CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
20. Cemburu walau bukan siapa-siapa


__ADS_3

...Happy Reading...


Asmara bukan hanya sekedar saling memandang satu sama lain. Tapi juga sama sama melihat ke satu arah yang sama.


Namun lain halnya dengan pendapat Samuel, jika wanitanya tidak melihat kearah yang sama sepertinya, dia sendiri yang akan membuat wanita itu melihat kearahnya.


Setelah perdebatan antara anak dan bapak itu selesai dan dimenangkan oleh anaknya tentu saja, karena Rinjani sendiri yang mengambil Yoyo dan memangkunya sampai ke bandara dengan Samuel tetap duduk disampingnya.


Perjalanan sampai kesana menempuh waktu sekitar dua jam perjalanan, Samuel pun langsung disambut oleh beberapa staf disana.


" Pak Sam.. akhirnya anda sampai juga, kami sudah menunggu anda diruang meeting." Mereka mengikuti langkah Samuel dari belakang.


" Ini laporannya pak." Staf itu memberikan beberapa dokumen kepada Samuel.


" Hmm.." Samuel mengganguk dan menerima dokumen itu."


" Ayo kita mulai meetingnya sekarang juga." Samuel membacanya sambil berjalan tergesa-gesa ke ruang meeting, karena masalah kali ini memang sedikit serius.


" Baik pak." Kemudian mereka masuk ruang meeting duluan untuk mengatur segalanya.


" Jani.. kamu mau ikut aku meeting didalam?" Samuel melirik kearah Jani yang sedang memainkan ponselnya.


" Enggak pak, aku tunggu diluar saja." Jani hanya tersenyum saja, walau dia dijurusan bisnis juga namun ilmunya belum sampai ketahap ikut meeting dengan para petinggi perusahaan pikirnya.


" Ikut kedalam saja tidak apa-apa, kamu bisa duduk disebelahku nantinya."


" Soalnya aku tidak tahu jam berapa meetingnya akan selesai." Karena masalahnya cukup serius dan jarak dari rumahnya tidak dekat, Samuel ingin menyelesaikan semua masalahnya hari ini juga.


" Beneran pak, aku diluar saja, lagian juga aku ngantuk pak, nanti kalau ketiduran didalam kan malu, hehe.." Jani berbohong dia hanya tidak ingin bosan duduk saja didalam tanpa melakukan apa-apa.


" Jadi kamu mau kemana?"


" Memangnya kamu pernah kesini?" Samuel khawatir nanti Jani sendirian karena tidak ada yang dia kenali disini.


" Belom, hehe.. tapi saya bisa kekantin juga kan, aku tunggu disana sambil ngopi-ngopi."


" Cieee... bapak khawatir dengan saya ya?"


" Tenang saja bapak selesaikan saja urusan bapak, saya bisa jaga diri sendiri, hehe.." Jani tersenyum melihat Samuel terlihat khawatir seperti itu, kemajuan pikirnya.


" Diiiihh... siapa yang mengkhawatirkanmu, aku cuma kasihan saja kalau sampai kamu tersesat."


" Nantikan aku sendiri yang repot!" Sifat aslinya langsung keluar kembali.


" Jangan coba-coba kabur, tunggu sampai aku selesai meeting." Samuel langsung masuk keruang meeting tanpa menoleh Jani kembali.


" Ckk.. dasar bos sableng."


" Pantang dipuji sedikit saja, langsung deh kumat arrogant nya!"


" Apa dia lupa saat malam-malam kemarin?"


" Peluk aku.. cepat peluk aku..! ciiih.. pengen banget gw gibeng tuh bi bir, biar njenor skalian dah, biar makin seksih." Jani mengingat saat dimana trauma Samuel kambuh malam tadi.


" Eeh.. emang bi bir dia sudah seksi sih, hihi.." Tadi malam dia memandang benda itu lama-lama, kalau imannya nggak kuat mungkin sudah dia icipin saat Samuel lemah tak berdaya.


" Astagfirulloh.." Tiba-tiba Jani beristigfar dan mengusap da danya agar kembali sadar ke dunia nyata.


Rinjani berkeliling disekitaran perusahaan, dia membeli satu cup minuman dingin dan membawanya duduk dibangku taman depan perusahaan, tempat disana masih sangat asri walau udaranya memang terasa panas, karena disana merupakan daerah khatulistiwa.


" Permisi.. boleh ikut duduk disini?" Seorang pria tampan memakai kemeja putih dengan tas besar ditangannya berjalan mendekat ke bangku taman itu.


" Hah?" Jani terkejut dan juga kaget melihatnya.


" Jangan takut, saya bukan orang jahat, saya cuma ingin menyelesaikan tugas saya saja, saya anak magang di perusahaan ini." Dia menjelaskan panjang lebar ketika wajah Rinjani terlihat sedikit ketakutan.


" Owh ya.. silahkan." Akhirnya Jani tersenyum dan mengganguk tanda menyetujuinya.


" Mbaknya kerja disini juga ya? di divisi mana? kok kayaknya baru lihat?" Dia melirik Rinjani sebentar dan langsung mengeluarkan laptopnya.


" Bukan, hehe..."


" Saya mahasiswa magang juga sih, tapi bukan disini, diperusahaan pusat."


" Saya cuma nganterin pak presdir meeting disini saja." Rinjani akhirnya membuka obrolan santai, karena pria itu terlihat hangat dan ramah sekali.


" Pantesan, kayak belom pernah lihat gitu, soalnya saya sudah dua bulan magang disini."


" Kamu jurusan apa?" Pria itu benar-benar terlihat nyaman ngobrol dengan Jani, serasa mempunyai teman bicara satu server.


" Manajemen bisnis." Jawab Jani singkat.


" Waah.. kita satu jurusan berarti dong, nama kamu siapa?" Walau tidak berjabat tangan namun pria itu bermaksud untuk berkenalan.


" Waah.. benarkah, bisa kebetulan gini yah."


" Nama gw Rinjani, panggil aja Jani." Senyum cantik Jani langsung terbit, akhirnya dia tidak jadi bosan disana, karena ada teman baru yang memang asyik dan supel diajak ngobrol, sopan lagi karena itu yang paling penting.


" Gw Dion... tapi jangan panggil gw oon ya, hehe.." Ternyata selain supel dia juga humoris, benar-benar cocok untuk diajak ngobrol versi Rinjani.


Tanpa terasa beberapa jam mereka mengobrol, sampai tugas Dion selesai dan beberapa cup minuman mereka habiskan, bahkan Dion membelikan satu kantong kresek cemilan untuk menemani mereka mengobrol dan bercanda haha hihi sekitaran pelajaran kampus, Rinjani memang selalu nyambung diajak ngobrol apa saja, apalagi kalau orangnya humoris, pasti langsung jadi teman akrab, mereka bercanda sampai Jani tidak sempat melihat ponselnya, beberapa panggilan tak terjawab masuk di ponselnya, karena ponselnya di mode silent, jadi Rinjani memang tidak tahu.

__ADS_1


" Kemana sih dia?"


" Katanya kekantin, tadi aku kelilingin kantin tidak ada batang hidungnya?"


" Punya jurus ngilang apa bagaimana?"


" Baru ditinggal beberapa jam saja sudah kabur-kaburan."


" Mana telpon nggak diangkat lagi?"


" Atau jangan-jangan dia kesasar lagi?"


" Haaaah... gadis itu selalu saja membuatku tidak tenang, ya hati.. ya pikiran selalu saja dia yang menguasai."


" Argh.. Sam! jangan lemah dengan seorang gadis lagi!" Umpatnya dalam mulut namun lain di kaki, karena dia sampai sedikit berlari menuju ruang cctv disana untuk melihat pergerakan Jani setelah dia tinggal meeting.


Setelah beberapa menit dia melihat rekaman cctv diruang security perusahaan itu, dia menemukan sosok Jani terlihat duduk berdua dibangku taman saling berhadapan, terlihat dilayar itu Jani tertawa dengan seorang pria disana, Rahang Samuel langsung mengeras, kedua tangannya langsung mengepal, giginya saling bertabrakan satu sama lain sehingga menimbulkan bunyi yang terlihat menyeramkan, raut wajahnya jangan ditanya lagi, Angry Bird saja lewat.


Dia melepas jasnya dan menggulung kemejanya dengan jalan tergesa-gesa menuju ke taman perusahaan.


Wiiiiiinnnggggg...


Samuel melempar jasnya tepat diatas kepala Jani, sehingga membuat Jani terkejut, bahkan Dion pun langsung berdiri, seakan siap menjadi garda terdepan untuk melindungi teman barunya itu, saat Dion ingin bergerak maju, teriakan Jani langsung menghentikan langkahnya.


" Astaga!"


" Pak Sam?"


" Anda sudah selesai meeting?" Jani langsung menoleh dan mengambil jas yang sedikit menutupi wajah cantiknya itu.


" Kamu ngapain disini?" Sam langsung berkacak pinggang bertanya kepada Jani namun matanya tertuju kepada Dion.


" Saya ngobrol aja pak, sambil nungguin bapak selesai meeting." Jani melihat kemana arah pandang Samuel.


" Emm.. dia---"


" Saya Dion pak, mahasiswa magang disini, kami mengobrol sebentar tadi." Dion langsung menyadari kalau Samuel menatapnya seakan tidak suka, sebagai pria dia sangat peka, karena mungkin dia tahu apa yang Samuel rasakan lewat tatapan matanya, untung dia sempat ngobrolin tentang meeting dan nama presdirnya, jadi Dion langsung tanggap bahwa itu adalah presdirnya, kalau tidak, salah silap kata saja, mungkin magangnya akan tamat dadakan sampai disini.


" Kalau begitu saya permisi pak."


" Sampai jumpa di Yogyakarta Jani, kapan-kapan kalau aku pulang kita ngobrol lagi ya." Dion tersenyum dan melambaikan tangannya kearah Jani setelah membungkukkan badannya kearah Samuel yang terlihat sudah menahan amarah.


" Dia siapa?" Tanya Samuel dengan ketus.


" Dia Dion pak, bukannya tadi dia sudah memperkenalkan diri?" Rinjani masih belum tau maksud pertanyaan Samuel.


" Memang siapa yang tanya namanya?" Nada bicara Samuel memang sudah tidak terkondisikan.


" Jadi bapak tanya apanya?"


" Kamu baru mengenalnya tadi?"


" Dan sudah ngobrol selama itu?" Samuel melihat durasi di layar cctv saat mereka ngobrol disana.


" Emang kenapa pak?"


" Kamu baru mengenalnya, kenapa langsung terlihat akrab begitu?"


" Bagaimana kalau dia punya niat jahat dengan kamu!" Samuel langsung menghujani ceramah dadakan.


" Enggak pak." Jani menjawabnya dengan nada slow saja.


" Dia baik kok, ramah, humoris dan nyambung gitu diajak ngobrol, jadi nunggu bapak lama tidak terasa, hehe.." Jani menjawab tanpa merasa bersalah sama sekali, karena memang dia tidak salah pikirnya.


" Kamu mana tahu niat buruk seseorang, kalau dia berniat jahat sama kamu bagaimana tadi?"


" Mana jahat pak, dia baik kok, nggak ada juga tampang jahat diwajahnya tadi, imut lucu gitu kok!" Tanpa sadar Jani malah memujinya.


" Kamu ini, dibilangin ngebantah terus!"


" Asal kamu tahu ya, orang jahat itu tidak selalu wajahnya terlihat jahat, bisa saja dia pakai topeng untuk menutupi kebusukannya!" Samuel makin murka dibuatnya.


" Dia nggak pakai topeng pak, wajahnya asli tadi lho?" Rinjani masih saja membela teman barunya tadi.


" Di baik pak, beneran deh." Kata-kat Jani semakin membuat emosi Samuel memuncak.


" Dari mana kamu tahu kalau dia baik ha!" Suara Samuel tiba-tiba mengeras dan membuat mereka menjadi pusat perhatian orang yang sedang berlalu lalang disana.


" Astaga bapak?"


" Jangan suudzon jadi orang dong pak."


" Calm down okey?" Jani malah melembutkan suaranya, orang emosi tidak bisa dijawab dengan emosi, bisa berabe nantinya.


" Kamu ini----"


" Ssssssttttt..." Jari telunjuk Jani sampai dibi bir Samuel yang berwarna kemerahan itu, dia memang sudah tidak merokok lagi, jadi bi birnya semakin terlihat seksi.


" Bapak itu kenapa sih?"


" Jangan teriak-teriak pak, malu dilihatin orang tuh?"

__ADS_1


" Bapak presdir lho disini?"


" Mau tiba-tiba viral karena teriak-teriak didepan anak cabang perusahaannya?"


" Nggak usah berlebihan deh?"


" Atau jangan-jangan bapak cemburu ya?"


" Hayow?"


Bukan karena omongan Jani yang membuatnya terdiam, tapi jari Jani di bi birnya yang membuatnya terpaku, padahal baru jari telunjuk yang menempel belum yang lainnya, tubuh Samuel sudah menerima reaksi yang lain.


" Haiiissshhh.." Samuel langsung menepis jari Rinjani.


" Nggak ada istilah cemburu dikamus besar hidup saya!" Harga diri yang selalu dia junjung setinggi-tingginya, bahkan mungkin sampai luar angkasa sana.


" Hmmm..."


" Terus saja begitu!"


" Jual mahal terus, lama-lama gw beli juga tuh harga diri, tapi gw nyicil, hihi." Umpat Jani sambil mengekori langkah Samuel didepannya.


" Kamu bilang apa!" Samuel seketika berhenti dan menoleh kebelakang membuat tubuh Jani menubruk kembali da da bidang Samuel yang menjadi sumber kehangatan tadi malam.


Bruuuuukkk..


" Astaga bapak?" Aroma maskulin itu kembali menempel dihidung mancung Jani.


" Kamu mengumpat saya lagi?"


" Enggak-enggak, tadi ada kucing garong lewat, hehe.." Jani hanya bisa nyengir sambil mengangkat dua jari ke udara sebagai tanda perdamaian.


" Sudah dibilang jangan kabur-kaburan, masih saja bandel, bikin orang susah mesti nyari kesana kemari lagi!"


" Ciee.. bapak panik ya?"


" Lagian ngapain juga pusing-pusing, tinggal telpon saja apa susahnya?"


" Gitu aja kok ribet pak.. pak!" Jani berucap dengan santainya.


" Ribet kamu bilang!" Mata Samuel langsung melotot bahkan hampir keluar dari cangkangnya.


" Coba lihat ponselmu itu, masih fungsi apa tidak?"


" Kalau udah nggak bisa dipake buang saja sana, ditempat sampah!"


" Nggak ada gunanya bawa ponsel, kalau tidak bisa dihubungin." Samuel kembali dibuat emosi oleh kelakuan Jani.


" Masak sih?" Jani langsung mencari ponselnya, benar saja ada sepuluh panggilan tak terjawab dan dua puluh pesan belum dibuka.


" Waaah... bener pak, tangan bapak nggak pegel apa nelpon dan mengirim chat sebanyak ini?" Dengan polosnya Jani berbicara seperti itu.


" Pegel lah, ya pegel jarinya, ya pegel hatinya!" Ucap Samuel keceplosan tanpa sadar.


" Pegel apanya pak? hatinya? memang hati bapak bantuin ngetik ya, hahaha.." Jani malah kembali meledek Samuel.


" Diam, berisiklah... ayo kita makan!" Samuel menarik lengan Jani agar berjalan beriringan dengannya.


" Nanti saja pak, aku masih kenyang!" Jani mengusap perut ratanya.


" Emang kamu makan apa?"


" Di pesawat saja kamu tidak makan kan?"


" Tadi dibeliin cemilan banyak sama si Dion, jadi masih kenyang, hehe."


" Kamu ini..!"


" Baru kenal sudah mau dikasih makan!"


" Kalau kamu diracunin gimana coba?" Suara Samuel kembali memekakkan telinga.


" Astaga pak!"


" Buruk sangka terus deh jadi orang!"


" Yawdah... aku temenin hayuk, dari tadi marah-marah terus deh!"


" Entar kalau tua jadi nggak laku lho, nggak akan ada yang mau, haha.."


" Kalau nggak ada yang mau, KAMU HARUS MAU...!" Samuel langsung mengalungkan lengannya dileher Jani dan memitingnya sambil berjalan.


" OGAAAAAAAAAH..!"


" Awas kamu ya..!"


" Ampun pak, ahahahahaha..."


..." Bukan kemewahan yang akan membuatmu bahagia. Tapi kesederhanaan yang akan membuatmu tampak istimewa."...


... " Mencintai merupakan sebuah anugerah besar yang Tuhan berikan kepada manusia. Maka dari itu, kita perlu senantiasa bersyukur dan menjaga segala anugerah itu."...

__ADS_1


... "Cinta itu tidak bisa dijelaskan seberapa besarnya, orang mungkin menilai cinta itu sebesar dunia, samudera, bahkan langit. Namun tidak ada seseorang pun yang bisa menakar seberapa besar cintanya dengan logika."...


Yuk... hadiahnya ditunggu kakak?☺


__ADS_2