CINTA Itu KAMU !

CINTA Itu KAMU !
* Curhatan Lian & Diaz *


__ADS_3

Lian meletakkan Tas kerjanya di atas meja dekat tempat tidurnya. Lian membuka Jas dan melepaskan dasinya.


Lian membuka sliding door, untuk duduk di balkon kamarnya. Lian masih memikirkan cara untuk bicara pada Papa dan Mamanya.


Lian ingin sekali membantu Papanya Raya, agar bisa terlepas dari Justin. Entah di mulai dari mana awal pembicaraannya, Lian memijat kepalanya.


"Mas ,,, " Seru Diaz menghampiri Lian.


Diaz menatap wajah Lian yang terlihat sedikit lelah.


"Lo kenapa Mas?" Tanya Diaz.


"Otak Gue lagi kusut Yaz ,,," Keluh Lian.


"Minum dulu lahh , biar relax" Ucap Diaz sambil menyodorkan gelas yang sudah berisi whiskey ke arah Lian.


Lian meraihnya lalu meminumnya.


"Gue mau sharing sama Lo" Ucap Lian.


"Selow, cerita aja. Kali aja Gue bisa bantu Lo" Ucap Diaz yang juga meneguk minumannya.


"Sebelum kita balik ke Jakarta, Gue nemuin Om David" Lian mulai bercerita.


"Trus,,," Ucap Diaz serius.


"Gue ada niatan mau bantu Om David sama Raya buat lepas dari Justin" Ucap Lian sambil menarik nafas.


"Are you sure?" Diaz terkejut.


"Yup, ini opsi terakhir buat hubungan Gue sama Raya" Ucap Lian.


"Lo mau bantu Om David pake cara apa?" Tanya Diaz penasaran.


"Gue juga masih ragu belum yakin pake cara ini" Ucap Lian.


"Intinya aja Mas, jangan muter-muter hehe" Ucap Diaz asal.


"Menurut Lo, Bokap atau Nyokap bisa bantu Gue gak?" Ucap Lian.


"Bantu dalam hal apa nih?" Diaz masih penasaran.


"Hmmmm ,,, Bokap bisa cairan Dana buat bayar semua hutang Om David ke Justin. Dengan begitu Raya bisa bebas dari Justin " Jelas Lian.


"Gue gak yakin Mas, tapi kenapa Gak Lo coba aja. Lo gak akan tau kalo belum di coba" Jelas Diaz.


"Justru Gue bingung, harus dari mana awal pembicaraan Gue sama mereka" Ucap Lian bingung.


"Emang berapa nominalnya?" Diaz ingin tau.


"Lumayan gede sih, itu yang buat Gue gak yakin " Ucap Lian pesimis.


"Menurut gue Lo pikirin lagi Mas, kalo emang nanti bokap bisa bantu Lo apa bener Raya bisa lepas dari Justin?" Ucap Diaz ragu.


"Gue gak yakin,,," Ucap Diaz lagi.


"Apa Gue pinjem uang mereka aja. Gue bayar dari hasil kerja Gue di Kantor Papa?" Ucap Lian.


"Gue boleh tanya? Tapi please Lo Jawab sejujur jujurnya" Tanya Diaz.


"Apa?" Ucap Lian.


"Sebenarnya perasaan Lo ke Raya masih sama kaya dulu? Trus Nasib Aleena?" Ucap Diaz.


"Kenapa jadi bahas masalah perasaan?" Ucap Lian bingung.


"Sori Mas pertanyaan Gue agak nyimpang. Gue cuma gak mau Lo nyesel" Ucap Diaz.


"Lo tau kan perasaan Gue ke Raya? " Jawab Lian.


"Trus ke Aleena?" Ucap Diaz.


"Gue sayang sama Aleena, buat Gue Aleena itu peri hati Gue. Penyelamatan Gue, Aleena yang buat Gue berubah jadi Gue yang sekarang" Jelas Lian.


"Udah jelaskan? Kenapa gak Lo lupain aja Raya. Buka hati Lo buat Aleena" Ucap Diaz.


Sejujurnya Diaz sangat berat mengucapkan kata-kata itu pada Lian, sementara Diaz sendiri sangat mencintai Aleena.


Tapi ada rasa bersalah dalam hati Diaz, kenapa Diaz harus kembali ke Jakarta. Yang akhirnya Diaz harus jatuh cinta pada Aleena.


"Lo jangan nahan perasaan Lo buat Aleena, Gue tau Lo juga cinta sama Aleena?" Ucap Lian.


Diaz menatap wajah Lian, wajah Lian terlihat lebih kuat dari biasanya.


"Lo jangan pikirin tentang Gue aja, Lo juga berhak bahagia. Di sini yang salah itu Gue, Gue terlalu banyak pertimbangan. Memang seharusnya dari awal Aleena hadir harusnya Gue sama Aleena dan gak mikirin buat balik sama Raya" Ucap Lian lagi sambil meneguk minumannya.


"Disini bukan sepenuhnya Lo yang salah Mas, harusnya Gue gak balik ke Jakarta. Dan Gue gak akan pernah ada diantara Lo dan Aleena" ucap Diaz menyesal.


"Udahlah Yaz ,,, Gue gak mau hubungan Lo sama Gue jadi kaku cuma karena Aleena. Lo tetap Adik kesayangan Gue, orang yang paling care sama Gue dan Aleena juga orang yang terpenting dalam hidup Gue, berkat Aleena Gue bisa jadi Lian yang sekarang. Berani beradaptasi sama orang baru" Ucap Lian.

__ADS_1


"Belum terlambat buat Lo perbaiki hubungan Lo sama Aleena. Gue bakal balik ke Amsterdam" Ucap Diaz.


"Jangan Yaz, please stay in here. Aleena butuh Lo ,,," Ucap Lian memohon.


"Bukan Gue Mas, tapi Lo!" Ucap Diaz tegas.


"Gue masih harus fight buat hubungan Gue sama Raya. Gue akan coba ngomong sama Papa buat bantu Om David " Ucap Lian.


"Astaga,,, masih belum nyerah juga!" Ucap Diaz sedikit kesal.


"Sori Yaz, ini hidup Gue. Gue yang jalani, entah ending baik apa gak Gue terima. Paling gak Gue udah berjuang buat cinta pertama Gue" Jelas Lian.


"Whatever, yang pasti pesen Gue jangan bertindak sendirian. Masih ada Gue Ade Lo, dan masih ada Aleena yang juga akan selalu ada buat Lo!" Ucap Diaz mengingatkan sambil memegang pundak Lian.


"Thanks Bro ,,," Ucap Lian terharu sambil memeluk Diaz.


"Gue sayang Lo Mas, Gue mau Lo bahagia dengan apa yang udah Lo pilih" Ucap Diaz.


"Dan Gue juga gak akan maksa Aleena buat Cinta sama Gue, bisa jadi sandaran buat Aleena udah buat Gue bahagia" Ucap Diaz lagi.


"Tapi Gue harap kita semua bahagia,,," Ucap Lian.


"I hope so,,," Ucap Diaz.


"Satu lagi, Gue punya janji sama Aleena. Buat ajak Aleena keliling dunia berdua, next Gue akan bawa Dia Traveling,,," Ucap Lian.


"Gue harus cari waktu yang pas, sebelum Gue bener-bener pergi dari hidup Aleena" Ucap Lian lagi.


"Lo ngomong apa sih Mas? Jangan ngaco" Protes Diaz.


"Yaz , cinta gak harus memiliki. Dan Gue udah putusin buat hidup sama Raya..." Ucap Lian.


"Asli Gue bingung, Gue sendiri Gak tau harus lakuin apa lagi ,,, Gue mau hubungan kita bertiga baik-baik aja" Ucap Diaz.


"Kita pasti baik-baik aja, Kita gak mungkin mencintai satu wanita yang sama. Gue masih ada Raya yang Gue tau Raya juga cinta sama Gue. Seperti yang Lo pernah bilang, Gue harus Fight buat cinta Gue. Sekarang Gue udah punya power buat Fight Yaz ,,," Jelas Lian yakin.


Diaz hanya diam mendengar ucapan Lian, entah kenapa Diaz ragu tentang keyakinan Lian untuk mengejar cintanya pada Raya.


"Gapapa kan kalo next Gue akan Traveling sama Aleena. Karena Gue udah janji sama Aleena" Ucap Lian.


"Gue gak pernah punya pikiran apa-apa sama Lo dan Aleena. Cuma Gue punya feeling gak bagus aja tentang Raya" Ucap Diaz mengingatkan.


"Ini udah jadi keputusan Gue ,,, Lo tenang aja" Ucap Lian meyakinkan Sang Asik.


"Whatever,,, Gue cuma mau Lo bahagia " Ucap Diaz tulus.


"Thanks " Ucap Lian.


Tiba di kampus, Lian menunggu Aleena di koridor dekat ruang kelas Aleena. Tak lama pintu kelas terbuka satu persatu mahasiswa keluar ruangan.


Lian mencari sosok Aleena, Lina mendekati Aleena yang berdiri membelakangi Lian yang tengah berbicara dengan Tara.


Lian memberi isyarat pada Tara agar tidak memberi tau Aleena jika Lian mendekati Aleena. Tara paham maksud dari Lian.


Lian menutup kedua mata Aleena.


"Awwww ,,, Lian" Tebak Aleena.


Lian melepaskan kedua tangannya.


"Ihhh tau aja" Seru Lian.


"Cuma kamu yang suka gini, gak mungkin Diaz " Ucap Aleena sambil membalikkan badannya ke arah Lian Sambil tersenyum.


"Tara ,,, boleh pinjam temannya?" Tanya Lian.


"Ohhh silahkan, santai aja " Ucap Tara.


"Gue cabut ya Ra ,,," Ucap Aleena berpamitan pada Tara.


"Ok, take care " Jawab Tara.


Lian merangkul pinggang Aleena lalu melangkah menuju mobil.


"Kita mau kemana?" Tanya Aleena.


"Cari tempat asik buat ngobrol yuk" Ucap Lian.


"Where?" Tanya Aleena.


"Cuma kita berdua aja, jangan ada yang ganggu " Ucap Lian.


"I know , Taman Langit!" Ucap Aleena tersenyum.


"Smart Girl " Ucap Lian.


Lian melajukan mobilnya ke arah Taman Langit. Aleena melirik jam tangannya, masih sore.


Langit masih terang mana mungkin ' Aleena's Star' akan muncul pikir Aleena.

__ADS_1


"Lian, yakin mau ke Taman Langit? Masih terang lho. Aleena pasti gak akan muncul hehe" Ucap Aleena.


"Now I just need a real Aleena" Jawab Lian menatap Aleena dan mengusap rambut Aleena.


Aleena tersenyum dan mengangguk, mengikuti kemana Lian akan membawanya pergi.


@Taman Langit.


Pukul 18.27.


Perhitungan Lian Pas, sampai di Taman Langit sudah gelap. Lian memang sudah mengatur waktu yang tepat.


"Turun yuk, ke tempat biasa!" Ajak Lian.


Aleena mengangguk lalu mengikuti Lian untuk ke tepi bukit tempat biasa mereka menikmati langit malam dan bintang.


"Kamu tau gak, Aku ajak kamu kesini?" Tanya Lian.


Aleena hanya menggeleng kepalanya.


"Kamu ingat, waktu pertama kali kamu Aku ajak kesini. Tapi Aku bilang kita mau Around the world " Ucap Lian.


"He'eh " Jawab Aleena.


"Kapan kita mau Around the world? Kamu yang tentuin waktunya" Ucap Lian tersenyum.


"Really?" Aleena tersenyum tidak percaya.


"Of course,,, That's my promise" Jawab Lian.


"Just you and me, without Diaz?" Tanya Aleena meyakinkan lagi.


"Yup, just you and me,,," Jawab Lian.


"Tapi ,,,," Ucap Aleena ragu.


"Why?" Tanya Lian.


"Kita mau kemana?" Tanya Aleena.


"Up to you ,,, yang penting kita happy " Ucap Lian.


"Aku harus ijin sama Mama dan Papa, dan Aku juga harus bolos kuliah " Ucap Aleena ragu.


"Semua Aku yang atur, kamu tenang aja" Ucap Lian.


"Sebenarnya ada apa? tiba-tiba kamu mau ajak Aku traveling?" Aleena bingung.


"Heeiiii ,,,, Please jangan berpikiran jelek. Kita punya mimpi yang sama Traveling berdua. Dan itu janji Aku sama kamu" Ucap Lian meyakinkan.


"Oke ,,, nanti Aku bicarakan sama Papa dan Mama" Ucap Aleena.


"Biar Aku yang bicara, kamu hanya tunggu waktu dan kabar dari Aku. Dan masalah kuliah itu tanggung jawab Aku biar Aku yang urus" Ucap Lian.


"Baiklah " Jawab Aleena dengan wajah gembira.


"Deal?" Ucap Lian sambil mengulurkan tangannya tanda setuju agar Aleena mau berjabat tangan dengan Lian.


"Yup Deal" Jawab Aleena mereka saling bersalaman.


"Kamu mau kemana? Paris ?, Barcelona? Kyoto? Atau Cappadocia?" Ucap Lian semangat.


Aleena hanya tersenyum, semua yang Lian sebutkan kota-kota Romantis di dunia.


"Aku gak tau, semuanya belum pernah Aku datangi hehe" Ucap Aleena polos.


"Yaudah kenapa gak semuanya aja kita datangi" Seru Lian.


"Are you sure?" Aleena terkejut.


"Why not, Aku mau buat kamu bahagia" Ucap Lian lalu memeluk Aleena.


Aleena terharu mendengar semua ucapan Lian, agak aneh juga kenapa Lian tiba-tiba ingin Traveling bersamanya hanya berdua tanpa Diaz.


"Tapi Diaz gimana? Agak aneh aja Diaz gak ikut sama kita" Ucap Aleena dengan wajah ragu.


"Diaz udah tau kita mau Traveling, dan Dia juga support ide Aku" Jawab Lian.


"Ohhh yaudah kalo Diaz udah tau. Aku lega" Ucap Aleena.


"Tinggal atur waktu aja" Ucap Lian.


Aleena mengangguk pelan.


"Heeiiii ,,, Aleena's star comes" Seru Lian.


Mereka saling menatap langit dan bergandengan tangan.


"Aleena Aku gak tau, apa mungkin ini moments terakhir kita bisa ke Taman Langit dan bisa liat Aleena' Start bersama " Ucap Lian dalam hati sambil menatap wajah Aleena.

__ADS_1


"Mungkin next time, kamu bisa kesini bersama Diaz ,,," Ucap Lian lagi dalam hati.


"Lian,,, Aku harap kita semua bahagia,,,," Ucap Aleena dalam hati.


__ADS_2