
...Happy Reading...
Dicintai secara mendalam oleh seseorang memberimu kekuatan dan mencintai seseorang secara mendalam memberimu keberanian.
Setelah satu minggu lebih Samuel tertidur dengan bantuan alat pernafasan, juga selang infus yang selalu menempel ditangannya, karena hanya itulah cara dia bertahan, dan pagi ini akhirnya kedua matanya terbuka samar-samar.
" Pak Sam?"
" Bapak sudah bangun?" Jani langsung memegang tubuh Samuel yang terlihat lemas tidak berdaya.
" Biar aku periksa dulu." Marvin yang sedari tadi asyik suap-suapan nasi goreng dengan Niar langsung berjalan mendekat.
" Ja.. Jani." Mulut Samuel ingin berkata-kata namun suaranya tidak terdengar, seolah tidak ada tenaga yang tersiksa didirinya, bahkan sebelum matanya menatap Jani, nama yang pertama dia sebut adalah Rinjani.
" Aku sudah memberikannya obat."
" Agar kesadarannya mulai stabil."
" Sebentar lagi dia pasti akan membaik." Ucap Marvin sambil menyuntikkan obat di selang infus Samuel.
" Janii.." Samuel terus memanggil namanya, bahkan air matanya mengalir dengan sendirinya.
" Iya pak, aku disini." Ucap Jani menggengam jemari Samuel yang sudah mulai terasa hangat.
" Jani.. uhuk.. uhuk.." Tenggorokan Samuel terasa kering, karena beberapa hari ini tidak ada makanan apapun yang bisa masuk ke dalam mulutnya.
" Minum dulu pak?"
" Pelan-pelan saja ya?" Jani meletakkan bantal dibelakang kepala Samuel dan menyuapi sedikit air dengan sendok.
" Jani.. apa itu benar kamu?" Antara sadar dan tidak sadar pikiran Samuel saat ini, bahkan dia takut kalau ini hanya sebatas mimpi.
" Iya pak, ini aku Rinjani." Jani tidak menyangka, Samuel bisa terluka separah ini.
" Jani peluk aku." Air mata Samuel mengalir semakin deras saat ini.
" Haish.. mulai deh.. mulai.."
" Ayo dokter, kita tunggu diluar saja."
" Moment seperti ini tidak baik untuk kesehatan mata jomblowers seperti dokter." Niar langsung menarik lengan Marvin yang menyaksikan dua sejoli yang restunya masih terhalang dinding pemisah yang sangat tinggi itu.
" Ciiihhh.."
" Apalagi untuk kesehatan mata orang yang pacaran LDRan?"
" Cuma bisa memandang tanpa bisa merasakan!" Umpat Marvin memandang remeh Niar yang sudah melotot kearahnya.
Mending gw, walau bukan pacarnya tapi bisa selalu bersamanya, pernah memeluknya bahkan pernah menciumnya, haha..
Marvin jadi tersenyum sendiri mengingat semua kejadian yang dia alami bersama Niar, entah mengapa Marvin seolah tidak sadar saat melakukannya, dia tidak pernah merencanakan hal itu, semua mengalir begitu saja, karena tubuhnya seolah selalu selangkah lebih maju dari pada akal sehatnya.
" Gimana?"
" Apa yang bapak rasakan saat ini?"
" Apa pusing atau ada yang sakit?"
" Coba katakan pak?"
" Atau ada yang bapak mau?" Berbagai rentetan pertanyaan keluar dari mulut Jani yang terlihat semakin lega.
" Aku mau kamu."
" Cuma kamu Jani." Ucap Samuel sambil menyembunyikan wajahnya diceruk leher wanita yang sudah resmi menjadi istrinya secara lahir saja, karena batinnya belum sempat dia salurkan.
" Pak.." Hati Jani terasa bergetar saat mendengar perkataan Samuel, bagaimana dia bisa tega meninggalkan pria seperti ini pikirnya.
" Jani, bolehkah aku bertanya?" Samuel memandang sorot mata Jani yang sudah berair itu.
" Tentu, tanyakan saja pak?" Jani mengusap pipi Samuel yang terlihat lebih tirus itu dengan lembut, bukan karena dipermak tapi karena tubuhnya semakin mengurus.
" Apa aku masih menjadi suamimu?"
" Kamu masih jadi istri sah ku kan Jani?"
" Kamu nggak ninggalin aku kan sayang?"
__ADS_1
" Tolong.. tolong jangan tinggalkan aku Rinjani." Tubuh Samuel bergetar hebat, tangannya kembali memeluk pinggang Jani dengan erat, seolah dia takut mendengar berita buruk nantinya.
" Emm... masih..."
" Tentu saja masih pak." Air mata Jani tak kuasa dibendung lagi, dia ikut mengeratkan pelukannya dan menempelkan pipinya dikepala Samuel.
" Terima kasih sayang.."
" Terima kasih karena kamu masih sudi menerimaku kembali."
" Maafkan aku sayang.. maaf.. aku.. aku.." Samuel ingin menjelaskan sesuatu namun seolah sulit untuk mengatakannya.
" Ya sudah.. jangan terlalu banyak pikiran dulu pak?"
" Nggak usah bahas masa lalu dulu, masih banyak waktu untuk membicarakan semuanya." Jani seolah tahu apa yang ada di pikiran suaminya.
" Yang penting bapak sehat dulu, okey?"
" Bapak mau makan nggak sekarang?"
" Aku buatin bubur dulu ya?" Jani ingin beranjak pergi ke dapur saja, dia tidak mau Samuel kembali sakit karena terlalu banyak mengingat kejadian pahit yang belum lama ini terjadi, masih banyak waktu untuk membicarakan hal itu pikirnya.
" Jangan pergi."
" Jangan tinggalin aku sayang." Samuel bahkan enggan melepas pelukannya.
" Aku cuma mau ke dapur aja lho ini?"
" Nggak kemana-mana, beneran deh pak?" Ucap Jani tersenyum, sepertinya kesadaran suaminya itu sudah kembali penuh kalau sudah seperti ini.
" Nggak boleh."
" Suruh bibi saja yang buat."
" Aku sudah gaji dia mahal-mahal, kenapa mesti kamu yang buat?"
" Apa perlu aku naikkan gajinya sekarang juga?"
" Atau nggak usah makan saja, aku tidak lapar."
" Jangan pergi lagi Jani.. please?" Tingkah Samuel bahkan lebih manja dari kelakuan Yoyo kalau lagi rewel karena ngantuk.
" Jani.."
" Aku hanya ingin kau tahu, bahwa rasa sayangku terhadapmu melebihi apapun di dunia ini."
" Kamu boleh membenciku karena semua perbuatanku dulu."
" Bahkan kamu boleh menghukumku, apapun yang kamu mau."
" Aku akan terima sayang."
" Asalkan aku tetap bisa melihatmu."
" Asalkan aku bisa terus berada disampingmu."
" Aku tidak bisa tanpamu Jani, aku sangat mencintaimu sayang." Samuel kembali mengeratkan pelukannya.
" Setiap hal dalam tubuhmu itu sama berharganya dengan apa yang ku punya, dalam siksaan dan sakit, itu tetap saja berharga."
" Kamu mungkin belum lama memegang tanganku atau bahkan hanya untuk sementara waktu, tetapi kamu memegang hatiku selamanya sayang."
" Tolong jangan sembunyi lagi dariku, okey?" Samuel menatap sendu wajah Jani yang masih beruraian air mata.
" Hmm.." Jani mengganggukkan kepalanya perlahan.
Aku tidak bisa janji pak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok? apakah kita masih tetap bisa bersama atau harus terpisah..
" Terima kasih sayang."
" Tak akan pernah berkurang rasa ini padamu, karena di sini, di hati ini, kaulah yang terindah." Samuel meletakkan tangan Jani di da da bidangnya.
" I love you my wife." Ucap Samuel dengan senyum pucatnya.
Kenapa jadi pengen nangis saat mendengar kata my wife? argghh... aku juga mencintaimu pak Su, tapi aku takut tidak bisa mempertahankan hubungan ini kelak... Tuhan tolong aku... tolong lembutkan hati ibu dan adekku...
" Hmm.." Jani terpaksa hanya bisa mengganguk saja, dia tidak berani menjanjikan apapun untuk saat ini.
__ADS_1
" Aku ke dapur sebentar ya, minta bibi buatin bubur dulu?"
" Bapak sudah seminggu lebih lho tertidur."
" Bapak harus makan okey?" Jani mencoba melerai pelukan suaminya namun masih belum bisa, seolah Samuel tidak rela membiarkan Jani melangkah sedikitpun darinya.
" Jangan... jangan dilepasin!" Ucap Samuel lirih dan tetap pada posisinya.
" Lho kenapa?"
" Sebentar aja kok, nanti balik lagi kesini pak." Sudah dapat dipastikan hari ini dia melewatkan tugas kampusnya lagi kalau seperti ini.
" KANGEN." Satu kata sederhana yang mampu membuat jantung seorang Rinjani berdetak lebih kencang.
" Huuuuhhh." Hanya hembusan nafas dan senyuman yang bisa Jani perlihatkan kepada suaminya yang menjadi berubah berlipat ganda manjanya.
" Aku juga kangen?" Ucap Niar lirih, dia yang tadinya ingin mengajak Rinjani pergi ke kampus karena sudah dihubungi berkali-kali oleh rekannya untuk membuat tugas, terpaksa hanya terhenti didepan pintu karena tidak tega menggangu pasangan pengantin baru yang masih sama-sama ori itu.
" Baru ditinggal ke kamar mandi sebentar."
" Masak udah kangen?" Ucap Marvin sambil meletakkan dagunya dipundak Niar sambil ikut melihat pemandangan yang baginya sedikit membuat matanya sepet itu.
" Diiiiiiihhhh!" Antara terkejut juga kesal karena Marvin telah mengagetkannya.
" Emang siapa yang kangen sama bapak!"
" Kepedean banget jadi orang!" Niar langsung menyikut perut Marvin dibelakangnya.
" Aw... aw... aw..."
" Woaah... kekerasan dalam rumah tangga ini namanya!"
" Awas saja aku laporin kamu?"
" Biar kena pasal berlapis-lapis!" Celoteh Marvin yang langsung berkacak pinggang didepan Niar.
" Berisik kalian."
" Keluar sana, aku mau mesra-mesraan berdua dengan istriku!" Ucap Samuel yang ternyata memandang kearah mereka berdua yang terlihat berdebat didepan pintu.
" Ciiihh." Marvin tersenyum miring sambil berjalan mendekati mereka.
" Ingat nggak boleh lebih?" Bahkan Marvin menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.
" Tenagamu masih belum kembali sepenuhnya."
" Jangan pernah coba-coba untuk memaksa bangun Rajawalimu, right?"
" Ingat... kesehatan harus selalu di utamakan!" Itulah motto seorang dokter, karena kesehatan manusia memang yang paling utama, harta melimpah namun orangnya sakit-sakitan juga tiada artinya.
" RAJAWALI?" Teriak Rinjani dan Niar bersamaan, bahkan mereka serentak menoleh ke arah Marvin dengan tatapan penuh tanya.
" Siapa Rajawalimu pak?" Jani berpindah menatap suaminya.
" Kamu mau tahu?"
" Apa mau langsung berkenalan saja?" Samuel langsung meraih jemari tangan Jani yang terlihat semakin bingung.
" SAM!" Marvin langsung melotot saat melihat Samuel malah tersenyum.
" Apaan sih pak teriak-teriak?" Niar menatap jengah kearah Marvin.
" Kita keluar, pasti ada adegan plus-plus setelah ini."
" Nanti kamu teringin pulak, bisa berabe!"
" Aku punya, tapi aku tidak bisa memberikannya untukmu sekarang!" Marvin mengoceh tidak jelas sambil mendorong tubuh Niar untuk keluar dari kamar Samuel.
" Dokter ini ngomong apa sih?"
" Nggak jelas banget!" Umpat Niar bahkan sampai memutar kepalanya kebelakang.
" DIEM."
" Ini satu-satunya pelajaran yang susah dijelaskan, tapi gampang dipraktekkan!"
Marvin langsung mendekap mulut Niar menggunakan tangannya agar tidak banyak bertanya dan segera membawanya pergi dari sana segera, sebelum adegan fanas terjadi didepan mereka.
__ADS_1
Akhirnya Niar hanya bisa mengikuti langkah Dokter tampan itu, walau didalam benaknya penuh dengan tanda tanya.
..." Bersabarlah seperti air, terus mengalir kebawah sesuai hukum alamnya, ketemu rintangan dia berbelok, ketemu celah kecil dia nyelip, ketemu batu dia menyibak, ketemu bendungan dia terus mengumpulkan diri sendiri, hingga semakin banyak dan tinggi penuh terlampaui, untuk bisa mengalir lagi, hanya perlu diam, tenang dan rasakan betapa hebat dan menakjubkannya hasil dari buah kesabaran itu nanti."...