
@Aleena's Bedroom 22.43 Pm.
Aleena menatap Travel Bagnya yang sudah Ia tata di samping tempat tidurnya. Aleena membuka kembali Travel Bagnya untuk memasukkan Syal dan Topi Rajut yang di berikan oleh Diaz.
Ada rasa bahagia walau nantinya Diaz tidak ikut bersamanya tapi Syal dan Topi Rajutnya akan menemani Aleena. Ini akan membantu Aleena mengurangi rasa dingin.
Setelah memasukkan Syal dan Topinya Aleena meraih ponselnya lalu membuka galeri foto. Aleena melihat kembali fotonya bersama Diaz tadi sore.
Aleena tersenyum melihat foto-fotonya bersama Diaz. Diaz itu orangnya apa adanya, Dia selalu jujur dengan apa yang Diaz rasakan.
Seorang Lian hanya bisa menunggu keajaiban datang untuk cintanya, Dia hanya meratapi kesedihannya. Menutup diri dari segala hal.
Itulah bedanya Sosok Diaz dan Lian, yang membuat Aleena merasa lepasĀ berada di dekat Diaz.
Aleena selalu bersikap hati-hati pada Lian, karena perasaan Lian sangat lembut dan sensitif. Namun Aleena terlalu dalam mencintai Lian, sampai detik ini rasa itu masih ada untuk Lian.
Trip pertama Lian memilih pergi ke Kyoto - Jepang, Barcelona - Spanyol, dan terakhir Cappadocia - Turkey. Lian memilih ke 3 negara yang menurut Lian itu kota terindah dan Romantis.
Dan Lian juga sudah mengurus semua dari tranportasi dan penginapan masing-masing mereka akan stay selama 3 hari.
Sudah hampir jam 12 malam, Aleena merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Aleena harus segera pergi tidur, pagi-pagi sekali Aleena akan pergi ke Airport.
Aleena akan naik pesawat pukul 6 pagi, jadi Aleena harus pergi ke Airport pukul 5 pagi. Perjalanan menuju Kyoto memakan waktu 11 jam, beda saat Aleena pergi ke London.
11 jam bukan waktu yang sebentar, Aleena akan menikmati perjalanannya bersama Lian. Seperti mimpi Aleena bisa Traveling berdua dengan Lian.
Aleena mulai mengantuk, dan tertidur pulas.
"Biippp ,,, Biippp ,,, Biippp "
Suara Alarm dari ponsel milik Aleena berbunyi.
Aleena meraih ponselnya yang berada di dekatnya. Lalu meng off kan suara Alarm nya.
Aleena duduk sejenak agar jiwanya menyatu dengan raganya.
Lima menit berlalu Aleena melangkah ke kamar mandi. Usai mandi Aleena sudah bersiap-siap keluar kamar dengan membawa Travel Bagnya. Sambil menunggu Lian dan Diaz datang untuk menjemputnya, Aleena sarapan lebih dahulu.
Bik Nah sudah menyiapkan segelas susu dan Sandwich kesukaannya. Aleena maraih Sandwich dihadapannya.
"Sayangnya Mama udah siap-siap. Excited sekali kamu sayang" Ucap Sang Mama yang tiba-tiba sudah berada di belakang Aleena.
"Mama ,,, " Ucap Aleena tersipu malu.
"Have fun sayang, Mama selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu" Ucap Sang Mama.
"Thank you so much Mama ,,," Ucap Aleena tersenyum.
"Sudah siap semua yang akan kamu bawa?.jangan sampai ada yang tertinggal. Paspor kamu jangan lupa " Ucap Sang Mama mengingatkan.
"Sudah beres semua Mama ku sayang " Jawab Aleena.
"Good " Ucap Sang Mama.
"Papa mana Ma?" Tanya Aleena.
"Papa sudah lebih dulu pergi, ada tugas luar pulau sayang. Papa mu kali ini di percaya memegang Projects besar di Kalimantan" Jelas Sang Mama.
"Waaawww ,,, i'm so happy Ma, Good luck for Papa" Ucap Aleena.
"Ok siap-siap, sepertinya Lian sudah datang menjemput kamu" Ucap sang Mama sambil membuka gorden lalu menatap lewat jendela.
__ADS_1
Aleena melirik jam tangannya, sudah Pukul 05.57 Aleena merapikan rambutnya dan bajunya. Bik Nah meraih Travel Bag milik Aleena lalu membawanya ke luar.
Dengan penuh semangat Aleena membuka pintu, namun Aleena terkejut yang datang Diaz bukan Lian.
Mungkin Lian berada di dalam Mobil, Aleena mencari Mobil Lian atau Diaz. Namun tidak ada, sepertinya Diaz menggunakan Taxi.
Aleena masih berpikir positif, mungkin Lian sudah lebih dulu di Airport. Jadi Diaz yang menjemputnya.
Tak lama Sang Mama menghampiri Aleena yang masih berdiri di depan pintu.
"Lian sudah datang?" Tanya Sang Mama.
"Hmmm , Diaz yang jemput Ma" Jawab Aleena.
Diaz mendekati Aleena dan Sang Mama, Diaz berusaha tenang.
"Tante Diaz permisi dulu mau jemput Aleena" Ucap Diaz.
"Ohh jadi Lian minta kamu untuk menjemput Aleena?, Adik yang baik" Ucap Sang Mama sekaligus memuji Diaz.
"Diaz Pamit yah Tante ,,," Ucap Diaz lalu tersenyum.
"Baiklah, Diaz Tante hanya percaya melepas Aleena hanya sama kamu dan Lian. jadi tolong jaga Aleena dan kepercayaan Tante yah" Ucap Sang Mama mengingatkan.
"Siap Tante ,,," Seru Diaz.
"Ma , Aleena Pamit yahh ,,," Ucap Aleena lalu mengecup pipi kanan dan kiri Sang Mama.
"Hati-hati sayang, Take care " Ucap Sang Mama.
Diaz membawa Travel bag milik Aleena masuk ke dalam Taxi yang sudah menunggu Diaz dan Aleena.
"Lian udah nunggu di Airport?" Tanya Aleena tersenyum.
Diaz menatap Aleena, jujur Diaz tidak sanggu jika harus berkata yang sebenarnya. Melihat wajah Aleena yang begitu gembira.
"Diaazzz ,,,," Seru Aleena.
"Mmmmm ,,, Yup" Jawab Diaz tersenyum.
"Sebenarnya ada apa? Aku ngerasa agak aneh kenapa kamu yang pick up Aku?" Tanya Aleena penasaran.
"Nanti Aku jelasin, kalo kita udah sampai di Airport" Ucap Diaz sambil mengusap rambut Aleena.
"Oke " Jawab Aleena dengan penuh pertanyaan.
Taxi melaju sangat cepat menuju Airport. Aleena merasa aneh, kenapa Diaz jadi lebih banyak diam tidak seperti biasanya.
Diaz yang Aleena kenal selaku saja ada ucapan yang membuat Aleena tertawa dan selalu saja ada bahan obrolan.
Tapi pagi ini Diaz nampak seperti orang bingung dan entah apa yang ada dalam pikiran Diaz.
Sementara dalam diamnya Diaz, Diaz lagi mencari cara untuk memulai kata agar Aleena tau yang sebenarnya.
Sesekali Diaz melirik ke arah Aleena, lalu mengusap rambut Aleena lagi.
"Boleh jujur gak?" Tanya Aleena.
"Apa?" Jawab Diaz.
"Hari ini Aku ngerasa kamu aneh, why?" Tanya Aleena.
__ADS_1
"Nope, I'm fine" Jawab Diaz tenang.
"Kamu bukan Diaz yang Aku kenal, kenapa kamu jadi pendiam gini" Seru Aleena.
"Heeiii ,,, Nanti Aku jelasin" Ucap Diaz.
"Baiklah ,,," Jawab Aleena dengan wajah yang masih penasaran.
Tiba di Airport, Aleena dan Diaz keluar dari Taxi. Sang Driver membawa Travel bag milik Diaz dan Aleena.
"Kita Nge-Bucks dulu yukk ,,," Ucap Diaz.
Diaz menyebut sebuah nama kedai Kopi ternama ' Starbucks ' Dengan menyebut Bucks.
Aleena mengangguk, lalu mengikuti langkah Diaz. Sampai di Starbucks Diaz memesan Coffee dan beberapa Snack.
Sementara Aleena menunggu Diaz di tempat duduk. Diaz menghampiri Aleena lalu memberikan Coffee yang sudah Diaz pesan.
"Minum dulu" Seru Diaz.
"Dimana Lian?" Tanya Aleena.
Diaz menarik nafas dalam-dalam.
"Sebelum Aku minta maaf, Kali Aku harus ngasih tau hal yang sebenarnya. Jujur Aku sendiri gak sanggup buat bilang ini ke kamu" Ucap Diaz.
"Why? Lian kenapa?" Tanya Aleena sedikit terkejut.
"Lian baik-baik aja. Cuma ada hal yang bikin Traveling kalian di cancle" Ucap Diaz sambil memegang tangan Aleena.
"Kamu bertele-tele, langsung aja intinya Diaz " Ucap Aleena protes.
"Kemarin selesai Packing, Tiba-tiba Raya datang" Ucap Diaz jujur.
"Lalu ,,," Jawab Aleena tenang.
Namun dalam hati Aleena sangat sakit mendengar ucapan Diaz.
"Aku marah, kenapa di saat seperti Raya harus datang. Lian sudah merencanakan semuanya untuk kamu. Namun tiba-tiba Raya datang" Jelas Diaz.
"Yaudah kenapa gak kita aja yang Traveling berdua " Ucap Aleena.
"Kamu serius?" Ucap Diaz terkejut melihat reaksi Aleena seperti itu.
"Yup ,,," Jawab Aleena meyakinkan Diaz.
"Ketempat yang di janjikan Lian?" Tanya Diaz.
"Whatever, yang penting kita pergi" Ucap Aleena.
Diaz tau Aleena mencoba untuk tidak terlihat sedih atau kecewa. Akhirnya Diaz memutuskan mengajak Aleena pergi ke Amsterdam.
Kalau Diaz membawa Aleena ketempat yang Sudah di rencanakan oleh Lian. pasti akan membuat Aleena makin sedih dan kecewa.
"Oke, Kita pergi sekarang!" Seru Diaz lalu meraih tangan Aleena dan menggandengnya.
Bukan sebuah kebetulan, ternyata keberangkatan ke Amsterdam tiga puluh menit lagi.
Aleena tidak tau Diaz akan membawanya kemana, yang pasti Aleena akan mengikuti kemana Diaz pergi.
Aleena berusaha menahan tangisannya, berusaha terlihat baik-baik saja. Meski sejujurnya hati Aleena hancur dan sakit.
__ADS_1