CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
32. Bos Sableng Sinto Gendheng


__ADS_3

...Happy Reading...


Perasaan cinta manusia memiliki fase yang begitu unik. Dimana cinta bisa menjadi sumber kekuatan dan sekaligus kelemahan bagi mereka. Ketika jatuh cinta, hidup seolah berwarna dan serasa menjadi orang paling beruntung di dunia.


Sayangnya, cinta juga bisa membuat luka. Di saat hal itu terjadi mungkin seseorang akan merasa menjadi orang yang paling tersakiti di dunia. Hidup bahkan terasa tak ada artinya lagi. Itulah mengapa manusia diminta untuk mencintai sesuatu sewajarnya. Karena pada dasarnya semua hanyalah titipan Yang Maha Kuasa.


Sampai sore menjelang, ibuk Jani tak kunjung datang, namun Yoyo malah kelihatan betah disana, sedari tadi dia asyik menjahili Bromo ditaman samping, ada saja tingkah bocil itu yang membuat Bromo mendengus kesal namun juga tertawa bersama Niar, bahkan Yoyo melewatkan tidur siangnya.


Sedangkan Samuel masih menempel saja dibahu Jani belum mau lepas sedari tadi.


" Jani.." Panggil Samuel kembali.


" Apa lagi sih pak?" Jawab Jani memutarkan kedua bola matanya.


" Kok kamu jadi bentak aku sih?" Samuel langsung menegakkan badannya.


" Habis bapak cerita yang serem-serem sih?"


" Merinding semua nih tangan dan lenganku!" Jani mengusapnya perlahan.


" Pfffttth..."


" Kok serem sih?"


" Yang bener itu, ngeri-ngeri sedap tahu!haha.." Samuel malah menggoda Jani yang ternyata minim pengetahuan tentang yang inak-inak.


" Apalagi tuh!" Jani sontak memundurkan wajahnya.


" Kamu akan tahu nanti."


" Tunggu saja jam tayangnya!" Samuel bahkan mengedipkan satu matanya kearah Jani.


" Diiih.."


" Nggak jelas banget bapak ini!" Jani langsung menggeser tubuhnya kesamping.


" Jani aku lapar?"


" Yoyo juga belum makan siang?" Samuel kembali menarik lengan Jani agar mendekat lagi.


" Coba aku lihat didapur dulu ya."


" Ibuk masak enggak tadi." Jani segera melangkah ke dapur, ternyata hanya ada sisa nasi goreng satu piring dimeja makannya.


" Pak.. ibuk nggak masak tadi."


" Mungkin udah keburu dijemput sama tante, tadi cuma masak nasi goreng saja."


" Tapi ada spaghetti spesial mauk?" Jani mengingat ibunya slalu mempunyai stock didapur.


" Mauk."


" Spagetti spesial rasa apa." Tanya Samuel langsung mengganguk setuju.


" Rasa soto ayam, goreng, atau rasa kari spesial juga ada."


" Mau pilih yang mana?" Jani menaikkan kedua alisnya.


" Masak spagetti ada rasa soto, kari?"


" Spagetti apaan itu?" Samuel baru pertama kali mendengar spagetti rasa soto dan kari.


" Spagetti spesial mie instant, hehehe.." Jani langsung tertawa, melihat perubahan wajah Samuel, dia kurang begitu suka bahkan menghindari makanan yang instant.


" Kita pulang."


" Besok kita kesini lagi." Samuel langsung balik kanan bubar jalan.


" Yoyo sayang.. ayo kita pulang." Samuel berjalan kearah taman samping dimana dia mendengar suara tawa renyah Yoyo.


" Yeeesssss..."


" Yareeee... Yareeee..." Jani memutarkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, akhirnya Samuel mengajaknya pulang sebelum ibuk datang.


" Yaaaah..."


" Kenapa sudah pulang, Yoyo masih mau main dengan kak Bromo lagi." Umpat Yoyo yang langsung memanyunkan bi birnya.


" Dasar bocil."


" Kalau tadi itu namanya bukan main, tapi ngerjain kakak kamu!" Bromo sedari tadi hanya bisa mengalah pasrah saja, tidak mungkin dia melawan anak kecil pikirnya.


" Huh."


" Kakak nggak aciiikk!"


" BYE.." Yoyo langsung melengos dan merentangkan tangannya untuk minta digendong Daddynya.


" Niar kamu mau ikut sekalian apa langsung pulang?" Samuel memberikan penawaran kepada Niar.


" Kalau pulang saja boleh pak?" Niar tersenyum pura-pura malu.


" Hmm... pulanglah!" Samuel langsung mengganguk dan menyetujuinya.


" Nih... buat jajan sama ongkos pulang naik taksi!" Samuel memberikan Niar beberapa lembar uang berwarna merah lambang dua bapak-bapak tersenyum.


" Hehe.."


" Makasih pak." Ingin sekali Niar bersorak sorai, sudah tugas menjaga Yoyo cuma separuh hari, ditambah uang jajan yang lebih dari cukup, sungguh nikmat Tuhan yang tidak terkira pikirnya.


" Mantap tuh mbak?"


" Aku nggak diajak jajan sekalian nih?"


" Aku juga belum makan siang ini, ibu bahkan belum pulang?" Bromo seakan iri melihat uang ditangan Niar.


" Niih buat kamu."


" Jangan biasakan makan mie instan."


" Kalau ibuk nggak masak." Samuel juga memberikan beberapa lembar uang untuk Bromo.


" Ibuk?"


" Maksud bapak, ibuk saya?" Bromo seakan terkejut, ketika Presdir kakaknya memangil ibuknya dengan sebutan yang sama seperti dia.


" Ya iyalah."


" Siapa lagi, karena nanti dia juga akan jadi ibukku." Ucap Samuel dengan santainya sambil melangkah ke dalam mobil.


" Wuuuiidiiiih.."


" Maksud dia apa?"


" Dia mau jadi anak angkat ibu atau bagaimana?" Bromo bahkan tidak berani membayangkan kalau sang presdir menyukai kakaknya yang menurutnya 'B' aja itu.


" Hahaha.."


" Bahkan lebih W-O-W daripada itu dek."


" Mbak pulang ya, nggak jadi nraktir kamu, orang kamu juga udah dapet banyak gitu!"


" Udah jajan yang enak sono!" Niar langsung melambaikan tangannya dan segera berlalu dari rumah Rinjani.


" Laah... itu kenapa si Niar naik taksi pak?" Jani terheran sendiri saat ingin naik mobil.

__ADS_1


" Dia mau pulang katanya."


" Ada perlu."


" Biarkan saja, aku sudah memberinya uang buat naik taksi dan jajan."


" Ayok kita pulang." Samuel langsung menyuruh Jani masuk kedalam mobil.


" Enak-enak saja si Niar pulang duluan." Jani merasa iri kepada Niar yang selalu diberi kelonggaran oleh bossnya itu, sedangkan dia asyik ditempelin terus, nggak dibolehin kemana-mana.


" Dek... mbak pergi."


" Salam buat ibuk!" Jani berteriak dan segera memasuki mobil mewah Samuel, sedangkan Bromo masih terdiam memikirkan omongan Niar tadi.


" Pak besok aku boleh libur nggak?" Jani mencoba meminta izin, karena dia sama sekali tidak punya libur kerja, padahal kalau dikantor sabtu minggu malah libur.


" NGGAK." Ucap Samuel tanpa memandang ke arah Jani.


" Paaaaakkkkkk..." Jani bahkan terlihat memelas.


" Memangnya kamu mau kemana?" Akhirnya Samuel menoleh kearah Jani.


" Aku mau kekantor."


" Ada sedikit banyak hal yang harus aku tanyain ke mbak Senior dikantor, sebagai bahan laporan nanti."


" Aku juga pengen nongkrong-nongkrong sama Niar."


" Masak Niar dibolehin pulang awal, dibolehin nggak datang kerumah."


" Kalau aku?" Jani menunjuk wajahnya sendiri.


" Terus saja bapak menyiksa aku begini?" Jani melengos kearah jendela mobil, ingin rasanya dia menangis, hidupnya bagai didalam sangkar emas, panas tanpa air hujan menyirami.


" Kalau cuma mau ke kantor ya nggak usah libur segala."


" Tinggal berangkat saja."


" Nanti kita berangkat bareng."


" Apa kamu lupa, siapa Bos kamu di kantor?"


" Sama-sama satu tujuan aja kok ribet."


" Ya kan Yoo?" Samuel melirik kearah Yoyo yang terlihat menyimak interaksi dua orang dewasa itu.


" Hmm.."


" Terserah Daddy saja, yang penting daddy bahagia." Celoteh Yoyo dengan senyum manisnya.


" Yoyo mau main kekantor daddy juga nggak?" Samuel mengatur strategi agar Jani tetap dalam pengawasannya.


" Emang boleh Dad?" Yoyo terlihat sangat antusias, padahal dulu dia sering kena marah kalau tiba-tiba datang ke kantor, karena dia sering mengacaukan ruangannya.


" Boleh dong, masak ke kantor Daddynya sendiri nggak boleh."


" Besok ikut sama mommy kamu yang suka marah-marah ini, okey?" Samuel melirik wajah Jani yang semakin terlihat masam, tapi dia tidak perduli, apapun akan dia lakukan agar Jani tidak bisa jauh darinya.


Aaarrrrggghhhh...! Dasar Bos Sableng Sinto Gendeng, kalau gini namanya sama saja dia melepas kepala tapi menarik ekornya.. mau sampai kapan seperti ini, ibuukkk... aku ingin pulang.. hiks.. hiks..


Jani hanya bisa memukul da danya perlahan, karena semua ocehan Samuel hanya bisa membuatnya sesak dan menangis dalam hati.


Keesokan harinya Jani benar-benar tidak ada alasan lagi untuk bisa terlepas dari sisi Samuel, dia berangkat ke kantor walau agak siang dia bahkan satu mobil dengan Samuel, Yoyo pun terlihat senang hari ini, dia sudah seperti berangkat pergi piknik ke kantor.


Sesampainya didepan kantor, mereka menjadi sorotan publik, semua mata memandang kearahnya, mereka semua bahkan berbisik-bisik, kenapa seorang karyawan magang bisa berangkat satu mobil dengan Presdir mereka.


" Bapak masuk saja duluan." Bisik Jani saat dia keluar dari dalam mobil.


" Kenapa?" Samuel menatap aneh wajah Jani yang terlihat gugup itu.


" Sudah sono, bapak masuk saja duluan."


" Buruan sana pak, masuk cepetan!" Bahkan hanya Jani yang berani berkata seperti itu didepan Samuel.


" Ckk.. biarin saja mereka melihat."


" Orang mereka punya mata kok."


" Ayok sini Yoyo, ayah gendong." Samuel tidak memperdulikan banyak mata yang memandang, dia menggendong Yoyo dengan tangan kanannya.


" Nihh.. bawain tas ku!" Samuel menyerahkan tas itu kepada Jani.


" Bawa pakai tangan kiri." Ucap Samuel kembali memerintah Jani.


" Kenapa harus pakai tangan kiri sih pak?"


" Lebih sopan itu pakai tangan kanan." Jani masih saja bisa protes, akhir-akhir ini dia jadi tidak segan-segan lagi dengan Samuel, apalagi sikapnya yang sudah banyak berubah.


" Sudah berani kamu melawan saya sekarang?" Samuel menajamkan pandangannya ke arah Jani yang langsung memundurkan tubuhnya.


" Ayo masuk!" Samuel langsung meraih jemari tangan kanan Rinjani dan mengenggamnya dengan erat masuk ke dalam kantor.


" Pak.. pak.. pak.."


" Aku bisa jalan sendiri."


" Kenapa mesti digandeng sih?" Jani hanya bisa nyengir sambil melirik kanan kiri.


" Wuiiidiiihhhh... itu kan karyawan magang hari itu kan?"


" Waahh... kirain dia dipecat, ternyata malah digandeng tuh?"


" Wow... keren tuh, emang cantik sih, pantesan presdir kita menyukainya.


" Waah... nggak nyangka banget lho ya?"


" Jangan-jangan pake jampi-jampi tu cewek, masa dia dengan mudahnya tertarik sama cewek magang?"


" Bisa jadi tuh.. dikantor ini banyak wanita seksi dan yang sudah mapan dibanding dia kan?"


" Kenapa harus dia?"


" Diiih... ngeri gw, wanita jaman sekarang selalu saja menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan apa yang dia mau."


Banyak bisikan-bisikan jelmaan setan yang mengumpat Jani yang samar-samar terdengar ditelinga Jani, sepanjang perjalanan masuk kedalam ruangan Samuel.


" Pak.."


" Aku nggak jadi ke divisi deh."


" Lain kali saja." Jani terlihat lemas sambil duduk disofa didalam ruangan Samuel.


" Kenapa lagi kamu?" Samuel menatap Jani dengan tersenyum miring.


" Nggak papa.."


" Aku temenin Yoyo aja disini." Jani merasa malu sekali, menjadi bahan gosip terpanas pagi ini, mungkin saja dia sudah menjadi trending topik dichat orang-orang satu kantornya.


" Ehermm.."


" Apa karena kamu sudah tidak bisa jauh dariku sekarang?"


" Atau mungkin kamu sudah tidak bisa kalau tidak memandang wajah tampanku ini, walau hanya sebentar saja?" Samuel berjalan mendekat dan duduk tepi sofa yang Jani duduki.


" Apa kamu sudah merasakan hal yang sama denganku?" Samuel bahkan mendekatkan tubuhnya didepan Jani dan sempat membuat Jani terhipnotis karena mencium bau parfum Samuel yang selalu membuatnya merasa nge Fly, parfum berkelas memang beda sensasinya, ketimbang parfum Jani yang hanya parfum isi ulang.

__ADS_1


" Iishhh... issshhh... isshhh..."


" Daddy selalu saja ermmm... apa ya kata kak Bromo kemarin?"


" Ah ya... daddy selalu saja modus." Ucap Yoyo mengingat kemarin dia sempat berguru dengan Bromo tentang bahasa orang dewasa.


" Astaga Bromo.."


" Kenapa dia ngajarin anak kecil yang nggak bener!" Jani akhirnya tersadar oleh omongan Yoyo.


" Awas pak.. aku mau ketemu mbak Nisa saja." Jani langsung kabur dan Samuel hanya senyam-senyum penuh makna saja hari ini.


" Mbak Nisa.." Jani memanggil Nisa yang ada diruangannya.


" Jani?"


" Tumben kamu ke kantor?"


" Ada apa?"


" Apa si bibi sudah boleh datang kerumah gantiin kamu jaga Yoyo?" Nisa melirik Jani sebentar dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


" Maksud mbak Nisa apa?"


" Yoyo sudah dapat babysitter mbak?"


" Really?"


" Ahahaha.. yes.. yes..!" Jani bahkan bersorak karena terlalu bahagia.


" Akhirnya aku terbebas juga dari hukuman ini."


" Niaarrr...kita bebas sekarang!" Teriak Jani, maksud hati hanya untuk menanyakan laporan di divisinya, ternyata dia malah mendapatkan surprise siang ini.


" Ahehe... maaf mbak Nisa, aku terlalu bahagia ini." Jani melihat Nisa yang langsung terkejut, bahkan memundurkan tubuhnya, takut terkena kibasan tangan Jani yang sedang menari-nari diudara.


" Jadi kapan? dia masuknya mbak?" Jani menatap wajah Nisa dengan sumringah.


" Memangnya dia belom masuk?" Nisa semakin dibuat terheran.


" Belum?"


" Tadi saat kami berangkat, belom ada babysitter yang datang deh kayaknya?" Jani mengingat-ingat suasana rumah Samuel pagi tadi juga sama, hanya ada simbok yang masak didapur.


" Lah.. trus Yoyo sama siapa dirumah?"


" Kalau kamu dan pak Sam datang ke kantor?" Nisa kembali dibuat terkejut, pasalnya tidak mungkin pak Samuel membiarkan Yoyo dirumah sendirian pikirnya.


" Yoyo ikut dengan kami ke Kantor kok."


" Sekarang ada diruangan pak Sam." Ucap Jani tanpa merasa curiga.


" Apa jangan-jangan nggak jadi diterima ya babysitternya?" Bahu Jani tiba-tiba melemas memikirkannya.


" Enggak.."


" Udah diterima kok."


" Bahkan beberapa hari yang lalu." Jawab Nisa dengan mantap, dia tidak tahu kalau Jani alasan Samuel menunda babysitter Yoyo datang kerumahnya sekarang, karena Samuel sengaja ingin menyuruhnya datang saat waktu magang Jani sudah selesai.


" Benarkah?"


" Trus kenapa belum juga datang?" Otak cerdas Jani langsung berputar pada porosnya.


" Argghhh!" Jani mengeram dengan kesal dan mengepalkan kedua tangannya.


" Pasti dia cuma mau ngerjain aku!"


" Dia pasti sengaja belum menyuruhnya datang agar aku terus saja jadi babysitter bangkotan itu."


" Haaah.."


" Awas saja kamu pak Samuel!"


" Tunggu saja pembalasan dariku!" Jani langsung berbalik dan berjalan kembali keruangan Samuel.


" Hah?"


" Babysitter bangkotan?"


" Maksudnya apa?"


" Heiii... Jani... Jani... tunggu!" Saat Nisa masih mencerna setiap perkataan Jani, dia sudah menghilang dari hadapan Nisa.


Braaaakkk!


Jani membuka pintu ruangan itu dengan kasar dan masuk dengan amarah yang sudah sampai diubun-ubun, bahkan pintu ruangan Samuel tidak dia tutup kembali.


" PAK SAMUEL..!" Jani berteriak dan langsung berjalan mendekat kearah meja Samuel.


" Apa?" Bahkan Samuel menjawabnya dengan santai tanpa memandang kearah Jani.


" Bapak sudah mendapatkan babysitter Yoyo kan?"


" Bahkan bapak sudah menerimanya beberapa hari lalu."


" Kenapa bapak tidak menyuruh dia datang?" Jani bahkan duduk dimeja didepan Samuel dengan wajah yang sudah memerah karena kesal.


" Bapak sengaja kan, cuma mau ngerjain aku!"


" Biar aku tetep bapak siksa terus menerus!" Jani terus saja mengoceh, seolah-olah dia merasa terkhianati.


Greep!


Samuel menarik Rinjani kedalam pangkuannya hanya dengan satu kali tarikan.


" Siapa yang bilang?" Samuel memandang lekat wajah Jani didalam pangkuannya.


" Mb.. mb.. mbak.. mbak.. Nisa." Bahkan bi bir Jani tiba-tiba gemeteran.


" Ckk.."


" Dasar si Nisa!"


" Tapi memangnya kapan aku menyiksamu?" Samuel semakin mengikis jarak wajah diantara mereka.


" Itu.. itu.. anu.. empphhh-----"


Samuel langsung membungkam bi bir Jani dengan mesra, bahkan Samuel melu mat dan memperdalam ciu mannya, posisi Jani yang duduk dipangkuannya, membuat Samuel semakin leluasa menguasai tubuh Jani.


Tuinggg.. tuinggg...


Tiba-tiba Yoyo menarik jas Samuel dari arah belakang.


" Daddy.. daddy.."


" Aku mau juga dipeluk kayak kak Jani.."


Jedeeeeeeeeeeeeerrrr!


Mereka baru ingat kalau ada manusia kecil yang mengawasi pergerakan mereka sedari tadi.


Dengan memiliki perasaan cinta, seseorang terdorong untuk memiliki kehidupan yang lebih baik dengan perasaan gembira.Ā 


Perasaan cinta itu terkadang tidak terlukiskan, karena Emosi cinta dapat membuatmu ingin mengekspresikan apa yang ada di hati.

__ADS_1


..."Tuhan tidak pernah keliru memberikan anugerah cinta kepada hamba-Nya, karena sebuah cinta yang datang itu pasti ada makna dan alasannya."...


Jangan lupa tinggalakan jempol dan Hadiah kalian🄰


__ADS_2