
"Sayang ,,, kamu gak kuliah?" Tanya Sang Mama yang masuk ke dalam kamar Aleena.
Aleena hanya menoleh ke arah Sang Mama dan tersenyum tipis. Sang Mama mendekati Aleena lalu mengusap kepala Aleena.
"What happen baby?" Tanya Sang Mama ingin tau.
"Gapapa, Beberapa hari ini mood Aku suka random Ma " Ucap Aleena berbohong.
"Iya Mama liat wajah kamu sangat murung, Cerita Nak jangan kamu simpan sendiri " Ucap Sang Mama.
"Aku juga bingung ada apa sama Aku Ma" Jawab Aleena.
"Hang out sama Diaz atau siapa teman baru kamu, anak motor itu" Ucap Sang Mama.
"Aku lagi gak mau kemana-mana Ma" Ucap Aleena.
"Oke, tenangkan pikiran kamu" Ucap Sang Mama.
"Thanks Mama" Ucap Aleena tersenyum.
Sang Mama meninggalkan kamar, Karena tidak bisa berbuat apa-apa.
Sudah beberapa hari ini, Sang Mama memperhatikan anak gadisnya murung dan seperti bersedih. Apa yang ada di dalam pikiran Anak gadisnya, Aleena tidak pernah menyimpan hal yang selalu mengganggu pikirannya.
Biasanya Aleena selalu bercerita, tidak pernah ada yang Aleena tutupi dari Sang Mama. Aang Mama tidak bisa memaksa Aleena untuk jujur kepada Nya.
Terlihat Aleena menghampiri Sang Mama, sepertinya Aleena akan pergi. Karena Aleena sudah ganti baju dan membawa Sling bag kesayangannya.
"Ma , Aku mau ke rumah Diaz" Aleena berpamitan. Lalu mengecup pipi Sang Mama dan mencium tangan.
"Pergilah Sayang, Hati-hati dan salam sama Diaz" Ucap Sang Mama.
Aleena hanya mengangguk dan tersenyum, Lalu melangkah meninggalkan Sang Mama.
Aleena putuskan akan ke rumah Diaz, Aleena akan memastikan keadaan Diaz. Mungkin Aleena akan menemani Diaz, Saat ini Diaz butuh support. Karena Kedua orang tua nya tidak ada dan juga Lian berada jauh dari Jakarta.
@ ****Diaz's Home****.
Aleena mengetuk pintu rumah Diaz, cukup lama Aleena menunggu Pintu rumah Diaz terbuka.
Bik Nina sudah berada di balik pintu dan membuka pintu. Aleena tersenyum lalu menarik tangan Bik Nina ke arah dapur.
"Bik, Aku mau bicara. Hanya kita berdua" Ucap Aleena. Bik Nina hanya diam dan mengikuti langkah Aleena.
Sampai di dapur Aleena melihat sekelilingnya, cukup aman karena Diaz tidak ada.
"Ada apa Non?" Tanya Bik Nina.
"Bik, Aleena mohon Bibik jujur sama Aleena. Aleena yakin pasti Bibik tau tentang penyakit Diaz. Please " Aleena memohon.
__ADS_1
Bik Nina tertunduk dengan wajah sedih. Dengan reaksi seperti itu Aleena makin yakin Bik Nina menutupi sesuatu dari dirinya.
"Bik jawab jujur, Aleena mohon" Aleena memohon.
"Maaf Non, Bibik ndak bisa jawab. Bibik sudah janji sama Mas Diaz" Jawab Bik Nina pelan.
"Bibik gak percaya sama Aleena, Aleena perduli sama Diaz. Sejak kemarin Aleena bertemu Diaz, Perasaan Aleena gak enak tentang Diaz" Ucap Aleena.
Bik Nina menatap wajah Aleena, tanpa bicara hanya terlihat air mata Bik Nina jatuh. Aleena makin yakin, bahwa penyakit Diaz sangat serius.
"Bik ,,," Panggil Aleena pelan.
"Maaf Non, Bibik ndak bisa memberi tau Non Aleena. Bibik sudah berjanji sama Mas Diaz" Jawab Bik Nina tertunduk.
"Oke Bik Nina hanya jawab aja iya atau tidak, Diaz sakit kanker darah?" Tanya Aleena.
Terlihat ekspresi wajah Bik Nina terkejut dengan ucapan Aleena.
"Non Aleena tau dari mana?" Tanya Bik Nina.
"Dari obat yang Diaz minum" Jawab Aleena.
"Baiklah, Bibik jujur hanya sama Non Aleena. Karena Mas Diaz ndak mau Mas Lian dan Non Aleena tau. Apalagi Tuan dan Nyonya" Ucap Bik Nina.
"Sejak Mas Diaz pulang ke rumah, waktu pergi sama Non Aleena selama dua Minggu. Sebenarnya Mas Diaz sudah merasakan sakit Non. Beberapa kali Mas Diaz mengeluarkan darah dari hidungnya. Tapi Mas Diaz ndak mau periksa ke rumah sakit. Makin hari Bibik liat hidung Mas Diaz keluar darah" Jelas Bik Nina.
"Akhirnya Bibik menelpon Dokter keluarga Mas Diaz untuk periksa Mas Diaz di rumah. Hanya Bibik dan Mas Diaz yang tau hal ini dan juga Dokter" Jelas Bik Nina.
"Apa Diaz udah pernah Kemoterapi?" Tanya Aleena.
"Mas Diaz menolaknya, Dokter selalu meminta Mas Diaz Kemo. Dan yang Bibik tau Dokter sudah meminta Donor Tulang sumsum untuk Mas Diaz" Jelas Bik Nina.
"Boleh Aleena minta nomor telepon Dokternya Bik?" Tanya Aleena.
"Untuk apa Non, Bibik takut Mas Diaz marah sama Bibik" Ucap Bik Nina.
"Bik, Bibik mau Diaz sembuhkan?" Tanya Aleena.
"Iya Non pasti, kalo bisa mending Bibik aja yang sakit. Jangan Mas Diaz " Ucap Bik Nina polos.
"Nomor telepon Dokternya ada di buku telepon, di meja ruang keluarga Non" Ucap Bik Nina.
"Oke , Nanti Aleena simpan nomor telepon nya. Sekarang Aleena mau bertemu Diaz" Ucap Aleena.
"Non ,,, bujuk Mas Diaz. Agar mau Kemo, Bibik sedih liat keadaan Mas Diaz" Ucap Bik Nina dengan wajah yang sedih.
"Iya Bik" Aleena tersenyum.
Aleena melangkah ke kamar Diaz, Aleena membuka pintu perlahan. Aleena terlihat Diaz tengah tertidur, Aleena melangkah dengan sangat pelan. Aleena takut membangunkan Diaz.
__ADS_1
Aleena terkejut melihat ada beberapa lembar tissue di atas meja lampu tidur Diaz dengan noda bercak darah. Ternyata memang benar Diaz terkena Leukemia.
Tanpa Aleena sadari Tiba-tiba air mata Aleena terjatuh. Aleena melihat Wajah Diaz pucat dan tubuh Diaz agak kurus. Aleena harus memberitahu Lian tentang keadaan Diaz.
Aleena melangkah keluar kamar Diaz, Aleena menuju tanam belakang rumah Diaz. Aleena akan mencoba memberanikan diri untuk menghubungi Lian.
Aleena meraih ponselnya lalu menghubungi Lian.
"Tuuutttt ,,, Tuuutttt "
Nada panggilan tersambung.
Aleena berharap Lian yang menjawab telpon bukan Raya, karena jika Raya yang menjawab panggilan telepon. Aleena kawatir Raya tidak akan memberikan kepada Lian.
"Heeeiiii ,,, peri hati ku" Lian menjawab telpon.
Aleena tersenyum dan bernafas lega. Karena Lian yang menjawab panggilan telepon.
"Lian, maaf kalo Aku harus hubungi kamu. Aku cuma mau kamu tau tentang keadaan Diaz saat ini" Ucap Aleena.
"Diaz ?" Lian terkejut.
"Kenapa dengan Diaz?" Ucap Lian lagi.
"Diaz sakit tapi, Diaz berusaha menutupi dari semuanya termasuk Aku. Diam-diam Aku mencari tau tentang penyakit Diaz, ini serius Lian. Aku mohon kamu kembali ke Jakarta, demi Diaz. Tapi Aku mohon kamu jangan hubungi Diaz tentang apa yang kita bahas sekarang. Aku kawatir kondisi Diaz makin Drop" Ucap Aleena memberi tau.
"Diaz sakit apa? Please kasih tau Aku" Lian memohon.
"Kamu janji yah, jangan beritahu Mama dan Papa kamu dulu. Dan jangan bahas lagi dengan Diaz. Aku gak mau Diaz Kenapa-kenapa" Aleena juga memohon.
"Baiklah Aku janji" Ucap Lian meyakinkan.
"Diaz menderita kanker darah atau Leukemia" Jawab Aleena.
"Are you sure " Lian terkejut.
"Untuk apa Aku meminta kamu pulang, Karena Diaz butuh support dari kamu" Ucap Aleena.
"Aku segera pulang, Aku akan cari keberangkatan sekarang juga" Ucap Lian.
"Thanks Lian, Selaku hubungi Aku jika udah di jakarta" Ucap Aleena.
"Thanks infonya Aleena" Jawab Lian.
"Bye ,,," Aleena menutup telponnya.
Aleena bisa bernafas lega, Ternyata Lian masih sangat perduli dengan Diaz. Mereka memang saling menyayangi satu sama lain. Dan juga saling menjaga.
Aleena berharap dengan adanya Lian, Aleena akan bersama-sama mencari Donor Tulang sumsum untuk Diaz. Dan membujuk Diaz agar mau mengikuti Kemoterapi selama menunggu Donor Tulang sumsum yang cocok untuk Diaz.
__ADS_1
"Tuhan , tolong jangan ambil Diaz. Berikan kesempatan untuk Diaz hidup dan bahagia" Doa Aleena dalam hati.