CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
29. Bingung Sendiri


__ADS_3

...Happy Reading...


Efek dari sebuah cinta bisa begitu besar. Kerasnya hati seseorang bisa luluh dengan perasaan cinta. Kesedihan yang berlarut pun bisa diredakan dengan cinta. Kasih sayang yang diberikan orang terdekat memang dapat memberikan perubahan yang besar dalam hidup yang kita jalani.


Jika ada seseorang memberikan perhatian kepada kita, memang jangan pernah merasa bosan apalagi mengabaikannya karena suatu saat perhatian kecil itu akan kita rindukan ketika kita merasa kesepian.


Namun jika hati kita belum siap, kita bisa apa, memaksakan hati hanya seperti menumpuk bom waktu, yang mungkin kapan saja bisa meledak.


Hati Rinjani pun seperti itu, untuk saat ini dia masih menggangap Samuel hanya sebagai presdirnya saja, walau mungkin hubungan mereka sudah tidak seperti atasan dan bawahan dalam suatu hubungan pekerjaan, bahkan mereka saling memperhatikan satu sama lain walau tanpa mereka sadari.


" Suka gayanya saja nih?"


" Orangnya enggak?"


Kata-kata Samuel sering kali membuatnya terkejut, Jani sering bertanya-tanya, sebenarnya apa maksud dari presdirnya itu. Jani memang tidak peka dengan sindiran semacam itu, dia tipe orang yang kalau ' suka bilang suka, kalau enggak ya bilang enggak'.


" Uhuk.. uhuk.." Jani terbatuk mendengarnya dan segera menyingkirkan piringnya ke meja.


" Bapak ini selalu saja mengagetkanku."


" Bapak jangan berpikir yang aneh-aneh dulu, bapak harus banyak istirahat." Jani membantu Samuel untuk meminum obatnya, bahkan dia jadi lupa menyuapi makan Samuel.


" Aku akan menunggumu."


" Sampai kamu menyadari semuanya."


" Asal kamu tidak mencoba menjauh dariku."


" Setelah kamu tahu semua kelemahanku!"


" Dan juga sisi burukku." Ucap Samuel langsung memejamkan kedua matanya, dia sadar tidak mudah menerima orang yang sakit sepertinya, bahkan dia sendiri tidak yakin, bisa sembuh total atau tidak, itulah kenapa setelah putus dengan Gladis dia tidak ingin bermain-main dengan cinta, karena kalau dia sudah benar-benar jatuh cinta akan sangat sulit melepaskan, apalagi melupakannya, tapi kedatangan Rinjani telah merobohkan benteng pertahanan cintanya, dia hanya berharap Rinjani terus ada didekatnya, itu saja.


Sedangkan Rinjani hanya bisa diam saja, dia masih dilema, bingung sendiri, apa dia merasakan hal yang sama, atau hanya sebatas rasa belas kasihan semata, ancaman dari Marvin seketika terngiang-ngiang ditelinganya, membuatnya harus berpikir berulang kali, untuk mengambil keputusan yang tepat.


Sampai akhirnya dia tertidur sampai pagi hari dalam pelukan Samuel, selalu saja seperti ini saat mereka terbangun dipagi hari, mereka sudah berganti posisi, dari yang memeluk jadi yang dipeluk.


" Selamat pagi." Samuel tersenyum menyapa dan memandang wajah Jani yang masih bau bantal.


" Hmm.." Jani berusaha membuka matanya, namun masih sangat terasa berat, tadi malam dia sulit memejamkan matanya karena memikirkan omongan Samuel sebelum tidur, kata-kata 'Menunggumu' sungguh sangat membebani dirinya.


" Tidurlah lagi kalau masih mengantuk." Samuel mengusap rambut Jani perlahan, yang masih merasakan kehangatan dalam pelukan Samuel, karena diluar cuacanya juga sangat mendukung, hujan rintik-rintik dan udara pagi yang terasa dingin, membuatnya serasa enggan meninggalkan kasur empuknya, bahkan kaki kiri Samuel berada diatas tubuh ramping Rinjani.


" Hari ini aku libur kerja."


" Kita tidur seharian saja yaa, bagaimana?" Ucap Samuel perlahan dengan senyum yang tidak pernah pudar, hatinya benar-benar terasa berbunga-bunga pagi ini.


" HAAH.." Mendengar kata tidur seharian Rinjani langsung sadar dan terbangun dan mendorong tubuh Samuel kebelakang.


" Awww.." Samuel mengaduh kesal, karena Jani mendorongnya menggunakan tenaga.


" Ckkk..."


" Kamu ini kalau sudah siang langsung berubah menjadi mengerikan!"


" Biasanya juga kalau malam orang berubah, ini malah kebalikannya."


" Nggak ada lembut-lembutnya sama sekali kalau sudah menjelang siang."


" Padahal kalau malam kamu itu kelihatan cantik."


" Ngangenin gitu!"


" Tapi kalau sudah seperti ini, cuma bisa ngeselin saja kamu!" Samuel langsung mencubit gemas pipi Jani sebelum bangkit dari tidurnya.

__ADS_1


" Diiih... bapak kira aku ' Cantik-cantik Serigala' apa?"


" Bisa berubah dimalam hari."


" Bapak juga sama, kalau siang aja langsung kayak harimau, kalau malam aja kayak bayi tuek!" Ucap Jani yang langsung merapikan tempat tidur itu.


" Biarin, yang penting dipeluk!"


" Kamu juga selalu keenakan kalau sudah berpelukan sampai pagi kan?"


" Hayow.. ngaku nggak?" Samuel langsung tersenyum miring mengingat cara tidur Jani yang memang lasak, itu kenapa Samuel selalu berganti yang memeluk, agar tangan dan tubuh Jani tidak berputar kemana-mana.


" NGGAAK..!" Jani langsung melempar bantal kearah Samuel.


" Enak saja, aku kalau tidur kalem ya!"


" Jangan fitnah deh pak, dosa tauk!" Umpat Jani yang sebenarnya malu sendiri.


" Wah.. wah.. wah.."


" Kalian memang sudah cocok jadi pasangan pengantin ya." Marvin datang ke kamar mereka saat sudah mendengar suara teriakan, padahal tadi dia sudah bolak-balik menguping ke kamar itu, tapi tidak berani menggangu istirahat mereka, terutama Samuel.


" Kalau malam mesra-mesraan."


" Pamer manja-manjaan."


" Kalau siang langsung kayak Tom and Jerry."


" Ayok sarapan!"


" Aku jadi mirip kayak ibu kalian ini, yang pagi-pagi sudah menyiapkan sarapan."


" Seepp.. naseeppp!" Marvin merasa kesal sendiri jadinya.


Tiba-tiba ponsel Jani berbunyi, ternyata Niar yang menelponnya.


" Ya ha---" Belum sempat Jani menyapanya, Niar sudah menyambar duluan dengan suara cemprengnya.


" Janiiiiiiiii..."


" Lu dimana sih?"


" Kata Yoyo kamu nggak pulang tadi malam."


" Bahkan jam segini kalian belum balik!"


" Pergi kemana kalian berdua haa..!"


" Gw bilangin ibuk lho ya!"


" Biar dinikahin skalian sama si juragan bakso itu!"


" Kemarin katanya ibuk dianterin bakso satu baskom kerumah tauk."


" Dia mau melamar eluu pake bakso sekarung!" Ucap Niar yang selalu saja asal bicara.


Jani bahkan menjauhkan ponsel dari telinganya, karena suara Niar teramat keras seperti memakai toac, menggelegar sekali.


" APA?"


" MELAMAR..!"


" Sini in ponselmu!" Samuel langsung menarik paksa ponsel digengaman Jani.

__ADS_1


" Heh Niar!"


" Siapa yang kamu bilang tadi?"


" Siapa juragan bakso itu?"


" Juragan bakso mana yang mau melamar?"


" SIAPA YANG BERANI MELAMAR RINJANIKU..!" Teriak Samuel langsung terlihat emosi.


" HAH..?"


" Pak Sam?" Suara Niar terdengar terkejut disana.


" Ssssstttt..."


" Nggak ada, nggak ada yang mau melamar!"


" Niar cuma bercanda." Jani kembali merebut ponselnya kembali, dia takut Samuel kembali kambuh saat melihat kedua bola matanya berapi-api.


" Kamu jangan bohong!"


" Apa karena itu alasanmu belom mau menerimaku?"


" Gara-gara siapa tadi?" Samuel seakan tidak percaya.


" Juragan bakso?"


" Woaah.. haha.. seberapa hebatnya dia dibandingkan dengan aku?" Samuel tertawa kecut mengingatnya.


" Kenapa kamu sulit sekali memutuskannya."


" Apa aku ini terlalu buruk dimata kamu haa?" Samuel merasa tidak terima punya saingan, seumur-umur hanya saingan bisnis yang dia punya, dan itu pun selalu dia kalahkan, sedangkan sekarang si juragan bakso bisa membuat bimbang hati Jani pikirnya.


" Emang kapan bapak bilang suka sih, apalagi bilang cinta?" Teriak Jani dengan keras.


" Sepertinya aku belum pernah mendengarnya." Umpat Jani yang merasa aneh sendiri melihat Samuel merasa terdzolimi seperti ini.


" APAAA..!" Samuel tak mau kalah kalau sudah dalam hal jerit menjerit, saat siang hari tenaganya sudah full tank, sindromnya tidak akan kumat kalau siang hari.


" Jadi selama ini kamu tidak pernah merasakannya?"


" Apa perlu harus diucapkan?"


" HAH?" Samuel menatap tajam mata Rinjani.


" Haiyaaaaahh..." Teriak Marvin yang langsung ikut pamer suara.


" Sudah nggak tentram dan damai lagi rumah ini."


" Belum apa-apa sudah berulang kali terjadi prahara rumah tangga!"


" Gimana kalau menikah beneran!"


" Pasti habis semua piring dan gelas dirumah kalian!"


" Ampun dah... Ampuuuuun Bang Jagoooo!" Marvin memilih pergi dari sana, dan membawa sarapannya naik ke lantai atas.


Dalam hidup kita selalu dihadapkan pada banyak pilihan. Kadang kala, pilihan itulah yang membawa dampak besar dalam diri kita atau bahkan masa depan kita. Pikiran pun seakan terus menimbang-nimbang mana yang harus diambil agar kita tidak salah langkah, begitu juga dengan Cinta.


Jika sudah yakin dengan segala keputusan yang ada, maka kamu tidak perlu lagi menyesali apapun. Cukup serahkan semua pada Tuhan dan percaya bahwa kamu bisa melaluinya.


..."Hidup adalah seni menggambar tanpa sebuah penghapus, jadi berhati-hatilah dalam mengambil keputusan di tiap lembaran berharga dalam hidupmu."...

__ADS_1


Kasih double up nih... biar double juga hadiahnya☺


__ADS_2