CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
24. Jealous


__ADS_3

...Happy Reading...


Sebenarnya kehadiran jodoh itu sangat sederhana. Jika sampai saat ini jodohmu belum juga datang maka itu artinya kamu belum benar siap dan membutuhkannya.


Cinta bukan tidak hanya mencakup perasaan pada lawan jenis saja. Namun cinta sejati juga tumbuh dari perasaanmu pada keluarga.


Begitu juga dengan anggapan Samuel, dia melihat Yoyo sangat nyaman jika bersama Rinjani, bahkan dia selalu bisa tersenyum dan tertawa saat berdua, walau dulu awalnya Jani juga sering dikerjain Yoyo, namun sekarang mereka terlihat akur, karena anak kecil memang selalu membutuh penyesuaian, hanya butuh meningkatkan ekstra kesabaran saja.


Itu mengapa Samuel menjadi sangat yakin, kalau Rinjani memang benar-benar cocok untuknya, apapun akan dia lakukan untuk membuat gadis itu takhluk kepadanya.


Begitu juga hari ini, dia sengaja menyuruh Yoyo mengajak Jani untuk makan malam keluarga di luar, padahal ini cuma trik jitunya agar Jani pulang ke mansion saja, namun Yoyo sangat senang, karena jarang-jarang Samuel menyempatkan diri untuk bisa makan malam diluar bersamanya.


" Mommy...!"


" Opsshh sory..."


" Kak Jani...!" Teriak Yoyo saat kedua bola mata bulatnya melihat Jani muncul diantara puluhan mahasiswa yang bergerombol didepan gerbang.


Mau tidak mau, malu tidak malu, Jani tetap harus menemuinya, semakin lama dia menunda, semakin lama dia menahan malu karena menjadi pusat perhatian dan menjadi tranding topik dikampus sore ini.


" Haissh.." Jani memejamkan mata sejenak, mencoba menguatkan hatinya dan juga menebalkan mukanya.


" Hai Yoyo..!" Akhirnya Jani menyapanya dan melirik Samuel yang terkesan cuek-cuek saja menjadi tontonan seperti itu, bahkan dia berpose layaknya cover boy majalah didepan mobil mewahnya, dengan kaca mata hitam yang bertengger dihidung mancungnya.


" Kak Jani... Miss you!" Yoyo meminta turun dari gendongan Samuel dan berlari ke arah Jani.


" Hahaay.."


" Luu emang udah cocok jadi emak-emak Jan!"


" Lihat tu bocah maunya nempel terus ama eluu!"


" Padahal kalau sama gw, dia selalu saja mengatur strategi untuk menjahili gw!" Bisik Niar ditelinga Jani, dia masih stay berdiri dibelakang Jani.


" Haaah... bocah satu ini." Jani melirik kanan kiri, saat banyak mata tertuju padanya, namun dia sudah tidak bisa mengelak lagi, apalagi kabur dari sana, alhasil dia merentangkan tangannya untuk menangkap tubuh Yoyo yang mungil itu dan membawanya kepelukan.


" Yeaaayy..."


" Akhirnya kakak keluar juga, kenapa lama sekali?"


" Yoyo dan daddy sudah menunggu sedari tadi." Bocah kecil itu langsung meletakkan kepalanya dipundak Jani dengan nyamannya.


" Benarkah?"


" Maaf ya, kakak nggak tahu kalau Yoyo menunggu kakak didepan kampus?" Jani mengusap lembut rambut keriting Yoyo.


" Sssttt... gile, beneran pacarnya Jani Duren tuh..!"


" Yoi... anak satu cuy?"


" Iyaa... ternyata mereka sudah sedekat itu?"


" Jangan-jangan mereka sudah nikah lagi?"


" Tapi kalau modelnya kayak dia mah, gw juga tertarik cuy."


" Iyaa.. gw juga mau, sugar daddy gaess, haha.."


" Apalagi tajir melintir tuh, mobilnya saja mewah, gayanya juga keren, baju dan sepatunya juga branded tuh?"


" Gilak bener dah, haha..."


" Woiiii bubar... bubar... ini bukan tontonan!"


" Ini juga bukan reality show!"


" No tanda tangan, apalagi foto bareng!"


" Jadi bubaaaaaarrr semuaaaa... !" Akhirnya Niar lah yang menjadi Dewi penolong bagi Jani kali ini.


" Huuuuuuuuuuuuuu..." Mereka semua men soraki Niar dan membubarkan diri masing-masing dengan segala umpatan yang keluar dari mulut mereka.


Banyak sekali omongan yang masuk ditelinga Jani, tapi dia tidak menggubrisnya, dia segera mendekat ke pelaku utama yang sedang asyik menatap dirinya dari kejauhan walau tanpa senyuman.


" Pak... ngapain sih kesini?" Tanya Jani dengan suara perlahan.


" Jemput kamu lah!"


" Yoyo pengen makan malam diluar dengan kita."


" Jadi terpaksa lah aku datang kemari menjemputmu, dari pada nunggu kamu, kelamaan sampai dirumah!" Samuel tetap saja bertingkah sombong dan tidak mau reputasinya kembali anjlok didepan Jani.


" Tapi kenapa nunggu didepan kampus sih pak?"


" Liat kan tadi, jadi pusat perhatian bapak disini?"


" Sengaja ya.. mau tebar pesona?"


" Biar dilirik gadis-gadis gitu?" Umpat Jani yang terlihat malu dan kesal bercampur jadi satu.


" Ckkk..."


" Masuk!" Samuel tak menjawab, dia hanya berdecak sambil menyuruh Jani masuk.


" Niar ikut juga kan pak?"


" Dia kan babysitternya Yoyo juga?" Jani teringat dengan Niar yang ada dibelakangnya.


" Sttttt..."


" Kenapa eluu sebut-sebut nama gw!"


" Mending gw makan bakso di tempat fans luu itu, dari pada makan mewah direstoran tapi dengan pria arrogant seperti dia."


" Takut keselek gw mah!"


" Bukan jadi daging, malah jadi penyakit entar!" Niar mengumpat habis dibelakang tubuh Jani.


" Terserah saja, dia mau ikut apa tidak."


" Yang jelas kamu harus ikut!"


" Buruan masuk, nggak usah pake drama!"


" LAMA...!" Samuel langsung mengambil Yoyo dari gendongan Jani dan membawanya masuk ke dalam mobil.


" Iiissh... iiissh... iiissh..."


" Daddy kelihatan banget ngarepnya!" Yoyo menggelengkan kepalanya dan menatap ayahnya dengan tatapan meremehkan.


" Sssttt..."


" Kamu anak kecil tahu apa!" Samuel mengusap rambut Yoyo dengan gemas.


" Tahulah.. kalau daddy suka sama kak Jani kan." Yoyo berbicara dengan entengnya.

__ADS_1


" Haah?"


" Emang kelihatan ya Yo?" Samuel langsung terkejut, anak sekecil Yoyo saja tahu kalau dia punya perasaan dengan Jani, tapi Jani seperti cuek-cuek saja dengannya.


" BANGET." Ucap Yoyo dengan mantap.


" Masak sih Yo?"


" Tapi kenapa kak Jani seolah-olah tidak tahu?"


" Atau dia memang tidak mau tahu?" Samuel bahkan mendekatkan wajahnya ke arah Yoyo, seakan dia meminta pendapat kepada seorang pakar cinta.


" Hmm.." Yoyo bersedekap sambil terlihat berpikir.


" Sepertinya kak Jani tidak menyukai daddy."


Yoyo berucap dengan nada yang serius.


" Haissh... kamu ini, sok tahu kamu Yo!" Samuel merasa tidak terima, dia tidak sependapat dengan pemikiran putranya.


" Hmm.. atau mungkin juga, kak Jani sudah punya Pria Idaman lain." Kata-kata Yoyo benar-benar membuat Samuel tercengang.


" Yoyo sayang..."


" Kamu ini mikirnya kejauhan!" Samuel benar-benar tidak habis pikir, putranya itu bisa kepikiran sampai sana.


Sedangkan diluar mobil Jani berdebat dengan Niar untuk menyuruhnya ikut makan bersama mereka.


" Niar... ayo masuk."


" Pokoknya kamu harus ikut!" Jani memaksa Niar untuk masuk ke dalam mobil.


" Hish.. nggak mau Jani."


" Kalian pergi saja bertiga."


" Sono kencan romantis, ala-ala keluarga bahagia gitu, haha.." Niar masih sempat-sempatnya menggoda.


" Tadi luu bilang laper?"


" Gw jamin deh, pak Sam ngajak kita makan di restoran mewah pastinya!"


" Makanannya pasti, beuuuhh... mamamia lezatoss deh!" Jani mulai mengiming-imingi sahabatnya itu.


" Maless.."


" Sudah gw bilang, gw nggak tertarik kalau big boss luu yang nraktir."


" Lagian juga, dia ngebolehin gw nggak ikut kok!"


" Jadi nggak ada masalah dong!" Niar tetep menolak ajakan Jani.


" Tapi Niar---"


" Udah sono!"


" Entar mereka kelamaan nunggu ngamuk nanti lho."


" Waaah.. bisa diterkam habis luu nanti."


" Buruan sono pergi, hush.. hush.. hush sanaaaaa..." Niar mengusir Jani pergi ala-ala princess Syahrini.


" Luu entar mampir ke rumah ibuk ya?"


" Takutnya entar beliau masak banyak lagi."


" Tadi gw bilang mau kesono, rindu masakan ibuk soalnya, takutnya mubazir entar." Jani teringat dengan ibunya, kalau jam segini dia keluar makan sudah dapat dipastikan dia nggak jadi pulang, presdirnya benar-benar tidak memberinya izin untuk tidur dirumahnya sendiri.


" Siaaap.."


" Kalau entar udah masak banyak, biar gw yang habisin.


" Mumpung gw laper, gw juga rindu masakan ibuk, hehe.." Niar malah terkekeh bahagia mendengarnya, sudah lama dia tidak merasakan kelezatan masakan ibu Jani, karena Jani tidur dirumah presdirnya, dia jadi jarang mampir kerumah, padahal dulu hampir tiap hari dia mampir kerumah Jani.


" Kak Jani buruaaaan..!" Kepala Yoyo nonggol dijendela mobil.


" Daddy sudah nungguin ini, eeehhh... maksudnya entar kemalaman, hehe..." Yoyo terkekeh mengucapkannya karena merasa kakinya ada yang menarik kebelakang, siapa lagi pelakunya kalau bukan daddynya, karena memang dia yang menyuruh Yoyo memanggilnya.


" Iya.. iya.. sayang, sebentar." Teriak Jani dari luar.


" Buruan sono pergi, ngamuk nanti kamu digigit malah keenakan lagi, haha.."


" Selamat menikmati dinner dan kencan romantis dengan hot daddy cuy."


" Jangan maruk luu makannya."


" Ingat yang elegan, jangan kayak makan diwarteg tauk!"


" Entar bisa-bisa patah kursi restoran kamu tangkringin, bye.. bye.. haha.." Niar siap-siap kabur sebelum ditendang kembali kakinya oleh Jani yang sudah mengeratkan giginya.


" Siall lu... ngledekin gw mulu dah!" Umpat Jani sambil masuk ke kursi belakang.


" Heh.." Samuel langsung terlihat kesal saat Jani masuk ke kursi belakang menemani Yoyo.


" Duduk dikursi depan."


" Kamu kira aku sopirmu apa!"


" Pindah buruan!" Samuel langsung memasang tampang kusutnya.


" Marah-marah aja deh daddynya Yoyo tuh."


" Hmm... aku kan kangen pengen uyel-uyel pipi Yoyo, hehe.."


" Pindah ke depan yuk Yo.. duduk sama kakak." Ucap Jani yang langsung ditolak oleh Yoyo karena daddynya langsung kembali menatap dirinya.


" No."


" Yoyo disini saja."


" Ya kan dad?" Yoyo bahkan mengedipkan satu matanya ke arah daddynya yang langsung tersenyum.


" Haiish.." Jani akhirnya berpindah ke kursi depan.


" Temenmu nggak jadi ikut?" Tanya Samuel sambil mulai menjalankan mobilnya.


" Nggak, dia mal... emm... dia mau mampir kerumah ibuk." Jani hampir saja keceplosan, kalau sampai dia bilang males, bisa panjang urusannya nanti.


" Baguslah." Ucapnya tanpa sengaja.


" Hah, kok bagus?" Jani langsung menatap kearah bosnya itu dengan tatapan menyelidik.


" Xixixixi.." Terdengar suara tawa Yoyo dari kursi belakang.


" Maksudnya baguslah, dia mau mengunjungi ibuknya." Samuel selalu menemukan cara yang jitu untuk melindungi harga dirinya.

__ADS_1


" Ibuk gw lah, bukan ibu dia."


" Gara-gara bapak ini, aku nggak jadi pulang." Umpat Jani perlahan sambil menyandarkan kepalanya dikursi mobil dan menatap ramainya jalan raya sore ini.


" Heleehh.."


" Gitu aja ngambek, besok siang kan bisa pulangnya!" Tangan kiri Samuel tiba-tiba menarik hidung Jani karena merasa lucu melihat bibirnya yang dia buat manyun kedepan.


" Bapak ini.. jangan pegang-pegang!" Jani mengusap hidungnya seakan tidak sudi dipegang Samuel.


" Ciiihh.."


" Aku tindih skalian, baru tahu kamu!" Samuel langsung terlihat kesal.


" Ssttt... jangan gitu ngomongnya."


" Ada anak kecil dibelakang." Jani melirik Yoyo dibelakang yang terlihat tidak perduli, dia masih asyik bermain game diTab nya.


" Aku nggak dengar kok kak."


" Lanjutkan saja." Ucap Yoyo tanpa melihat ke arah mereka.


" Pffthh..." Samuel malah jadi ingin tertawa mendengar ocehan Yoyo, dia lupa kalau anaknya itu lain dari pada umumnya.


Sesampainya direstoran Jani terlihat tersenyum lega, dia berfikir tadi mau ke restoran yang berkelas gitu, dia sudah agak minder karena dia hanya menggunakan celana jeans dan sweater rajut saja, ternyata mereka pergi ke restoran happy family, ada beberapa pondok untuk makan lesehan disana, tempatnya bagus, nyaman dan bersih pastinya, karena tempat pilihan Samuel pasti dijamin kebersihannya.


" Hmm... Yoyo mau pesan apa sayang?" Samuel langsung membuka buku menu yang pelayan restoran itu sodorkan.


" Udang." Jawab Yoyo dengan cepat.


" Kamu." Samuel menunjuk Jani.


" Udang juga dong, kita satu server kan Yo."


" High five dulu kita Yoo,hehe.." Mereka berdua langsung bertos ria yang sontak membuat Samuel kesal dan merasa tersisihkan karena dia alergi makan udang.


" Ckkk.." Samuel hanya mampu berdecak saja, baru pertama kalinya dia menyesali alergi udang dalam hidupnya.


" Woaaah... mantep nih Yo."


" Udangnya gede-gede.."


" Nih... kakak kupasin, aak.. dulu Yoyo sayang.." Jani menyuapi Yoyo suiran daging udang galah itu.


" Makasih kakak." Ucap Yoyo tersenyum bahagia, dia merasa mempunyai keluarga yang utuh malam ini.


" Sama-sama sayang."


" Makan lagi yang banyak, biar cepet tumbuh besar, right?" Jani kembali menyuapi Yoyo penuh dengan kasih sayang.


" Aku mau juga." Samuel memperhatikan interaksi dua makhluk kesayangannya itu sedari tadi.


" Mau apa?"


" Katanya bapak alergi udang?"


" Nanti gatal-gatal seluruh tubuh bapak, bahaya lho." Jani langsung menatap jengah kearah Samuel yang sudah mupeng itu.


" Mau disuapin." Ucap Samuel dengan santainya.


" Hahaha.."


" Daddy jealous niye.." Ledek Yoyo sambil terkekeh geli.


" Hmm..." Samuel bahkan tanpa malu sedikitpun menggangukkan kepalanya.


" Diiih.. bapak?"


" Makan sendirilah, tanganku kotor, lagian juga bapak makan nasi goreng ini."


" Mana enak pake tangan?" Jani ingin tertawa tapi kasihan juga lihat wajahnya yang memelas gitu.


" Sudahlah dad."


" Jangan sedih gitu, mau Yoyo suapin?" Yoyo langsung menawarkan jasanya yang langsung disambut dengan tawa Jani.


" Haha.."


" Malu dong pak, sama anak kecil." Jani menggelengkan kepalanya sendiri, heran melihat kelakuan Samuel, dia dan Yoyo bahkan terkekeh bersamaan.


Disaat yang bersamaan ada seorang wanita yang memperhatikan Samuel sedari tadi, saat mereka sudah menyelesaikan makan, wanita itu berjalan kearah mereka.


" Sam.."


" Kamu apa kabar?"


Degh!


Jantung Samuel seakan berhenti berdetak, suara merdu yang sedari dulu ingin dia lupakan terdengar kembali ditelinganya.


" Hah!"


" Dia lagi.. dia lagi!"


" Dad.. mommy yuk kita pulang, Yoyo sudah kenyang." Ucap Yoyo langsung menarik lengan Daddynya untuk segera pergi dari sana.


" APA MOMMY..?" wanita itu terlihat terkejut,saat Yoyo memanggil wanita disampingnya itu dengan sebuhan mommy, dan lebih sakitnya, wanita itu menoleh, bahkan tidak menyangkalnya.


" SAM..." Wanita itu memanggil Samuel tapi dia bahkan tidak melirik apa lagi menoleh kearahnya sama sekali.


" YOYO... tante boleh ngobrol sebentar tidak dengan pamanmu?" Wanita itu berjalan dibelakang Yoyo dan Samuel, bahkan meninggalkan Jani yang masih terpaku, duduk dengan santainya dimeja restoran tadi.


" NO..!"


" This is my Daddy, is not my Uncle!" Teriak Yoyo langsung tidak terima, sedari dulu wanita ini selalu menyuruhnya memanggil Samuel dengan sebutan paman, sehingga membuatnya benci jika wanita ini selalu datang kerumahnya.


" PAMAN..?"


" Maksud dia apa?"


" Bukannya dia ayahnya Yoyo?" Jani malah masih asyik menghabiskan jus pesanannya, padahal Samuel dan Yoyo sudah pergi keluar duluan, jus nya seger, sayang kalau ditinggal begitu saja pikirnya.


Kehadiran masa lalu mungkin menjadi hari yang sulit dalam hidup kita. Namun mau tak mau, kita harus melalui itu semua untuk merasakan ketenangan dan juga rasa nyaman.


Terkadang kisah cinta itu, bermula dari sebuah kata ‘halo’ yang sederhana, tapi berakhir dengan perpisahan yang begitu rumit.


Tak sedikit juga yang harus diperjuangkan dalam masa lalu. Namun jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka akan ada hasil baik yang menunggu. Jadi kita jangan pernah ragu untuk belajar dari masa lalu. Karena ia akan menjadi guru terbaik yang akan selalu mengiringi setiap langkah perjalanan hidup kita.


Masa lalu boleh kita kenang dengan satu syarat, kenangan tersebut bisa memberdayakan kita, bukan menjatuhkan kita.


..."Kemarin kenangan dan pelajaran, hari ini tantangan yang harus terselesaikan dan esok adalah tantangan baru untuk memulai kehidupan yang lebih baik."...


... "Jika kamu ingin bahagia, jangan biarkan masa lalu mengusikmu. Kamu boleh melihat ke belakang, namun jangan membawanya kembali."...


Jangan lupa kopi dan mawarnya dinanti 🥰

__ADS_1


__ADS_2