CINTA Itu KAMU !

CINTA Itu KAMU !
* From heart to heart *


__ADS_3

"Ma ,,, " Seru Lian mendekati Sang Mama.


"Kenapa sayang?" Jawab Sang Mama tersenyum.


"Sibuk Gak? Lian mau bicara sebentar " Pinta Lian.


"Ayo kita bicara, udah lama kita gak duduk bersama sambil ngopi hehe" Jawab Sang Mama.


Lian duduk di samping Sang Mama yang tengah menikmati secangkir kopi.


"Ada apa? Sepertinya urgent" Tanya Sang Mama.


"Sebelumnya Lian minta maaf, Lian mau tanya sama Mama tentang keinginan Mama meminta Aleena untuk bertunangan dengan Diaz. Apa itu benar?" Tanya Diaz.


Sang Mama meraih cangkir di atas meja lalu meminumnya, dan menghela nafas.


"Benar, Mama berharap mungkin dengan Jalan seperti itu kondisi adik mu bisa lebih baik. Sambil kita menunggu kabar baik Tulang sumsum untuk Diaz" Jawab Sang Mama.


"Awalnya Mama berharap kamu dan Aleena yang akan bertunangan dan menikah. Tapi Mama liat kamu masih labil, kamu masih mencintai Raya. Sampai-sampai kamu ingin menolongnya lepas dari suaminya" Ucap Sang Mama.


"Mama tau, kenapa Aku tetap memilih Raya. Karena Aku tau Diaz juga mencintai Aleena sama seperti Aku. Selama ini Aku belum pernah liat Diaz serius dalam mencintai seseorang. Raya hanya sebagai pelarian , Aku memberi kesempatan untuk Diaz agar bisa dekat dengan Aleena. Tapi hati Aku gak bisa bohong, di tiap harinya Aku selalu memikirkan Aleena. Sampai Aku mengambil keputusan untuk menikahi Raya, dengan harapan bisa melupakan perasaan Aku terhadap Aleena" Jelas Lian.


"Tapi respon Raya datar, sama sekali gak seperti yang Aku bayangkan. Kebetulan Aleena menghubungi Aku, kasih kabar tentang Diaz. Kebetulan saat itu Raya sudah pergi dan memilih kembali ke London dengan alasan kawatir dengan Papanya" Ucap Lian lagi.


"Menurut kamu Mama salah, meminta Aleena untuk memikirkan keinginan Mama agar Aleena dan Diaz bertunangan?" Tanya Sang Mama.


"Mama gak salah, Aku tau Mama sangat Kawatir terhadap Diaz. Sama seperti Aku dan Aleena, cuma permintaan Mama membuat Aleena sangat bingung. Sampai-sampai Aleena memilih pergi untuk waktu yang tidak tau sampai kapan. Hanya karena ingin mempertahankan keinginan Mama" Ucap Lian.


"Aleena pergi? Maksud kamu?" Sang Mama terkejut.


"Tante Melly bilang Aleena pergi , Aleena butuh waktu untuk sendiri dan berpikir. Bukan ingin menghindar, Aku tau Aleena juga sayang sama Diaz. Selama ini kami bertiga menjaga perasaan yang sama-sama kamu miliki. Aleena tidak bisa memilih diantara Aku dan Diaz. Karena Kami saudara, Aleena sangat menjaga itu, Aleena gak mau hubungan Aku dan Diaz gak baik hanya karena harus memilih antara Aku dan Diaz " Jelas Lian.


"Jadi maksud kamu, Diaz sakit atau tidak. Hubungan kalian bertiga akan tetap sama? Aleena tidak bisa memilih meski Aleena sangat mencintai kamu?" Ucap Sang Mama.


"Mungkin ,,, Aku masih berharap dan selalu berharap hubungan Aku dan Aleena bisa seperti yang kamu mau. Dan tadi Diaz punya keinginan, agar Aku segera mengikat Aleena dengan cara bertunangan. Karena Diaz berfikir hubungan Aku dan Aleena gantung karena adanya Diaz" Jelas Lian.


"Jika itu permintaan Diaz, seharusnya kamu segera ambil keputusan. Dan Mama berharap Donor Tulang sumsum segera kita dapatkan" Ucap Sang Mama penuh harap.


"Lian masih ragu, Aleena tidak bisa memilih. Karena Aleena berkali-kali selalu bilang lebih nyaman seperti ini. Tanpa ikatan tidak ada yang sakit" Ucap Lian pesimis.


"Kamu belum mencobanya Nak, jadi kita belum tau keputusan dan jawaban Aleena" Ucap Sang Mama.


"Lian akan tunggu Aleena kembali" Ucap Lian.

__ADS_1


"Mama berdoa untuk kebahagiaan kamu dan Diaz" Ucap Sang Mama tulus.


"Thanks Ma" Ucap Lian lalu memeluk Sang Mama.


...***...


Diaz meraih Tissue yang berada di meja lampu tidur. Hidungnya mengeluarkan darah, Diaz segera membasuh hidungnya. Agar tidak ada yang melihat, darah tidak ingin membuat Mama dan Lian cemas dengan kondisinya.


Diaz melangkah ke arah sliding door, sudah lama Diaz tidak lagi duduk di balkon kamarnya. Diaz merasa bosan, sejak di vonis Leukimia. Diaz tidak lagi memiliki ruang gerak.


Besok Jadwal Diaz Kemoterapi, Diaz akan bertanya langsung kepada Sang Dokter. seberapa bahayanya dan berapa lama lagi Diaz akan bertahan hidup.


Bukannya pasrah, lebih tepatnya Diaz sudah mengikhlaskan apa yang sudah di takdirkan untuk dirinya. Diaz bersyukur dalam sisa umurnya saat ini, bisa mencintai Aleena. Dan juga Diaz memiliki Lian, seorang Kakak yang begitu sayang terhadapnya, dan juga Kedua orang tua nya.


Sekarang mereka lebih banyak waktu di Jakarta, hanya untuk menemani dan memberikan support untuk dirinya. Dan juga Bik Nina orang pertama yang tau tentang penyakitnya dan Juga orang pertama yang menangis dan sedih saat tau keadaan Diaz.


Hikmah dari sebuah penyakit yang diderita Diaz , Ternyata orang-orang terdekatnya sangat mencintai dan menyayangi Diaz.


Diaz menatap layar ponselnya, Diaz ingin sekali menghubungi Aleena. Sudah hampir satu Minggu Aleena tidak datang dan menghubungi Diaz.


Diaz mencoba menghubungi Aleena, sekali tidak ada jawaban, dua kali masih juga tidak ada jawaban sampai berkali-kali Aleena belum juga menjawab panggilan telepon.


Ada apa dengan Aleena, Aleena tidak pernah seperti ini ? Diaz menatap Jam di layar ponselnya Tepat pukul 22.45. Mungkin Aleena sudah tidur.


"Yaz ,,, " Seru Lian yang tiba-tiba muncul dan duduk di samping Diaz.


"Belum tidur Mas ?" Tanya Diaz.


"Lo yang harus nya istirahat, udara di luar dingin" Ucap Lian lalu menyelimuti Diaz dengan Bedcover milik Diaz.


"Thanks Mas, gue gapapa. Gue boring banget. Hampir dua bulan gue di rumah, Gue mau hirup udara luar" Keluh Diaz.


"Besok abis Kemo, kita cabut yuk. Nanti gue minta ijin Dokter Boy dan juga Mama dan Papa buat ajak Lo keluar" Ucap Lian.


"Seriusan Mas?" Diaz terkejut dengan ekspresi bahagia.


"Yup , gue janji. Bakal anter kemana yang Lo mau" Ucap Lian berjanji.


"Taman Langit?" Tanya Diaz.


"Of course ,,, tapi Lo harus patuh sama apa yang Dokter bilang buat kondisi Lo nanti" Ucap Lian mengingatkan.


"Yes, I promise " Jawab Diaz tersenyum.

__ADS_1


Lian bahagia melihat ekspresi wajah Diaz yang berseri-seri seperti ini. Sejak Diaz di vonis Leukimia hampir tidak ada senyuman dan ekspresi wajah Diaz yang seperti ini.


Diaz itu tipe Orang yang periang, ceplas-ceplos dan juga adik yang menyenangkan. Diaz selalu saja bisa membuat suasana hati Lian menjadi baik di saat mood Lian tidak baik.


"Yaz ,,, Lo ada uneg-uneg gak tenang gue. selama Lo jadi adik Gue dan Gue jadi kakak Lo?" Tanya Lian.


"Maksud Lo uneg-uneg apa nih hehe" Diaz bertanya balik.


"Ya ,,, misalnya apa yang Lo gak suka dari Gue dan apa yang Lo suka dari diri Gue. Mungkin gue bisa introspeksi diri Gue, dan Gue bisa jadi kakak yang lebih baik lagi buat Lo" Ucap Lian.


"Ini hanya tentang hubungan persaudaraan aja kan, gak ada hal lain?" Tanya Diaz.


Lian mengangguk lalu tersenyum.


"Kita bicara dari hati ke hati, mungkin selama ini ada hal yang Lo gak suka dari Gue selama jadi kakak Lo" Ucap Lian.


"Hmmm ,,, kita tumbuh bersama Mas. Meski Papa dan Mama gak pure mengasuh kita. Karena ada campur tangan Bik Nina. Mungkin yang tau sifat kita berdua Bik Nina, begitu juga sebaliknya yang tau Lo itu Gue dan Lo juga lebih tau Gue gimana " Ucap Diaz.


"Mungkin hal yang paling gue gak suka dari Lo, Lo itu lemah. Lo terlalu pasrah sama diri Lo, Saat Lo gak nyaman sama suasana rumah Lo gak berani bergerak buat cari kebahagiaan di luar sana" Ucap Diaz.


"Dalam urusan cinta pun Lo sama, Lo lambat, Lo gak peka, jujur Gue sedih liat Lo saat Raya pergi jauh dari Lo. Gue benci Lo yang dulu meratapi Raya dan Lo jadi orang yang paling tertutup" Ucap Diaz lagi.


"Makanya Gue gak tahan liat Lo, akhirnya Gue pilih cabut dari rumah. Gue cari kebahagiaan di luar rumah" Ucap Diaz sambil menatap wajah Lian.


"kita itu dua orang yang berbeda, meski kita lahir dari rahim yang sama dan di dalam tubuh kita mengalir darah yang sama. Kita gak mungkin sama pemikiran dan sifat. Lo tau sendiri sejak kecil kita kurang kasih sayang dari orang tua kita, cuma Bik Nina yang merawat kita. Ketika Raya datang, Gue menemukan sosok ibu dalam diri Raya. Tapi tiba-tiba Raya pergi, gimana hancurnya Gue kehilangan sosok ibu, kehilangan wanita yang gue cinta yang akhirnya sifat Gue jadi kaya gini" Ucap Lian.


"Lo tau perasaan Gue saat liat Lo hampir gila karena Raya pergi, Lo gak mau keluar kamar, gak mau komunikasi sama orang sekali pun itu gue Adek Lo. Gue ngerasa, Lo gak butuh Gue, yang Lo butuhkan itu Raya. Makanya gue lebih milih cabut, keberadaan gue gak guna buat Lo" Ucap Diaz.


"Sori Yaz, gue emang bodoh. Wanita yang gue anggap malaikat, sosok pengganti Nyokap ternyata salah. Gue makin sadar ketika Gue ketemu Aleena, Aleena gak pernah nyerah buat deketin gue. Dan ucapan Aleena yang sampai sekarang gue ingat, itu yang merubah menjadi gue yang sekarang " Cerita Lian.


"Apa yang Aleena bilang buat Lo?" Diaz penasaran.


"Aleena datang ke Danau belakang kampus, Dia berusaha duduk dan bicara sama Gue. Tapi sama sekali Gue gak hiraukan Aleena. sampai akhirnya Aleena berteriak ,,, ' Manusia itu makhluk sosial, gak bisa di hidup sendirian . Suatu saat kamu pasti butuh teman '. Itu ucapan Aleena yang sampai sekarang gue ingat dan itu yang merubah jadi Gue yang sekarang" Jelas Lian.


"Salut Gue sama cewek berani kaya Aleena" Ucap Diaz.


"Sebenarnya Gue tau, Aleena diam-diam selalu ikuti Gue. Gak ada nyerah nya buat trus dekat dan jadi teman Gue" Ucap Lian tersenyum.


"Seharusnya Lo udah tau jawabannya, Tapi kenapa Lo masih labil dan berharap keajaiban datang buat hubungan Lo dan Raya" Ucap Diaz.


"Sebenarnya gue udah mulai jatuh cinta sama Aleena, entah kenapa tiba-tiba Raya datang. Dengan keyakinan kalo gue emang gak bisa lepas dari Raya. Tapi ternyata gue salah" Ucap Lian.


"Mas, Gue cuma minta satu dan permintaan gue masih sama. Lo gak akan bisa dapatin cewek kaya Aleena" Ucap Diaz.

__ADS_1


Lian menatap wajah Diaz, Diaz benar jika Lian melepaskan Aleena. Lian tidak akan pernah bisa menemukan sosok wanita seperti Aleena.


__ADS_2