
Tiba di kamar Lian menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, Aleena melangkah menuju Sofa dan duduk disana.
"Kita buka kamar lagi gimana? Disini cuma ada 1 bed" Ucap Diaz duduk di samping Aleena.
"Aku tidur di sofa aja, kita harus bersama biar bisa saling menjaga satu sama lain" Ucap Aleena.
" Bener juga" Ucap Dia setuju.
"Kita pindah kamar yang bed nya ada 2" Ucap Diaz lagi memberi saran.
"Lo atur Yazz,,, besok aja kita pindahnya. Sekarang kalian istirahat aja dulu" Ucap Lian.
Lian memejamkan matanya untuk tidur, mungkin dengan tidur semua yang ada di dalam pikirannya bisa Lian lupakan sejenak.
"Al, kamu tidur sama Lian. Biar Aku di sofa" Ucap Diaz.
"Gapapa, Aku disini aja" Aleena menolak.
Aleena menatap Lian yang sudah tertidur, Aleena harus menemui Raya besok.
Aleena harus berjuang untuk kebahagiaan Lian, walau didalam hatinya rasa cinta untuk Lian masih sama, tidak akan berubah untuk saat ini.
Aleena bangun dari duduknya lalu melangkah ke Balkon kamar, dan duduk di kursi santai.
Melihat Aleena ke arah Balkon, Diaz mengikuti langkah Aleena.
"Kamu gak istirahat?" Tanya Diaz lalu duduk di samping Aleena.
"Kamu juga gak istirahat?" Aleena balik bertanya kepada Lian sambil tersenyum.
"Kita berdua masih sama-sama jet lag hehe" Ucap Diaz tertawa.
"Btw, besok Aku harus cari tau Rumah Raya. Aku akan membujuk Papa nya Raya agar memberi tau Alamat rumah Raya" Ucap Aleena.
"Aku antar besok" Ucap Diaz.
"Biar Aku sendiri aja, kamu jaga Lian. Aku takut kalo Lian sendiri dikamar Lian masih labil. Aku takut Lian kenapa-kenapa" Ucap Aleena.
"Baiklah, kamu hati-hati yah. Ini London bukan Jakarta" Ucap Diaz mengingatkan.
"Trust me ok" Ucap Aleena meyakinkan.
"Al, Aku salut sama kamu. Sejauh ini kamu hanya memikirkan tentang Lian dan kebahagiaan Lian. Aku tau kamu sendiri sakit" Ucap Diaz.
"I'm fine, cinta itu butuh pengorbanan. Dan kebahagiaan Lian kebahagiaan Aku juga" Ucap Aleena tenang.
"Boleh Aku peluk kamu?" Ucap Diaz.
Aleena mengangguk pelan.
"Kamu juga butuh Support, bukan hanya Lian" Ucap Diaz sambil memeluk Aleena.
Pelukan Diaz sudah cukup membuat Aleena tenang dan kuat.
"Yaudah kita istirahat, kamu tidur sama Lian. Biar Aku di sofa yah" Ucap Diaz lembut.
"Gapapa kamu di sofa?" Aleena meyakinkan.
"Aku tuh cowok, bisa tidur dimana aja" Ucap Diaz tersenyum.
"Thanks" Aleena tersenyum.
Aleena masuk ke dalam, untuk segera tidur. Aleena menatap wajah Lian yang masih tertidur pulas.
Aleena merebahkan tubuhnya begitu pelan agar Lian tidak terbangun. Aleena mencoba memejamkan matanya, namun masih sulit untuk tertidur.
Aleena melirik ke arah Lian dan Diaz, mereka sudah tertidur. Aleena meraih tangan Lian yang masih terbalut oleh perban.
Aleena mengusap lembut kepala Lian, dan meletakkan kembali tangan Lian yang terluka.
"Aawww ,,, sakit" Keluh Lian.
Lian membuka matanya, lalu menatap wajah Aleena.
"Kamu gak tidur?" Tanya Lian.
"Masih Jet lag,,," Ucap Aleena.
"Take a rest, please. Aku gak mau kamu sakit" Ucap Lian.
"Baiklah, Aku coba" Jawab Aleena.
"Good night" Ucap Lian sambil mengecup tangan Aleena.
Aleena tersenyum.
Aleena terbangun dan membuka matanya, Aleena melirik ke jam tangannya sudah pukul 7 pagi waktu London.
Aleena bersiap-siap untuk segera menemui Raya, Lian dan Diaz masih tertidur pulas.
Aleena melangkah keluar kamar untuk pergi ke rumah orang tua Raya.
Aleena meraih ponselnya untuk memastikan Map alamat rumah Om David.
Aleena tersenyum, lalu melangkah sambil melihat-lihat di sekitarnya. Kota yang indah. Aleena melihat Pohon Bugenvil yang berbunga lebat, Aleena menghampiri dan memetiknya.
Aleena melanjutkan langkahnya, agar segera sampai di rumah Orang Tua Raya.
15 menit berlalu, Aleena menghentikan langkahnya di depan Rumah berwarna putih. Aleena mengecek ulang Alamat Rumah Orang Tua Raya.
"Benar ini rumah Om David" Ucap Aleena.
Rumah nya nampak sepi, tidak ada tanda-tanda aktivitas penghuni rumah.
Aleena duduk di bangku tepat di bawah pohon besar sebrang jalan Rumah Om David.
Aleena mencoba menunggu sebentar sampai ada tanda-tanda aktivitas penghuni rumah.
Tidak lama kemudian, sebuah Mercedes Benz GLS Hitam berhenti di depan rumah Om David.
Aleena memperhatikan siapa yang datang, pintu mobil terbuka. Terlihat sosok seorang wanita.
Wanita itu turun dari mobil, ternyata Raya. Aleena tersenyum dan bangun dari duduknya.
Aleena segera melangkah mendekati Raya, dan mencoba memanggil Raya.
"Raya,,," Seru Aleena tersenyum dan melambaikan tangannya.
__ADS_1
Raya menoleh ke arah Aleena, dan terkejut melihat Aleena berada London.
"Al ,,, Aleena" Ucap Raya gugup.
Raya menghampiri seorang Pria yang datang bersama Raya, entah apa yang di bicarakan oleh Raya.
Sepertinya ada perdebatan antara mereka berdua. Aleena menahan langkahnya agar tidak mendekati Raya.
Pria itu masuk kedalam rumah, lalu Raya menghampiri Aleena yang masih berdiri di sebrang jalan.
"Heeiii,,, Apa kabar?" Ucap Raya sambil memeluk Aleena.
"Baik, kamu sendiri gimana?" Tanya Aleena.
"I'm Good" Jawab Raya.
"Sorry yahh kalo Aku ganggu waktu kamu" Ucap Aleena.
"I'ts ok, kita ngobrol di tempat lain aja" Ucap Raya.
"Kalo gak salah di sekitar sini ada taman. Kita ngobrol disana aja gimana?" Ucap Aleena memberi saran.
"Ok, kita kesana" Jawab Raya setuju.
Mereka melangkah menuju taman, dan mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka bicara.
Mereka memilih sebuah Gazebo untuk tempat berbincang-bincang.
"Kamu ada apa datang ke sini?" Tanya Raya.
"Sebelumnya Aku minta maaf, karena udah terlalu jauh ikut campur antara hubungan kamu dan Lian" Ucap Aleena.
"Aleena, kamu kan tau Aku dan Lian tidak ada ikatan" Ucap Raya tenang.
"Tapi kamu juga harus tau, Lian begitu mencintai kamu dan ingin menikah sama kamu" Ucap Aleena.
Raya hanya tersenyum mendengar ucapan Aleena.
"Kamu tau, setelah kamu tinggalkan Jakarta.
"Lian datang ke sini untuk melamar kamu, tapi Papa kamu bilang kamu sudah menikah" Ucap Aleena.
"Damn ,,,!" Raya sedikit emosi.
"Kamu bilang Lian menemui Papa untuk melamar Aku?" Ucap Raya lagi.
"Benar, sudah hampir satu minggu Lian disini. Aku dan Diaz kawatir karena Lian gak ada kabar. Hanya pada saat baru sampai disini Lian kasih kabar, akhirnya kami putuskan ke sini untuk memastikan apakah Lian baik-baik aja" Ucap Aleena menjelaskan.
"Feeling Aku benar, Setelah sampai Hotel. Tangan Lian terluka memukul kaca" Ucap Aleena lagi.
"Bodoh kamu Lian" Ucap Raya.
"Tapi Papa gak bilang kalo Lian datang menemuinya" Ucap Raya lagi.
"Mungkin Papa kamu menjaga itu dari kamu" Ucap Aleena.
"Kalian udah tau semuanya, untuk apalagi kamu masih menemui Aku" Ucap Raya.
"Aku tau pernikahan kamu bukan keinginan kamu" Ucap Aleena.
Raya hanya diam dan memandang lurus ke depan.
"Kamu benar, Papa memaksa Aku untuk menikah dengan Justin. Karena bisnis Papa down dan harus bayar hutang pada keluarga Justin. Akhirnya Papa meminta Aku untuk menikah dengan Justin" Ucap Raya tertunduk lemas.
"Kamu tau, Aku gak bahagia dengan pernikahan ku. Justin tipe cowok pemarah, kasar dan sangat posesif" Ucap Raya.
"Justin bertolak belakang dengan sifat Lian, tapi demi Papa dan keluarga ku Aku harus menjalani pernikahan Aku bersama Justin" Ucap Raya lagi.
"Raya, Aku mohon temui Lian dan ceritakan yang sebenarnya pada Lian" Pinta Aleena pada Raya.
"Aleena maaf Aku gak bisa, Aku takut Justin tau. Dan dia akan marah besar dan memukul Aku" Ucap Raya.
"Astaga,,, Raya" Ucap Aleena terkejut.
"Waktu Aku ke Jakarta, Aku ribut besar sama Justin. Justin marah karena Aku pergi tanpa pamit untuk bertemu teman-teman kampus. Dan Justin juga tau tentang Lian, Aku gak akan ambil resiko kalo Justin sampai tau Lian berada di sini. Aku takut Justin akan melakukan sesuatu pada Lian" Ucap Raya.
Mendengar penjelasan dari Raya, Aleena sangat simpatik dengan Raya. Kasian Raya, menjadi korban atas Bisnis Papanya.
"Aleena, bukankah kamu juga mencintai Lian?" Tanya Raya sambil menatap wajah Aleena.
"Aku titip Lian sama kamu, Aku yakin kamu wanita baik yang akan selalu menjaga Lian dan membuat Lian bahagia" Ucap Raya.
"Memang Aku mencintai Lian, tapi Lian begitu mencintai kamu bukan Aku" Ucap Aleena.
"Tapi kamu yang telah merubah sifat Lian" Ucap Raya.
"Raya, yang Aku tau saat ini. Aku hanya ingin Lian bahagia. Kamulah kebahagiaan Lian" Ucap Aleena.
"Sorry, Aku gak bisa. Aku sudah menikah, dan Aku gak boleh egois. Aku harus pikirkan Keluarga Aku, karena Papa hanya punya Aku. Aku yang bisa bantu Papa" Ucap Raya.
"Baiklah Raya, Aku gak akan memaksa. Tapi jika kamu ada waktu dan kesempatan. Aku mohon temui Lian dan ceritakan yang sebenarnya pada Lian" Ucap Aleena.
"Aku gak janji, karena sulit untuk bisa lepas dari pengawasan Justin" Ucap Raya.
"Kami menginap di Hotel Ritz, gak jauh dari sini. Datanglah jika kamu bisa, lusa kami akan kembali ke Jakarta" Ucap Aleena.
"Aleena Aku titip Lian sama Kamu" Ucap Raya.
Aleena mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah Aku harus kembali, Aku gak mau buat Diaz dan Lian kawatir Aku belum kembali" Ucap Aleena.
Mereka saling berpelukan.
"Jaga diri kamu baik-baik Raya" Ucap Aleena.
"Thanks" Ucap Raya.
Aleena melangkah meninggalkan Raya yang masih berdiri menatapi langkahnya.
Raya yang malang, Raya harus jadi tumbal dari keluarganya. Semoga Raya bisa kuat menjalani pernikahannya.
Tiba di Loby Hotel, Aleena melihat Diaz tengah menunggunya. Dengan wajah cemas Diaz menghampiri Aleena.
"Are you ok?" Tanya Diaz.
"Aku gapapa" Jawab Aleena tersenyum.
__ADS_1
"Gimana ? Udah ketemu Raya?" Tanya Diaz kembali.
"Kita bicara di kamar, Lian gimana?" Ucap Aleena.
"Kita pindah kamar, sekarang Lian berada dikamar" Ucap Diaz.
"Kita bicara di kamar" Ucap Aleena.
Diaz mengangguk, lalu mereka menuju kamar.
Tiba di kamar Lian tengah merebahkan tubuhnya di atas Sofa, sambil menatap kosong.
Aleena menghampiri Lian dan duduk di sebelahnya. Aleena menatap Lian dan mengusap rambut milik Lian.
"Heeiii, lagi mikir apa?" Tanya Aleena.
"Nope, Aku lagi mikir mau makan apa hari ini. Perut ku lapar" Ucap Lian.
"Yuk, kita makan. Lalu kita keliling kota ini, refresh otak juga" Ucap Aleena memberi ide.
Lian menatap Aleena dan tersenyum.
"My mood booster, kamu tuh paling bisa banget" Ucap Lian sambil mencubit kedua pipi Aleena lalu menatapnya.
"Heeeiii,,, udah cukup adegan dramanya. I'm hungry" Ucap Diaz sedikit protes.
"Hahaha,,," Aleena dan Lian tertawa bersamaan.
Aleena dan Lian bangkit dari atas Sofa dan mengikuti langkah Diaz untuk segera mencari tempat makan.
Mereka menikmati makanan, Aleena selalu di buat tertawa oleh sikap Diaz. Diaz memang pandai menghibur orang.
Usai makan, Aleena mencoba untuk memulai bercerita tentang Raya. Aleena menghela nafasnya, agar sedikit tenang.
"Hmmm, Aku udah bertemu Raya tadi" Ucap Aleena pelan sambil menatap wajah Lian.
Lian tak bereaksi hanya melirik ke arah Aleena. Aleena mencoba untuk menghiraukan Lian.
"Dugaan Aku benar, pernikahan Raya karena sesuatu. Raya harus menikah dengan Justin karena Hutang Papa nya kepada Keluarga Justin" Aleena bercerita.
"Bisnis Papanya Down, jadi gak bisa kembalikan uang Keluarga Justin. Raya gak punya pilihan lain, karena hanya Raya yang bisa menolong Papanya" Aleena masih bercerita.
"Gila ,,, Anak di korbanin" Ucap Diaz.
"Kita gak bisa menyalahkan Raya sepenuhnya, posisi Raya juga sangat miris" Ucap Aleena.
"Maksudnya?" Tanya Diaz.
"Enough, Aku udah gak tertarik sama urusan Raya" Ucap Lian dengan wajah kesal.
"Lian,,, kamu harus tau" Ucap Aleena menenangkan Lian.
"Aku tau atau gak, Raya tetap sudah menikah. Gak akan berubah" Ucap Lian.
"Aku cuma mau kamu tau, Raya juga menderita. Karena Justin selalu kasar terhadap Raya, Raya bilang sifat Justin berbanding terbaik sama kamu" Ucap Aleena.
"Justin itu Posesif, pemarah dan suka memukul Raya. Raya gak bebas keluar dari rumah" Jelas Aleena.
"Mas ,,, menurut Lo gimana?" Ucap Diaz.
"Gue udah bilang, udah gak tertarik lagi sama urusan Raya" Ucap Lian lalu bangkit dari duduknya.
Lian melangkah keluar resto, meninggalkan Diaz dan Aleena.
Aleena dan Diaz mengikuti langkah Lian. Aleena mempercepat langkahnya untuk bisa berada di samping Lian.
"Heeiii,,, Maafin Aku" Ucap Aleena meminta maaf.
"Gak ada yang salah,,, udah yahh sekarang Aku mau kita Have Fun hari ini" Ucap Lian sambil memegang pipi Aleena dengan ke dua tangannya.
"Yaazzz, kita ke Hyde Park. Gak jauh dari sini" Seru Lian pada Diaz.
Diaz mengangguk dan mengikuti langkah Lian dan Aleena.
Hanya butuh waktu 10 menit menuju Hyde Park, dengan berjalan kaki.
Hari ini sangat ramai, banyak yang berkunjung ke Hyde Park. Aleena tersenyum taman ini sangat indah.
Aleena menghampiri Pohon Bugenvil lagi, entah kenapa Aleena sangat menyukai Pohon itu.
Alasannya sederhana jika pohon itu berbunga pasti sangat lebat. Dan warna begitu menarik.
Diam-diam Diaz meraih ponselnya yang berada di dalam sakunya. Untuk mengambil Foto Aleena yang sedang berada di dekat pohon Bugenvil.
"All,,,, Smile ,,,," Seru Diaz sambil mengarahkan Camera pada ponselnya.
Aleena tersenyum dan bergaya seperti anak kecil.
Diaz tersenyum dan begitu kagum dengan kecantikan Aleena.
"Mas, masa Lo belum sadar juga? Kalo Aleena jauh lebih baik dari pada Raya" Ucap Diaz pada Lian.
Lian hanya tersenyum, mereka menghampiri Aleena.
Aleena mencoba memetik Bunganya, tanpa sengaja jarinya menyentuh duri.
"Aawwww ,,," Jerit Aleena.
Jari tertusuk duri, dan mengeluarkan sedikit darah pada jarinya.
Dengan Refleks Diaz meraih jari Aleena lalu menghisap jari Aleena agar darah berhenti keluar dari jari Aleena.
Aleena terkejut dengan sikap Diaz, Lian yang melihat reaksi Diaz hanya memalingkan wajahnya. Lian tidak ingin melihat adegan Aleena dan Diaz.
"I'ts Ok. Aku gapapa" Ucap Aleena mencoba melepaskan jarinya.
"Sorry, Aku gak ada maksud lain. Aku refleks aja" Ucap Diaz.
Aleena mengangguk pelan. Aleena tau Lian cemburu melihat sikap Diaz. Aleena juga tidak bisa menyalahkan Diaz.
"Balik ke Hotel yuk, Capek banget" Keluh Lian.
"Kita baru aja sampai,,," Ucap Aleena.
"Kamu sama Diaz aja, Perasaan Aku gak enak banget" Ucap Lian.
"Yaudah kita balik aja, besok kita keliling lagi lebih awal. Lusa kita harus kembali ke Jakarta" Ucap Diaz.
__ADS_1
Mereka kembali menuju Hotel. Aleena melangkah di samping Lian, Diaz mengikuti dari belakang Lian dan Aleena.
❤️ Ardiaz Candra Devandra ❤️