
...Happy Reading...
Kadang cinta membuatmu lupa akan segalanya. Tapi hidup tanpa cinta bisa dikatakan bak sayur tanpa garam. Mereka yang tidak tersentuh karena cinta, adalah orang-orang yang berjalan di dalam gelap gulita.
" Kak Janiiiiiiii..." Teriak Yoyo saat Jani keluar dari mobil daddynya.
" Panggil dia mommy, Yoyo."
" Apa kamu sudah lupa pesan daddy?" Samuel langsung protes saat mendengarnya.
" Biar aja sih pak."
" Aku nggak masalah dia panggil aku kakak, malah lebih seneng akunya." Umpat Jani langsung menatap jengah pria disampingnya itu.
" Enak saja!"
" Kamu seneng aku yang enggak!"
" Setelah menikah status kamu langsung jadi ibu."
" Jadi berlatihlah mulai dari sekarang."
" Jangan coba-coba bilang single diluaran sana!"
" Anakmu sudah sebesar itu!" Umpat Samuel yang langsung mulai mengeluarkan sifat aroggantnya.
" Ckkk.." Jani hanya melengos saja saat melihat kekesalan Tunangannya itu.
" Aaaaaaaaa... sini sayang." Jani merentangkan tangannya saat Yoyo berlari kearahnya.
" Mommy.."
" Yoyo kangen." Ucap Yoyo patuh dan langsung membenamkan wajahnya didalam pelukan Jani.
" Kakak juga sayang." Ucap Jani tanpa sadar.
" Ehermm.."
" Baru saja mulutku selesai bicara, kamu sudah melanggarnya."
" Mau aku hukum apa kamu nanti?" Samuel langsung mendelik kearahnya.
" Hehe.. lupa.." Jani langsung tersenyum saat melihat wajah kesal Samuel.
" Mommy, malam ini nginep dirumah Yoyo ya?" Pinta Yoyo dengan gemasnya.
" SETUJU." Samuel langsung ikut angkat bicara.
" Kamu memang putra kebanggaan daddy!" Samuel langsung mengangkat kedua sudut bi birnya dengan tiba-tiba saat mendengar permintaan Yoyo itu.
" Nggak bisa sayang."
" Lain kali saja ya?" Jani mengusap rambut keriting Yoyo yang sangat menggemaskan itu.
" Yoyo sudah lama nggak bermain dengan Mommy."
" Dan selalu tidur sendiri?" Mulut mungilnya langsung nerocos bicara.
" Kan ada daddy sayang?" Ucap Jani mencubit gemas pipi gembul Yoyo.
" Daddy selalu saja sibuk bekerja sampai larut malam."
" Dia tidak pernah mau tidur memeluk Yoyo."
" Aku mau tidur dipeluk mommy lagi." Yoyo merengek dan mengeratkan pelukan ke tubuh Jani.
" Daddy juga sama nak!"
" Pengen tidur dipeluk mommy lagi." Ucap Samuel tidak mau kalah.
" Daddy kenapa jadi ikut-ikutan Yoyo?"
" Kayak anak kecil saja." Umpat Yoyo yang selalu berbicara dewasa sebelum waktunya.
" Daddy juga mau dipeluk mommy Yo." Ucap Samuel ikut memeluk tubuh Jani dari belakang.
" Daddy masuk sana."
" Jangan ganggu Yoyo dan mommy."
" Aku mau kangen-kangenan dulu sama mommy!" Teriak Yoyo sambil mendorong tubuh Samuel.
" Pfftttthhh." Jani langsung menggigit bi birnya sendiri menahan tawa mendengar perkataan bocah ajaib itu.
" Kamu anak kecil sudah tau kangen-kangenan ya?"
" Siapa yang ngajarin kamu nak?" Samuel langsung melongo saat mendengarnya.
" Memangnya cuma daddy saja yang boleh."
" Yoyo juga kan seorang PRIA." Ucap Yoyo sambil berkacak pinggang, seolah seperti bos yang sedang memarahi bawahannya.
" Bahahaha.." Jani tidak bisa lagi menahan tawanya, dua makhluk kesayangannya ini kalau sudah beradu mulut selalu saja mengo cok perutnya.
__ADS_1
" Kamu masih kecil nak?" Samuel masih tidak mau mengalah.
" Huh."
" Dasar daddy egois."
" Masak daddy boleh tapi Yoyo enggak?"
" Apa kurangnya Yoyo coba?" Yoyo langsung membuang wajahnya kesamping dan merajuk karena merasa semua tidak adil baginya.
" Pfftthhhh... bahahaha.." Jani bahkan sampai memegang perutnya karena terlalu sakit menahan tawa.
" MOMMY..!" Teriak mereka berdua bersamaan.
" Ooopsh!" Jani langsung membungkam mulutnya sendiri.
" Okey.. okey.."
" Kita masuk sekarang ya?"
" Mau main apa kita sayang?" Jani bahkan sampai mengeluarkan air matanya karena tertawa.
" NO."
" Ini jamnya Yoyo untuk tidur siang."
" Sekarang cuci muka, cuci kaki, bobok siang, right?" Samuel langsung mengangkat tubuh Yoyo kedalam rumah.
" DADDY."
" Yoyo mau bermain dengan mommy dulu!" Teriak Yoyo ingin turun dari gendongan daddynya.
" Kamu bisa bermain setelah bangun tidur nanti."
" Mommy masih disini, okey?" Samuel membawa Yoyo naik kedalam kamarnya.
" Aaargghhh... tapi Yoyo mau tidur sama mommy!" Teriak Yoyo masih saja berontak.
" KENZO RAJENDRA BRAMANTYO..!" Samuel menajamkan pandangannya yang selalu membuat Yoyo tak bisa melawan lagi.
" Sudah.. sudah.."
" Sini biar aku yang nidurin Yoyo." Jani langsung mengambil Yoyo dari pelukan Samuel.
" RINJANI." Dia pun ikut kesal melihat Jani, karena selama ini tidak ada yang berani melawan semua kata-katanya.
" Sebentar saja pak." Jani langsung melembutkan suaranya yang langsung sekaligus dapat melembutkan hati Samuel.
" Kalau anak sudah rewel begini, mungkin tandanya dia sudah mengantuk."
" Ganti baju dulu sana."
" Nanti aku akan menemuimu saat Yoyo sudah terlelap okey?" Ucap Jani dengan sabar, selama beberapa bulan tinggal bersama pria itu, Jani sedikit lebih banyak tau cara mengatasi pria sekeras Samuel.
" Hmm.." Samuel langsung mengangguk patuh dengannya, hanya wanita itulah yang bisa menakhlukan dirinya, bahkan kekasih masa lalunya pun tidak bisa membuatnya patuh seperti ini.
Benar saja, baru dibacain satu lembar buku cerita, Yoyo sudah terlelap ke alam mimpi didalam pelukan Jani yang memang selalu membuat Yoyo merasa nyaman.
" Bocah ini imut sekali."
" Hah, kalau besar nanti dia pasti tampan sekali."
" Jangan kayak daddy Samuel ya?" Bisik Jani perlahan.
" Yang lembut jadi pria itu, biar banyak yang ngefans sama kamu okey?" Jani memainkan rambut dan menghujani ciu man diwajah lucu dan menggemaskan itu.
" Mau juga digituin." Terdengar jelas perkataannya ditelinga Jani, walau dia menurunkan intonasi suaranya.
" Ssstttt."
" Apaan sih pak?" Jani langsung terlihat malu sendiri jadinya.
" Aku mau juga!" Ucapnya sambil ikut berbaring disebelah Jani dan memeluk tubuhnya dari belakang.
" Nggak usah aneh-aneh deh."
" Nanti Yoyo bangun lagi." Ucap Jani berusaha berontak dari pelukan Samuel.
" Sebentar saja sayang."
" Biarkan dulu seperti ini." Samuel menyembunyikan wajahnya diceruk leher Jani.
" Ada apa?" Jani langsung menghela nafasnya saat mendengar kata-kata Samuel yang sudah berubah parau seperti ini, pasti ada yang salah.
" Terima kasih sayang." Samuel mengeratkan pelukannya.
" Untuk?" Tanya Jani sambil tersenyum, pria ini sekarang sudah sering mengatakan dua kata yang dulu sangat sulit dia ucapkan yaitu kata 'Maaf' dan 'Terima kasih', karena dulu dia selalu merasa menang sendiri dan tidak terkalahkan.
" Hmm.."
" Terima kasih sudah memberikan kasih sayang untuk Yoyo."
" Dia sama sepertiku, selalu haus akan pelukan dan kasih sayang seorang ibu."
__ADS_1
" Tapi bedanya, kalau Yoyo ditinggal pergi untuk selama-lamanya." Samuel mengingat sosok lembut dari kakak kandungnya.
" Kalau aku seringnya ditinggal kerja, kerja dan kerja."
" Dari kecil aku tumbuh dengan tangan dan dekapan dari seorang baby sitter."
" Walaupun mereka baik, namun mereka melakukan itu semua hanya sebatas karena uang, bukan karena kasih sayang seperti yang kamu berikan."
" Tak heran jika Yoyo langsung menempel denganmu dan patuh dengan segala ucapanmu."
" Karena dia juga pasti merasakan kasih sayang itu darimu." Samuel mengusap rambut Jani dengan penuh kelembutan, dibalik sifat kerasnya, dia sesungguhnya pria yang sangat lembut hatinya.
" Hmm.."
" Sebentar lagi aku juga jadi milikmu."
" Jadi semua kasih sayangku juga akan menjadi milik kalian berdua."
" Jangan pernah menyalahkan tante."
" Menjadi sosok ibu sekaligus ayah itu tidak mudah pak."
" Aku tahu karena aku melihat sendiri, ibuk juga melakukan hal yang sama, karena ayahku juga sudah meninggal, dia akan melakukan berbagai cara agar semua kebutuhan keluarga kami tercukupi." Jani mengusap tangan Samuel yang melingkar diperutnya.
" Tapi kasih sayang ibu kamu tetap tercurah."
" Walau dia kelihatannya pemarah, tapi dia sangat menyayangimu dan adekmu." Ucap Samuel mengingat sikap hangat calon mertuanya.
" Porsi kasih sayang mereka kan masing-masing berbeda pak."
" Tanggung jawab mereka juga berbeda."
" Pekerjaan ibu itu tidak terlalu memakan banyak waktu."
" Malam juga sudah pasti tutup toko kuenya."
" Kalau Tante kan harus mengurus beberapa perusahaan besar sekaligus."
" Walau tidak menggunakan tenaga tapi menghabiskan banyak tenaga untuk berpikir."
" Bapak harus memakluminya." Ucap Jani dengan bijak.
" Apa aku harus memakluminya juga, saat putranya mau melamar kekasihnya, tapi dia tidak bisa datang?"
" Bahkan beberapa hari sebelum hari pernikahan dia belum juga pulang."
" Sebenarnya walau dia tidak mencari uang pun, aku bisa membiayai apapun yang mamah minta."
" Tapi selalu saja begini kalau dia sudah terjun dalam urusan bisnis."
" Selalu lupa waktu, lupa kalau sudah punya anak."
" Bahkan dulu, saat masih sekolahpun kakakku yang selalu datang sebagai wali muridku."
" Padahal aku ingin sekali saja, mengenalkan kesemua teman-temanku, inilah ibuku, ibu kebanggaanku."
" Seperti mereka pada umumnya, namun itu hanya impianku saja." Samuel memejamkan matanya saat mengingat masa kecilnya, bukan karena mamanya tidak menyayanginya, hanya saja waktunya yang tidak pernah ada untuk anak-anaknya.
" Sudahlah pak."
" Itu semua sudah berlalu."
" Tante pasti punya alasan tersendiri, kenapa beliau melakukan itu semua." Jani selalu saja berpikir positif kepada semua orang.
" Huufftt." Samuel membuang nafasnya perlahan.
" Jikalau nanti, dia tidak bisa datang saat acara pernikahan kita, apa kamu akan marah sayang?" Samuel memiringkan wajah Jani agar menghadap kearahnya.
" Kenapa harus marah?" Jawab Jani dengan senyum termanisnya, sebenarnya dalam hati dia merasa kasihan dengan calon suaminya, mungkin inilah salah satu penyebab, sifatnya menjadi keras dan aroggant pikirnya.
" Seorang pria bisa menikah sendiri walau tanpa wali."
" Ayahku dulu pernah berpesan, saat beliau masih hidup."
" Jangan pernah mempersulit seseorang ketika ingin melakukan ibadahnya." Jani menci um tangan Samuel dengan perlahan, mencoba menyalurkan ketenangan dari dirinya.
" Terima kasih sayang." Samuel langsung meninggalkan kecupan hangat di kening calon istrinya.
" Aku benar-benar bersyukur karena telah memilikimu dihidupku."
Hati Samuel sangat tersentuh dengan jawaban tunangannya yang diluar dugaannya itu, dia tidak masalah jika semua keluarga Jani menghujat dirinya dan keluarganya, asalkan bukan Rinjani yang mengatakannya, dan Rinjani mau menerima semua tentang dirinya, karena saat ini hanya Rinjani lah tempat dia memperoleh kenyamanan dan ketentraman hatinya, bahkan penyakitnya bisa teratasi walau tanpa obat yang berdosis tinggi seperti dulu lagi.
" Jangan pernah tinggalkan aku ya sayang."
" Apapun yang terjadi, jangan pernah lari dariku." Suara Samuel pun terdengar lirih sekali, seakan banyak beban yang dia pendam didalam hati.
" Aku mohon padamu sayang."
Untuk pertama kalinya, seorang big boss dingin seperti Samuel memohon kepada seseorang, yang bahkan hanya seorang wanita biasa, yang tidak punya banyak kelebihan, namun penuh dengan kehangatan dan kasih sayang.
Hurrmm... udah bucin banget ini pasti calon imamku, gimana nggak makin sayang coba, kalau wajahnya jadi kelihatan manis banget kayak gini, arrghh... jadi takut terkena diabetes dah gw.
Rinjani pun akhirnya menyadari bahwa keputusan yang dia ambil untuk menerima Samuel di hidupnya adalah benar, karena kita akan terlihat berharga saat kita berada ditempat yang tepat, karena sebuah mobil mewah jika diletakkan didalam gudang yang kotor, busuk dan berdebu pun lama-lama tidak akan terlihat mewah dan berharga lagi.
__ADS_1
..."Cinta yang sebenarnya akan mengatakan saya butuh kamu karena saya siap untuk mencintaimu dan menekuni puas duka bersamamu."...
..."Berhenti mencari seseorang yang sempurna tuk dicintai, lebih baik studi dan persiapkan diri jadi seorang yang pantas tuk dicintai."...