CINTA Itu KAMU !

CINTA Itu KAMU !
* Diaz yang ceplas-ceplos *


__ADS_3

Lian dan Raya masih berada di Cafe, mereka masih menikmati makan siang.


"Honey, Next week I have to go" Ucap Raya.


"Secepat itu?" Lian terkejut.


"Papa sudah menyuruh Ku pulang, Aku masih mau di sini" Ucap Raya sedih.


"Aku mau ajak kamu ke Bali, weekend nanti" Ucap Lian.


"Really" Ucap Raya senang.


"Iya, sudah lama kita gak liburan. Aku juga mau refresh otak, pusing kerjaan di kantor" Jelas Lian.


"Sebelum kamu kembali, paling gak kita punya cerita indah" Ucap Lian lagi.


"Thanks Honey" Ucap Raya.


Lian menatap wajah Raya, Raya begitu bahagia.


Sengaja Lian tidak memberi tahu Raya, kalau mereka akan berlibur bersama Diaz dan juga Aleena.


Begitu juga Diaz tidak memberi tahu Aleena jika akan berlibur bersama Lian dan Raya.


"Aku harus kembali ke kantor, banyak pekerjaan menunggu" Ucap Lian.


"Aku tunggu kamu di sini" Pinta Raya.


"Aku keluar kantor jam 4, kamu yakin mau tunggu Aku?" Tanya Lian.


"Aku bingung mau kemana?" Ucap Raya.


"Ke rumah Aku aja, biar nanti Diaz yang jemput" Ucap Lian.


"Oke " Ucap Raya setuju.


Lian meraih ponselnya untuk menghubungi Diaz.


"Tuuutttt ,,, Tuuutttt ,,,"


Panggilan tersambung.


"Kenapa Mas" Jawab Diaz.


"Bisa ke kantor Gue? Jemput Raya ajak pulang ke rumah" Ucap Lian.


"Sekarang?" Tanya Diaz.


"Iya, Gue tunggu yah" Ucap Lian.


"Oke" Diaz menutup telpon nya.


"Nanti Diaz jemput kamu, tunggu di sini aja" Ucap Lian.


Raya mengangguk pelan.


Lian melangkah meninggalkan Raya, sesekali Lian melirik ke arah Raya. Sedikit khawatir meninggalkan seorang diri.


Tak lama kemudian Diaz sudah berada di dekat Kafe dekat kantor Lian.


Diaz mencari sosok Raya, terlihat


Raya sedang duduk sendiri menuggunya.


Diaz menghampiri Raya, lalu segera duduk di hadapan Raya.


"Ayo, balik!" Ajak Diaz.


"Bosan, pergi ke tempat lain aja. Sambil tunggu Lian pulang kantor" Ajak Raya.


"Mau kemana? Jam segini Club sama Bar masih tutup. closed!" Ucap Diaz.


"Antar Gue pulang aja deh" Ucap Raya.


"Yakin gak mau ke rumah?" Tanya Diaz.


"Mmmm, kita berenang di tempat Lo"  Ucap Raya.


"Boleh juga, sambil minum Whiskey" Ucap Diaz semangat.


"Good idea " Ucap Raya setuju.


Diaz bersama Raya meluncur ke rumah, benar juga sudah lama mereka tidak berenang sambil minum Whiskey.


Tiba di rumah Raya langsung menuju kolam renang di rumah Lian. Sementara Diaz membawa sebotol Wine dan gelas untuk mereka.


"Ayo Diaz" Ajak Raya yang sudah berada di dalam kolam renang.


"Bentar, Gue mau minum dulu" Ucap Diaz sambil menuangkan Whiskey ke dalam gelasnya.


Diaz menikmati Whiskey teguk demi teguk, sambil menatap Raya.


"Raya memang cantik dan Sexy. Pantas Lian cinta mati sama Raya" Ucap Diaz dalam hati.


Diaz mulai sedikit mabuk, dengan langkah gontai Diaz menghampiri Raya.


"Raya, Lo sadar gak? Kalo Lo itu Sexy" Ucap Diaz sambil tertawa.


"you're getting drunk" Ucap Raya.


"Yes, I'm drunk" Ucap Diaz.


"Kayanya Lo jangan turun deh, Gue takut Lo jatuh" Ucap Raya mengingatkan.


"I'm Fine" Ucap Diaz.


Diaz mulai masuk ke dalam kolam.


"Gila dingin banget" Seru Diaz.


Raya menatap Diaz yang hilang keseimbangan. Hampir saja Diaz terjatuh, Raya menangkap tubuh Diaz.


"Bandel sih Lo" Ucap Raya menggerutu.


Diaz memeluk tubuh Raya, sambil menatap wajah Raya.


"Ayo naik" Ucap Raya sambil menarik tubuh Diaz tepi kolam.


"Gue gak kenapa-kenapa" Ucap Diaz.


"Cheers" Ucap Raya sambil meraih botol Wine lalu menuangkan ke dalam gelasnya.

__ADS_1


"Diaz, Minggu depan Gue balik ke London" Ucap Raya.


"Kenapa Lo gak di sini aja, kasian Lian" Ucap Diaz.


"Papa gak akan kasih ijin" Ucap Raya.


Sambil meneguk Whiskey.


"Lo udah di jodohin kali sama Bule sana" Ucap Diaz ngelantur.


"Ngaco, mana mau Gue di jodohin" Ucap Raya sambil tertawa.


"Terus kenapa?" Tanya Diaz.


"Lo kan tau, Gue anak semata wayang. Mana bisa mereka lepasin Gue" Ucap Raya manyun.


"Lo kalo manyun makin Sexy tau" Ucap Diaz.


"Gombal Lo" Ucap Raya sambil memukul lengan Diaz.


"Serius Raya, secara Gue cowok normal" Ucap Diaz.


"Eh Btw, kenapa Lo gak sama Aleena aja" Ucap Raya yang juga sudah mulai mabuk.


"Gokil, bisa gak di anggap Adek Gue sama Lian"  Ucap Jujur.


"Maksud Lo?" Raya terkejut.


"Haduuhh,,, keceplosan Gue" Ucap Diaz sambil menepuk jidatnya.


"Lian cinta sama Aleena kan maksud Lo?" Raya terus mendesak Diaz.


"Lo kan tau Gue lagi mabuk, jadi rada ngaco ngomong" Ucap Diaz berbohong.


"Hahaha, Lo kalo lagi mabuk lucu banget sih" Ucap Raya sambil mencubit pipi Diaz.


"Haha, sial Lo" Ucap Diaz sambil tertawa.


Mereka masih menikmati Whiskey, sambil terdiam. Entah apa yang ada di pikiran mereka.


"Raya" Seru Lian menghampiri Raya dan Diaz.


"Honey, kamu udah pulang" Ucap Raya sambil menoleh ke arah Lian.


Lian membuka Jas nya untuk menutupi tubuh Raya yang mulai kedinginan.


"Thanks Honey" Ucap Raya.


"Gue cabut ahh" Seru Diaz beranjak dari duduknya.


"Mau kemana Lo?" Tanya Lian.


"Gue gak mau liat adegan 17++ haha" Ucap Diaz tertawa lalu meninggalkan Lian di Raya.


"he's drunk" Ucap Raya.


"You're getting drunk too" Bisik Lian di telinga Raya.


"Aku mabuk cinta" Ucap Raya sambil mengecup bibir Lian. Lian membalas  kecupan Raya dengan langkah gontai


Lian menarik Raya untuk beranjak dari tepi kolam, lalu menuntun Raya masuk ke dalam kamarnya.


"Come on Honey" Ucap Raya.


Lian menatap Raya yang sudah menunggu nya untuk segera memeluknya.


Lian mulai mendekati tubuh raya lalu menindihnya, Lian mulai menghujani tubuh Raya dengan kecupan.


Hingga Raya mendesah dan menjerit halus. Semakin Raya menjerit Lian semakin hilang kendali.


Selalu saja seperti itu jika mereka sudah berdua dan berada di dalam kamar. Itulah alasan mengapa Lian tidak bisa meninggalkan Raya.


Lian harus bertanggung jawab, karena Lian orang pertama yang melakukan ini pada Raya.


Aleena tidak bisa memejamkan matanya, padahal malam semakin larut.


Aleena meraih ponsel yang berada di dekatnya. Aleena membuka Galery foto, di sana ada beberapa foto Aleena bersama Lian.


Aleena tersenyum, ada rasa rindu di hati Aleena. Namun rasa rindu itu sudah terlarang.


Aleena semakin tidak bisa memejamkan matanya, pikiran Aleena selalu tertuju pada Lian.


Entah sedang apa Lian di sana? Pasti Lian sedang bersama Raya. Raya selalu menemani Lian, Raya selalu berada di samping Lian. Perasaan Aleena semakin tidak menentu.


"Lian, Miss you so much" Ucap Aleena dalam hati.


Aleena merindukan senyuman Lian, senyum pertama Lian saat mereka bertemu di Danau kampus. Mata teduh milik Lian, Aleena merindukan semua tentang Lian.


Aleena menarik selimutnya, meredupkan lampu kamarnya. Agar Aleena bisa tertidur.


Dengan harapan agar Aleena bisa bertemu Lian di dalam mimpinya.


"Semoga Lian baik-baik saja" Pinta Aleena dalam doa.


️ 10:00 Am.


"Aleena,,," Panggil Sang Mama membangunkan Aleena. Yang masih tertidur pulas.


"Sayang, ayo bangun sudah siang!" Panggil Sang Mama lagi.


"Hmmmm,,, jam berapa Ma?" Tanya Aleena yang masih memeluk guling nya.


"Jam 10 sayang, kamu gak ke kampus?" Tanya Sang Mama.


"Gak ada kuliah Ma" Ucap Aleena sambil membuka matanya perlahan.


"Sayang, sebenarnya ada apa dengan Lian? Sudah lama kalian tidak pergi bersama ?" Tanya Sang Mama ingin tahu. Sambil membelai lembut rambut Aleena.


Aleena diam tertunduk tertunduk, Aleena menghela nafas panjang.


"Ma, sebenarnya Aku mau cerita sama Mama" Ucap Aleena pelan sambil memeluk Sang Mama.


"Kenapa sayang, cerita sama Mama" Ucap sang Mama mengusap punggung Aleena.


"Sudah  dua Minggu Raya datang, jujur Aku takut. Tapi ini kenyataan kalau Lian memang tidak bisa meninggalkan Raya" Cerita Aleena sambil menangis.


"Sayang, Mama pernah bilang. Berani jatuh cinta, kamu juga harus berani terima resikonya" Ucap Sang Mama bijak.


"Iya Ma, Aku paham. Dan ini sudah menjadi resiko Aku" Ucap Aleena masih terisak.


"Mungkin kamu jatuh cinta pada Lian di saat yang tidak tepat" Ucap Sang Mama menenangkan Aleena.

__ADS_1


"Mama juga tau, Aku ingin Lian bahagia. Dan kebahagiaan Lian itu Raya" Ucap Aleena.


"Iya Mama masih ingat" Ucap Sang Mama.


"Aku akan Bahagia kalau Lian Bahagia" Ucap Aleena sambil tersenyum.


"Sayang, Mama percaya kamu bisa atasi masalah kamu. Karena itu yang akan nantinya membuat kamu makin dewasa" Ucap Sang Mama.


Aleena mengangguk, dan memeluk erat Sang Mama.


"Sayang, Mama dengar dari Papa kamu mau berlibur ke Bali?" Tanya Sang Mama.


"Iya Ma, sama Diaz. Adiknya Lian" Ucap Aleena.


"Adiknya Lian juga Ganteng, jadi ingat waktu dulu Mama lagi mengandung kamu, dan Tante Martha mengandung Diaz. Kami sama-sama berharap kalau anak kami lahir sepasang kami akan jodohkan" Ucap Sang Mama bercerita.


"Maksud Mama?" Tanya Aleena penasaran.


"Iya Mama dan Tante Martha sempat berujar kalau salah satu dari kami melahirkan bayi perempuan dan laki-laki, kelak akan kami jodohkan" Jelas Sang Mama.


"Maksud Mama Aku dan Diaz mau kalian Jodohkan?" Ucap Aleena.


"Itu hanya angan-angan kami dulu, untuk anak jaman sekarang mana ada yang mau di jodohkan. Mereka lebih suka memilih pasangan sendiri" Jelas Sang Mama.


"Tapi apa salahnya kalau kamu mencoba memulai dengan Diaz" Ucap Sang Mama.


"Untuk saat ini Aku belum bisa buka hati untuk orang lain" Jelas Aleena.


"Mama tidak akan memaksa sayang, senyaman kamu saja. Yang penting kamu bahagia" Ucap Sang Mama.


"Thanks Ma" Ucap Aleena memeluk Sang Mama.


"you're welcome" Balas Sang Mama.


"Sekarang kamu mandi, terus sarapan. Sudah siang" Ucap Sang Mama.


"Aku masih mau di kamar dulu ma" Pinta Aleena.


"Nanti Mama suruh Bik Nah bawakan sarapan untuk kamu" Ucap Sang Mama sambil melangkah keluar.


"Oke Ma" Jawab Aleena.


Ponsel Aleena bergetar, lalu berdering. Dari nada dering nya Aleena tau itu notifikasi pesan dari aplikasi Chat WhatsApp. Dan nada dering itu Khusus Aleena berikan untuk Kontak Lian.


Aleena meraih ponselnya, Lalu membuka chat WhatsApp dari Lian.


"I really miss you ❤️"


Pesan Chat WhatsApp dari Lian.


"Deeggg"


Jantung Aleena berdebar.


Aleena bingung, apakah harus membalas Chat WhatsApp dari Lian.


Aleena meletakkan Ponselnya di atas bantal.


Aleena berusaha mengelak, berusaha mengabaikan pesan dari Lian. Aleena takut jika yang mengirim pesan bukan Lian, tapi Raya.


Karena Aleena tau, Raya selalu ingin tahu apa yang ada didalam ponsel Lian.


Aleena kembali meraih ponselnya, untuk memastikan. Dari cara mengetiknya ini ketikan Lian.


"Aleena Myesha Tanu"


Lian mengirimkan pesan lagi.


Aleena tersenyum, melihat pesan yang Lian kirim. Ini benar-benar Lian yang mengirim pesan. Karena hanya Lian yang selalu menyebut nama panjang Aleena begitu lengkap.


Aleena coba membalas pesannya. Aleena mulai mengetik.


"Love of my life ❤️"


Lalu mengirim pesan balasan untuk Lian. Aleena mengetik kembali dan mengirimkan pesan lagi untuk Lian.


"Jika ditakdirkan untuk ku pasti kembali, jika tidak ditakdirkan untuk ku pasti akan hilang"


Semoga Lian paham dengan keadaan ini, Aleena harus menjaga perasaan Raya. Karena Aleena sudah berjanji akan menjadi teman yang baik untuk Lian dan Raya.


Aleena beranjak dari tempat tidur, untuk segera mandi dan sarapan. Sepertinya Aleena akan pergi ke kampusnya.


Aleena akan ke perpustakaan di kampusnya, ada beberapa buku yang akan Aleena kembalikan dan akan meminjam beberapa buku.


"Ma,,," Seru Aleena memanggil Sang Mama.


"Kenapa Sayang?" Tanya Sang Mama.


"Aku mau ke kampus, ada buku yang mau Aku pinjam. Sekalian balikin buku" Ucap Aleena.


"Iya Hati-hati Sayang" Ucap Sang Mama sambil mengecup Pipi Aleena.


Aleena mengangguk, Sambil berlalu meninggalkan Sang Mama.


Taxi Online pesanan Aleena sudah menunggu di depan rumah Aleena.


@Kampus.


Aleena mencari buku yang Ia butuhkan, akhirnya Aleena mendapatkan buku yang Ia cari.


Aleena melirik ke jam tangannya, Pukul 14:14 Wib. Masih siang pikirnya, Aleena melangkah pelan melewati koridor.


Terus saja Aleena melangkah sampai di ujung koridor. Entah mau kemana kakinya melangkah, akhirnya Aleena putuskan untuk ke Danau.


Tempat Pertama pertemuan Aleena dan Lian, dan tempat itu jadi tempat kesukaan Lian.


Aleena duduk seorang diri, tangannya meraba bangku di sebelahnya. Sambil menoleh ke sampingnya.


Beberapa waktu lalu, Lian duduk di sampingnya. Dengan tatapan lurus ke depan, Lian tidak pernah perduli dengan orang-orang di sekitarnya.


Jantung Aleena berdebar, mengingatnya. Apakah ini cinta? Mengapa sesakit ini? Pikir Aleena.


Bener kata Sang Mama, Aleena jatuh cinta di waktu yang tidak tepat. Padahal ini cinta pertama Aleena, untuk pertama kalinya Aleena jatuh cinta pada Lian.


Banyak yang coba menawarkan cintanya pada Aleena, tapi Aleena tidak menanggapi. Aleena hanya menganggap mereka hanya sekedar teman.


Tapi ketika pertama kali melihat Lian, Hati Aleena bergetar apa lagi saat melihat tatapan mata Lian yang begitu teduh.


Karena menurut Aleena Lian itu cowok yang beda, dari kebanyakan cowok yang Aleena kenal.


"Ternyata ini Rasanya Jatuh Cinta" Ucap Aleena dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2