan tubuhnya di samping Diaz.
__ADS_1
"Gue gak munafik, Gue juga ngerasa banyak salah sama Aleena. Seharusnya dari awal Gue dengerin ucapan Lo, buat gak perduli lagi sama Raya" Ucap Lian menyesal.
"Sepenuhnya bukan kesalahan Lo juga Mas, Mungkin kalo kita berdua gak memiliki perasaan yang sama buat Aleena pasti Lo sama Aleena udah terikat Mas" Ucap Diaz.
"Jangan mikir kaya gitu, kalaupun nantinya Aleena memilih Lo Gue rela. Gue mau Lo bahagia" Ucap Lian.
"Hidup Gue udah gak lama lagi Mas, Gue gak bisa jagain Aleena. Cuma Lo satu-satunya orang yang tepat buat Aleena" Ucap Diaz penuh harap.
"Please Yaz, jangan ngaco kalo ngomong. Gue yakin Lo pasti sembuh" Ucap Lian.
"Semoga aja, dan Gue mau Lo sama Aleena menikah. Itu hal yang paling gue mau saat ini" Ucap Diaz.
"Kita bahas ini nanti yah, setelah Aleena balik dari luar kota" Ucap Lian mencoba menghindari soal Aleena. Karena saat ini Lian pun tidak tau keberadaan Aleena.
"Gue serius Mas, sebelum Gue benar-benar pergi. Gue mau liat Lo sama Aleena menikah" Ucap Diaz.
"Mau pergi kemana? Lo pasti sembuh Yaz" Ucap Lian memberi semangat.
"Jangan menghibur Gue Mas, yang punya tubuh ini Gue, yang rasain semua itu Gue hehe" Ucap Diaz.
"Gue yakin bakal ada Donor Tulang sumsum yang cocok buat Lo" Lian menghibur Diaz.
"Kita liat aja Mas, Jujur Gue udah gak mau berharap banyak. Gue jalani aja hari-hari Gue sambil menunggu waktunya tiba" Ucap Diaz.
Diaz memejamkan matanya, Lian menatap wajah Diaz. Diaz yang saat ini berada di sampingnya, sangat jauh berbeda dengan Diaz yang dulu.
Diaz terlihat sangat lemah, dengan wajahnya yang pucat. Malam ini Lian ingin tidur bersama Diaz, mengingat masa kecil mereka yang selalu di tinggal oleh ke dua orang tuanya.
Mereka selalu bersama, dengan asuhan Bik Nina dan kasih sayang nya terhadap Lian dan Diaz.
kasih sayang Bik Nina melebihi dari Kedua orang tua mereka. Apalagi ketika salah satu dari mereka sakit, Bik Nina sangat Kawatir dan selalu menjaganya sepanjang malam.
Hanya untuk memastikan keadaan mereka baik-baik saja. Lian tau saat ini perasaan Bik Nina sangat hancur, karena penyakit dan kondisi Diaz yang setiap hari selalu menurun.
Besok pagi-pagi sekali Lian akan mencoba menemui Tante Mila. Lian ingin Tante Mila memberi tahu keberadaan Aleena yang sebenarnya.
__ADS_1
Tante Mila mungkin bisa mengerti maksud dan tujuan Lian, demi Diaz. Diaz sangat membutuhkan sosok Aleena sebagai penyemangat hidupnya.