
Pukul 22.47.
Terdengar suara Bik Nina sedang membuka pintu dan menyambut kedatangan Tuan dan Nyonyanya Alias Papa dan Mama Lian.
Ya ,,, malam ini mereka tiba dari New York, Mereka pulang ke Jakarta jika hanya ada hal Urgent untuk perusahaan mereka saja. Selebihnya kedua orang tua Lian menghabiskan waktu di sana.
Lian menarik kembali selimutnya Ia enggang beranjak dari tempat tidurnya. Besok pagi saja Lian akan menemui mereka saat breakfast.
Pukul 07, 17.
"Tok ,,, Tok ,,, "
Suara pintu diketuk , Lian terjaga dari tidurnya karena suara ketukan pintu.
"Mas Lian ,,, " Seru Bik Nina dari balik pintu.
"Ya ,,, Bik" Dengan suara malas Lian menjawab panggilan Bik Nina.
Lian tau Sang Mama sudah menantinya di Meja makan untuk sarapan.
Entah mengapa Lian menganggap Orang Tua nya seperti orang asing. Jika bersamanya serasa kaku.
Dengan langkah gontai Lian menuju kamar mandi, setelah itu Lian akan menemui kedua Orang Tuanya untuk sarapan bersama.
Lian menuruni anak tangga, menuju ruang makan di sana sudah terlihat Papa dan Mama nya menunggu Lian.
Lian menggeser Kursi untuk Ia duduk.
"Sayang, kamu gak peluk Mama?" Seru sang Mama menghampiri Lian lalu memeluk Lian.
"Kabar Mama dan Papa gimana?" tanya Lian.
"Good Baby ,,, " ucap sang Mama sambil mengusap kepala Lian.
"Rindu rumah, rindu makan bersama" ucap Sang Mama.
Lian hanya tersenyum tipis.
"Lian, Ada hal penting yang ingin Papa sampaikan !"
Seru sang Papa. Lian hanya mengangguk pelan.
Usai sarapan Mama dan Papa Lian menunggu nya di ruang keluarga. Lian menghampiri mereka, dan duduk di sebelah Mamanya. Jujur Lian sangat Rindu pelukan Mamanya.
"Lian,,, " panggil sang Papa.
Lian menatap wajah sang Papa.
"Papa mau kamu membantu Papa dan Mama untuk anak perusahaan kami" Ucap Sang Papa.
"Kami sudah siapkan posisi baik untuk mu di anak perusahaan kami, Papa dan Mama berharap kamu sudah siap Nak." lanjut Sang Papa.
"Ada kemungkinan Papa akan Buka jalur dengan rekan Bisnis Papa dari luar" tambah Sang Papa.
"Lian sayang, hanya kamu harapan kami Nak." sambung Sang Mama.
"Maksud Papa jalur luar? Luar Negeri ?" Tanya Lian ingin tau.
"Iya Nak" Jawab Sang Mama.
"Boleh tau dimana?" Tanya Lian lagi.
"Antara Amsterdam dan London" Ucap Sang Papa.
"London " Ucap Lian dalam hati.
"Apa Aku bisa di tempatkan di London" Tanya Lian.
"Itu baru rencana, kami masih mencari koneksi yang baik untuk buka jalur disana. Untuk sementara kamu di Jakarta sambil belajar" Terang Sang Papa.
"Lian, please jangan kecewakan kami" sambung Sang Mama.
Lian hanya menghela nafas panjang.
"Kasih Aku waktu untuk berfikir" Ucap Lian.
"Iya, Mama yakin kamu gak akan kecewakan kami" Ucap Sang Mama.
__ADS_1
Lian duduk di Balkon kamarnya , di temani sebotol Wine. Lian masih memikirkan tawaran Papanya, untuk bekerja di perusahaan Papanya. Mungkin sudah waktunya Lian memikirkan masa depan.
Bekerja, menikah, dan memiliki Anak. Sejauh itu Lian berfikir, entah menikah dengan siapa pikir Lian.
Terlintas senyuman manis Aleena dan juga Raya, entah Lian masih belum yakin. Apakah Lian harus terus menunggu Raya tanpa berujung, Atau mencoba buka hati untuk Aleena?.
"Lian ,,, boleh Mama join disini?" Tiba-tiba Sang Mama duduk di samping Lian.
"Mama gak sibuk?" Tanya Lian sambil menatap wajah Sang Mama.
"Mama kangen kamu dan Diaz ,,," Ucap sang Mama.
"Maafkan Mama Nak, karena terlalu sibuk dengan pekerjaan membuat kalian seperti ini" Ucap Sang Mama menyesal.
Lian hanya menarik nafas dan meneguk wine yang ada di tangannya.
"Kalo Mama gak bantu Papa, Kasian Papa harus bekerja sendiri. Sudah waktunya Papa beristirahat beberapa tahun lagi. Kami berharap Kamu dan Diaz bisa menggantikan posisi kami nantinya" Ucap sang Mama penuh harap.
"Aku belum bisa putuskan keinginan Mama dan Papa" Ucap Lian.
"Iya Mama tau, pikirkan baik-baik. Dan kami harap keputusan kamu tidak mengecewakan kami" Ucap sang Mama.
"Mama berapa lama di Jakarta?" Tanya Lian.
"Sampai kamu sudah putuskan mau bergabung bersama perusahaan kita, Mama dan Papa akan persiapkan semua untuk kamu" Jelas sang Mama.
"Iya ,,, Mama dengar dari Bik Nina kamu lagi dekat sama seseorang yahh ?" Tanya Sang Mama.
Lina hanya mengangguk.
"Next, sebelum kami pergi ajak Gadis mu itu kerumah yah. Pasti Dia anak yang cantik" Ucap Sang Mama sambil mengusap rambut Lian.
"Oke ,,," Jawab Lian singkat.
"Siapa nama Gadis itu?" Tanya Sang Mama.
"Aleena" Jawab Lian.
"Semoga dengan adanya Aleena di hari-hari kamu bisa buat kamu jauh lebih baik" Ucap sang Mama berharap.
"Tidak Na, setelah Raya pergi dan Diaz juga pergi. Mama tau apa yang kamu rasakan " Ucap sang Mama.
"Bik Nina sudah cerita banyak tentang Aleena dan kamu, banyak perubahan dari kamu sayang" Ucap Sang Mama.
"Tapi ,,, Lian masih menunggu Raya" Ucap Lian.
"Ikuti kata hati kamu Nak,,," Ucap Sang Mama bijak.
"Entahlah Lian masih belum bisa lupakan Raya, Aku juga gak berharap banyak dengan hadirnya Aleena" Ucap Lian.
"Mama selalu berdoa untuk kamu dan Diaz agar kelak kalian selalu bahagia" Ucap Sang Mama sambil memeluk Anak sulungnya.
Lian Membalas pelukan hangat Sang Mama, yang sudah lama tidak memeluknya. Lian rindu dengan suasana seperti ini.
Selama ini hanya ada Bik Nina, yang selalu ada dan selalu siap menjadi sandaran Lian disaat rapuh.
Tapi kali ini Lian Sangat bahagia, Sang Mama begitu kawatir dengan dirinya dan juga Diaz adik satu-satunya Lian yang masih berada di Belanda.
"Lian kangen Saat-saat kaya gini. Lian juga kangen Diaz" Ucap Lian terharu.
"Setelah urusan Mama dan Papa selesai, sebelum kembali ke New York makan akan transit ke Amsterdam untuk menjenguk Diaz. Dan Mama harap Diaz mau mendengarkan keinginan Mama untuk pulang dan kuliah di Jakarta lagi" Ucap Sang Mama berjanji.
"Janji yah Ma ,,," Ucap Lian berharap.
"Yes, i promise " Ucap Sang Mama sambil mengecup kening Lian.
"Thanks Ma" Ucap Lian tersenyum.
"Ok, Teke a rest ,,," Ucap Sang Mama.
Sang Mama melangkah meninggalkan Lian yang masih berada di Balkon kamarnya.
Lian melangkah kedalam kamarnya, Lian mendekati meja dekat tempat tidurnya. Lian meraih foto Raya lalu memandangi Foto Raya.
"Entah kenapa begitu sulit melupakan kamu dan semua cerita kita" Ucap Lian.
"Tapi ada satu hari dimana Aku akan meninggalkan semua tentang kamu dan kita" Ucap Lian lagi.
__ADS_1
Lian meletakkan kembali foto Raya, lalu merebahkan tubuhnya dibatas kasur. Lian menatap ke arah jam dinding, baru pukul 11 siang.
Lian ingin bertemu Aleena, Lian mengingat hari ini apakah Aleena ada jam kuliah. Lian tersenyum lalu melangkah menuju kamar mandi untuk segera mandi dan menemui Aleena di kampus.
@Kampus.
Aleena tengah mencari buku di perpustakaan, setelah dapat Aleena meraihnya lalu Ia mencari kursi dan meja yang kosong.
Aleena akan mencatat beberapa materi untuk mata kuliah nya.
"Kemana aja sih Lo" seru Tara menghampiri Aleena lalu duduk di hadapan nya.
Aleena terkejut dengan kedatangan Tara yang tiba-tiba muncul. Aleena tersenyum jahil.
"Bukan nya Lo yang ngilang" balas Aleena tersenyum.
"Idihh, situ kali kencan Mulu sama Si Gunung Es" goda Tara.
"What's?" Ucap Aleena malu.
"Bukan rahasia lagi Aleena sayang" ucap Tara sambil mencubit pipi sahabatnya.
"Kayanya ada kemajuan nih, Lo udah bisa taklukin Si gunung es" goda Tara lagi.
"Haha, bisa aja Lo" Aleena tersipu.
"Gimana udah di tembak belum?" Ucap Tara ingin tahu. Aleena menghela nafas.
"Entahlah, semua berjalan begitu aja. Gak ada komitmen" jelas Aleena.
"Ko bisa?, Minta kepastian dong"
"Cuma tunggu waktunya aja" Ucap Aleena.
"Yang penting Lo Heppi gue seneng ko" Ucap Tara sambil memeluk sahabatnya.
"Heeii,,," Dan tiba-tiba Lian sudah berada di hadapan Aleena dan Tara.
"Aku culik lagi yahh ,,,, " Ucap Lian tersenyum.
"Mau ,,, nyulik ko bilang? Hehe ,,, " Ucap Tara kaku.
"He'eh . Boleh gak temennya Aku culik?" Tanya Lian pada Tara.
"Ohh, kalo di culik sama Pangeran mahh silahkan aja" seru Tara menggoda sambil menyenggol bahu Aleena.
"Lian, ini Tara sohib Ter The best aku" ucap Aleena sambil merangkul Tara.
"Haii, Tara" sapa Lian. Tara tersenyum.
"Hmmm ,,, Lian bener juga kata Aleena. Ternyata kalo Lo senyum itu Dunia berasa beda yahhh " Ucap Tara dengan polos dan jujur banget dari hati.
"Emang temennya cerita apa aja? " Tanya Lian penasaran.
"Udahh ,,, udahh ,,, Ayo kita pergi " Aleena berusaha menahan Tara agar tidak terus bercerita.
"Ra, gue cabut dulu yah" Ucap Aleena beranjak dari duduknya.
"Oke, gue tunggu cerita selanjutnya" seru Tara.
"Siippp" Ucap Aleena.
Lian dan Aleena melangkah keluar perpustakaan, sepanjang koridor Lian menggandeng tangan Aleena.
Semua mata tertuju pada mereka.
Ada rasa Bangga dan sedikit malu di hati Aleena.
Bangga karena bisa dekat dengan sosok Lian yang terkenal Dingin, malu karena Lian menggandeng nya sepanjang koridor.
"Kamu liat ,,, semua mata tertuju pada kita! " Seru Aleena.
"Kenapa? Kamu malu jalan sama Si Gunung Es?" Tanya Lian.
"Nope ,,, i'm so happy . Dan Aku akan merubah semua pemikiran mereka tentang kamu " Jelas Aleena.
"Thanks ,,, " Ucap Lian.
__ADS_1