
Aleena masih duduk di tepi Danau, entah apa yang Aleena tunggu. Aleena masih enggan meninggalkan Danau dan beranjak dari duduknya.
Semilir angin berhembus membuat rambut Aleena yang tergerai menutupi wajah Aleena.
"Apa yang kamu tunggu?" Tiba terdengar suara seseorang dari arah belakang. Aleena hafal dengan suaranya, itu suara milik Lian.
"Deeggg"
Jantung Aleena berdebar kencang.
Lian duduk di samping Aleena. Aleena masih diam terpaku, melihat Lian yang sudah berada di dekatnya.
"Kenapa kamu berada di sini?" Ucap Aleena pelan. Sambil merapihkan rambutnya yang terkena hembusan angin.
"Ada bisikan seseorang yang menuntun Aku kesini" Ucap Lian.
Aleena hanya menatap wajah Lian.
"Kamu selalu ada di tiap doa-doa ku" Ucap Aleena.
"Aleena" Ucap Lian Pelan.
"Mama selalu bilang, jika kita menyebut seseorang yang kita cintai melalui doa pasti di dengar" Ucap Aleena
"Setelah baca Chat dari kamu, entah kenapa Aku ingin ke tempat ini" Jelas Lian.
Aleena tersenyum ke arah Lian.
"Minggu depan Raya kembali" Ucap Lian.
"Secepat itu?" Tanya Aleena terkejut.
"Iya, tapi sebelum Raya kembali. Kami akan berlibur" Ucap Lian.
"Ke Bali?" Tebak Aleena.
"Iya, Kamu ikutkan?" Lian kembali bertanya.
Aleena mengangguk lalu beranjak dari duduknya, dan menatap wajah Lian.
"Hampir gelap, Aku pulang ya " Ucap Aleena.
"Aku antar" Ucap Lian memohon.
"Aku udah pesan Taxi Online" Ucap Aleena menolak.
"Aku rindu kamu Aleena" Ucap Lian.
"Lian, kita hanya sebatas teman" Aleena mengingatkan.
"Apa salah seorang teman ingin mengantar pulang?" Ucap Lian.
"Sebelum kita kenal Aku udah terbiasa seperti ini, Aku bukan gadis manja yang tiap keluar rumah harus di antar jemput" Jelas Aleena.
"Kali ini ijinkan Aku mengantar kamu pulang!" Ucap Lian lagi.
"Lian, please jangan paksa Aku!" Aleena menjelaskan.
"Oke, Aku gak akan maksa" Ucap Lian.
"Take care" Ucap Lian tulus.
Aleena hanya mengangguk pelan sambil berlalu meninggalkan Lian.
Lian hanya menatap Aleena yang sudah pergi meninggalkan nya. Sudah hampir senja, Lian akan kembali pulang.
Lian melewati koridor kampus, menuju tempat parkir. Lian melihat Aleena masih berdiri di depan kampus, dengan wajah gelisah.
Sepertinya Aleena masih menunggu Taxi online, Lian mempercepat langkahnya untuk menghampiri Aleena.
"Belum datang driver nya?" Tanya Lian mendekati Aleena.
Aleena menggelengkan kepalanya, sambil menatap Lian.
"Aku antar kamu pulang!" Ucap Lian sambil meraih tangan Aleena.
"Tapi Lian" Ucap Aleena menolak.
"Aku gak mungkin pergi, melihat kamu masih di sini. Udah hampir gelap" Ucap Lian menarik pelan Aleena.
Lian melangkah menuju mobilnya, dengan tangan yang masih menggandeng tangan Aleena. Aleena mengikuti langkah Lian.
Lian membuka pintu mobil untuk Aleena, setelah Aleena masuk dan duduk di dalam mobil. Lian melangkah cepat masuk kedalam mobilnya.
Lalu men Starter Mobilnya untuk mengantar Aleena pulang.
"Kenapa sih gak mau dengar ucapan Aku?" Ucap Lian menatap Aleena.
"Kamu gak ngerti" Jawab Aleena.
"Bagian mana yang Aku gak ngerti?" Tanya Lian.
"Apa salah kalo Aku khawatir sama kamu? Apa salah kalo Aku takut kamu kenapa-kenapa? Iya Aku tau kamu bukan gadis manja. Tapi kamu juga harus paham Gimana khawatirnya Aku" Jelas Lian panjang lebar.
Aleena hanya terdiam menatap wajah Lian yang begitu emosi. Belum pernah Aleena melihat reaksi wajah Lian seperti ini.
Lian benar-benar marah, Lian benar-benar khawatir. Lebih baik Aleena diam, Aleena tidak mau berdebat.
Sepanjang perjalanan mereka saling diam.
Tiba di rumah Aleena, Lian menghentikan Mobilnya. Tanpa berkata apa-apa Lian membuka pintu mobil untuk Aleena.
"Thanks" Ucap Aleena sambil melangkah menuju gerbang rumahnya.
Lian masih diam tidak bereaksi, dan masuk ke dalam mobilnya. Dari dalam mobil Lian memperhatikan Aleena sampai Aleena masuk kedalam rumahnya dan tiba di kamarnya.
Setelah Aleena masuk, dan lampu kamar milik Aleena menyala Lian kembali men Starter Mobilnya. Lian menginjak pedal gas lalu meninggalkan rumah Aleena.
__ADS_1
Sementara dari dalam kamar dan dari balik gorden Aleena melihat Lian yang sudah melajukan mobilnya.
Aleena masih berdiri dan terdiam di balik gorden, apakah Lian marah terhadapnya? Pikir Aleena.
Aleena duduk di tepi tempat tidurnya, sambil mengangkat kedua kakinya dan kedua tangannya memeluk kakinya.
Aleena berlarian kecil keluar kamar, menuju meja kecil tempat menyimpan kunci mobil yang letaknya di dekat pintu masuk rumahnya.
Aleena ingin bertemu dengan Lian, Aleena men Starter Range Rover Sport Merah miliknya dan melajukan ke arah rumah Lian.
Sudah lama Aleena tidak mengemudikan mobilnya, karena Aleena trauma.
Beberapa tahun lalu saat Aleena menuju kampus menggunakan Mobil Hampir saja Aleena menabrak pejalan kaki.
Karena menghindari Motor yang melaju kencang di sampingnya lalu memotong jalan Aleena.
Aleena menghindar jadi banting setir ke kiri. Di sebelah kiri ada seorang wanita sedang berjalan Aleena hampir saja menabraknya.
Tapi malam ini rasa takutnya hilang begitu saja, yang ada dalam pikirannya Aleena harus menemui Lian.
Aleena terus melajukan mobilnya ke rumah Lian, daerah Senopati Jakarta Selatan.
Tiba di depan rumah Lian, Aleena menghentikan mobilnya. Sambil melihat dari dalam mobil apakah Lian sudah berada di rumah.
Mobil milik Lian tidak ada, kemana Lian? kenapa belum sampai rumah.
Aleena akan menunggu Lian kembali, Aleena memutar posisi Mobilnya agar berada di seberang rumah Lian.
Cukup lama Aleena menunggu, hingga Ia tertidur di dalam mobilnya. Aleena terbangun ketika cahaya lampu mobil milik Lian memantul ke dalam mobil Aleena.
Aleena melirik jam tangannya, sudah Pukul 23:47. Aleena keluar dari mobilnya lalu berlari ke Gerbang rumah Lian sambil memanggil Lian.
"Lian..." Seru Aleena yang berdiri di depan rumah Lian.
Lian keluar dari mobilnya, lalu menoleh ke arah Aleena.
Lian terkejut melihat Aleena di luar, Lian bergegas menghampiri Aleena.
"Kamu ngapain?" Tanya Lian memeluk Aleena dengan wajah khawatir.
"Aku minta maaf" Ucap Aleena sambil meneteskan air mata.
"Aku menyesal, harusnya Aku lebih peka,,," Ucap Aleena lagi sambil terisak.
"Ssstttt, jangan nangis" Ucap Lian lembut sambil mengecup kening Aleena. Lalu mengusap Air mata milik Aleena.
"Kamu dari kapan di depan rumah ku?" Tanya Lian.
"Setelah kamu pergi dari rumah ku, Aku takut kamu benar-benar pergi dari Aku. Aku putuskan menemui kamu. Tapi kamu belum pulang, akhirnya Aku tunggu sampai kamu pulang" Jelas Aleena sambil menatap wajah Lian.
"Aleena" Ucap Lian sambil memegang Pipi Aleena dengan kedua tangannya.
"Aku gak akan kemana-mana, jangan kaya gini lagi yah. Aku khawatir!" Ucap Lian.
Aleena mengangguk pelan lalu memeluk Lian kembali. Lian membalas pelukan Aleena.
"Lian Aku---" Ucap Aleena.
"Aku gak bisa marah sama kamu" Ucap Lian.
"Aku datang hanya mau minta maaf sekarang Aku harus pulang, Aku takut Mama khawatir Aku belum kembali bawa Mobil" Ucap Aleena.
"Jadi, kamu bawa Mobil?" Ucap Lian terkejut.
"Iya, kalo naik Taxi Online lama ordernya" Ucap Aleena.
"Yakin kamu berani pulang sendiri?" Ucap Lian ragu.
Aleena mengangguk.
"Aku antar kamu pulang, Aku ikuti kamu dari belakang" Ucap Lian.
"Tapi Lian" Ucap Aleena.
"Aku gak mau debat" Ucap Lian sambil menuju Mobilnya.
Aleena melangkah ke luar menuju Range Rover Merah miliknya. Lalu masuk ke dalam mobil dan men Starter Mobilnya.
Aleena menginjak gas dan melaju pulang, Lian mengikuti Aleena dari belakang dengan jarak yang cukup dekat.
Sesekali Aleena melirik kaca spion untuk memastikan apakah Lian masih mengikuti di belakang Mobilnya.
Aleena terharu melihat apa yang Lian lakukan untuknya. Lian baru saja sampai rumah, tapi Lian ingin mengantar Aleena pulang hanya untuk memastikan Keselamatan Aleena.
Tiba di rumah Aleena, Memarkirkan Mobilnya ke dalam Garasi rumahnya.
Setelah itu Aleena kembali menghampiri Lian yang masih berada di dalam mobil.
Lian membuka kaca Mobilnya, lalu tersenyum.
"Lian ini udah malam, kamu yakin mau pulang?" Tanya Aleena sambil mengusap pipi Lian.
"Aku udah biasa pulang malam, jadi kamu gak perlu khawatir. Yang penting kamu udah sampe rumah" Jelas Lian.
"Take care" Ucap Aleena lalu memegang jemari Lian dan mengecupnya.
"Kalo udah sampe rumah Aku telpon, biar kamu gak khawatir" Ucap Lian mengecup kening Aleena.
"Janji!" Ucap Aleena.
"Janji!" Ucap Lian sambil tersenyum.
Lian menutup kaca Mobil, lalu melaju meninggalkan Aleena yang masih berdiri melihatnya.
️ 02:45 Am.
Aleena gelisah menunggu kabar dari Lian, Ponselnya masih berada di dalam genggaman tangan Aleena.
__ADS_1
Berkali-kali Aleena menatap layar ponselnya, belum juga Lian menghubungi Aleena.
Ponsel Aleena bergetar lalu berdering.
"Krriiinngg ,,, Kriiinngggg "
Dengan cepat Aleena menjawab panggilan dari Lian.
"Aku udah di rumah, ini udah masuk kamar dan mau bobo" Ucap Lian.
"Take a rest, good night" Ucap Aleena.
"You too" Ucap Lian lalu menutup panggilannya.
*Time for holiday.
Aleena tengah berkemas, Ia masukkan bajunya satu persatu yang akan Aleena bawa ke Bali.
Semua perlengkapan yang Aleena butuhkan sudah rapih masuk ke dalam Travel bag.
"Ok done" Ucap Aleena sambil tersenyum.
Aleena bersiap-siap menunggu Diaz menjemputnya. Aleena keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga perlahan karena Travel bag yang Aleena bawa cukup berat.
Aleena menunggu Diaz di teras rumahnya. Selang beberapa menit Diaz sudah datang bersama Taxi.
Diaz menghampiri Aleena untuk membawakan Travel Bag milik Aleena.
"Yang lain mana?" Tanya Aleena.
"Lian dan Raya udah di Airport" Jawab Diaz.
"Ohhh Ok" Ucap Aleena.
"Yukk berangkat" Ajak Diaz sambil masuk ke dalam mobil. Aleena mengikuti memasuki mobil Diaz.
@Airport ( Soekarno-Hatta) .
Diaz bersama Driver Taxi menurunkan Travel Bag mereka. Aleena menunggu Travel Bag miliknya, yang di bawa oleh Driver Taxi.
Entah kenapa tiba-tiba jantung Aleena berdebar kencang, setelah melihat Raya menghampiri mereka sambil merangkul lengan Lian.
Aleena harus bersikap tenang, Aleena tersenyum ke arah Raya dan Lian.
"Heeii, apa kabar?" Sapa Raya menghampiri Aleena lalu memeluk Aleena.
"Baik, kamu gimana?" Tanya Aleena.
"Good" Ucap Raya.
"Ayo udah Boarding tuh!" Seru Diaz.
Mereka mengeluarkan Boarding Pass mereka masing-masing.
Barang-barang mereka sudah masuk dalam bagasi, dan mereka memasuki pesawat.
Diaz dan Aleena sengaja memilih tempat duduk agak jauh dari Lian dan Raya. Hanya berselang 5 baris, dari hadapan Diaz dan Aleena.
"Aleena, Aku harap liburan kita menyenangkan" Ucap Diaz.
"I hope so" Ucap Aleena tersenyum.
Pesawat akan segera Take Off, Aleena akan menikmati liburannya. Sudah lama Aleena tidak ke Bali, terakhir waktu Aleena duduk di bangku SMA. Acara perpisahan di sekolahnya.
Aleena memang bukan type gadis yang suka Traveling, karena ke dua Orang Tua Aleena belum bisa melepas Aleena Traveling seorang diri.
Maklum Aleena anak semata wayang Orang Tua nya, tidak heran mereka begitu Protect terhadap Aleena.
Penerbangan Jakarta - Bali hanya di tempuh dalam waktu kurang lebih 60 menit. Selama perjalan sesekali Aleena menatap ke depan ke arah Lian dan Raya.
Raya selalu menyandarkan kepalanya di bahu Lian. Lian selalu mengusap lembut kepala Raya. Ada rasa cemburu di hati Aleena.
Aleena mencoba memalingkan wajahnya ke arah kaca pesawat, melihat ke arah luar pesawat yang masih melayang di atas langit.
Seorang pramugari sudah memberi tahu bahwa Pesawat akan segera Landing di Bandara Udara Internasional Ngurah Rai.
@Airport ( Ngurah Rai ).
Selang 10 menit Pesawat sudah mendarat mulus di Bali. Aleena bersama Diaz menuruni Pesawat.
Tiba di pintu keluar Bandara, seorang Driver dari tempat mereka menginap sudah menunggu.
Lian dan Diaz sudah menyiapkan semuanya, dari tempat menginap yang fasilitas nya mewah.
Meraka akan menginap di satu-satu nya Resort terintegrasi di Bali.
Ayana Resort and Spa, tempat di Jimbaran-Bali.
Ada Dua pilihan untuk menginap di sana, Suite Room dan The Villas. Lian memilih The Villas, karena mereka akan berada di dalam satu atap. Namun beda kamar tidur, view kamar tidur menghadap ke Laut.
Mereka memasuki Minibus dari Hotel tempat mereka menginap. Lian dan Raya lebih dahulu masuk kedalam Minibus, Lalu Diaz dan Aleena masuk. Aleena melirik Lian sudah duduk bersama Raya di kursi baris pertama.
Aleena melangkah menuju kursi sebelah Diaz yang masih kosong, tiba-tiba jemari Lian menyentuh lengan Aleena.
Aleena terkejut menatap Lian, Lian tersenyum pada Aleena.
"Lian" Bisik Aleena dalam hati.
Diaz sudah melambaikan tangan ke arah Aleena, agar Aleena segera duduk di sampingnya. Aleena menghampiri Diaz lalu duduk di sebelah Diaz.
Minibus perlahan bergerak meninggalkan Bandara, Dan melaju menuju Jimbaran.
"Aleena" Panggil Diaz.
"Kenapa?" Ucap Aleena.
"Kamu gak keberatan kalo kita nanti satu kamar?" Ucap Diaz.
__ADS_1
"It's Ok" Jawab Aleena tersenyum.
Aleena menikmati perjalanan menuju penginapan, Bali memang Indah tidak salah banyak orang yang bermimpi ingin ke Bali.