
...Happy Reading...
Ibarat bulan yang tak pernah meninggalkan bumi, bintang pun tak pernah meninggalkan langit, begitu juga dengan cinta sejati yang tidak akan pernah meninggalkan semua tentangmu dan segala kenanganmu.
Bagaimana keadaan Samuel setelah menikah dan berpisah dihari yang sama saat pernikahan?
Jangan ditanya lagi, Samuel saat ini terpuruk dengan keadaan yang menimpanya, hanya nama Rinjani yang dia sebut-sebut sedari mereka pulang dari tempat pernikahan.
"Janiii... Jani jangan pergi..."
" Janiii... jangan tinggalkan aku..."
" Janiii... ampuni aku..."
" Janiii... peluk aku..."
Hanya itu kata-kata yang bisa Samuel ucapkan, bahkan Yoyo pun tidak berani mendekat apalagi masuk kedalam kamar daddynya.
" Marvin... apa yang harus kita lakukan?"
" Apa kita perlu mendatangkan dokter lainnya lagi?" Mamah Samuel hanya bisa terus menangis saat melihat keadaan putranya yang terlihat mengenaskan.
" Semua dokter terbaik yang merawat dan menyembuhkan Samuel saat pertama kali dulu, sudah saya datangkan tante."
" Bahkan aku memberikan dosis lebih tinggi dari biasanya."
" Namun keadaan Samuel masih sama." Sudah dua hari semenjak Samuel tahu bahwa dia juga yang menyebabkan ayah Jani meninggal, keadaannya semakin memburuk, bahkan dia seperti antara sadar dan tidak sadar atau bisa dibilang hampir seperti orang gila karena tidak melihat istrinya.
" Lakukan apapun yang terbaik, agar dia tidak merasakan kesakitan seperti itu lagi Vin."
" Tante nggak tega lihatnya." Keadaan mamah Samuel pun tak kalah terpuruk, karena dia menjaga Samuel siang dan malam bahkan tak kenal lelah, dan mengabaikan semua bisnis yang baru dipuncak-puncaknya.
" Semua obat berdosis tinggi sudah aku coba tante."
" Aku hanya takut kalau tubuh Samuel yang tidak akan kuat, untuk menahan dosis obat yang lain lagi tante." Marvin dan beberapa dokter terbaik disana pun hanya bisa pasrah saja. Padahal mereka sudah menyulap kamar Samuel seperti ruangan pasien kelas VVIP.
" Lalu tante harus bagaimana Vin?"
" Tante harus apa?"
" Berulang kali tante datang ke rumah Jani, tapi rumah itu kosong?"
" Aku sudah menyuruh beberapa orang mengawasi rumah Jani."
" Tapi memang mereka semua tidak ada didalam rumah itu."
" Tante harus cari kemana Vin?"
" Tante nggak tahu lagi, hiks.. hiks.." Ibu Samuel bahkan juga seperti orang gila kemarin, bolak-balik masuk ke halaman rumah orang yang kosong.
" Hmmm.." Marvin menggangukkan kepala, dia tahu usaha mamahnya Samuel untuk meminta maaf dengan keluarga Jani dari kemarin, namun tidak ada hasilnya, karena mereka seperti hilang ditelan bumi.
" Kalau begitu biar Marvin yang coba cari tahu tante."
" Tolong terus awasi Samuel ya Tan, jika ada apa-apa panggil dokter jaga lainnya."
" Dan terus kabari aku ya tante?" Marvin langsung bersiap, dia teringat nama Niar yang akhir-akhir ini sering membuatnya tersenyum-senyum sendiri.
" Okey Vin."
" Tolong tante ya Vin?" Mamah Samuel bahkan mengenggam tangan Marvin, dia sangat berharap kali ini Marvin bisa menemukan Rinjani.
" Hmm.." Akhirnya Marvin menjalankan mobilnya walau belum tahu kemana arah kepergiannya kali ini.
" Kemana aku harus cari gadis tengil itu yah?"
" Berkali-kali ketemu lupa pula mau minta nomornya." Karena mereka sering tidak sengaja dipertemukan oleh takdir.
" Alamat rumahnya juga nggak tahu lagi?"
" Saat itu kenapa aku nggak nganter sampai rumahnya sih!"
" Aaarggghhh sial." Marvin mengumpat dirinya sendiri didalam mobil.
" Owh.. aku datengin saja kampusnya."
" Hurm... kamu memang cerdas Vin." Entah mengapa Marvin langsung tersenyum saat mengingat namanya saja, bahkan ide-ide yang tidak dia duga pun langsung terlintas.
Saat sampai didepan kampus Marvin bahkan menjadi sorotan seluruh mahasiswa yang ada disana, karena dia menggunakan mobil Ferarri berwarna merah yang sangat berkilau milik Samuel, karena beberapa hari ini Marvin tinggal dirumah Samuel bahkan dia diperbolehkan memakai semua fasilitas keluarga Bramantyo.
" Wooooaaahhh gilakk... keren cuy?"
" Wuiiidiiiiiiihhh tampan tidak tertahan ini namanya?"
" Siapa wanita yang beruntung memilikinya ya?"
" Dijadikan selingkuhannya pun, gw juga mau banget coy, hahaha!"
" Apa ini yang disebut makhluk Tuhan yang paling seksi?"
" Abaaaaanggg... kenalan dong bang?"
__ADS_1
" Piwwwwiiiiitttt."
Berbagai umpatan yang keluar dari mulut mahasiswa-mahasiswa yang haus akan pemandangan orang tampan pun terdengar ditelinga Marvin, namun dia sama sekali tidak menggubrisnya, matanya terarah lurus kedepan, dengan gaya cool dia melewati kumpulan mahasiswa yang sudah berbaris memberikan Marvin jalan masuk ke dalam kampus besar itu.
" Ada apa sih rame-rame?" Niar bertanya dengan teman-teman kampusnya, dia baru saja keluar dari kantin untuk mengisi perutnya sendirian, karena Jani masih belum berangkat ke kampus.
" Ada orang tampan lewat katanya." Ucap Salah seorang mahasiswa disana yang mendengar mereka kasak kusuk dibelakang.
" Benarkah?"
" Liat yuk cuy?"
" Lumayan buat segeran, karena soto yang gw makan tadi kurang seger, hihi.." Ucap Niar yang terlihat semangat kalau sudah mendengar kata tampan, efek pacaran LDRan memang berat sepertinya.
" Lalu apa hubungannya soto dengan pria tampan itu?"
" Kamu kira dia jeruk nipis yang bisa menyegarkan soto mbok Jum?" Ucap Teman Niar terkekeh mendengarnya.
" Hahaha.."
" Siapa tahu bisa menjernihkan mata gw yang sepet."
" Sudah lama nggak lihat yang seger-seger."
" Asal nggak asem saja, kayak jeruk nipis asli."
" Biasanya orang tampan kan berwajah asem bahkan kecut, hahaha.." Niar langsung menarik lengan sahabatnya dan mencoba membelah keramaian dikampusnya.
" Excusme... air panas... air panas.." Niar selalu saja bertingkah sesuka hatinya.
" Huuuuuuuuuuuuuuu..." Semua bersorak kearah Niar dan saat itu Marvin seketika menoleh kearah suara yang samar-samar dia kenal.
" Yaelah... lewat doang kali."
" Cuma mau lihat siapa yang----" Mata Niar langsung melotot seketika saat melihat Marvin yang melirik tajam kearahnya sambil memegang kaca mata hitam ditangannya.
" Opsh... jelek... jelek..."
" Nggak jadi lihat saja!"
" Awas minggir, aku nggak minat!"
" Tepiiii... aku mau lewat!" Niar langsung berjalan cepat dan akhirnya memilih berlari pergi dari sana, ketika yang lain ingin berusaha mendekat, Niar malah memilih kabur duluan.
" Tungguuuuuuu...!" Teriak Marvin yang langsung mengejar Niar.
" Woaaaaahhh... ternyata dia kenal dengan Niar?
" Aaah... palingan Niar punya utang sama dia!"
" Iya... dia kan bisa kuliah dikampus elit ini karena bea siswa doang."
" Betul banget itu, ya nggak mungkinlah orang sekeren dia naksir sama Niar yang B aja."
" Iya.. iya.. betul.. betul..."
Sang Netizen maha benar langsung saja komen sesuka hatinya saat melihat mereka yang berkejaran layaknya Tom and Jerry ditengah lapangan kampus yang besar itu.
" Niaaar!"
" Berhenti nggak kamu!" Ucap Marvin sambil berlari.
" Bapak siapa, aku nggak kenal!"
" Jangan ganggu aku!"
" Pergiiiiiiiii...!" Teriak Niar sambil terus berlari.
Brak!
Niar yang berlari sambil menoleh kearah Marvin tanpa sengaja menabrak dosen pembimbingnya yang tadi lewat didepan kelas.
" Astaga... Niar!"
" Apa yang kamu lakukan!" Pak Budi sang dosen pembimbing pun sampai jatuh tersungkur.
" Ma.. maaf pak."
" Maaf saya tidak sengaja." Niar membantu merapikan buku yang berserakan dilantai.
" Ciiihh.."
" Kena karma kamu!"
" Siapa suruh lari saat lihat gw!" Umpat Marvin yang tersenyum sambil mengatur nafasnya.
" Dia siapa Niar?"
" Kenapa bapak belom pernah melihatnya?"
" Apa dia mahasiswa disini juga?" Tanya Pak Budi menajamkan matanya ke arah Marvin.
__ADS_1
" Nggak tahu pak, nggak kenal."
" Makanya tadi aku lari, ngeri lihatnya!" Ucap Niar tanpa memandang kearahnya.
" Apa kamu bilang?"
" NGGAK KENAL?"
" Woaaahh... Kamu benar-benar ya!" Marvin langsung menarik lengan Niar agar mendekat kearahnya, bahkan sekarang mereka menjadi sorotan publik, karena mereka berapa ditengah-tengah lapangan.
" Awww... sakit pak!" Umpat Niar sambil mencoba menepis tangan Marvin namun tidak bisa.
Mampus ini gw, kalau dia tanya soal Rinjani gimana gw mau jawab? argh.. aku harus bagaimana ini?
" Maaf.. anda siapa?"
" Tolong jaga sikap anda."
" Ini masih dikawasan kampus."
" Kalau kamu ada perlu dengan anak didik saya, mari kita bicarakan didalam ruangan saya." Ucap Pak Budi mencoba bersikap tenang dalam menangani setiap masalah yang ada.
" Maaf tidak perlu!"
" Saya mengenalnya, bahkan sangat mengenalnya sekali." Ucap Marvin sambil menekankan kata-katanya.
" Enggak... bohong pak, bohong!" Kilah Niar seolah meminta bantuan kepada pak Budi agar mengusir Marvin dari sana, karena menghindar adalah jalan satu-satunya untuk menyelamatkan Rinjani dari pencarian suaminya.
" Bohong kamu bilang?"
" Mau ngaku, apa aku yang bicara jujur disini?" Ucap Marvin sambil tersenyum licik.
" Ada apa sebenarnya ini?"
" Katakan maksud kedatangan anda kemari?"
" Tolong jangan buat kegaduhan dikampus." Ucap Pak Budi dengan tegas.
" Saya mau meminta pertanggung jawaban darinya." Ucap Marvin sambil tersenyum miring.
" Maksudnya?" Pak Budi semakin bingung dibuatnya.
" Jangan dengerin dia pak Budi."
" Aku nggak kenal dia pak, beneran deh!" Niar menggelengkan kepalanya.
" Apa kamu bilang?"
" Kamu tidak mengenalku?"
" Lalu apa yang kamu lakukan saat malam itu?" Ucap Marvin dengan usilnya, dia sengaja ingin mengerjai Niar, karena telah berani-beraninya menghindar bahkan melawannya.
" APA?"
" Apa yang kalian lakukan?" Pak Budi langsung menatap curiga kearah Niar.
" Dia telah merenggut kesucianku sebagai seorang pria!" Marvin langsung menjawab pertanyaan yang ditujukan kepada Niar.
" Murid bapak ini, telah menodai saya!" Ucap Marvin sambil menahan tawa dengan ucapannya sendiri, namun dia tetap menampilkan ekspresi datar di wajahnya.
" MENODAI?"
" Maksud kalian apa!"
" Niar, tolong jelaskan apa maksudnya!" Teriak Pak Budi yang sudah berpikir kemana-mana.
" Hehe.."
" Makanya jangan didengerin pak." Mata Niar bahkan ingin terlepas dari cangkangnya saat melihat Marvin yang asal bicara itu.
" Aku akan mengamankannya pak, hehe.."
" Dia sedikit senget pak." Niar sedikit berbisik kearah dosen pembimbingnya.
" Maaf permisi ya pak, kami duluan." Niar langsung menarik tangan Marvin untuk pergi dari sana meninggalkan pak Budi yang masih melongo, seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
" Menodai?"
" Merenggut kesucian?"
" Bukankah seharusnya pihak wanita yang mengatakan itu semua?" Pak Budi berdiri mematung ditengah lapangan, sambil terus memikirkan ucapan Marvin tadi.
" Haisshhh... anak jaman sekarang, memang susah dikendalikan!"
" Sekarang biar dia selesaikan masalahnya dulu, besok baru aku akan memberikan 'Warning Later' untuk Niar." Ucap Pak Budi yang langsung kembali keruang dosen sambil memijat kepalanya yang sedikit berdenyut karena kelakuan murid di kampusnya.
..."Saat kata-kata jujur tak lagi punya arti, biarkan Tuhan yang membuat manusia mempercayai dan meyakini kebenarannya."...
..."Langit tidak selamanya cerah, kadang hujanpun bisa membawa bencana dan perasaan juga sering kali bisa terluka."...
..."Kadang kebahagiaan diungkapkan dengan air mata, dan air mata harus bersembunyi di balik senyuman."...
__ADS_1