CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
10. Presdir yang menyebalkan


__ADS_3

...Happy Reading...


Untuk mendapatkan apa yang kamu suka, pertama kamu harus sabar dengan apa yang kamu benci.


Terkadang hidup yang kau keluhkan adalah hidup yang sangat didambakan oleh orang banyak.


Kesabaran itu ada dua macam yaitu sabar atas sesuatu yang tidak kau ingin dan sabar menahan diri dari sesuatu yang kau ingini.


Begitu juga dengan Rinjani, ingin sekali dia menolak untuk tinggal dirumah Samuel, namun tawaran yang begitu menggiurkan itu tidak dapat dia tolak, semenjak ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakaan yang tragis bahkan sampai sekarang pun dia belom tahu siapa pelaku penabrak ayahnya yang langsung meninggal seketika, ibu Rinjani membiayai keluarga sendiri dengan membuka catering dari uang tunjangan kematian suaminya, dia bahkan tidak berniat menikah lagi, dia hanya ingin melihat anak-anaknya sukses kelak, walau dia harus bekerja sendiri dan dibantu kedua anaknya itu, namun dia sudah cukup bahagia, bahkan sekarang catering ibu Rinjani sudah berkembang lumayan pesat, dia bisa membayar beberapa karyawan, sehingga anak-anaknya bisa belajar tanpa harus membantunya seperti dulu lagi.


Memang ada yang janggal saat kecelakaan itu terjadi, mereka segera menutup kasus itu tanpa memperpanjang masalah, sedangkan ibu Rinjani hanya bisa pasrah saja, karena mereka tidak punya cukup uang untuk menggugat balik sang pelaku saat itu, hanya bisa mengikhlaskan walau sebenarnya hati tidak rela, karena memang ajal seseorang sudah digariskan bahkan semenjak manusia itu belum lahir ke dunia.


" Dad..."


" Yoyo senang sekali."


" Akhirnya Yoyo punya Daddy dan Mommy malam ini!" Yoyo berbicara dengan raut wajah yang berbinar.


" HAAH..?"


" MOMMY..?" Samuel dan Rinjani serentak berteriak dan terkejut bersamaan.


" Halaaaaah.."


" Biasa aja dong, nggak usah teriak-teriak gitu!" Yoyo berucap layaknya anak yang sudah dewasa namun sebelum waktunya.


" Yoyo sayang... Mommy kamu sudah----" Samuel ingin menjelaskan kepada Yoyo, dia juga tidak mau Rinjani salah paham.


" Iya... iya.. tahu!"


" Mommy sudah ada diatas sana."


" Dia sudah tenang disisi sang pencipta!"


" Walau begitu dia masih bisa melihat Yoyo!"


" Dan akan marah jika Yoyo nakal!"


" Ckk... sudah ribuan kali daddy mengatakannya!" Yoyo berbicara panjang lebar sambil memeluk bantal gulingnya yang selalu dia bawa kemana-mana.


" Good boy!"


" Jadi Yoyo nggak boleh sembarangan panggil orang dengan sebutan Mommy okey?" Samuel tersenyum lega, Yoyo memang sebenarnya sangat pintar namun yang namanya anak-anak memang terkadang sering bertingkah diluar dugaan.


" Hmmm.." Yoyo hanya bisa melengoskan wajahnya.


" Kakak.. ayo bacakan cerita sekarang!"


" Cerita apa saja, yang penting jangan cerita pelajaran hidup!"


" Karena hidupku sudah berat!" Ucap Yoyo dengan imutnya, yang langsung membuat Rinjani syock mendengarnya.


" Astaga ni bocah!"


" Apa dia sudah tahu tentang pelajaran hidup!" Umpat Rinjani perlahan sambil komat-kamit seperti mbah dukun.


" Kakak..!" Teriak Yoyo karena melihat Rinjani terbengong melihatnya.


" Ahh yaa.. maaf kakak terkejut tadi, hehe..!" Rinjani tersenyum takjub melihat bocah yang satu ini.


" Okey.. Kalau begitu kita pilih dulu, judul cerita mana yang kamu suka?" Rinjani mengambil tumpukan buku cerita anak-anak yang dia beli tadi sebelum pulang kesini.


" Jangan bacakan cerita yang membodohi pikiran anak-anak!" Ucap Samuel dengan datar, dia memang tidak pernah sama sekali membacakan cerita dongeng untuk Yoyo, kalau Yoyo ingin dibacakan buku sebelum tidur dia sering membacakan tentang ilmu pengetahuan alam dan sebagainya.


" Astaga pak!"


" Nggak mungkin buku cerita ini terbit kalau sampai meracuni pikiran anak-anak generasi masa depan!" Umpat Rinjani tidak habis pikir, bagaimana Yoyo bisa hidup bahagia jika


anak seumuran dia dibacakan buku yang berat-berat pikirnya.


" Emm... Yoyo, bagaimana kalau kakak bacakan Legenda Malin kundang saja?" Rinjani mengambil satu buku tentang cerita rakyat jaman dahulu kala.


" JANGAN..!"


" Apa kamu ingin mengajarkan Yoyo untuk membantah orang tua seperti Malin Kundang ha!" Samuel langsung menarik paksa buku cerita itu dari tangan Rinjani.


" Astaga pak!"


" Ini kan cuma dongeng?"


" Ada banyak nasehat yang baik didalam kisahnya nanti!" Rinjani hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat keposesifannya terhadap Yoyo.


" Yang lain saja!" Samuel tidak menerima bantahan didalam hidupnya.


" Ckk..." Akhirnya dia hanya bisa berdecak kesal sambil meliriknya.


" Okey... kalau begitu ganti ya Yo." Mengalah adalah perbuatan yang tepat saat berhadapan dengan Samuel ini.


" Emm.. bagaimana kalau Dongeng gadis berambut emas saja ya?" Rinjani kembali mengambil buku lainnya, untung saja dia beli banyak buku tadi.

__ADS_1


" NOO...!"


" Mana ada manusia berambut emas!"


" Bacain buku yang benar dong!"


" Jangan menipu anak!" Samuel kembali merebut buku ditangan Rinjani yang sudah melotot kesal.


" Paaakkk...!"


" Ini hanya sekedar fairytale, right?"


" Bukan sungguhan pak Sam!"


" Membacakan dongeng sebelum tidur menenangkan Anak-anak pak, jadi tidak harus sungguhan."


" Yang penting membiasakan Pola Tidur Sehat."


" Menumbuhkan Minat Baca anak, nggak cuma handphone saja yang dia lihat."


" Selain itu bisa merangsang Imajinasi dan Kreativitas anak!"


" Juga dapat mengenalkan Nilai Moral Positif dari sebuah dongeng."


" Tidak melulu buku pelajaran, agar otaknya juga tidak gampang stres!" Umpat Rinjani panjang lebar.


" Daddy..."


" Jangan protes mulu dong!"


" Kapan dibacainnya nih!" Yoyo menutup kedua telinganya saat mendengar perdebatan mereka berdua.


" Yoyo sayang?"


" Tapi memang didunia nyata mana ada manusia berambut emas dong?"


" Memangnya darah dan hormon yang mengalir ditubuh kita itu terbuat dari emas apa?"


" Kenapa bisa tumbuh rambut emas coba?"


" Its not impossible, right?" Samuel tetap membantahnya dan tetap kukuh pada pendiriannya.


" Daddy shut up please!" Teriak Yoyo makin kesal.


" Daddymu memang nggak asyik Yo!"


" Suruh dia balik kekamarnya saja!"


" Tidak!"


" Aku juga mau tidur ditemenin daddy malam ini!" Yoyo tetep memilih daddynya menemaninya tidur.


" Weerrkkk!" Samuel menjulurkan lidahnya untuk meledek Rinjani yang makin kesal saja dibuatnya.


" Huuufftt..."


" Sabar-sabar!" Rinjani mengelus da danya sendiri agar tidak emosi meladeni orang super duper menyebalkan seperti Samuel itu.


" Okey kalau gitu, bapak saja yang membacakan cerita untuk Yoyo!" Ucap Rinjani sudah malas jadinya.


" Nggak!"


" Apa gunanya kamu disini!" Samuel langsung menolaknya,dia sudah memberi tawaran yang sangat fantastis, masak tidak dipergunakan dengan baik dan benar, jiwa bisnisnya langsung memberontak.


" Astaga!"


" Nanti bapak protes lagi!"


" Baca ini salah baca itu salah!" Tanpa sadar Rinjani menaikkan satu oktaf suaranya, karena terlalu kesal dengan permintaan Samuel yang dirasa tidak masuk akal itu.


" Kamu---" Belom sempat Samuel membalas ucapan Rinjani Yoyo langsung berteriak.


" STOOOP..!"


" Jangan berantem lagi!"


" Sakit telingaku gara-gara kalian!" Yoyo langsung berdiri dan berkacak pinggang diantara mereka.


" Daddy kamu yang berisik Yo!" Rinjani tidak mau kalah.


" Kakak juga sama!"


" Kalian berdua berisik!" Yoyo bahkan terlihat menjadi orang yang lebih dewasa diantara mereka bertiga.


" Jadi maunya Yoyo gimana dong sayang?" Rinjani menghela nafas panjangnya.


" Kakak geser kekanan!"


" Merapat disamping daddy!" Yoyo langsung loncat dan mendorong tubuh Rinjani mendekat kearah Samuel.

__ADS_1


" Yoyo disebelah sini saja!" Yoyo menempati tempat Rinjani tadi.


" Tapi Yo..."


" Arggh... kakak tidak mau Yo!"


" Kakak janji nggak akan berdebat lagi, sekarang kita ganti posisi semula okey?" Rinjani langsung terduduk, yang benar saja, seumur-umur dia belom pernah tidur berdekatan dengan lawan jenis yang bukan muhrim pikirnya.


" DIAM..!"


" Sekarang kakak tidur!"


" Aku sudah lelah mendengar suara jelek kalian!" Yoyo langsung menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya.


" Ckk.."


" Gayamu... bilang saja kamu suka!"


" Wanita diluaran sana itu, yang seksi-seksi, cantik mempesona, mereka berebut ingin tidur satu ranjang denganku!"


" Tapi aku selalu saja menolaknya!"


" Harusnya kamu bersyukur aku tidak menendangmu!"


" Jangan banyak gaya, dan satu lagi..."


" Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan!" Samuel berbicara panjang lebar dan langsung berbalik memunggungi tubuh Rinjani.


" Woaaaahhh... kalian luar biasaaaa!" Hanya itu yang bisa Rinjani ucapkan setelah melihat sikap dan ucapan anak dan ayah yang sama-sama gila itu menurutnya.


Akhirnya Rinjani mulai mencoba memejamkan kedua matanya, walau terasa sulit namun dia terus berusaha agar bisa terlelap, dari berhitung dari satu sampai seribu bahkan menghitung bebek, ayam dan kawan-kawannya berulang kali agar dia bisa menggapai mimpi malam ini.


Saat pagi menjelang, Weni melihat Yoyo turun sendiri dari kamar menuju meja makan, dia bahkan belum mandi saat itu.


" Yoyo sayang?"


" Kak Rinjani mana?"


" Kata daddymu mulai sekarang dia tinggal disini nak?"


" Kok kamu belum mandi juga?"


" Sekarang dimana kak Jani?" Weni terkejut melihat Yoyo belum bersiap jam segini, biasanya dia sudah rapi dan wangi saat akan menyantap sarapannya.


" Masih tidur dengan daddy!" Ucap Yoyo dengan santainya sambil menggigit roti bakar yang disiapkan simbok diatas meja untuknya.


" Apah?"


" Tidur dengan daddy?" Weni sontak terkejut.


" Hmmm..!" Yoyo tetap memakan rotinya tanpa ekspresi apapun, hanya tetap menikmati sedapnya roti dengan selai strawbery kesukaannya itu.


" Kamu nggak bohong kan nak?" Weni malah tidak percaya.


" NO..!"


" Yoyo tidak pernah berbohong!"


" Grandma lihat saja sono sendiri!"


" Mereka masih berpelukan dikamar Yoyo!" Ucap Yoyo dengan santainya.


" APAAA..!"


" Berpelukaaaan!"


" Woaaahh... benar-benar tu bocah!"


" Minta dikawinkan eh... dinikahkan sekarang juga apa bagaimana sih!" Weni langsung berjalan cepat menaiki tangga menuju kamar Yoyo.


Saat pintu terbuka, benar saja ternyata Samuel dan Rinjani sedang berpelukan dengan mesranya, bahkan Rinjani terlihat sangat nyaman menyembunyikan wajahnya dida da bidang Samuel, begitu juga Samuel memeluk dengan erat tubuh Rinjani.


" SAAAAMMMMMM...!"


" JAAAAANIIIIIIIIIIIII...!"


Weni berteriak dari depan pintu, bahkan Yoyo yang ternyata ngekor dibelakangnya menutup kedua telinga dengan kedua tangannya sambil tertawa.


" Waaaah... Daddy dan kak Jani mesra sekali kan grandma, hihihi..!" Yoyo terkikik melihat mereka berdua yang masih belum bangun juga.


" Yoyoooo...!"


" Tutup mata kamu!" Weni menarik Yoyo kebelakang dan menutupi kedua matanya.


..." Kau tak akan pernah bahagia jika kau terus mencari kebahagiaan itu seperti apa. Kau pun tak akan pernah hidup jika kau masih mencari makna kehidupan."...


..." Bukan hanya semata-mata takdir Tuhan yang mengharuskan kita bahagia, tapi kitalah yang harus membuat diri kita berbahagia."...


Jangan lupa dukungan kalian ya?

__ADS_1


Jempol kalian author tunggu lho ya?


__ADS_2