CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
58. Keluarga Pembunuh


__ADS_3

...Happy Reading...


Terkadang arti kebahagiaan dapat terjadi karena kita melihat masa lalu dan membawanya ke masa depan untuk bercermin tentang kehidupan kita saat ini.


Hidup itu memang terkadang rumit, namun serumit apa pun kehidupan ini tetap harus kita jalani, karna Tuhan punya rencana di balik semua ini.


Saat sepasang pengantin baru itu, baru saja menyelesaikan Ijab Qobulnya dan sudah Sah dimata hukum dan agama, tiba-tiba ada sebuah tragedi yang membuat semua orang disana merasa panik bahkan tercengang.


" KAMUUU..!" Saat ibu Jani menoleh kearah sumber suara dari seorang wanita yang memanggil sayang kepada menantu dan putrinya, dia langsung memegang da danya, sekelebatan bayangan suami tercintanya langsung terlintas, berbagai kejadiam silam yang terlalu menyakitkan kembali terbayang dipikirannya, membuat pandanganya kabur dan suaranya tersekat di tenggorokan dan akhirnya tumbang.


" IBUUUKK.." Teriak Jani saat melihat ibuknya tiba-tiba pingsan, dengan segera dia menangkap tubuh ibunya yang langsung ambruk dipangkuannya.


" Mamah?"


" Ada apa ini?" Samuel langsung menggoyangkan bahu mamahnya yang terlihat shock juga, bahkan tubuhnya terlihat memaku dengan mulut yang mengaga, seolah pikirannya juga melayang ke suatu hal yang mungkin tidak Samuel pahami.


" Pak.. ibuk gimana ini?" Jani bingung sendiri, dia hanya bisa menangis saat pertama kalinya melihat ibunya pingsan bahkan didepan matanya.


" Ayok kita bawa ke kamar hotel sayang!" Samuel langsung mengangkat tubuh ibu mertuanya dan menunda banyak pertanyaan untuk mamahnya.


" Marvin kamu atur semuanya."


" Kita tunda resepsinya sampai ibuk sudah baikan." Ucap Samuel dengan perasaan yang ngambang, dia bingung juga penasaran, sebenarnya apa yang terjadi.


" Okey Sam." Hanya itu yang bisa dia jawab, pesta resepsi termegah yang menghabiskan dana milyaran rupiah itu sepertinya akan gagal begitu saja malam ini, karena Marvin merasa masalah kali ini sangatlah serius.


" Dan buat mamah."


" Jangan pergi kemana-mana, mamah punya hutang cerita banyak dengan Sam." Samuel langsung berjalan tergesa-gesa dengan menggendong tubuh ibu mertuanya yang lemah tak berdaya.


" Panggil dokter kemari."


" CEPAAATTT.. " Teriak Samuel dengan salah satu WO disana.


" Baik pak." Salah satu WO itu langsung berlari mencari bantuan darurat.


" Bromo, apa akhir-akhir ini ibu pernah mengeluh, atau ada yang salah dengan kesehatannya?" Tanya Jani sambil menyelimuti tubuh ibunya saat sudah terbaring di ranjang hotel.


" Nggak pernah mbak?"


" Tapi sedari kemarin memang ibuk kurang istirahat."


" Karena beliau terlalu heboh ingin menyiapkan kenduri buat pernikahan mbak."


" Aku sudah menasehati beliau, tapi mbak tahu sendiri ibuk kalau sudah ada maunya susah dikendalikan." Ucap Bromo yang sedari kemarin sebenarnya memang sudah mengingatkan ibunya berkali-kali, untuk menjaga kesehatan namun selalu saja di abaikan.


" Dokter?"


" Bagaimana kesehatan ibu mertua saya?" Bahkan samuel melempar jas mahalnya kesembarang arah, karena pernafasannya jadi sedikit sesak karena keadaan.


" Ibu kalian tidak apa-apa."


" Beliau cuma shock saja?"


" Dan mungkin juga karena kelelahan."


" Saya sudah memberikan suntikan obat."


" Kita tinggal menunggu beliau sadar saja.


" Apa tadi terjadi sesuatu yang mengagetkannya?" Tanya dokter itu setelah selesai memeriksa ibu Jani.


" Hmmm.."

__ADS_1


" Yang penting ibu baik-baik saja kan dokter?" Samuel ingin segera mencari mamahnya keluar.


" Tentu, sebentar lagi pasti beliau bangun."


" Kalian tenang saja."


" Saya masih stay disini."


" Kalau ada apa-apa, nanti bisa panggil saya lagi."


" Sekarang biarkan beliau istirahat dulu."


" Kalau begitu saya permisi.." Dokter itu langsung pamit undur diri.


" Terima kasih dokter." Ucap Samuel lega.


" Pak... mau kemana?" Rinjani menarik lengan Samuel yang ingin pergi dari sana.


" Jangan pergi, aku takut?" Jani takut kalau terjadi apa-apa dengan ibunya.


" Hmm.." Samuel langsung mendekat kearah Jani dan memeluknya.


" Its okey, ibuk pasti baik-baik saja sayang."


" Aku cari mamah sebentar ya?" Ucap Samuel sambil mengusap lembut kepala istrinya yang masih bersanggul itu.


" Mamah suruh kesini saja." Ucap Jani yang entah mengapa seolah takut berpisah dengan suaminya yang baru saja Sah beberapa saat yang lalu itu, seolah sudah ada firasat buruk yang terlintas di pikirannya.


" Biar aku saja yang memanggilnya."


" Bromo langsung keluar mencari sosok seorang wanita yang membuat ibuknya tiba-tiba pingsan, dia juga penasaran sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka, sampai ibunya shock saat melihat kehadirannya, padahal sebelumnya semua terlihat baik-baik saja.


" Tante.."


" Pak Samuel menunggu tante dikamar." Ucap Bromo saat melihat mamah Samuel terduduk lemas disalah satu kursi tamu.


" Baiklah." Beliau melangkah dengan perlahan dengan pandangan mata kosong dan berulang kali memejamkan matanya seolah menahan suatu beban yang berat dihidupnya.


" Mamah.." Baru sampai didepan pintu Samuel langsung menarik lengan mamahnya dan menyuruhnya untuk duduk.


" Katakan mah, katakan apa yang terjadi?"


" Kenapa ibu mertua langsung pingsan saat melihat mamah?" Samuel langsung tidak sabar ingin mendengar penjelasan dari mamahnya yang terlihat pucat itu.


" Okey."


" Mamah akan menjelaskan semuanya."


" Tapi tunggu Marvin sebentar ya."


" Biar dia mengambil sesuatu dulu." Ucap Mamah Samuel sambil menggengam jemari putranya dengan erat.


" Kenapa harus menunggu Marvin?"


" Memangnya apa hubungannya dengan Marvin?"


" Mah... tolong jangan membuat Sam bingung dengan ini semua." Rasa penasaran Samuel seolah sudah menggunung, dia benar-benar tidak tahu apa-apa tentang rahasia mamahnya ini, karena biasanya mamahnya selalu berbicara terbuka dengannya walau jarang bertemu.


" Kamu yang tenang ya sayang."


" Yang sabar." Mamah Samuel mengusap lembut bahu putranya.


" Gimana aku bisa tenang mah."

__ADS_1


" Ibu mertuaku tiba-tiba pingsan liat mamah."


" Dan acara pernikahanku bahkan belum selesai mah." Samuel bahkan terlihat emosi saat ini.


" Entah keributan apa yang terjadi dibawah sana nantinya."


" Sebenarnya ada apa mah?"


" Apa yang terjadi?" Samuel terduduk lemah disamping mamahnya.


" Pak.."


" Jangan emosi, kita bicarakan semua baik-baik okey?" Jani meraih kedua tangan suaminya yang terlihat gemetaran itu.


" Sayang." Ucap Samuel dengan lirih, saat ini hanya Jani lah yang selalu bisa menenangkan dirinya, bahkan dirinya langsung menempel ditubuh istrinya.


" Tunggu sebentar lagi nak."


" Kita tunggu Marvin, mamah tidak mau terjadi apa-apa denganmu." Ucap Mamah Samuel yang menyuruh Marvin untuk mengambil obat dan suntikan untuk Samuel tadi.


" Apa hubungannya dengan Sam mah?" Perkataan mamahnya semakin membuatnya bingung saja.


" Memangnya Sam kenapa?"


" Apa yang Sam lakukan mah?"


" Salah Sam apa?" Samuel langsung terlihat menginterogasi mamahnya dengan segala rentetan pertanyaan, kenapa menyangkutkan dengan dirinya, padahal dia sudah beberapa kali bertemu dengan ibu Rinjani, dan tidak pernah ada masalah apapun, beliau menerima dirinya dengan tangan terbuka walau dengan sambutan panci ditangan, tapi dia tahu kalau sebenarnya ibu Rinjani menerima dirinya dengan sepenuh hati selama ini, buktinya beliau memberikan restu dari hari pertunangan sampai saat Ijab Qobul tadi berlangsung dengan lancar.


Saat Samuel belum mendapatkan jawaban dari segala pertanyaannya, tiba-tiba terdengar suara ibuk Jani menjerit memanggil putrinya.


" Janiiiiiiii..."


" Janiiiiiiii..." Teriak ibu Rinjani masih dengan mata yang terpejam.


" Ibuk... ibuk sadar buk?"


" Nyebut buk?"


" Ini Jani buk, ibu kenapa?" Jani menggoyangkan tubuh ibunya dan sedikit menepuk lembut pipi beliau agar cepat membuka matanya.


" JANI." Saat matanya terbuka dia langsung memeluk Jani dengan deraian air mata.


" Ibuk?"


" Apa yang ibu rasakan?" Samuel jongkok didepan ibu mertuanya yang masih memeluk istrinya.


" Jangan mendekat!" Ibu Rinjani bahkan mendorong Samuel hingga tubuhnya terjengkang kebelakang.


" Ibuk, ada apa?"


" Apa salah suami Jani buk!" Jani ingin membantu Samuel untuk berdiri namun langsung ditarik oleh ibuknya.


" Jangan sentuh dia!"


" Jangan pernah berjalan mendekat kearahnya!" Mata ibuk Jani memerah, guratan kemarahan jelas-jelas terlihat diwajahnya yang masih pucat.


" Tapi kenapa buk?"


" Dia sudah Sah menjadi suami Jani buk." Jani bingung sendiri jadinya, kenapa ibunya tiba-tiba membenci Samuel sampai seperti ini, bahkan biasanya beliau tidak semarah ini walaupun di dzalimi oleh netizen-netizen disekelilingnya.


" MEREKA KELUARGA PEMBUNUH!" Teriak Ibu Rinjani yang membuat seluruh orang yang berada didalam ruangan itu tercengang dan menoleh kearahnya, hanya mamah Samuel saja yang terlihat menundukkan kepala dan mengusap wajahnya perlahan, dia tidak menyangka rahasia terbesar dikeluarganya akan terbongkar seperti ini, bahkan tepat dihari pernikahan putranya, yang seharusnya mereka sedang menikmati kebahagiaan, bukan penderitaan seperti saat ini.


Karena serapat apapun kamu menyembunyikan sebuah bangkai, suatu saat nanti pasti akan tercium juga.

__ADS_1


..."Never regret a day in your life; good days give happiness, bad days give experiences, worst day give lessons, and best day give memories."...


...(Jangan pernah menyesali suatu hari dalam hidupmu; hari yang baik memberikan kebahagiaan, hari yang buruk memberikan pengalaman, hari yang sia-sia memberikan pelajaran dan hari terbaik memberikan kenangan)...


__ADS_2