
...Happy Reading...
Hangatnya mentari pagi ini, seolah tidak menambahkan rasa semangat seorang wanita yang ingin dilamar oleh kekasihnya, bahkan tadi malam dia hanya terlelap beberapa saat saja, sampai dia kembali terbangun saat datangnya waktu subuh.
Dia hanya duduk bersandar ditempat tidurnya dengan tubuh tertutup oleh selimut tebal, dengan tatapan kosong dan pikiran yang sudah melalang buana entah sampai kemana.
Bayangan Marvin dan kata-kata terakhirnya "Niar, aku sayang kamu", selalu saja mondar mandir di Mindanya, membuat akal sehatnya seolah terganggu ingin memberontak, namun apa daya, dia tidak ingin melukai hati kekasihnya yang sudah dia pertahankan dan dia perjuangkan bertahun-tahun sampai saat ini.
" Selamat pagi calon setengah halal, udah ngebet banget apa bagaimana tuh burung? kenapa tiba-tiba mau melamarmu kawan?" Tiba-tiba lamunanya terhenti saat ocehan seorang wanita yang suaranya selalu saja memekakkan telinga Niar.
" Ckkk.." Hanya decakan saja yang keluar dari mulut Niar.
" Kenapa masih bau iler woiii... jadi mau tunangan enggak nih?" Rinjani langsung melompat dan duduk dikasur empuk milik Niar.
" Argh... aku pusing! bisa tolong mundurin acaranya jadi seminggu lagi nggak sob, atau sebulan lagi gitu!" Teriak Niar langsung kembali berbaring dan menyembunyikan wajahnya didalam selimut tebal miliknya.
" Kamu ini ngomong apa sih Lurr? bangun woii... semua sudah siap didepan?" Rinjani menarik-narik selimut Niar dengan gemas, dia kesal sendiri melihat tingkah kawannya itu, sudah lama dia curiga dengan kedekatan Niar dengan Marvin, namun dia tidak begitu menggubrisnya karena Niar tidak pernah bercerita apa-apa dengannya, hingga tiba-tiba dia mendengar sahabatnya itu akan dilamar, itu pun secara mendadak sekali menurutnya.
Dan saat mendengar cerita dari Samuel tentang keadaan Marvin tadi malam, dia semakin yakin kalau dua orang sahabatnya itu memang sebenarnya saling jatuh cinta, namun belum ada yang mau mengakui sampai hari ini tiba.
" Biarkan aku tidur sebentar lagi, aku masih ngantuk, kamu keluar saja dulu sana, ibuk masak rendang jengkol kesukaanmu!" Ucap Niar yang sebenarnya sedang meneteskan air mata kesedihannya, saat melihat Rinjani malah wajah Marvin yang kembali terbayang, karena dua sosok itu yang sering kali dia lihat.
" Dasar wong edan, mana ada orang lamaran menunya rendang jengkol, bangun nggak, aku mau ngomong serius sama kamu! ayok...bangun Niar!" Teriak Jani sambil memukul-mukul tubuh Niar dengan kesal.
" Gw lagi nggak mood ngomong sama elu, lain kali saja!" Niar memelankan suaranya, bahkan saat ini suaranya berubah menjadi sedikit parau nadanya.
" Niar.." Rinjani paham betul dengan apa yang dialami sahabatnya sekarang.
" Keluar Jani, aku mau sendiri dulu!" Teriak Niar sambil terisak, dia sama sekali tidak bisa bersandiwara didepan Rinjani.
" Niar... aku tahu apa yang kamu rasakan saat ini, sekarang kamu bangun ya, masih belum telat jika kamu ingin mengakhiri semuanya." Jani ikut berbaring dan memeluk tubuh sahabatnya yang masih meringkuk didalam selimut.
" Mumpung pihak keluarga pria belum datang, aku temenin kamu kerumah Dito, okey?" Jani sudah menduga dan memikirkan ini semua sebelum dia berangkat tadi, makanya dia sengaja datang lebih awal ke rumah Niar.
" Tapi kamu bilang semua sudah siap, kamu mau keluargaku malu jika aku pergi sekarang?" Akhirnya kepala Niar muncul dari dalam selimut.
__ADS_1
" Ckkk... cinta memang selalu saja membuat orang menjadi bodoh!" Rinjani menyentil kening Niar dengan gemas.
" Aww.. sakit Jan, hiks.. hiks.." Umpat Niar makin pecah tangisnya saat mata Rinjani melotot kearahnya.
" Nggak usah drama deh, cuma disentil doang, nangisnya kayak disakitin parah saja." Rinjani malah menoyor kembali kepala Niar.
" Memang sakit boneng, walau bukan keningku, tapi hatiku." Niar langsung memeluk tubuh sahabatnya dan menumpahkan segala kesedihannya disana.
" Aisshh... basah kebaya mahalku nanti Lurr!" Umpat Jani di mulut saja, namun dia langsung mengeratkan pelukannya dan menepuk lembut punggung sahabat karibnya, mencoba memberikan sedikit kekuatan.
" Kamu ini perhitungan banget sih jadi temen, tinggal beli lagi aja apa susahnya? sudah miskin laki luu, nggak kuat lagi beli kebaya mahal, hah?" Niar kembali berteriak seolah melampiaskan kekesalannya disana dengan kata-kata lain.
" Niar... lain kali kamu jujur sama aku dong? kalau ada apa-apa itu cerita dulu, baru ambil keputusan." Rinjani langsung berbicara ke inti masalahnya saat Niar seolah sudah bisa diajak ngomong lebih serius.
" Aku nggak tahu kalau kejadiannya akan seperti ini Jan, aku ngak tau kalau dokter Marvin itu ternyata---" Dia seolah tidak berani melanjutkkan perkataannya tentang Marvin.
" Arrgghh... aku benci dokter Marvin gilak itu, aku benci dia!" Teriak Niar kesal, lain dihati lain pula yang keluar dari mulut Niar.
" Sekarang baru aku percaya, kalau benci itu memang singkatan dari benar-benar cinta." Ucap Rinjani yang langsung lemas saat mendengarnya, dia sudah bisa menyimpulkan tanpa harus dijelaskan.
" Lalu kenapa kamu langsung menerima lamaran dadakan dari Dito begitu saja kemarin?" Jani mengguncang bahu Niar, merasa heran sendiri jadinya.
" Harusnya kamu minta waktu untuk berfikir dulu, jangan terburu-buru, semua keputusan yang kita ambil secara terburu-buru hasilnya tidak akan baik Niar?" Jani lun juga ikut bingung harus memberikan solusi seperti apa.
" Karena memang sudah lama aku menunggunya, jadi saat dia tiba-tiba bilang mau melamar, aku iya in aja langsung." Jawab Niar dengan jujur, bahkan tahun lalu dia sendiri yang merengek minta dilamar, namun Dito masih meminta waktu dan saat itu Niar belum mengenal sosok Marvin.
" Trus kenapa sekarang kamu malah jadi menyesal boneng! harusnya kamu bahagia karena Dito mau melamar kamu, trus kenapa elu malah mewek kejer begini?" Teriak Rinjani semakin bingung karenanya.
" Tadi malam Dokter Marvin bilang kalau dia--" Niar semakin terisak saat mengingat ucapan Marvin yamg mampu membuat kacau pikirannya dalam semalam itu.
" Emang bilang apa dia?" Rinjani malah jadi emosi sendiri, dia jadi tidak sabar-an sekarang.
" Dia.. dia bilang kalau dia---" Niar seolah ragu ingin mengatakannya atau tidak.
" Dia.. dia muluk, Marvin ngomong apaan, buruan ngomong keburu siang ini Lurr!" Rinjani bahkan mengguncangkan kedua bahu Niar semakin kuat karena sudah tidak sabar menunggu cerita kelanjutannya.
__ADS_1
" Niar... aku sayang kamu, gitu.. hiks.. hiks.." Niar kembali memeluk tubuh Jani setelah mempraktekkan ucapan Marvin, bahkan mengusapkan ingusnya dikebaya mahal Rinjani.
" Diihhh... jangan jorok Niar!" Rinjani langsung mengibaskan bajunya dengan kesal.
" Arrghhh... aku harus bagaimana ini Jan, aku jadi bimbang dan ragu ini, Dokter Marvin sepertinya marah banget denganku tadi malam, aku nggak tega nyakitin dia seperti itu sebenarnya?"
" Aku juga mengusirnya, apa aku sungguh keterlaluan Jan?"
" Bahkan tadi malam mereka hampir berantem Jan, sebenarnya aku cuma nggak mau ngecewain Dito, karena aku tuh sayang banget sama dia."
" Tapi aku juga bingung, kenapa akhir-akhir ini dokter gilak itu yang selalu saja mondar mandir di otakku, aku harus apa sekarang Jan?"
" Apa otakku yang bermasalah, aku takut Jan?" Niar makin merengek dipelukan Jani yang sudah memejamkan kedua matanya, dia ikut pusing jadinya, ingin memberikan saran seperti apa yang terbaik untuk semua.
" Hah, ruwet!" Jani bahkan tidak lagi memikirkan dandanan rambutnya yang tadi sudah dia keriting gantung dengan rapi seperti wanita sosialita, sekarang sudah kusut karena ulah Niar.
" Jan... bagaimana keadaan dokter Marvin sekarang?" Setelah mereka hening sesaat dengan pemikiran masing-masing, Niar malah memberikan pertanyaan yang membuat suasana semakin menjadi runyam.
" Apa kamu juga mencintainya?" Jani menatap kedua bola mata Niar, mencari kejujuran yang mungkin dia sembunyikan dari sana.
" Aku tidak tahu Jan, aku cuma nyaman saja saat berada didekatnya, walau saat bertemu kita sering beradu mulut terlebih dulu, namun setelahnya kami selalu tertawa bahagia." Niar mengingat moment-moment kebersamaanya dengan dokter tampan itu.
" Berawal dari kata nyaman dan akhirnya kamu sendiri yang kuwalahan." Jani menegakkan tubuhnya dan berdiri membenarkan baju kebaya mahalnya.
" Mau kemana Jan? elu nggak beneran mau ninggalin gw disaat-saat seperti ini kan Jan?" Padahal dia sendiri tadi yang mengusirnya, namun saat Jani baru beranjak satu langkah saja, dia sudah kalang kabut sendiri.
" Huuft..." Jani meniup poni rambutnya yang sudah berantakan.
" Kalau sebuah masalah tidak ada jalan keluarnya, maka kita yang harus pergi keluar, untuk jalan-jalan." Ucap Rinjani dengan santainya, dia berjalan keluar kamar dengan langkah gontai seolah tanpa ada beban dan masalah.
" Apa? pergi jalan-jalan? disaat seperti ini? dasar wong edan, Jani woiii..!" Teriak Niar yang terkejut sendiri mendengar penuturan Jani yang diluar akal sehatnya.
Akhirnya Niar kembali menjatuhkan tubuhnya ke kasur empuk miliknya, saraf-saraf diotaknya seolah nge-blank, aliran darahnya seolah tidak lancar, sehingga membuat badannya terasa lemah, letih dan lesu. Begitulah penyakit fatal yang dialami Niar, gara-gara Dilema orang Ketiga, yang mampu meresahkan jiwa dan raganya.
..."Cinta tak selamanya tentang kepemilikan. Tapi, cinta adalah tentang keikhlasan."...
__ADS_1
..."Kadang, yang terindah tak diciptakan untuk dimiliki, cukup dipandangi dari jauh, lalu syukuri bahwa ia ada di sana untuk dikagumi dalam diam."...