
...Happy Reading...
Cinta itu ibarat sebuah peperangan. Mudah untuk memulainya, tetapi sangat sulit untuk menyudahinya.
Saat ini, semua orang yang ada kamar hotel itu menoleh kearah ibu Rinjani dengan tatapan tidak percaya, seolah ini semua mustahil, bahkan mereka berfikir ucapan ibu Jani hanya sebuah halusinasi karena terbangun dari pingsannya.
" MEREKA KELUARGA PEMBUNUH!" Teriak ibu Jani dengan tatapan berapi-api, guratan kemarahan, kekecewaan, kesedihan dan kesakitan bercampur aduk menjadi satu.
" Maksud ibu apa?" Bromo yang menjadi pendengar setia sedari tadi langsung mendekat kearah ibunya dan ikut menenangkan wanita yang sudah berjuang membesarkannya sampai saat ini.
" Buk... ibu yang tenang ya."
" Ibu ini ngomong apa sih?"
" Mereka keluarga suami Jani buk?"
" Mereka nggak mungkin berbuat jahat pada keluarga kita." Jani berusaha tenang dan menyangkalnya, dia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi kembali pada keluarganya.
" Katakan, siapa pelakunya." Ucap Ibu Jani menatap kearah mamah Samuel, bahkan tangan dan bi birnya terlihat gemetaran.
" Buk?" Jani mencoba menahan ibunya yang terlihat emosi.
" KATAKAN!" Ibu Jani bahkan menjerit sekuatnya.
" Mah.. sebenarnya apa yang terjadi?"
" Siapa yang membunuh?"
" Dan juga siapa yang terbunuh?"
" Sam nggak ngerti mah?" Giliran Samuel yang mencerca berbagai pertanyaan kepada mamahnya.
" Hiks.. hiks.." Tidak ada jawaban yang muncul dari mamah Samuel, hanya tetesan air mata saja yang mewakili perasaannya saat ini.
Kemana Marvin, kenapa lama sekali? bagaimana kalau aku berkata jujur dan penyakit Samuel kambuh..
" Mah?"
" Tolong katakan yang sejujurnya?"
" KATAKAN MAH... KATAKAN?" Samuel bahkan menaikkan intonasi suaranya karena mamahnya hanya terdiam membisu, bahkan tidak kunjung menjawab pertanyaannya sedari tadi.
" Nggak usah pura-pura bersedih kamu!"
" Dasar keluarga pembunuh... pembunuh kalian!"
" Aaarggghhh.." Ibu Jani kembali berteriak histeris.
" Ibuk.. ibuk.. hiks.. hiks.." Jani kembali dilanda kebingungan.
" Ibuk tolong jangan begini buk, nanti ibuk bisa pingsan lagi."
" Minum dulu buk." Jani mengambilkan air putih dari atas meja.
Krompyaanggg!
Ibu Jani langsung menepis gelas dari tangan putrinya, alhasil pecahan gelas tersebar berserakan dilantai.
" MAMAH!" Samuel sudah tidak tahan lagi, dia menggoyangkan bahu mamahnya, perasaan bingung, kacau dan kalut semua menjadi satu, walau dia takut menerima kenyataan, tapi dia juga ingin tahu kebenarannya.
" Berapa saudara pria itu!" Ibu Jani menunjuk ke arah Samuel, bahkan dia tidak sudi menyebut namanya, apalagi sebagai menantunya.
" Du.. dua buk."
" Tapi kakak suami Jani sudah meninggal." Ucap Jani sambil menatap Samuel dan ibunya secara bergantian.
" JANGAN PERNAH MEMANGGIL DIA SUAMI."
" Aku tidak sudi punya menantu seorang pembunuh!" Teriak Ibu Jani kembali, bahkan suaranya menggema didalam ruangan.
__ADS_1
Bruk!
Samuel langsung memejamkan matanya dan jatuh tersungkur dilantai, bahkan kakinya mengenai pecahan gelas kaca yang tersebar dilantai tadi, dia kembali teringat dengan kejadian masa lalunya yang begitu kelam, yang selalu membuat dirinya merasa bersalah seumur hidupnya, bahkan menjadi trauma yang mendalam di kehidupannya sampai saat ini.
Dan yang lebih membuat dirinya tersakiti, orang yang dia tabrak adalah ayah dari wanita yang paling dia sayangi dan paling dia cintai sepenuh hati. Bahkan dia saja belum bisa melupakan kakak kandung dan juga kakak iparnya yang ikut meninggal saat kejadian, sekarang ditambah lagi beban yang sangat berat dihidupnya.
" Ibuk ngomong apa sih buk?" Jani seolah tidak menerima kenyataan ini.
" Ibuk jangan asal menuduh orang sembarangan."
" Tolong buk, jangan begini." Jani menangis sambil memeluk lengan ibunya yang masih dibakar api kemarahan.
" Dia pembunuh Jani."
" DIA PEMBUNUH AYAHMU!" Teriak ibu Jani yang terus-terusan berteriak histeris.
" Hiks.. hiks.." Jani hanya bisa memejamkan matanya dan menangis tersedu-sedu, bahkan da danya terasa semakin sesak, jantungnya berdebar kuat, dia tidak bisa menerima kenyataan pahit seperti ini.
Disaat hatinya mulai terkunci oleh satu nama, disaat dia sudah menerima cinta Samuel bahkan dia mulai tidak bisa jauh darinya, dan yang lebih menyakitkan lagi, beberapa saat yang lalu pria itu sudah sepenuhnya menjadi miliknya, tetapi sekarang harus kandas disaat mereka belum melangkah keluar sedikitpun dari gedung pernikahannya.
" Jadi mereka keluarga yang selama ini kita cari buk?" Bromo menatap tubuh Samuel yang tersungkur dilantai, bahkan mulai ada darah segar yang mengalir diatas lantai.
" Sam.. berdiri nak."
" Jangan disitu, kakimu berdarah nak."
" MARVIN." Teriak mamah Samuel yang panik saat melihat banyak darah yang mengalir dari kaki Samuel yang tertancap beberapa serpihan kaca tadi.
" SAM." Akhirnya dokter yang ditunggu pun tiba, dia segera menarik tubuh Samuel untuk berpindah dari sana, bahkan Samuel sudah seperti mayat hidup yang tidak bisa merasakan perih karna tertancap pecahan gelas kaca, karena mungkin luka di kakinya tidak sebanding dengan luka yang ada dihatinya.
" KITA PULANG SEKARANG!" Ibu Jani ingin bangkit dari duduknya dan ingin segera meninggalkan ruangan itu, namun tubuhnya terasa lemah tidak berdaya.
" Ayo buk, naik ke punggung Bromo."
" Kita pulang sekarang!" Untung saja baju yang dipakai ibu Jani lebar, jadi dia bisa naik dipunggung putranya dengan mudah.
" Jani ayo kita pergi dari sini." Ucap Ibu Jani dengan tegas.
" Lupakan pernikahanmu!"
" Aku tidak menggangap dia sebagai menantuku!" Ucap Ibu Jani menatap benci kearah Samuel.
" Buk..?" Bahkan hanya kata itu saja yang bisa keluar dari mulutnya.
" Apa kamu sudah bosan menjadi putri ibuk?"
" Dia yang membunuh ayahmu."
" Dan kamu tahu sendiri kan, bahkan dia tidak mempertanggung jawabkan perbuatannya?"
" Dia seolah bisa hidup tenang diatas duka keluarga kita."
" Bahkan tidak mendapatkan hukuman sedikitpun, setelah menyebabkan kematian ayahmu!" Ibu Jani Menceritakan sepenggal kisah kejadian perkara masa lampau.
" Kenapa ibu bisa yakin kalau suami Jani yang melakukannya." Ucap Jani denan nada tersengal.
" JANGAN PERNAH MENYEBUT DIA SUAMIMU!"
" Apa kamu nggak paham bahasa ibu, hah?"
" Ibu masih hafal dengan wajah wanita itu!" Ibu Jani menunjuk wajah ibu Samuel yang masih menunduk.
" Bahkan sampai mati pun ibu tidak akan pernah bisa melupakan wajahnya."
" Yang pernah cuci tangan dan menutupi kelakuan bej*t anaknya."
" Mereka berfikir ayah kamu itu sebuah barang, yang bisa diselesaikan dengan hanya memberi uang saja."
" Mereka bahkan tidak pantas disebut sebagai manusia!"
__ADS_1
" Karena tidak punya perikemanusiaan, bisa-bisanya hidup tenang diatas kematian orang lain."
" Dan orang seperti itu kamu masih menggangap sebagai suami?"
" Bahkan kata CERAI lebih baik kau ucapkan sekarang juga."
" Selagi tubuhmu belum tersentuh oleh tangan kotornya." Ucap Ibuk Jani dengan penuh kebencian.
" Buk.. to.. tolong.. jangan buk!" Ucap Samuel terputus-putus, dia begitu tidak rela jika ada kata cerai dihidupnya.
" JANGAN PERNAH MEMANGGILKU IBUK!"
" Karna aku tidak sudi menjadi ibumu!" Teriaknya kembali.
" Kita pulang sekarang!"
" Atau kamu lebih memilih dia?"
" Daripada ibumu yang sudah berjuang sendirian membesarkan kamu, bahkan ayahmu pun tidak akan merestui hubungan kalian saat ini." Ibu Jani langsung mempererat pelukan dileher putranya.
" Kita pulang sekarang mbak!" Bromo langsung bergegas membawa ibunya keluar dari sana.
" Tapi dek.." Pikiran Jani terasa kalut, haruskah dia meninggalkan ini semua, haruskah hubungan mereka berakhir seperti ini sekarang juga.
" MBAAAAKKK!" Teriak Bromo yang sudah tidak tahan melihatnya.
" Jani kita pulang dulu, kasian ibuk!" Niar yang sedari tadi hanya bisa membungkam mulutnya sendiri di pojokan, akhirnya mendekat kearah sahabatnya dan menuntunnya untuk keluar dari sana.
" Janiiiiiiiiiii..."
" Jani jangan pergi sayang." Samuel mengulurkan tangannya dengan suara paraunya.
" Ma.. maaf pak." Jani berhenti sejenak tanpa menoleh kearah suaminya, karena dia sebenarnya tidak tega melihat dia terpuruk seperti itu, namun apalah daya, tangannya pun tak sanggup meraih tubuh suaminya.
" Janiii... sayang.."
" Maafkan aku.. maafkan aku.." Samuel ingin sekali berlari dan memeluknya, namun tulang ditubuhnya seakan menjadi tulang lunak, tidak kuat untuk menopang tubuh kekarnya.
" Jan.. sudahlah!"
" Ayok kita pulang dulu!" Niar langsung menarik lengan sahabatnya, karena menurutnya tidak ada solusi untuk sekarang, kecuali menenangkan pikiran mereka masing-masing.
" Janiiiiiii.." Tubuh Samuel mulai menggigil, wajahnya langsung terlihat pucat pasi.
" Jani tolong ampuni aku.."
" Ampuni aku sayang.."
" RINJANIIIIIIIII.."
" AAAARRRRGGGGHHHHHHHH!"
" RINJANI JANGAN PERGI..!"
Samuel langsung menjerit histeris, bahkan reaksi tubuhnya seolah menggila.
" SAM." Marvin langsung menindih tubuh Samuel yang terus saja berontak ingin berlari mengejar Rinjani yang sudah tidak terlihat dipandangannya.
" Heeiiiiii... bantu pegang tubuhnya!"
" Kenapa kalian diam saja!" Marvin berteriak kepada beberapa WO yang hanya mematung di tempat melihat kejadian itu, karena mereka pun takut melakukan kesalahan.
" Baik pak." Jawab mereka serentak dan langsung memegang kaki dan tangan Samuel yang menegang.
Dan akhirnya satu suntikan obat berdosis tinggi masuk kedalam tubuh Samuel, dan melemahkan tubuh Samuel, hingga dia ambruk dipangkuan mamahnya yang berada disampingnya.
Ketika kita bertemu tragedi nyata dalam hidup, kita dapat bereaksi dengan dua cara entah dengan kehilangan harapan dan jatuh ke dalam kebiasaan merusak diri sendiri, atau dengan menggunakan tantangan untuk menemukan kekuatan batin kita.
Banyak hal yang tak ingin kita tinggalkan dalam hidup ini, namun semua pasti ada akhir sesuai dengan ketentuan-Nya. Kenyataan memang tak selalu beriringan dengan harapan tapi bukan berarti kita harus dilanda keputusasaan.
__ADS_1
..."Seandainya tidak ada badai, pelangi tidak akan muncul. Untuk itu, belajarlah dari badai yang menimpamu."...