
...Happy Reading...
Setelah mereka menunggu operasi yang masih berlangsung selama beberapa jam itu, akhirnya beberapa dokter dan suster itu keluar dari ruangan IGD secara bersamaan.
" Keluarga pasien?" Tanya dokter itu sambil terlihat meregangkan tangannya.
" Saya dokter, saya istrinya, bagaimana keadaan suami saya?" Jani langsung bangkit dan berlari mendekati dokter itu yang langsung disusul oleh Niar, takut nanti dia jatuh karena tubuh Jani lemas sedari tadi.
" Operasinya berjalan dengan lancar untung saja kalian segera membawanya kemari, kami sudah berhasil mengeluarkan pelurunya, kita tunggu pasien sadar baru kita pindahkan keruang rawat inap." Ucap Dokter itu merasa lega, kalau tadi mereka telat beberapa menit saja mungkin nyawa Samuel sudah sampai di Surga.
" Alhamdulilah, terima kasih dokter, boleh saya masuk kedalam, saya ingin melihat keadaan suami saya dokter?" Pinta Rinjani dengan raut wajah yang sudah mulai lega setelah beberapa jam merasakan sport jantung.
" Maaf belum bisa nona, mohon tunggu sampai pasien sadar ya? agar kita tetap bisa memantau bagaimana perkembangannya, mohon bersabar ya, ini semua demi kebaikan pasien" Jawab sang dokter yang mencoba memberikan pengertian.
" Baik dokter, yang pasti suami saya selamat kan dok?" Tanya Jani mencoba memastikan kembali.
" Tentu, dia akan baik-baik saja nantinya, kalau begitu saya permisi dulu, masih ada pasien lain yang menanti saya." Ucapnya sambil berlalu dari depan ruang IGD.
" Terima kasih dokter." Ucap mereka bertiga, akhirnya Jani merasa sedikit tenang saat mendengar kabar baik ini.
Kejadian ini memang sedikit aneh, tapi kalau mengincarku untuk apa? kalau memang dia suruhan dokter Marvin, mana mungkin dia sejahat itu? ahh tau lah, yang penting kakak masih selamat, dia pasti tahu sesuatu tentang ini, nanti akan kutanyakan langsung dengannya saja.
Mereka bertiga duduk dikursi rumah sakit dalam diam, dengan segala pemikiran mereka masing-masing.
" Maaf apa disini ada yang bernama Rinjani?" Tanya salah seorang suster yang membangunkan lamunan mereka bertiga.
" Ya.. saya Rinjani sus, ada apa ya?" Rinjani langsung berdiri dan menghampirinya.
" Pasien yang bernama Samuel mengamuk didalam ruang rawat inap saat dia terbangun tadi, dia bersikeras ingin pergi dan mencari anda." Ucap suster itu dengan wajah panik.
" Okey, dia diruangan mana sus?" Tanya Jani langsung menarik lengan suster itu agar segera mengantarnya kesana.
" Di ruangan Dahlia nona." Jawabnya sambil berjalan cepat, bahkan Jani langsung berlari saat melihat nama ruangan itu dari jauh.
" Awas.. lepas! aku mau melihat keadaan istriku! jangan halangi aku awas!" Teriak Samuel histeris bahkan jarum infus yang menancap dilengannya sudah terlepas dan menggores lengannya, namun dia bahkan tidak memperdulikannya, Samuel tetap bersikeras memanggil nama Rinjani dan ingin pergi menemuinya.
__ADS_1
" KAKAK!" Teriak Rinjani saat dia baru saja sampai didepan pintu.
" SAYANG!" Samuel kembali berontak dan ingin berlari kearah Rinjani, namun dua perawat pria itu kembali menahan tubuhnya.
" Kakak, astaga kenapa selang infusnya bisa lepas begini?" Rinjani kembali menangis saat lagi-lagi harus melihat darah segar yang mengalir dari tubuh Samuel.
" Daritadi pasien berontak nona, dia bahkan menarik paksa lengannya." Ucap Dua perawat itu yang masih setia memegangi tubuh Samuel.
" LEPAS, aku ingin memeluk istriku!" Teriak Samuel yang merasa terganggu karena pegangan dua perawat itu memang terlihat kuat.
" Sudah lepasin saja mas." Pinta Rinjani yang tidak tega melihat Samuel seperti itu.
" Tapi nanti dia bisa mengamuk kembali nona." Jawab perawat itu masih belum mau melepaskan Samuel.
" Dia pawangnya, lepaskan saja dia, tidak akan terjadi apa-apa, percayalah." Ucap Niar yang ternyata sudah berada dibelakang Rinjani.
" Its okey, tolong lepaskan saja." Rinjani mendekat kearah Samuel yang wajahnya sudah terlihat memerah.
" Baiklah, kalau nanti ngamuk bukan salah kami ya?" Jawab salah satu perawat itu sambil perlahan melepaskan tangannya dan mulai berjalan mundur perlahan.
" Sayang.." Rengek Samuel saat Jani tersenyum dan mendekat kearahnya.
" Sakit yank." Rengek Samuel dengan manja, yang sontak membuat dua perawat pria itu terbengong dan melongo melihat wajah Samuel yang berubah menjadi imut seperti bayi, padahal beberapa saat yang lalu wajahnya sudah seperti singa hutan yang mengamuk.
" Sudah aku bilang dia pawangnya, mas-mas sudah pada nikah belom?" Tanya Niar mendekat kearah mereka.
" Belom mbak." Jawab mereka kompak.
" Apaan sih yank!" Umpat Dito yang kembali kesal saat mendengar ucapan Niar.
" Kalau begitu kalian berdua keluar saja, nanti mata kalian bisa sakit saat melihat adegan plus-plus diruangan ini." Jawab Niar yang sudah tau betul bagaimana kelakuan Samuel saat sudah mulai manja seperti itu.
" Maksud kamu apa sih yank?" Dito kembali merasa kebingungan.
" Kamu lihat saja mereka berdua setelah ini." Niar bersidekap dan melihat kearah ranjang pasien.
__ADS_1
" Sayang.. minta civm?" Pinta Samuel sambil menengadahkan kepalanya kearah wajah Rinjani.
" Kak, jangan sekarang ini masih dirumah sakit lho?" Jani mengusap pipi Samuel dengan penuh kelembutan.
" Tuh... kamu ini nggak sayang sama aku." Samuel langsung memalingkan wajahnya.
" Siapa bilang, sayang kok, pake banget lagi." Jani kembali menangkupkan kedua tangannya kewajah Samuel agar menghadapnya.
" Trus kenapa disuruh civm saja pake alasan!" Ucapnya dengan wajah yang terlihat kesal.
" Ya udah tapi di pipi aja ya?" Rinjani langsung mencivm kedua pipi Samuel dengan gemas.
" Aku mintanya di bi bir kok." Ucapnya dengan wajah datarnya, padahal saat dicivm pipinya dia sudah tersenyum.
" Jangan dong kak, kalau itu dirumah aja ya, malu tuh ada mereka disana." Jawab Rinjani sambil menunjuk mereka yang masih mematung ditempat.
" Kamu ini, aku tuh rela ngorbanin nyawa aku untuk kamu sayang, tapi kenapa kamu tidak mau terlihat romantis didepan orang, apa cintamu itu palsu?" Ucap Samuel yang seolah merasa lebih tersakiti dengan itu, daripada tertembak perutnya.
" Astaga sayang, ngomongnya kok gitu sih?" Rinjani hanya bisa menggelengkan kepala saat mendengarnya.
" Kamu jahat yank, kamu---" Perkataan Samuel menggantung saat Jani melangsungkan aksinya.
Cup
Jani langsung menarik dagu suaminya dan mulai menerabas tanpa aba-aba bahkan sampai memiringkan wajahnya untuk mencari posisi ternyaman disana, Samuel pun dengan senang hati membalas civman istrinya, karena sudah hampir seharian dia tidak menikmati bi bir istrinya yang ranum seperti buah plum itu, dia seolah sudah seperti mendapatkan suntikan Vitamin Ori terampuh bagi tubuh Samuel.
" Haissh... sudah cukup belum lihat film romance nya? masih kurang atau mau nambah lagi?" Niar kembali menoleh kearah dua perawat pria yang terlihat menutup mulutnya itu, tapi memelototkan kedua matanya.
" Hehe... maaf mbak, soalnya adegan intinya terlihat ngeri-ngeri sedap gitu, sayang kalau dilewatkan begitu saja, hihi... permisi kalau begitu!" Jawab dua perawat itu sambil tersenyum dan keluar ruangan.
" Dasar, dimana-mana semua pria sama saja!" Umpat Niar perlahan.
" Sayang pengen, mau juga kayak gitu!" Dito langsung menarik Niar tanpa aba-aba kedalam pelukannya dan memundurkan tubuh mereka dipojokan ruangan rawat inap itu.
Dan akhirnya terjadilah aksi saling sosor menyosor diantara kedua pasangan itu, walau Niar tidak lagi merasakan rasa dan sensasi yang sama seperti dulu lagi, namun dia mencoba untuk menerimanya, karena mungkin otak sucinya sudah sedikit terkontaminasi dengan dokter yang entah menghilang kemana jejaknya, mereka sungguh tidak memperdulikan orang yang berlalu lalang melewati ruangan itu, mereka tetap menikmati suasana rumah sakit yang berbau obat itu dengan syahdu.
__ADS_1
Pada akhirnya, hanya tiga hal yang berarti: seberapa banyak kau mencintai, seberapa lembut kau menjalani hidup, dan seberapa ikhlas kau melepaskan sesuatu yang tidak dimaksudkan untukmu.
..."Menikah itu nasib, mencintai itu takdir, kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tidak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa."...