
️00:21 Am.
Aleena belum juga bisa memejamkan matanya, Diaz juga belum kembali. Diaz masih berada di Rock Bar, sebenarnya Diaz mengajak Aleena ke sana. Hanya saja Aleena ingin berada di dalam kamar.
Mungkin Lian dan Raya ikut bersama Diaz ke Rock Bar. Aleena membuka pintu kamar, Aleena ingin keluar penginapan.
Aleena melangkah keluar kamar, Aleena melirik ke arah kamar Lian. Pintu kamarnya terbuka sedikit, Aleena mendekati pintu.
Aleena terkejut melihat Raya berada di atas tubuh Lian, Raya tidak mengenakan bajunya. Sedangkan Lian tengah asik mengecup tubuh Raya.
Aleena mundur pelan-pelan lalu berlari kecil keluar. Aleena menyesal harusnya Aleena tidak mendekati kamar Lian. Harusnya Aleena tidak melihat adegan ranjang Raya dan Lian.
Aleena masih berlari menuju Ocean Beach, lalu menuruni anak tangga untuk menuju tepi pantai.
Ada rasa sakit di dalam hatinya, rasa kecewa semua jadi satu. Alasan Lian tidak bisa meninggalkan Raya memang tetap. Karena hubungan mereka sudah terlalu jauh.
Aleena menangis, kali ini Aleena benar-benar menangis. Aleena tumpahkan air matanya. Aleena menangis sambil meremas pasir.
Diaz kembali ke kamar, namun Diaz terkejut karena Aleena tidak berada didalam kamar. Diaz cemas mencari Aleena karena saat Diaz kembali ke kamar Aleena tidak ada.
Diaz tau Aleena kemana, dengan cepat Diaz mencari Aleena. Benar dugaan Dia, Aleena pergi ke pantai.
Diaz mencoba mendekati Aleena, lalu duduk di sebelah Aleena.
"Keluarin semua air mata kamu, jika itu bisa buat kamu merasa lega" Ucap Diaz.
Aleena menyandarkan kepalanya di bahu Diaz, lalu Aleena menangis kembali.
"Apa yang membuat kamu menangis?" Tanya Diaz. Sambil mengusap rambut Aleena. Lalu membasuh air mata Aleena dengan kedua tangannya.
"Seharusnya kamu gak nangis, kamu pernah bilang ini udah menjadi resikonya" Ucap Diaz.
"Aku berusaha untuk membuang jauh-jauh rasa sakit dan rasa cemburuku. Aku tahan, tapi malam ini kenapa Aku lemah. Harusnya Aku gak mendekati kamar mereka, harusnya Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan" Ucap Aleena terisak.
Diaz memeluk Aleena lalu mengecup kening Aleena. Diaz ingin sekali Aleena tau, kalau Diaz sudah jatuh cinta pada Aleena.
Tapi Diaz tidak ingin Aleena tau, Diaz akan menjadi bayang-bayang Lian untuk Aleena.
"Maafin Aku Aleena, harusnya Aku gak pergi tinggalin kamu di kamar" Ucap Diaz.
"Ini salah Aku" Ucap Aleena.
"Harusnya Aku selalu ada di dekat kamu, Aku egois!" Ucap Diaz menyesal.
"Aleena, sejak awal Aku liat kamu. Ada rasa ingin memiliki kamu" Ucap Diaz jujur.
"Deeeggg"
Aleena terkejut lalu menatap wajah Diaz.
Entah kenapa tiba-tiba Diaz berani berkata jujur, seharusnya Diaz menyimpan semua perasaannya sendiri.
Mungkin karena pengaruh dari Alkohol membuat Diaz berani mengungkapkan perasaannya.
"Tapi Aku sadar, hanya Lian yang kamu cinta. Hanya Lian yang ada didalam hati kamu" Ucap Diaz kembali memeluk Aleena.
"Aku akan terus menjadi bayang-bayang Lian untuk kamu" Ucap Diaz lagi.
"Diaz" Ucap Aleena pelan.
"Sorry Aleena harusnya Aku gak ungkapin ini ke kamu" Ucap Diaz menyesal.
"Ungkapkan aja apa yang seharusnya kamu ungkapkan" Ucap Aleena.
"Lian memang beruntung, di cintai dua wanita" Ucap Diaz tersenyum.
"Lian terlalu bodoh, gak bisa bedain wanita mana yang tulus mencintainya" Diaz masih berbicara.
"Aku ragu dengan kesetiaan Raya, di saat jauh dari Lian. Hampir 4 tahun Raya meninggalkan Jakarta, tanpa kabar. Tiba-tiba kembali dan pergi lagi" Ucap Diaz.
"Harusnya mereka sudah terikat dengan pernikahan" Ucap Aleena.
"Entahlah, Mungkin Raya masih ingin bebas" Ucap Diaz.
"Thanks udah temani Aku" Ucap Aleena.
"Kalo ada apa-apa jangan ragu cari Aku" Ucap Diaz.
"Udah larut malam, kita kembali ke kamar" Ajak Diaz.
Aleena mengangguk sambil beranjak dari duduknya.
Mereka melangkah menuju kamar, Diaz menggenggam tangan Aleena.
Diaz ingin menjaga Aleena, semakin banyak air mata Aleena yang terjatuh semakin besar rasa cintanya terhadap Aleena.
Tiba di depan pintu Diaz membuka pelan pintu, Diaz menyuruh Aleena masuk lebih dulu. Diaz menyalakan saklar lampu ruang TV, terlihat Lian duduk di sofa.
Sepertinya menunggu mereka kembali. Lian menghampiri Aleena, lalu memeluk Aleena.
"Aku gapapa" Ucap Aleena.
Melepaskan pelukan Lian. Lalu masuk ke dalam kamar.
Diaz melangkah mengikuti Aleena, namun Lian meraih tangan Diaz. Menahan agar Diaz tidak masuk ke dalam kamar.
"Gue mau ngomong!" Ajak Lian.
Diaz diam mengikuti langkah Lian, mereka melangkah menuju Loby.
Sampai di Loby mereka hanya diam, Diaz bingung untuk apa Lian mengajaknya ke sini.
__ADS_1
"Mau ngomong apa Mas?" Tanya Diaz.
"Aleena kenapa?" Ucap Lian.
"Masih nanya Aleena kenapa?" Jawab Diaz mengerutkan keningnya.
"Lo pikir Mas, Lo sama Raya bodoh banget. Aleena liat apa yang Lo berdua lakuin di kamar!" Jelas Diaz.
"Maksud Lo?" Lian bingung.
"Kenapa pintu kamar Lo biarin ke buka? Aleena liat semuanya apa yang Lo lakuin sama Raya" Diaz sedikit emosi.
"Baru kali ini Gue liat Aleena nangis, Dia benar-benar terluka" Jelas Diaz lagi.
"Aleena,,," Ucap Lian dengan suara menyesal.
"Mungkin kalo Gue di posisi Aleena Gue gak sanggup, tapi hebatnya Aleena Dia gak nyerah. Dia selalu bersikap tenang di depan Lo berdua" Ucap Diaz.
"Gue harus gimana? Gue gak bisa ninggalin Raya, Gue juga gak bisa jauh dari Aleena" Ucap Lian.
"Cuma Lo yang tau jawabannya!" Ucap Diaz sambil menepuk pundak Lian lalu meninggalkan Lian.
Lian masih duduk seorang diri di Loby. Diaz benar hanya Dia yang tau jawabannya.
Mengapa Lian tidak bisa menentukan arah hatinya kemana, dan untuk siapa.
Lian melangkah kembali ke penginapan, tiba di depan kamar Lian melihat Raya tertidur pulas.
Lian membuka Sliding Door untuk ke Balkon kamarnya. Lian menjatuhkan tubuhnya di atas Sofa. Lian memijat keningnya.
Raya mengetuk pintu kamar Aleena, hanya hitungan detik Aleena sudah membuka pintu.
Terlihat Raya tersenyum di depan pintu. Aleena pun tersenyum.
"Kita Spa yuk, kalo nginep di sini gak Spa kurang lengkap" Ajak Raya.
Aleena diam beberapa saat.
Sebenarnya Aleena ingin berada di dalam kamar saja. Tapi karena rasa tidak enak akhirnya Aleena setuju.
"Oke, Aku siap-siap dulu" Jawab Aleena.
"Aku tunggu di Sofa yahh" Ucap Raya.
Aleena mengangguk pelan.
Raya dan Aleena menuju tempat Spa, Spa terbaik di Bali di Hotel ini. Selain itu Staf mereka di sini ramah dan profesional.
Tiba di tempat Spa, Dua gadis cantik ini di sambut dengan ramah.
Selain bikin mereka Relax, View di tempat Spa ini menghadap ke Laut Bali. Kebanyakan benar-benar bisa nge Refresh otak.
"Gimana? Udah fresh?" Tanya Raya.
"Relax banget, harusnya dari awal disini udah Spa yah" Ucap Aleena.
"Besok lusa kita Spa bareng lagi, ajak Lian dan Diaz. Sebelum kita tinggalkan Bali" Ajak Raya.
Aleena mengangguk sambil tersenyum.
"Kapan kamu kembali? " Tanya Aleena.
"Setelah dari Bali, Aku harus kembali ke London. Berat rasanya tinggalkan Jakarta, karena ada kalian dan juga Lian" Jawab Raya.
"Kamu yakin benar-benar pergi?" Tanya Aleena.
"Aku harus kembali, Papa dan Mama menunggu ku di sana" Jawab Raya.
"Aku cemas setelah kamu pergi, Lian akan kembali seperti dulu" Ucap Aleena sambil menatap wajah Raya.
"Aku yakin kamu bisa kendalikan Lian, Kamu udah buat Lian berubah. Aku percaya kamu bisa Aleena" Ucap Raya sambil memeluk Aleena.
"Kenapa kalian gak bertunangan atau menikah? Agar kalian bisa bersama tidak akan terpisah" Ucap Aleena.
"Entahlah" Jawab Raya tertunduk.
"Kenapa?" Tanya Aleena penasaran.
"Ada hal yang gak bisa Aku jelaskan" Ucap Raya.
"Aku ingin Lian bahagia, kebahagiaan Lian cuma kamu" Ucap Aleena sambil memegang pundak Raya.
"Thanks Aleena, kamu tuh baik banget. Mungkin kalo Aku di posisi kamu Aku gak akan sanggup" Ucap Raya.
"Awalnya berat. Tapi kembali lagi ke tujuan awal. Aku mau Lian bahagia" Jelas Aleena.
"Itulah hebatnya kamu, mungkin kalo Aku. Aku akan fight rebut Lian" Ucap Raya.
"Cinta gak bisa di paksakan, di hati Lian hanya ada kamu. Belum cukupkah selama ini Lian menunggu kamu? Itu udah jadi bukti dari keseriusan Lian sama kamu" Aleena berusaha tenang.
"Doakan Aku dan Lian yah" Ucap Raya kembali memeluk Aleena.
"Aku selalu berdoa untuk kebahagiaan Lian dan juga kamu" Ucap Aleena tulus.
"Thank you so much, kamu memang teman yang menyenangkan" Ucap Raya.
"Udah hampir siang, kita kembali ke kamar" Ajak Aleena.
"Oke" Ucap Raya.
Mereka meninggalkan tempat Spa, untuk kembali ke kamar. Sepanjang perjalanan menuju kamar mereka masih berbincang.
__ADS_1
Ternyata Raya gadis yang baik, nyambung di ajak ngobrol. Aleena semakin yakin Hanya Raya kebahagiaan Lian.
Tiba di kamar Aleena langsung masuk kedalam kamar, terlihat Diaz sedang berada di Balkon. Aleena menghampiri Diaz.
"Kamu gak keluar?" Tanya Aleena berdiri di samping Diaz.
"Malam ini kita ke Rock Bar yuk" Ajak Diaz.
"Boleh" Jawab Aleena.
"Aleena, are you ok?" Tanya Diaz.
"I'm ok" Jawab Aleena tersenyum.
"Aku cemas sama kamu" Ucap Diaz.
"Thanks" Ucap Aleena.
Tiba-tiba Lian masuk ke dalam kamar, lalu menghampiri Aleena dan Diaz.
"Aleena" Panggil Lian sambil meraih tangan Aleena. Untuk membawa Aleena ke luar.
Aleena mengikuti langkah Lian dan terdiam. Lian terus menggandeng tangan Aleena, Lian mengajak Aleena ke arah Ocean Beach menuju pantai.
Lian menatap wajah Aleena dengan lembut, lalu membelai rambut Aleena yang terkena hembusan angin pantai.
"Aleena, maafkan Aku" Ucap Lian memeluk Aleena.
"I'm fine" Ucap Aleena.
"Aku udah banyak Aku buat kamu sedih" Ucap Lian.
"Lian, Asal kamu berada di dekat Aku. Semua rasa sedih itu hilang" Jawab Aleena.
"Meski di satu sisi Aku iri pada Raya, Raya selalu berada dekat dengan kamu" Ucap Aleena lagi.
"Aleena" Ucap Lian pelan.
"Jika berada di dekat Raya itu suatu kebahagiaan buat kamu, Aku juga bahagia" Ucap Aleena tertunduk.
"Maaf Aku cuma bisa buat kamu bersedih" Lian memeluk Aleena lalu mengecup kening Aleena.
"Aku baik-baik aja Lian" Aleena tersenyum. Lalu menatap lurus ke Laut.
"Mungkin dalam pikiran kamu, Aku egois. Gak bisa melepaskan Raya, dan juga gak bisa meninggalkan kamu" Ucap Lian.
"Aku masih terus mencari Pelabuhan hatiku yang sebenarnya" Jelas Lian.
Aleena hanya mengangguk, lalu memegang kedua tangan Lian.
"Lian, Aku percaya kamu. Di manapun kamu melabuhkan hati kamu. Itu pilihan kamu, jangan pernah kamu memilih karena rasa kasian. Cinta itu bukan rasa kasian atau iba" Ucap Aleena.
"Cinta sebuah ketulusan, sebuah kenyamanan, yang benar-benar dari dasar hati" Jelas Aleena.
"Iya Aku paham" Jawab Aleena.
"Jika nanti kamu melabuhkan hati kamu pada Raya, jangan pernah kamu sia-siakan. Karena kamu telah memilihnya. Jagalah cinta yang kamu pilih" Jelas Aleena.
"Apakah kamu berharap kita bisa bersatu?" Tanya Lian.
"Harapan dan doa selalu ada di tiap waktu, tapi semua itu Tuhan yang menentukan" Jawab Aleena.
"Yang pasti apapun itu, Aku selalu berharap semua yang terbaik untuk kita dan Raya" Ucap Aleena.
"Aleena, thanks" Ucap Lian memeluk Aleena.
"Kita harus kembali ke kamar, Aku gak mau Raya salah paham" Ucap Aleena.
Mereka meninggalkan pantai, menuju kamar. Lian lega setelah mendengar ucapan Aleena.
Entah kenapa Lian selalu saja merasa tenang jika berbicara masalah hatinya. Aleena tidak pernah menuntut Lian untuk memilih.
Sekarang Lian harus menentukan hatinya. Siapa yang akan Lian pilih untuk melabuhkan hati dan cintanya.
@Rock Bar.
Aleena tengah menikmati suasana malam ini bersama Diaz. Menikmati keindahan malam di Rock Bar.
"Diaz, menurut kamu salah gak kalo Aku bilang ke Raya untuk segera menikah dengan Lian?" Tanya Aleena.
"What?" Diaz terkejut.
"Beneran kamu bilang itu ke Raya?" Ucap Diaz mengerutkan keningnya.
"Iya, Aku pikir kenapa mereka gak menikah. Mungkin Raya gak akan pergi lagi dari Lian" Ucap Aleena.
"Kamu rela melepaskan Lian?" Tanya Diaz.
"Kalo itu memang kebahagiaan Lian, kenapa gak" Jawab Aleena.
"Aleena kamu korbanin perasaan kamu hanya untuk kebahagiaan Lian" Ucap Diaz kagum.
"Cuma itu yang bisa Aku lakukan untuk Lian" Ucap Aleena yakin sambil tersenyum.
"Semoga Lian bisa peka dan paham, siapa yang benar-benar tulus mencintai Dia" Ucap Diaz.
"Cinta tak harus memiliki..." Ucap Aleena.
Diaz menatap Aleena sambil menghela nafas panjang.
Entah, hati Aleena terbuat dari apa? Aleena mengorbankan banyak hal hanya untuk kebahagiaan orang yang Aleena cintai.
__ADS_1