
Pagi yang cerah, Aleena tersenyum sambil membuka Bed cover yang menutupi tubuhnya.
Aleena teringat ucapan Diaz, tentang isi hati Diaz terhadapnya. Bukan sengaja Aleena belum bisa membuka hatinya.
Tapi karena cintanya terhadap Lian begitu dalam. Bukan hal mudah untuk Aleena melupakan Lian. Melupakan Cinta pertamanya.
Berteman baik seperti sekarang lebih menyenangkan, bisa saling menjaga satu sama lain. Saat ini Aleena hanya mengkhawatirkan Lian yang seorang diri di sana.
Sampai saat ini belum juga menghubunhinya atau menghubungi Diaz. Pasti terjadi sesuatu pada Lian, Lian tidak pernah seperti ini menghilang tanpa kabar.
"Krriiinngg ,, Krriiinngg ,, Krriiinngg"
Bunyi suara ponsel Aleena.
Aleena segera meraih ponsel yang berada di atas meja riasnya. Lalu menatap layar ponselnya.
Diaz menghubunginya, Aleena menjawab panggilan telepon dari Diaz.
"Al,,, Lian belum juga menghubungi Aku. Aku coba hubungi pihak hotel untuk ngecek kamar Lian. Tapi gak ada jawaban" Ucap Diaz panik.
"Lian,,," Ucap Aleena.
"Aku harus pergi kesana, Aku kawatir takut Lian dalam masalah" Ucap Diaz.
"Aku ikut,,,," Pinta Aleena.
"Iya, kamu ijin sama orang tua kamu dulu. kita ambil penerbangan hari ini. Kabari Aku kalo kamu bisa ikut" Ucap Diaz. Lalu menutup telponnya.
"Lian, kamu kenapa?" Ucap Aleena panik.
Aleena segera menemui Sang Mama, untuk meminta ijin menyusul Lian. Semoga Sang Mama memberi ijin.
"Ma..." Panggil Aleena menghampiri Sang Mama.
"Kenapa sayang?" Ucap Sang Mama sambil menatap wajah Aleena yang begitu cemas.
"Hari ini Diaz mau menyusul Lian ke London. Aku boleh ikut?" Ucap Aleena ragu.
"Untuk apa?" Tanya Sang Mama bingung.
"Aku khawatir sama Lian, sekarang Lian berada di London sendiri" Ucap Aleena.
"Terjadi sesuatu sama Lian?" Tanya Sang Mama.
"Aku bingung mau jelasin, yang pasti Aku dan Diaz akan ke London. Hari ini juga Ma" Ucap Aleena memohon.
"Mama percaya sama Diaz, Diaz pasti menjaga kamu sama seperti Lian" Ucap Sang Mama.
"Really?" Ucap Aleena senang. Sambil memeluk Sang Mama.
"Thanks Ma" Ucap Aleena lagi.
"Ya sudah kamu packing, nanti biar Mama yang bicara pada Papa" Ucap Sang Mama.
"Mama" Ucap Aleena sambil memeluk Sang Mama.
Aleena memasukan baju yang akan di bawanya, sambil menunggu Diaz menjemputnya.
"Aku harap Kamu baik-baik aja Lian" Ucap Aleena.
Aleena menghubungi Diaz, untuk segera menjemputnya.
"Tuuttt,,, Tuuttt,,,"
Suara nada terhubung.
"Diaz, Aku ikut. Mama kasih ijin Aku" Ucap Aleena.
"Oke, sebentar lagi Aku jemput kamu. Bye ,,," Ucap Diaz.
Aleena segera keluar dari kamarnya, untuk menunggu Diaz menjemputnya.
Sudah hampir 30 menit namun Diaz belum juga datang, sesekali Aleena melihat ke arah pintu. Berharap Diaz yang datang.
"Diaz ,,, kamu dimana?" Ucap Aleena sambil melirik jam di dinding.
"Sayang, tenang sedikit" Ucap Sang Mama tiba-tiba berdiri di hadapannya.
"Aku tuh kawatir Ma" Ucap Aleena dengan raut wajah yang gelisah.
"Everything is ok,,," Ucap Sang Mama mengelus rambut milik Aleena.
"Firasat ku gak enak dari kemarin, Aku takut terjadi sesuatu pada Lian" Ucap Aleena tertunduk.
"Mama paham sayang ,,, Kamu berdoa aja. Agar Lian baik-baik aja" Ucap Sang Mama menenangkan putri kesayangannya.
Sebuah Taxi berhenti di depan rumah Aleena, Aleena bergegas keluar untuk memastikan apakah itu Diaz.
Aleena tersenyum ternyata benar Diaz keluar dari Taxi. Aleena menghampiri Diaz dengan membawa Travel Bag nya.
Sang Mama mengikuti langkah Aleena.
"Take care sayang,,," Ucap Sang Mama sambil memeluk putri kesayangannya.
"Thanks Ma,,," Aleena membalas pelukan Sang Mama.
"Diaz , Tante percaya sama kamu. Tolong jaga Aleena" Ucap Tante Mila.
"Baik Tante,,," Ucap Diaz meyakinkan Tante Mila.
Aleena masuk kedalam Taxi di ikuti oleh Diaz.
Aleena melambaikan tangan pada Sang Mama.
"Diaz,,," Panggil Aleena pelan.
"Aku harap Lian baik-baik aja" Ucap Aleena lagi.
__ADS_1
"Lian pasti baik-baik aja, mungkin Lian butuh waktu untuk sendiri" Ucap Diaz menenangkan Aleena.
"Lian beruntung di cintai wanita seperti Aleena" Bisik Diaz dalam hati, sambil menatap wajah Aleena yang begitu cemas.
Tiba di Airport, Aleena dan Diaz melangkah menuju area keberangkatan. Lalu mereka Check in untuk mendapatkan Boarding Pass. Setelah itu mereka di arahkan untuk ke bagian Baggage untuk menyimpan koper mereka di bagasi pesawat.
Aleena melirik ke jam tangannya, 15 menit pesawat akan Take off. Aleena bersama Diaz segera memasuki pesawat dan mencari kursi.
Perjalanan panjang memakan waktu 16 jam. Aleena menyandarkan kepalanya di kursi.
Aleena mulai memejamkan matanya, lalu tertidur. Diaz menatap wajah cantik Aleena, Diaz mengagumi kecantikan Aleena.
Meski tidak ada ikatan, tapi bisa terus dekat dan menjalin hari bersama Aleena sudah membuat Diaz senang.
Diaz pun mulai memejamkan matanya, agar setelah membuka matanya jarak tempuh tidak terasa lama.
@London Heathrow Airport.
Tiba di Airport, Aleena dan Diaz langsung memesan Taxi untuk menuju Hotel tempat Lian menginap.
Hanya butuh waktu 40 menit menuju Hotel The Ritz London. Sepanjang perjalanan menuju Hotel Aleena tampak begitu gelisah.
Terlihat dari raut wajah cantik Aleena begitu murung penuh rasa kawatir, selama perjalanan menuju London.
Rasa cinta Aleena begitu besar terhadap Lian, Diaz sangat mengerti perasaan dan posisi Aleena.
Diaz meraih jemari Aleena, untuk menenangkan Aleena. Sambil mengusap rambut milik Aleena.
Aleena menatap Diaz dan tersenyum, lalu Aleena menyandarkan kepalanya di pundak Diaz.
"Everything is ok" Ucap Diaz lembut pada Aleena.
Aleena mengangguk pelan lalu menghela nafas panjang.
Tower Hotel Ritz sudah terlihat, hanya beberapa menit lagi mereka akan tiba.
Tiba di depan Hotel, Aleena melangkah cepat menuju Lobby. Diaz mengikuti langkah Aleena dan menghampiri Resepsionis untuk meminta bantuan akses masuk ke kamar Lian.
Setelah mendapatkan Akses untuk memasuki kamar Lian, Aleena bersama Diaz memasuki Lift.
Aleena terlihat tidak sabar menunggu Lift berhenti, setelah Lift berhenti Aleena mencari Nomor kamar Lian.
Aleena menghentikan langkahnya di depan pintu kamar Lian, sambil melirik ke arah Diaz yang masih melangkah mendekatinya.
Diaz segera membuka pintu kamar Lian dengan kunci Akses yang Diaz perolehan dari pihak hotel.
Pintu terbuka, Aleena masuk lebih dulu dan mencari sosok Lian.
"Lian ,,, " Seru Aleena terkejut melihat Lian berada di atas tempat tidur dengan luka di tangannya.
Aleena menghampiri Lian dan juga Diaz, Aleena meraih tangan Lian lalu memeluk tubuh Lian yang masih posisi tertidur.
"Mas ,,, bangun Mas " Seru Diaz sambil menepuk pipi Lian agar segera bangun.
Lian membuka matanya perlahan, Lian terkejut melihat Diaz dan Aleena tengah memeluk tubuhnya.
Agar Lian bisa duduk dan menyandarkan kepalanya di sandaran Tempat tidur.
"Apa-apaan sih, Lo mas?" Ucap Diaz.
"Gue gapapa" Jawab Lian.
Aleena bangun dari duduknya lalu melangkah menuju kamar mandi mencari handuk kecil dan air hangat untuk membersihkan luka di tangan Lian yang darahnya sudah hampir kering.
"Jangan bertindak bodoh" Ucap Diaz sambil melepaskan Jaket yang di kenakan Lian.
"Lo ngapain kesini? Aleena juga kenapa harus kesini? Gue gapapa" Ucap Lian.
"Gapapa gimana? Lo bikin Gue sama Aleena kawatir. Wajar Gue datang kesini sama Aleena" Jawab Diaz.
Aleena datang membawa air hangat dan handuk kecil, Aleena meraih tangan Lian lalu membersihkan luka Lian.
Aleena tak banyak bicara, hanya fokus pada luka ditangan Lian. Tanpa Aleena sadari air mata Aleena terjatuh, Aleena menangis melihat keadaan Lian.
"Heeiii, Why are you crying? I'm fine" Ucap Lian sambil mengusap kepala Aleena.
Aleena mengusap air matanya, lalu menatap bola mata Lian. Dan kembali membersihkan tangan Lian.
Setelah lukanya bersih, Aleena mencari kotak obat yang sudah di sediakan oleh pihak Hotel.
Aleena meraih perban dan obat luka, Aleena mulai mengobati luka Lian lalu membalut tangan Lian dengan perban.
Aleena masih belum bisa bicara pada Lian, entah kenapa Aleena lebih memilih untuk diam.
Aleena duduk di sofa dekat sliding door, Lian memperhatikan sikap Aleena.
Baru kali ini Aleena bersikap seperti ini, tidak banyak bicara. Lian paham mungkin Aleena kecewa dengan tindakan bodohnya.
"Gue cari whiskey dulu" Ucap Diaz sambil melangkah ke luar kamar.
Ini hanya alasan Diaz saja, agar Lian dan Aleena bisa bebas berbicara. Diaz paham Lian dan Aleena butuh waktu untuk bicara berdua tanpa ada dirinya.
Lian menghampiri Aleena yang masih diam dengan wajah yang sedih.
"Heeiii, kamu marah sama Aku?" Tanya Lian sambil mengusap rambut Aleena.
Lian meraih kursi yang ada di dekat meja rias untuk duduk berhadapan dengan Aleena.
"Maafin Aku yah, harusnya Aku gak bertindak bodoh kaya gini. Aku jadi buat kamu dan Diaz kawatir" Ucap Lian.
Aleena menatap wajah Lian lalu memeluk Lian.
"Kamu tuh paling bisa bikin Aku cemas, paling bisa bikin Aku kawatir" Ucap Aleena sambil menangis dalam pelukan Lian.
"Sstttt ,,, udah. Aku gapapa" Ucap Lian lembut sambil mengusap punggung Aleena.
"Gapapa? Tangan kamu sampe luka kaya gitu" Ucap Aleena sambil melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Ini hanya pelampiasan emosi sesaat aja" Ucap Lian santai.
"Thanks kamu udah begitu kawatir sama Aku, sampai harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk memastikan Aku baik-baik aja" Ucap Lian lagi.
"Ada bisikan seseorang yang menuntun Aku harus kesini" Ucap Aleena.
Lian tersenyum menatap wajah Aleena.
"Lian, please tell me what's wrong?" Ucap Aleena.
Lian hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan Aleena. Aleena tau mungkin belum saatnya Lian bercerita yang sebenarnya.
Aleena tidak ingin memaksakan, yang terpenting saat ini keadaan Lian baik-baik saja.
"Kita cari Diaz Yukk! Sekali menikmati keindahan kota London" Ajak Lian pada Aleena.
Aleena mengangguk pelan tanda setuju. Lian mengulurkan tangan ke arah Aleena.
Aleena menyambut uluran tangan Lian, mereka saling bergandengan melangkah keluar kamar.
Lian dan Aleena mencari Diaz ke Bar di sekitar Hotel, benar saja Diaz berada disana tengah asik menikmati Whiskey sendirian.
"Diaz,,," Panggil Lian.
Mereka menghampiri Diaz dan ikut duduk bersama Diaz.
"Gimana? Udah enakan?" Tanya Diaz pada Lian.
"Thanks Bro, Kalo gak ada Lo dan Aleena mungkin mood Gue gak kaya gini" Ucap Lian.
"Gak salahkan, Jauh-jauh dari Jakarta Gue bawa Dokter cinta buat Lo hehe" Ucap Diaz tertawa.
"What's, Dokter cinta?" Ucap Aleena dengan wajah yang cemberut.
"Hahaha" Lian dan Diaz tertawa bersamaan.
"Lo emang paling mengerti Gue banget. Adik ku tersayang" Seru Lian pada Diaz.
"Tersayang?, geli banget Gue dengernya hahaha" Ucap Diaz tertawa lepas.
Aleena dan Lian pun ikut tertawa bersama mendengar ucapan Diaz. Hubungan persaudaraan Lian dan Diaz memang sangat dekat.
Diaz selalu menjaga Lian, walau posisi nya Diaz sebagai Adik Lian. Namun Diaz terlihat lebih dewasa dan menjaga sang Kakak.
Sifat mereka memang bertolak belakang namun saling mengisi dan mensupport.
Senang rasanya dikelilingi Lian dan Diaz, mereka orang-orang baik yang juga selalu care dan menjaganya.
Pantas Sang Mama begitu percaya terhadap Lian dan Diaz. Untuk melepaskan Aleena jauh dari rumah karena selalu ada mereka.
"Mas,,, Lo belum cerita selama Lo disini?" Tanya Diaz ingin tau.
Namun raut wajah Lian berubah, seperti Lian tidak nyaman dengan pertanyaan Diaz.
"Diaz kita keep dulu aja, mungkin Lian belum mau sharing sama kita" Ucap Aleena menenangkan. Sambil mengusap pundak Lian.
Lian menatap Aleena dan juga Diaz, lalu Lian menghela nafas.
"Kalian tau? Ternyata Raya udah menikah" Ucap Lian pelan sambil tersenyum sinis.
"What's?" Ucap Diaz terkejut.
Aleena pun terkejut lalu menatap wajah Lian.
"Jangan bercanda Mas" Ucap Diaz meyakinkan.
"Gue serius ,,, sehari Gue sampe disini. Gue coba ke rumah Raya, tapi Raya gak ada disana. Gue cuma ketemu Om David, Gue utarain niat baik Gue buat ngelamar Raya. Tapi Om David bilang Raya udah menikah, kemarin Raya balik ke Jakarta itu lagi ribut sama Suaminya" Ucap Lian bercerita.
"Gila ,,," Ucap Diaz emosi.
"Diaz,,," Ucap Aleena menenangkan.
"Selama ini Lo di bohongin sama Raya Mas" Ucap Diaz dengan nada kesal.
"Udah takdir Gue,,," Ucap Lian tenang.
"Tapi Aku punya feeling kalo Raya menikah itu karena sesuatu hal. Bukan keinginan dari Raya" Ucap Aleena.
"Maksud kamu?" Tanya Diaz.
"Bukan hal mudah untuk bisa membuka hati atau mencintai orang lain, Aku dan Raya sama-sama cewek jadi kalo udah urusan hati kita sama" Ucap Aleena.
"Aku liat dari tatapan mata Raya terhadap Lian, Raya masih mencintai Lian" Ucap Aleena lagi.
"Kita butuh penjelasan dari Raya" Ucap Diaz.
"Udah cukup, gak perlu" Ucap Lian mencegah.
"Biar Aku yang menemui Raya besok" Ucap Aleena.
"Kamu yakin?" Tanya Diaz.
"Iya, mungkin Raya bisa nyaman untuk cerita sama Aku" Ucap Aleena.
"Ok" Ucap Diaz setuju.
"Balik ke kamar yuk, jet lag nihh,,," Keluh Diaz.
Mereka saling mengangguk tanda setuju. Mereka melangkah keluar Bar untuk kembali ke Hotel.
Mereka berjalan beriringan Aleena berada di tengah-tengah Lian dan Diaz.
Aleena bahagia dengan hubungan pertemanan antara Lian dan Diaz. Tidak mengapa antara Aleena dan Lian tidak ada ikatan.
Asalkan bisa selalu bersama dan saling melindungi satu sama lain itu susah cukup untuk Aleena.
Menangis bersama, tertawa bersama, suatu hal yang tidak bisa di gantikan oleh apapun.
__ADS_1