CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
21. Dinner Romantis


__ADS_3

...Happy Reading...


Tanam benih kebahagiaan, harapan, kesuksesan, dan cinta, semuanya akan kembali padamu dengan berlimpah ruah karena ini adalah hukum alam.


Perasaan ketika jatuh cinta adalah momen yang juga bisa membuat kita bingung untuk mengenali diri sendiri. Terkadang kita merasakan kebahagiaan yang mungkin belum pernah kita rasakan sebelumnya.


Begitu juga dengan Samuel yang entah mengapa bagai tersihir oleh sosok Rinjani yang dari luar mungkin terlihat sederhana namun saat mengenalnya lebih jauh dia selalu bisa membuat orang merasa nyaman saat bersamanya.


Saat ini pekerjaannya di Kalimantan sudah selesai, namun kalau harus pulang sekarang penerbangannya tengah malam nanti dan badan juga pikiran Samuel sudah dia kerahkan semua saat meeting tadi, jadi dia memilih memesan hotel untuk menginap satu malam disana.


" Kita pesan hotel saja malam ini, badanku sudah pegel banget, kalau harus pulang sekarang juga pasti sampai sana sudah dini hari." Ucap Samuel, mereka diantar sopir perusahaan menuju hotel termewah disana.


Ya ampun, gimana ini? bahaya kalau nanti malam dia tidur suruh nemenin gw lagi, kalau saat dirumahnya masih mending ada Yoyo dan simbok, kalau dia macem-macem tinggal teriak saja, kalau dihotel? haah... habis deh gw, ibuuukk gimana ini... argh... maafkan anakmu ini, jika sudah tidur dua kali dengan pria bukan muhrim, walau nggak ngapa-ngapain juga sih.


Jani langsung berpikir keras, dia sudah ketakutan terlebih dahulu.


" Emm... apa nggak kasihan sama Yoyo nanti pak."


" Apa nggak sebaiknya kita pulang saja, malam juga nggak masalah, ada sopir juga yang jemput kita kan?" Rinjani masih mencoba membujuknya agar tidak jadi tidur di hotel, tidur dipesawat lebih aman pikirnya.


" Badanku lelah sekali, kepalaku juga terasa pusing sekali."


" Takutnya nanti kalau dipaksakan, bayangan itu muncul kembali ketika aku didalam pesawat."


" Nanti kamu sendiri yang susah." Sebenarnya Samuel takut trauma itu muncul lagi, karena kondisinya masih belum stabil dan dia tidak mau menyusahkan Jani kembali, apalagi jika dilihat banyak orang saat dia lemah seperti itu.


" Hmm... begitu ya?" Jani tidak bisa beralasan lagi, dia manusia yang paling tidak tegaan, dia pun kasian kalau melihat penyakit Samuel kumat, hilang sudah aura kesombongannya, hanya seperti pria tampan namun lemah tidak berdaya.


" Yaudah deh." Jani akhirnya hanya bisa pasrah saja.


" Tapi emm... nyewanya boleh dua kamar tidak pak?"


" Soalnya saya kurang nyaman kalau harus tidur dengan bapak lagi, hehe.."


" Nanti boleh deh potong gajiku untuk bayar sewanya, hehe..." Jani ragu-ragu, namun dia tidak ingin ada hal-hal buruk yang mungkin terjadi."


" Ciiiiihhh..." Samuel sontak berdecih dengan kesal.


" Kamu pikir aku suka sangat tidur denganmu!" Baru kali ini ada perempuan yang sepertinya tidak suka saat berdua bersamanya.


" Kemarin malam itu karena terpaksa."


" Kalau enggak ya malas banget berbagi tempat tidur denganmu, bikin sempit tempat tidurku saja!" Padahal dalam hati dia sangat nyaman tidur memeluk tubuh Jani.


" Kamu pikir tidurmu bener apa?"


" Cantik kayak putri tidur gitu?"


" Nooo.. kamu tidur kayak gangsingan tau nggak, muter sana sini, lasaknya minta ampun!"


" Pegel juga tanganku saat bangun tidur, karena kamu jadiin bantal." Padahal dia sendiri yang sengaja menaruh lengannya dibelakang kepala Jani, agar lebih nyaman meluknya.


" Kepedean banget kamu jadi orang!" Harga diri Samuel terasa terinjak sekali, dia marah saat melihat Jani seperti keberatan tidur dengannya.


" Mulai deh... mulai..."


" Nggak bisa apa kalem sedikit ngocehnya." Umpat Jani langsung menekuk wajahnya, dia mana sadar kalau tidurnya seperti itu.


" Maaf pak, kalau bapak jadi nggak nyaman."


" Saya nggak tahu kalau tidurku se lasak itu pak, hehe.." Lebih baik minta maaf dari pada harus diceramahi sepanjang jalan, suruh siapa minta dia temenin, masih baik nggak dia tendang sampai lantai pikirnya.


" Nggak usah sok jadi orang penting kamu!"


" Dan kamu jangan khawatir, aku pasti akan memotong gajimu itu!"

__ADS_1


" Aku juga nggak mau buang-buang uang banyak hanya untuk menyewakanmu hotel."


" Kalau nanti gajimu kurang, aku anggap ini hutang ya!" Akhirnya mobil berhenti, hotel mewah itu sudah ada didepan mata.


" Soalnya aku sudah pesan dua kelas VIP di hotel termewah itu. Samuel langsung tersenyum miring saat Jani terlihat terkejut, dia langsung membuka pintu mobil dan hendak masuk dan check in disana.


" Alamak, ngapain mesti yang VIP sih pak? di hotel mewah lagi."


" Bapak aja yang ke sana ya, aku sewa hotel yang lain saja." Jani langsung melotot melihat hotel mewah itu, sudah dapat dipastikan biaya menginap satu malam pasti sangat mahal sekali, apalagi di kelas VIP mungkin cukup untuk membeli dua motor sekaligus keluaran seri terbaru, dalam satu malam saja.


" Aku sudah membayarnya."


" Mau tidak mau, kamu harus mau."


" Aku tidak perduli, aku ajak kamu kesini untuk membatuku, jadi kalau beda hotel, butuh waktu yang lama untuk memanggilmu." Samuel berbicara dengan santainya, harga sewanya memang sangat mahal tapi berbanding lurus dengan pelayanan prima dari hotel tersebut, namun sebenarnya Samuel tidak berniat untuk memotong gaji Jani, dia hanya menggodanya saja, merasa emosi karena berkali-kali ditolaknya.


Padahal sebenarnya tadi, dia sudah membooking restoran mewah di hotel itu selama dua jam, dia ingin mengajak Jani untuk dinner romantis, dia berniat untuk memberikan kesan manis malam ini, namun belom juga sampai hotel, Jani sudah membuatnya kesal, padahal tanpa dia memintapun, dia sudah memesan dua kamar, walau memang cuma bersebelahan saja, dia juga bukan pria hidung belang yang suka tidur dan gonta ganti pacar, padahal kalau dia mau, ratusan wanita seksi dan berkelas menawarkan diri untuk menemani malam-malamnya, namun karena trauma masa lalu dia jadi enggan untuk terlalu dekat dan menjalin hubungan yang terlalu serius dengan wanita.


Setelah sampai disana, resepsionist hotel sudah menyambutnya, karena pelayanan kelas VIP memang lain, lebih istimewa, segalanya telah mereka siapkan lebih awal, bahkan mereka mengantar sampai kamar tujuan.


" Silahkan menikmati fasilitas hotel kami."


" Silahkan beristirahat, semoga tuan dan nona nyaman dan puas dengan pelayanan hotel kami."


" Kami selalu berusaha memberikan pelayanan terbaik untuk anda."


" Jika ada sesuatu yang anda butuhkan bisa menghubungi kami, silahkan tekan saja nomor satu, sambungan telpon akan langsung tertuju dengan kami."


" Terima kasih, permisi." Pelayan tadi berbicara panjang lebar, sebagai bentuk pelayanan prima dari hotel.


" Hmm.." Hanya itu yang muncul dari mulut Samuel saat menanggapi ocehan pelayan tadi.


" Nih kunci kamarmu!" Samuel melempar kunci kearah Jani, untung dia sigap dalam menangkapnya.


" Satu jam lagi kita makan malam."


" Mandi sana, tubuhmu bau busuk!" Samuel yang masih kesal dengan Jani, dia bahkan masuk kamar dulu dan langsung membanting pintu kamarnya tanpa memperdulikan Jani yang sudah melotot kearahnya.


" Dasar pria arrogant!"


" Awas saja nanti malam nyariin gw suruh meluk-meluk!"


" Aku tenggelamkan ke dasar lautan!"


" Eeehh... kan jauh laut disini ya?"


" Emmm... aku tendang saja ke lantai, biar dia meluk tembok yang dingin itu."


" Nggak perrrrduli lagi aku dengan dia!"


" Dasar manusia somsek!"


" Dia pikir dia siapa!" Jani meninjukan tangannya ke udara, seolah-olah Samuel ada didepannya, ingin sekali dia menjahit itu mulut lemesnya.


Setelah satu jam berlalu, Samuel keluar duluan dia sudah menunggu Jani sedari tadi, namun tak kunjung muncul juga batang hidungnya.


Brak... brak... brak...!


" Heii... sedang apa kamu didalam!" Samuel menggebrak pintu kamar Jani.


" Bukannya sudah aku bilang on time!"


" Apa kamu tidak tahu arti dari on time hah?"


" Nggak usah sok cantik kelamaan berdandan."

__ADS_1


" Aku nggak akan tertarik!" Samuel memang tipe laki-laki yang tidak sabaran dan yang pasti pria yang tidak bisa direndahkan begitu saja.


" Rinjaniiiiiiii... cepatlah!" Samuel kembali mengebrak pintu itu lagi dan saat pintunya terbuka tangannya melayang diudara, matanya terpesona melihat wajah cantik Rinjani, dia menggerai rambut panjangnya, dengan make up tipis tapi mempesona, ditambah memakai dress denim selutut, membuatnya terlihat fresh dan ayu sekali.


" Iya.. iya pak."


" Udah selesai ini, nggak sabaran amat sih!" Jani langsung mengunci pintunya.


" Ayoook... ngapain bengong disitu?"


" Ngajak high five apa bagaimana ini?"


" Kenapa menaikkan tangannya ke atas sgala!" Jani dengan polosnya menyambut tangan Samuel dengan menempelkannya sebentar saja.


" Hah.. ya!"


" Ini.. anu.. emm.. tanganku pegel saja tadi!" Samuel sebenarnya terpaku dan terpesona dengan kecantikan Jani malam ini.


Andai tadi Rinjani tidak menyinggung perasaannya, Samuel akan menyambutnya malam ini dengan sebuket mawar merah berjumlah seribu, namun karena hatinya sudah tersakiti terlebih dulu, dia meninggalkan begitu saja bunga mawar indah nan wangi itu dikamar hotelnya.


" Waaaahh.. bagus sekali tempatnya pak?"


" Bapak sengaja, menyewa khusus tempat ini buat acara makan malam kita ya?" Jani terkagum-kagum saat sampai dimeja dinner mereka, baru kali ini dia makan malam ditempat yang indah dan mewah seperti ini.


Iyaa.. ini khusus aku pesan buat kamu, karena aku ingin menunjukkan rasa terima kasihku kepada wanita secantik kamu, yang telah sudi menemaniku disaat aku terpuruk sekalipun..


Namun, itu hanya jawaban dari dalam hati Samuel saja.


" Memangnya aku kurang kerjaan apa!"


" Ngapain juga capek-capek nyiapin makan malam romantis ini buat kamu!"


" Buang-buang uang nggak jelas saja!" Lain dimulut lain dihati, rasa sombongnya yang setinggi langit itu telah menutupi hatinya yang mulai terisi dengan sosok Rinjani.


" Masak sih pak?" Dia melihat restoran itu dihiasi ribuan mawar putih disetiap sudut ruangan dan ditata seindah mungkin, bahkan ada pemain biola yang sudah mengalunkan nada-nada romantisnya.


" Trus kenapa nggak ada orang lain selain kita coba?" Jani tersenyum melihat wajah kusut Samuel.


" Mana mungkin restoran semewah dan seindah ini nggak ada penghuninya, pasti banyak peminatnya dong." Jani bahkan memiringkan wajahnya, berusaha melihat sorot mata Samuel, karena kata orang mata tidak bisa berbohong.


" Mana kutahu!"


" Mungkin ini jamuan bagi kelas VIP!" Samuel mencoba beralasan, walau nyatanya tidak mungkin itu terjadi walau menginap dikelas VIP sekalipun, karena Samuel merogoh kocek yang lumayan banyak untuk menyewa restoran hotel ini selama dua jam saja.


" Iya deh.."


" Percaya saja aku mah orangnya!" Jani kembali tersenyum meledek, dia juga nggak kudet-kudet banget tentang info pelayanan hotel kelas VIP, dia sudah yakin ini pasti sengaja Samuel pesan untuk makan malam mereka.


" Apapun itu, terima kasih untuk makan malam romantisnya."


" Bapak kelihatan keren dan ganteng banget malam ini."


" Hehehe.." Rinjani sengaja memuji Samuel dan membuatnya salah tingkah.


" Ngomong apa sih kamu!"


" Nggak jelas banget!" Kata-kata inilah yang selalu keluar dimulut pedasnya, padahal wajahnya terlihat memerah karena tersipu dengan omongan Jani, apalagi dibilang 'ganteng' bahkan dia memalingkan wajahnya kesamping, hanya untuk sekedar menyembunyikan senyum manisnya.


Berhati-hatilah saat jatuh cinta, pastikan jatuh cinta itu tidak membunuhmu.


..."Cinta adalah perasaan, perasaan bahagia. Cinta itu kuat, terlalu kuat untuk dimainkan."...


..."Perasaan itu aneh dan sulit untuk dijelaskan, tetapi ketika Anda jatuh cinta, Anda akan mengetahuinya dari dalam."...


..."Saat kamu mencintai, kamu terluka. Saat kamu terluka, kamu benci. Ketika kamu membenci, kamu mencoba untuk melupakan. Ketika kamu mencoba untuk melupakan, Anda mulai rindu. Dan saat kamu mulai merindukan, kamu akhirnya akan jatuh cinta lagi." ...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya gaes?


 


__ADS_2