CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
31. Kalau memang jodoh, kamu bisa apa?


__ADS_3

...Happy Reading...


Cinta memberikan kita makna saat hidup hanya menyediakan waktu untuk bertahan. Pertahankan, Dia yang bertahan untukmu dan lepaskan dia yang tidak pernah bisa menghargaimu. Karena kesetiaan bermula dari kebersamaan, berkembang karena pengertian, dan bertahan karena rasa saling percaya. Cinta juga bukan hanya soal bertahan seberapa lama, tetapi seberapa jelas dan ke arah mana tujuannya.


Keseriusan dalam hubungan perlu dibuktikan dalam hal nyata, karena dengan kata-kata saja, tidak pernah bisa menjadi jaminan untuk hubungan yang kuat bertahan, walaupun hari ini kau bahagia karena gombalannya, esok kamu bisa tidak terima karena sikapnya.


Dan pagi ini Samuel benar-benar melajukan mobilnya kearah rumah Rinjani, walau sepanjang jalan Jani sudah mengeluh dan memberikan ribuan alasan, namun tidak satupun diterima oleh Samuel, dia hanya mendengarkannya saja tanpa membalas atau menanggapi omongan Rinjani.


" Sssssstttt.."


" Sudahlah Jan.. terima nasip saja." Ledek Niar yang sudah tersenyum-senyum dari belakang.


" Nyari sendiri juga nggak pernah dapet yang bener luu!"


" Kalau memang Pak Samuel memang jodohmu, kamu bisa apa?" Walau menolak beberapa kali, akhirnya Jani berhasil juga memaksa Niar untuk ikut masuk kedalam mobil bersamanya untuk ikut pulang kerumahnya, setidaknya kalau ibu Jani mengamuk nanti ada saksinya.


" Betul nggak Yo?" Niar duduk dengan santainya disamping Yoyo dikursi belakang.


" Hmm... Tuuuuulllll..." Kata Yoyo sambil mengacungkan jempolnya.


" Yoyo senang kan dapat mommy baru?" Niar mencoba berdamai dengan bocah satu itu.


" Hmm.."


" Asalkan dia kak Jani, bukan seperti kak Niar."


" Yang suka marah-marah nggak jelas!" Yoyo berbicara tanpa rasa takut sama sekali, padahal Niar sudah mengibarkan bendera persahabatan dengannya, namun sepertinya mereka memang tidak akan pernah bisa akur selamanya.


" Aduh Gusti..."


" Bocah yang satu ini, memang luar biasa!" Niar tidak bisa berbuat apa-apa, karena ada Samuel yang mendengarkan obrolan mereka bahkan dia terlihat tersenyum walau tidak berkomentar, sudah beberapa kali Niar melihat presdirnya itu lebih banyak tersenyum dari pada saat awal mereka bertemu, hanya wajah datar saja yang sering dia lihat dulu, perkenalannya dengan Jani memang membawa pengaruh yang besar dalam perubahan sikap presdirnya itu.


Akhirnya setelah perjalanan sekitar satu jam an, mobil Samuel sudah memasuki pekarangan rumah yang minimalis namun terlihat asri, karena banyak pepohonan rindang yang sengaja ibu Jani tanam disana.


" Assalamu'alaikum buk." Jani mengucapkan salam saat dia mengetuk pintu rumahnya.


" Wa'alaikumsalam." Terdengar suara pria yang menyahut dari dalam.


" Siapa dia?"


" Kenapa seperti suara laki-laki?"


" Kenapa jam segini dia sudah datang?"


" Apa dia si juragan bakso?"


" Atau jangan-jangan si Juki itu?" Samuel langsung memberondong Jani dengan pertanyaan walau belum melihat langsung siapa orangnya.


" Ckkk..." Jani malas menjawab, dia hanya terus mengetuk pintu rumahnya saja, karena dia hafal betul suara siapa yang menjawabnya dari dalam tadi.


" JANI.."


" Jawab pertanyaanku!"


" Siapa yang pagi-pagi sudah berani datang kerumahmu!" Samuel bahkan mengeraskan suaranya karena Jani sama sekali tidak merespon pertanyaannya.


Ceklek


Akhirnya pintu itu terbuka dan muncullah seorang anak muda tampan didepannya.


" Owalah Mbak to."


" Kirain siapa tadi." Umpat pria itu dengan ekspresi biasa aja.


" SIAPA KAMU!" Tanya Samuel dengan tatapan tajamnya.


" Waduh."


" Harusnya aku yang tanya."


" Kamu itu yang siapa?"


" Ini kan rumahku!"


" Enak saja bentak-bentak si tuan rumah!" Dia langsung berkacak pinggang seolah menantang balik Samuel.


" Sssstttt.." Jani menoyor kening adeknya untuk mundur kebelakang memberinya jalan, dia bahkan berani memelototi Samuel saat ini.


" Dia Presdir Mbak!"


" Bos Mbak di tempat magang." Jani langsung menerobos masuk kerumahnya.


" Owalah, hehe.."


" Bosnya mbak Jani to."


" Saya Bromo, adek kandungnya Kak Jani." Bromo langsung mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Samuel, namun hanya dipandanginya saja tangannya itu, dianggurkan tanpa disambutnya dan malah masuk mengikuti langkah Jani ke dalam rumah.


" Astaga... sombongnya!" Bromo mengusap tangannya sendiri.


" Padahal tanganku bersih lho, walaupun habis bersihin closet juga, hihi.." Bromo terkikik sendiri setelahnya.


" Bromo!" Teriak Niar yang muncul juga dibalik pintu.


" Mbak Niaaaarrrr." Bromo langsung merangkul bahu Niar, walau umur mereka selisih dua tahun, tapi postur tubuh Bromo memang lebih tinggi dan kekar, karena dia pemain inti sepak bola di kampusnya, bahkan sering ikut pertandingan antar Club sepak bola.


" Kangeeeennn." Bromo langsung tersenyum bahagia.


" Kemarin katanya datang kerumah."


" Kok nggak bilang-bilang sih?"


" Tau gitu aku pulang cepet, kenapa mbak nggak nungguin aku pulang sih?" Bromo langsung memonyongkan bi birnya membuat siapa saja gemas melihatnya, dia memang menyukai Niar sejak masih Sekolah dulu, karena Niar memang sering datang kerumah Jani dan mereka sering bercanda bersama, Niar tidak pernah risih atau keberatan saat Bromo nempel dengannya, namun dia hanya menggangap Bromo seperti adek kandungnya sendiri.


" Bromoooo..!" Teriak Jani saat melihat adeknya selalu mendekati sahabatnya itu.


" Jangan keganjenan kamu!"


" Dari dulu nggak sembuh-sembuh kamu itu."


" Dia itu udah tua, cari yang lebih muda dari kamu!"


" Dibilangin dari dulu bandel aja sih!" Umpat Jani yang langsung menoleh kearah adeknya dengan kesal, nama kakak beradik itu memang diambil dari nama sebuah gunung yaitu gunung Rinjani dan gunung Bromo.


" Brati kakak juga udah tua dong, haha.." Kedua kakak beradik ini memang selalu saja berdebat, namun sebenarnya mereka saling menyayangi.


" Orang mbak Niar aja nggak keberatan, kenapa mbak yang jadi sewot, weerrkk.." Umpat Bromo sambil menjulurkan lidahnya ke arah Jani.


" Eeh.. siapa nih bocil?"


" Lucu amat nih rambutnya, kriwel-kriwel kayak bakmi diujung gang, hehe.." Bromo mengusap rambut Yoyo dengan gemas.

__ADS_1


" Enak aja bocil."


" Panggil aku Tuan Muda."


" And dont touch my hair!" Yoyo langsung mengibaskan tangan Bromo dengan kesal.


" Walaaaah... walaaaah..."


" Pinternya nih bocil, udah bisa speak english lagi?"


" Anak siapa sih?" Bromo malah makin senang menganggu Yoyo.


" Anaknya Niar itu!" Jani langsung tersenyum miring saat melihat wajah adeknya yang langsung terlihat bingung.


" HAH!"


" Beneran anak mbak?" Bromo menatap Niar dengan tatapan kecewa.


" Mbak Niar ini gimana sih?"


" Tega ya, mengumbar janji palsu!"


" Katanya mau nungguin aku wisuda, trus mau nerima aku?"


" Kenapa malah sudah punya anak!" Bromo langsung duduk dengan wajah kusut.


" Ckkk.."


" Dia bukan anakku!" Niar hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat dua kakak beradik yang selalu saja ribut itu.


" Diiih.."


" Turun kan aku!"


" Yoyo juga nggak mau punya mommy kayak kakak!"


" Yoyo maunya kak Jani saja!"


" Huh." Yoyo langsung berlari memeluk Jani yang tersenyum kearahnya dan langsung membawanya kepelukan.


" Heeeiiihh.."


" Sebenarnya anak siapa sih tu bocil?" Bromo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia dibuat bingung sendiri oleh tingkah mereka.


" Ibuk mana dek?" Jani malas meladeni omongan adeknya.


" Kok nggak ada dibelakang juga?" Jani tadi sempat masuk kedalam, namun tidak ada pergerakan disana, biasanya kalau dia pulang ibunya yang paling heboh.


" Ibuk pergi." Jawab Bromo sambil terus memandangi wajah Niar disampingnya.


" Pergi kemana?"


" Tumben jam sgini?"


" Apa ada pesanan kue banyak ya?" Tanya Jani sambil memangku Yoyo.


" Enggak."


" Ibuk pergi arisan bulanan."


" Baru aja pergi tadi, bareng sama tante." Ucap Bromo dengan santainya.


" Arisan bulanan?"


" Tumben mbak seneng."


" Biasanya Mbak orang yang pertama protes kalau tau ibuk mau arisan bulanan, karena lama acaranya." Biasanya Jani memang sering protes, karena kalau sudah arisan bulanan, pulangnya bisa sampai sore.


" Hehe.. lain dulu lain sekarang." Ucap Jani yang langsung menampilkan wajah sumringah.


" Jam berapa pulangnya?" Samuel muncul dari pintu samping, setelah dia membuntuti langkah Jani sedari tadi, Samuel melihat-lihat taman samping rumah Jani.


" Nggak pasti pak, bisa juga sampai sore."


" Gimana kalau besok kapan-kapan aja ketemu sama ibuknya?"


" Yuk.. kita pulang aja sekarang?" Jani langsung terlihat semangat.


" Pulang kemana?"


" Rumah Mbak kan disini?"


" Emang Mbak punya rumah lain ya?" Bromo semakin dibuat bingung hari ini.


" Bukan.."


" Kamu mah nggak ngerti apa-apa."


" Sana kuliah sana."


" Kenapa jam segini belum berangkat?" Jani seakan mengusir Bromo agar tidak mengacaukan rencananya.


" Ini hari libur mbak."


" Lagian juga aku mau nemenin mbak Niar."


" Eh mbak.. aku bikinin lagu spesial lho buat mbak Niar."


" Mau dengerin nggak?" Bromo selain hobi sepak bola dia juga pandai bermain gitar, bahkan bisa menciptakan lagu sendiri.


" Boleh."


" Kita ke taman samping aja yuk?"


" Sambil duduk di ayunan." Tempat favorit Niar dirumah Jani adalah taman samping rumahnya, selain asri banyak tanaman hias juga dan ada ayunannya.


" Yoyo mau ikut?" Niar mengajak Yoyo agar Bromo nanti nggak nempel terus saat berdua dengannya.


" Maukk!" Yoyo langsung menggangukkan kepalanya.


Akhirnya tinggallah dua manusia didalam ruang tamu Rinjani.


" Jani.."


" Hmm.." Jawab Jani walau tidak menoleh, dia masih asyik bermain ponsel untuk melihat story-story temannya di sosial media.


" Emang kalau arisan ibu-ibu ngapain aja?"


" Kenapa lama sekali?"


" Memangnya satu kampung arisan semua?" Samuel memandang wajah Jani yang terlihat sumringah itu.

__ADS_1


" Namanya juga ibu-ibu pak."


" Arisannya itu sebentar, tapi ngobrolnya itu yang seharian." Jawab Jani yang mengingat dia pernah sekali ikut acara itu dan kapok karena lelah mendengarkan gosip dari ibu-ibu itu.


" Emangnya ngobrolin apa mereka?"


" Kenapa bisa sampai seharian?" Samuel bahkan memicingkan kedua matanya, karena penasaran.


" Ya biasalah pak."


" Dari harga cabe yang murah dan petani merugi, karena pupuknya mahal tapi hasilnya tidak mencukupi."


" Bahkan dari harga panci dan perabot rumah tangga yang semakin naik pun mereka bahas."


" Dan yang sudah pasti, membahas masalah anak tetangga yang sudah berumur tapi belum nikah-nikah, waah.. itu akan selalu jadi topik utama mereka." Jani sudah hafal betul acara mereka.


" Panjang deh pokoknya urusan mereka."


" Bahkan ngak habis dibahas seharian." Jani bahkan pernah juga jadi tranding topik diantara mereka.


" Janiii..." Panggil Samuel lagi dengan lirih.


" Hmm.." Jani menjawab dengan ogah-ogahan, entah mengapa presdirnya hari ini banyak bicara, biasanya hanya sepatah dua patah kata saja.


" Kenapa kursimu pendek sekali."


" Kakiku jadi susah bergerak bebas ini." Kaki Samuel yang memang panjang itu jadi serba salah, mau ditekuk terus pegal, mau diselonjorin ke depan mentok kena meja.


" Dan ruang tamumu ini kenapa sempit begini?" Samuel terlihat kurang nyaman duduk dikursi kayu yang terlihat kecil dan sederhana walau terbuat dari kayu jati asli itu.


" Ckkk.."


" Kalau bapak kurang nyaman disini."


" Makanya ayuk kita pulang saja."


" Rumah kami memang kecil dan sempit seperti ini." Jani tidak pernah malu punya rumah minimalis seperti ini, yang penting nyaman dan tidak kehujanan saja, dia sudah sangat bersyukur.


" Aku mau nunggu ibu kamu."


" Kalau enggak, biar aku pesankan kursi baru untukmu ya?"


" Mereka pasti akan langsung segera mengirimnya." Ucap Samuel yang langsung menghubungi asistennya.


" STOP!"


" Jangan beli."


" Aku nggak mau ganti, ini kursi peninggalan ayah."


" Lagian memang kamar tamunya sempit, jadi mau diganti kursi lain juga pasti nggak muat pak." Jani langsung menarik ponsel Samuel dan menekan tombol merah diponselnya.


" Tapi kakiku pegal, aku mau selonjoran ini." Samuel menarik lengan Jani seperti anak kecil.


" Ya sudah duduk dibawah saja."


" Tuh... dikarpet depan sono." Ucap Jani yang kesal namun tidak tega juga melihatnya.


" Temenin." Ucap Samuel dengan manjanya.


" Astaga bapak!"


" Makannya ayok kita pulang saja."


" Ibuk tuh pulangnya sore pak." Jani mengoceh namun tidak menolak juga saat Samuel merangkul bahunya dan berjalan kearah ruang TV.


" Aku tetep mau nungguin ibu kamu pulang!" Samuel langsung duduk selonjoran dikarpet dan bersandar ditembok.


" Kenapa mesti hari ini, nggak bisa apa besok-besok gitu?" Jani masih saja berusaha menghalangi niat presdirnya.


" Nggak bisa!"


" Hal yang baik itu nggak boleh ditunda-tunda." Ucap Samuel dengan yakin.


" Baik buat eluu, enggak buat gw!"


" Enak di eluu, enggak di gw boss!" Umpat Jani perlahan.


" Ngomong apa kamu?" Tanya Samuel yang kurang begitu jelas.


" Owh enggak!"


" Yaudah terserah bapak saja!" Jani duduk didepan TV sambil mengambil remot TV dan menghidupkannya.


" Sini kamu!" Pinta Samuel sambil menjentikkan jarinya.


" Apa?" Jani hanya menoleh kebelakang saja, tanpa mendekat kearahnya.


" Sini nggak?" Samuel menajamkan pandangannya.


" Ya ampun kenapa lagi sih pak?" Jani akhirnya mengalah, karena tidak ada gunanya berdebat dengan presdirnya ini, dia selalu saja kalah.


" Sini duduk disampingku." Samuel menarik lengan Jani untuk duduk disampingnya dan dia langsung menyandarkan kepalanya dibahu Jani dan mengalungkan tangannya kepinggang Jani dengan mesranya.


" Jangan begini dong pak?"


" Nanti ada yang lihat lho?"


" Ini masih pagi kali pak?" Rinjani takut kalau Bromo tiba-tiba masuk, atau malah ibunya yang tiba-tiba langsung pulang.


Habislah aku, kalau ibuk atau Bromo tiba-tiba datang melihat aku kayak gini? yakin deh... besok pagi aku pasti langsung disuruh Ijab Qobul.


" Kepalaku terasa berat Jan." Samuel malah mengeratkan kembali pelukannya.


" Tadi malam aku kurang tidur." Bahkan dia mengungselkan wajahnya dibahu Jani.


" Kamu gerak-gerak terus sih tidurnya."


" Udah dipeluk masih saja nendang-nendang!"


" Udah gitu nendangnya milih yang empuk-empuk lagi!"


" Kan jadi bangun terus Dia nya?" Samuel mengoceh sambil memejamkan matanya.


" DIA SIAPA?"


" Orang kita cuma tidur berdua saja kan?" Jani mencoba mengingat kejadian tadi malam, perasaan dia hanya tidur berdua tadi malam, Bulu kuduknya malah tiba-tiba meremang, dia malah berpikiran kalau ada makhluk lain yang ada dikamar itu.


...Jika hidup ibarat sebuah perahu, jadilah jangkar yang akan selalu memegangnya, dan jadilah layar yang selalu membawanya berlayar pada sebuah perjalanan yang indah."...


..."Cinta dan kasih sayang bukanlah sebuah barang yang dapat kita beli, kita tukar maupun kita jual tapi cinta dan kasih sayang adalah sebuah perasaan yang harus kita nikmati."...

__ADS_1


.... “ Karena Cinta tak pernah gagal panen, sebab bahagia dan sedih itulah hasil permanen.” ...


__ADS_2