CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
47. Mak Nyos


__ADS_3

...Happy Reading...


Hal yang paling menyebalkan dari petualangan Cinta adalah sekali kau terkena racunnya, kamu akan terus kecanduan. Bahkan kamu akan mencari cara untuk kembali berkelana, entah itu apapun caranya, dan ketika kau tiba di destinasi impian Cintamu, kamu tahu semua pengorbanan itu sepadan.


Cup


Bi bir Marvin dan Niar masih saling menempel satu sama lain, namun tiba-tiba Niar lah yang lebih dulu sadar dari kekhilafan nikmat dunia ini.


" Gimana rasanya?" Ucap Niar langsung memundurkan kepalanya, sempat terlintas wajah kekasihnya tadi, namun saat dia menyadari wajah mereka berbeda dia langsung tersadar, karena kalau itu kekasihnya pasti bukan hanya menempel, dia yang akan selalu kalah oleh serangan kekasihnya, yang notabenya adalah seorang pejuang LDR.


" Pasti Mak Nyoss ya?" Kedua sudut bi bir Niar terangkat keatas.


" Sampai merem-merem lho tadi?" Niar bahkan berbicara tanpa ada rasa malu sedikitpun, ingin rasanya dia menjitak kepala sang dokter ini, namun wajah tampannya membuat dia mengurungkan niatnya itu.


" Eherm.. eherm.." Marvin langsung memalingkan wajahnya dan menetralkan rasa canggungnya.


" Jangan Ge eR kamu!"


" Aku putusin beneran tulang kakimu ini!"


" Biar putus sekalian hubungan cintamu yang konyol itu!" Marvin kembali mengurut kaki Niar sebagai bentuk pengalihan rasa malunya, entah mengapa dia sempat terpesona saat melihat wajah Niar tadi.


" Cieeee... ngarep dia?"


" Hahahaha.." Niar bahkan tertawa karenanya.


" Maksud bapak hubunganku putus biar bisa jadi pacar bapak gitu?"


" Woaaahh... bapak mau nikung aku ditanjakan ya?" Dia bahkan memiringkan kepalanya, mencoba melihat wajah Marvin yang tidak mau menoleh kearahnya.


" Maap-maap ni ye pak?"


" Kekuatan cintaku lebih besar dari pada godaanmu, hahaha..!" Niar bahkan sudah bisa tertawa lepas sekarang, dia sudah bisa melupakan rasa nyeri di kakinya.


" JANGAN MIMPI KAMU..!" Marvin langsung melempar begitu saja kaki Niar kesamping.


" Arrrgghhh..!"


" Sakit pak, haduh.. kenapa jadi bengkak ini?"


" Bukannya nyembuhin malah tambah nyakitin bapak ini." Umpat Niar yang terlihat kesakitan.


" Haah... harusnya tadi pergi ke tukang urut saja sekalian."


" Nggak bisa pake highhell lagi dong ini."


" Salah jurusan ini mah!"


" Pokoknya kalau terjadi apa-apa, bapak yang harus bertanggung jawab!" Niar mengusap-usap pergelangan kakinya sambil terus mengoceh menyalahkan dokter Marvin."


" Nggak masalah!" Karena dia tahu kalau kaki Niar hanya kesleo biasa, besok juga pasti sudah bisa berjalan normal lagi, karena dia tadi sudah menariknya, dia sedikit banyak tahu cara menyembuhkan kaki kesleo.


" Asal nggak disuruh tanggung jawab kalau kamu diputusin cowokmu gara-gara kakimu gede sebelah!" Ucap Marvin dengan santainya.


" Kayak kaki gajah!" Marvin menunjuk kaki Niar yang sedikit membengkak dan kemerahan.


" Hiiih." Bukannya menghibur, Marvin seolah semakin menakut-nakuti Niar.


" Malam-malam gini nggak ada dokter praktek, kalau nunggu besok entah sembuh atau makin membengkak kakimu itu!" Marvin seolah ingin membalas dendam atas ucapan Niar tadi yang membuatnya mati kutu.


" Aaaaaa... bapak kok malah nakut-nakutin sih!" Niar langsung merasa ketakutan sendiri, pikiranya sudah terbang kemana-mana membayangkan kaki gajah.


Dasar cewek lemah, rasain kamu aku kerjain sekalian, siapa suruh berani-beraninya kamu ngeledekin aku..!


" BYE..!" Marvin bangkit dan ingin keluar dari sana.


" Pak Dokteeeerrrr.." Teeiak Niar sekuatnya.


" Mau kemana?"


" Aaaaa... jangan tinggalin aku pak?" Rengek Niar tanpa rasa malu sedikitpun.


" Ini gimana, boleh buat jalan nggak?" Niar langsung heboh sendiri, bingung mau gimana melihat kakinya.


" Memangnya tujuan aku kesini cuma mau nemenin kamu apa!"


" Sory ya, nggak ada waktu!" Marvin langsung melengos setelahnya.


" Tuuh... kakimu, bisa beneran kayak kaki gajah kalau buat jalan sekarang."


" Mau apa kakimu semakin remuk?"

__ADS_1


" Kalau mau silahkan jalan, atau kalau tidak sekalian saja berlari, biar makin renyah tulang kakimu kayak rempeyek!" Ucap Marvin semakin membuat suasanan hati Niar kalut dengan segala ucapannya yang asal itu.


" Terus gimana dong ini?"


" Masak aku harus tidur disini terus?"


" Sampai kapan?"


" Aku kan mau lihat acara Jani dan pak Sam juga?"


" Mau foto-foto juga."


" Hiks.. hiks... sia-sia aku beli baju mahal-mahal tadi." Dia memandang baju kebaya yang dia pesan online kemarin.


" Kalau tau gini mending pake daster aja datang kesini." Dia tadi bahkan belum sempat berfoto menggunakan baju itu pikirnya.


" Lebih nyaman buat tidur!" Umpat Niar hanya bisa pasrah saja.


" Itu bukan urusan saya!" Marvin bahkan mengangkat kedua tangannya ke udara sambil tertawa didalam hati.


" Paaaaak.." Teriak Niar kembali.


" Apa lagi?" Tanya Marvin yang sudah diambang pintu.


" Gendoooongggg." Teriak Niar mengulurkan kedua tangannya kearah dokter Marvin.


" Ciiiiiihhh..!"


" NGGAK SUDI..!" Umpatnya langsung sambil melotot.


" Kemana perginya kekasih kamu yang sangat pengertian, perhatian dan penuh kasih sayang itu?" Dia membalikkan pujian Niar saat memamerkan kekasihnya tadi.


" Suruh dia datang kesini untuk mengurusi kamu!"


" Kenapa malah menyuruhku!" Umpat Marvin yang hanya berdiri mematung saja.


" Dia sudah balik ke Kalimantan." Ucap Niar sambil tertunduk lesu.


" APA?" Dia seolah terkejut mendengarnya.


" Jadi kamu LDR an?"


" Memang kamu tahu, kalau dibelakang kamu dia mendua apa tidak?"


" Atau bahkan punya istri dua?"


" Apa kamu pernah kesana?"


" Apa kamu pernah memastikannya?" Marvin seolah mendapatkan bahan ledekan bahkan dia seperti orang yang sedang menghakimi sekarang.


" Enaknya saja kalau ngomong!" Niar langsung tidak terima.


" Bapak suka sembarangan deh kalau ngomong!"


" Nggak mungkin lah dia melakukan itu, sudah aku bilang dia itu setia denganku." Dia masih kekeh dengan pendapatnya.


" Dia nggak pernah macem-macem dibelakangku!"


" Bapak jangan jadi kompor ya!" Ucap Niar yang terlihat nampak yakin diluar, tapi jadi bimbang dihati setelahnya.


" Hmmm.."


" Kenapa kamu bisa seyakin itu kalau kamu belum memastikannya?"


" Kalau begitu lanjutkan saja!"


" Semoga kamu beruntung!"


" I dont care!" Marvin langsung keluar dari sana tanpa menoleh kebelakang lagi.


" KYAAAAA...!" Teriak Niar ingin mengikutinya namun kakinya masih terlihat nyeri.


" Paaaaaak...!" Suaranya yang menggelegar itu bahkan tidak diperdulikan oleh Marvin.


" Astaga, dia kurang hajar sekali."


" Kenapa meninggalkanku disini?"


" Aduuh...gimana ini?"


" Udah boleh jalan belum sih?" Niar mencoba menurunkan kakinya.

__ADS_1


" Tapi sepertinya sudah enakkan kok." Dia sudah bisa memutarkan pergelangan kakinya, dan tidak sesakit tadi.


" Tapi kenapa aku jadi keinget sama sayangku sih?"


" Aduuuhh... dari balik kemarin memang dia belum menelfonku lagi sih?"


" Argh... jangan-jangan dia memang sudah punya istri lagi disana!"


" Ya salam... kenapa aku nggak kepikiran sampai sana!"


" Hah... gara-gara dokter gendeng itu aku jadi bimbang!"


" Haiissshh... sial!"


Umpat Niar kesal, dan akhirnya dia membaringkan tubuhnya kembali di ranjang Jani sambil menatap langit-langit kamarnya, entah mengapa hatinya jadi bimbang sekarang, padahal biasanya dia tidak pernah merasa curiga sama sekali, dia begitu percaya dengan kekasihnya itu. Karena dia fikir dia sangat menyayangi dan mencintai dirinya sepenuh hati selama ini, bahkan mereka tidak pernah bertengkar selama bertahun-tahun walau terpisah jarak diantara mereka. Karena menurut Niar dalam suatu hubungan kepercayaanlah yang terpenting.


Sesampainya diluar, Marvin kembali ketempat acara semula yang sudah terlihat sepi itu, dia berjalan mendekat kearah panggung karena mendengar suara orang yang sangat dia kenal di atas sana.


" Sam..." Ucap Marvin perlahan sambil tersenyum melihat mereka berdiri diatas panggung berdua sambil berhadapan ingin memasangkan sebuah cincin.


" Akhirnya kamu bisa melupakan wanita itu."


" Semoga perlahan kamu bisa melupakan trauma mendalammu itu."


" Kamu sudah terlalu lama menderita karenanya." Marvin mengingat sosok Gladis yang membuat kondisi Samuel semakin memburuk itu.


" Aku tahu, sebenarnya kamu orang baik, bahkan terlalu baik dibalik sikapmu itu." Karena susah lama dia mengenal Samuel.


" Suatu saat nanti kamu juga pasti akan bisa bahagia seperti yang lainnya."


" Semoga wanita itu bisa membantu menyembuhkan lukamu dan menjadi pengobat dirimu."


" Karena obat yang aku berikan, tidak akan bisa menyembuhkan."


" Hanya kamu dan dan pikiranmu sendiri yang bisa menyembuhkannya."


" Aku bahagia melihat mu bisa tertawa seperti ini."


" Sudah lama sekali aku tidak melihatmu sebahagia ini."


" Semoga acaramu lancar sampai hari itu tiba."


" Selamat Sam!" Marvin mengeluarkan ponselnya dan mengabadikan foto Jani dan Samuel yang sedang bertukar cincin dan setelahnya mereka kejar-kejaran diatas panggung.


" Iiish.. iish.. iish..." Tiba-tiba terdengar suara Yoyo yang sudah menggelengkan kepalanya saat melihat Marvin yang masih menatap kebahagiaan Sam dan Jani dari bawah panggung.


" Om Marvin pasti iri melihat daddy dan mommy ya?" Kata-kata itu keluar dari bibir mungil Yoyo begitu saja.


" Kenapa om Marvin tidak memberikan cincin saja sama kak Niar!" Ucap Yoyo dalam gendongan Bromo.


" Heh?"


" Nggak boleh Yoyo!" Bromo langsung protes saat nama Niar disebut.


" Mbak Niar itu calon istri kakakmu ini." Dia menunjuk dirinya sendiri dengan PD nya.


" Jadi dia hanya boleh dipasangkan cincin sama kakak!"


" Mengerti kamu!" Bahkan Bromo menatap tidak suka dengan saran Yoyo.


" Iiishh... iishh... isshh.." Yoyo kembali menggelengkan kepalanya, dia masih berada digendongan Bromo.


" Kakak juga mau sama kak Niar?" Dia menoleh kearah Bromo yang langsung menggangukkan kepalanya.


" Kalau Yoyo sih nggak mau!"


" Kalau aku sih tetap mommy Jani saja!" Yoyo kembali menatap Marvin yang masih melihat kearah panggung.


" Hmmm... sabar ya Om!" Yoyo bahkan mengusap bahu Marvin disampingnya, yang malah terkejut karenanya.


" Kenapa?" Tanya Marvin sambil terkekeh melihat Yoyo yang terlihat begitu peduli dengannya.


" Om Marvin ada saingannya!" Ucap Yoyo dengan santainya.


" HAH SAINGAN?"


Seketika Marvin dan Bromo terkejut bersamaan, anak sekecil Yoyo bisa mengatakan itu, entah apa yang dimaksudkan saingan oleh anak sekecil itu. Yang pasti perilaku Yoyo tidak seperti anak seumurannya.


...“Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, karena hasil akhir dari semua urusan di dunia ini sudah ditetapkan oleh Allah. Jika sesuatu ditakdirkan untuk menjauh darimu, maka ia tak akan pernah mendatangimu. Namun jika ia ditakdirkan bersamamu, maka kau tak akan bisa lari darinya.”...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian boskuh🤩

__ADS_1


__ADS_2