
...Happy Reading...
Marvin masih mondar-mandir sendiri didalam ruang tamu, bahkan setelah dia keluar dari kamar mandi setelah beberapa saat dia bersemedi didalamnya, kelakuan sepasang pengantin itu telah membuat otak sucinya terkontaminasi, bahkan gerakan Samuel didalam selimutpun masih berlalu lalang di kepalanya.
" Ada apa?" Samuel berjalan dengan santainya dari belakang tubuh Marvin yang masih mencoba mengusir pikiran-pikiran negatif yang sedari tadi muncul karena melihat live show yang terasa merusak jiwa sholehnya.
" Haaiissh... masih bau-bau air nista ini." Marvin melirik Samuel yang wajahnya masih bermandikan keringat itu.
" Air nista itu kalau kamu yang memproduksi, kalau aku sudah sah bro, malah bisa jadi ladang pahala." Sanggah Samuel yang langsung tidak terima dengan ocehan sahabat sekaligus dokter pribadinya.
" Dasar temen durjana, bisa-bisanya kamu genjot istri kamu di depan kedua mataku ya!"
" Dimana jiwa kemanusiaan Anda tuan muda yang terhormat?"
" Kamu pikir cuma kamu saja yang punya senjata!"
" Dasar teman tidak berperasaan!" Marvin jadi sewot sendiri, dia seolah tidak bisa duduk dengan tenang saat mengingatnya kembali.
" Owh ya?" Samuel malah terkekeh sendiri melihatnya.
" Hemm... kamu tau nggak, apa itu yang dinamakan surga dunia bagi pasangan suami istri?" Samuel seolah meng iming-imingi sesuatu yang tidak bisa sahabatnya itu lakukan.
" Apaan sih luu?" Marvin semakin murka karenanya.
" Benar kata orang, kalau ternyata betapa nikmatnya saat kita sudah menikah, apalagi saat first time kita, emm..." Samuel sengaja membuat Marvin semakin kebakaran jenggot.
" Ya ampun, rasanya itu mengalahkan segala apapun yang terenak di dunia ini." Samuel bahkan sudah pandai mendramatisir keadaan.
" DIAM." Hanya Marvin yang berani bersikap seperti ini di depan Samuel.
" Hahaha.."
" Sudah pergi ke kamar mandi belum tadi?"
" Jangan-jangan kamu sudah menghabiskan sabun di kamar mandi villa ya?" Bukannya marah, Samuel malah semakin gencar menggoda Marvin dan seolah bangga melakukan itu semua didepan pria jomblo yang lagi anget-angetnya itu.
" Awas saja ya, aku berikan suntikan dosis paling tinggi baru tahu rasa kamu!" Dia tidak mau kalah debat sebagai dokter pribadinya.
" Kamu jauh-jauh kesini mau ngomong apa?"
" Gangguin orang lagi honeymoon saja!" Samuel mengalihkan pembicaraan mereka.
" Aku sudah menemukan saksi dari kasusmu puluhan tahun yang lalu." Marvin kembali mengingat tujuan utamanya kesini.
" Benarkah?" Samuel langsung antusias untuk mendengarkan kelanjutannya.
" Hmm... ternyata dia masih hidup, namun dia sengaja diasingkan, tapi sekarang dia sudah kembali."
" Dan rumahnya tidak jauh dari sini."
" Namun dia sama sekali tidak mau mengaku."
" Ckk... aku juga tidak berani untuk terus memaksanya, takut nanti dia malah menghilang lagi." Ucap Marvin mengingat perkembangan kasus yang saat ini Samuel selidiki diam-diam.
" Sepertinya orang yang melindungi saksi itu, orang yang berpengaruh besar didalam dunia bisnis."
" Tidak mungkin bawahan mamah dulu tidak bisa menemukannya, kalau memang dia hanya orang biasa." Samuel masih belum bisa membayangkan siapa pelakunya, karena kejadian itu sudah lama berlalu.
" Terus pantau dia, jangan sampai dia kabur lagi."
" Suruh beberapa orang mengawasi mereka dari jarak jauh." Samuel masih belum memikirkan cara lain agar cepat mendapatkan informasi untuk mencari tahu semua kebenarannya.
" Hmm... pasti, aku sudah menyuruh beberapa orang memantau kediaman mereka diam-diam."
" Namun sepertinya keberadaan kamu disini sekarang tidak begitu aman."
" Walau sudah lama berlalu, takutnya masih ada orang yang mengenalmu."
" Lebih baik kalian berdua pulang denganku malam ini juga." Marvin sengaja menyusul mereka karena mendapat kabar terbaru dari orang suruhannya.
" Ckk... kalau besok pagi saja bagaimana Vin?" Samuel seolah tidak rela pergi dari Villa bersejarah itu, tempat dimana dia menggapai surga dunianya untuk yang pertama kali.
__ADS_1
" Kenapa harus besok pagi?" Tanya Marvin semakin heran.
" Kang Pisang belum puas main-main ditempatnya."
" Baru dapet dua ronde tadi, setidaknya harus ganjil."
" Sembilan, tujuh, lima atau paling sedikit tiga kali lah."
" Kalau sudah dirumah pasti Yoyo selalu merebut Jani dariku!" Samuel malah tersenyum sendiri mengingat perjuangan kang pisang menuju penggorengannya tadi.
Bugh!
Dengan wajah kesalnya, Marvin menendang kaki Samuel sekuatnya hingga membuat pria bertubuh tinggi tegap itu mengaduh kesakitan.
" Aw.. aw.. aw.. Marvin! kamu gila ya!" Suara Samuel bahkan menggema didalam ruang tamu Villa mewah itu.
" Sakit ini kakiku, aku masih mau nanjak gunung kembar lagi setelah ini."
" Arrgghhh... kau ini, datang-datang hanya bisa mengacaukan semua rencana indahku!" Umpat Samuel sambil memijit kaki yang tadi ditendang Marvin tanpa belas kasihan.
" Anggap saja begitu!"
" Aku sedari tadi mengkhawatirkan keselamatanmu, sedangkan kamu hanya memikirkan indahnya bulan madu?"
" Sini... biar aku bawa pulang sekalian surga duniamu!"
" Atau aku pajang sekalian dia disamping patung Pancoran, agar dia tidak berdiri sendiri lagi." Marvin dengan emosi tingkat tinggi ingin kembali naik kedalam kamar Samuel mencari Rinjani.
" Enak saja!"
" Istri tercintaku bahkan tidak sudi untuk melihatmu lagi." Samuel langsung menghadang langkah Marvin.
" Ciiihhh...dia berani bilang begitu?" Dia langsung berkacak pinggang.
" Kenapa tidak?"
" Karena kamu telah berani menganggunya, baru saja dia mau sampai dipuncak, kamu sudah membuka pintunya!" Samuel mengingat pesan Jani tadi, yang tidak ingin melihat wajah Marvin.
" Ibarat kata, seperti kita menggoreng kerupuk di saat minyak gorengnya belom panas."
" Kamu tahu nggak rasanya seperti apa!" Entah dapat perumpamaan dari mana Samuel saat ini.
" Aku nggak perduli."
" Orang aku nggak suka makan kerupuk kok!" Marvin bahkan tersenyum miring, tidak mau ambil pusing apa yang terjadi dengan pasangan suami istri itu.
" Dasar jomblo abadi."
" Kopi itu memang kalau sudah terlanjur dingin, tidak sedap lagi rasa dan aromanya!"
" Apa hubungannya?" Marvin langsung berbalik bahkan membaringkan tubuhnya diatas sofa dengan kaki berada diatas.
" Kak... kakak!" Teriak Jani dari arah tangga.
" Iya istriku tersayang..." Jawab Samuel langsung sengaja pamer kemesraan.
" Hoeeekkkk." Marvin langsung menutup kedua matanya dengan kedua lengannya, seolah tidak sudi untuk mendengar apalagi melihat keromantisan dua sejoli itu.
" Kita pulang sekarang yuk?"
" Besok pagi Niar mau dilamar kekasihnya." Ucap Rinjani dengan senyum yang mengembang.
Gubraaaak!
" Aiisshh... sial." Marvin mengusap kepalanya yang terhantuk meja.
Niat hati ingin segera beranjak bangun, namun tangannya seolah tidak kuat untuk menumpu badannya, akhirnya tubuh Marvin jatuh terbanting dilantai.
" Niar sahabatmu itu?" Bahkan dia tidak menggubris suara umpatan Marvin disampingnya, Samuel berjalan mendekat ke arah istrinya.
" Dilamar kekasihnya yang mana?" Samuel sebenarnya tidak terlalu perduli dengan kabar itu, namun dia penasaran saja, karena akhir-akhir ini dia melihat Niar dekat dengan Marvin pikirnya.
__ADS_1
" Kekasihnya yang kerja di Kalimantan itu loh." Rinjani ingin tertawa melihat tampang absurd Marvin, namun sebisa mungkin dia tetap menahannya.
" Tidak... tidak mungkin!" Marvin menggelengkan kepalanya, antara terkejut dan juga tidak percaya dengan kabar ini.
" Kenapa mendadak sekali?"
" Apa dia hamil?" Tanya Samuel yang malah semakin membuat Marvin merasa prustasi.
" HAH?"
" Tidak mungkin Niar hamil dengan orang lain?" Amarah Marvin seolah mulai memuncak.
" Maksud kamu apa?"
" Memangnya kamu yang sudah menjebol gawangnya untuk yang pertama kali?"
" Kenapa kamu bisa bilang tidak mungkin?" Samuel merasa heran sendiri dengan ucapan Marvin.
" Ckkk... kalian ini ngomong apa?" Jani langsung menepis anggapan dua pria tampan itu.
" Kenapa mikirnya kejauhan, Niar itu wanita baik-baik."
" Dia tidak mungkin menyerahkan sesuatu yang berharga selain dengan suaminya kelak."
" Aku tahu betul siapa Niar." Dia tidak terima jika sahabatnya dituduh seperti itu.
" Mungkin dia melakukan itu semua dibelakangmu yank." Samuel masih terus mencurigainya, takkan mungkin tiada angin tiada hujan tiba-tiba lamaran, dekatnya dengan Marvin masak tiba-tiba tunangan dengan yang lain, pikirnya.
" Nggak mungkin, setiap hari aku selalu bersamanya."
" Bahkan saat aku nginep dirumah kakak dia pun ikut kok, dia tidur nemenin Yoyo." Ucap Jani tetap menyangkalnya.
" Waaaah... kamu kecolongan start Vin."
" Ngalamat semakin lama kamu bisa merasakan indahnya surga dunia."
" Yang sabar ya Vin, mungkin jodohmu masih ada ditangan pria lain." Samuel mengusap bahu Marvin yang masih menegang sedari tadi.
" Aku tidak akan membiarkan Lamaran itu terjadi!" Marvin langsung berlari keluar dari ruangan itu secepat kilat.
" Heh... Marvin!"
" Kamu mau apa?"
" Jangan nekad kamu ya Vin.. heiiii..." Teriak Samuel yang tidak di gubris sama sekali, bahkan tidak lama setelah itu dia mendengar suara deru mesin mobil keras sekali.
" Hmmm... pengen marah sama si dokter gendeng itu, tapi nggak tega juga ngelihatnya sekarang." Jani terduduk lemas disofa, ikut prihatin saat melihat Marvin yang seolah tidak terima itu, sebenarnya Jani juga terkejut saat tadi Niar menelponnya, namun Niar belum sempat menceritakan kejadian keseluruhannya, dan dia harus segera pergi untuk mempersiapkan acara lamaran dadakan besok pagi.
" Nanti kita bahas didalam perjalanan pulang saja yank!" Samuel langsung melepas dan melempar kaos miliknya kesembarang arah.
" Karena Kang Pisang mau berkelana sekali lagi." Samuel langsung mendorong tubuh istrinya sampai ambruk ke sofa.
" Kak, jangan sekarang!"
" Kita harus segera pulang, takut kemalaman dijalan."
" Ini diarea hutan lho?" Jani berusaha mendorong tubuh suaminya.
" Sekali lagi saja yank, biar ganjil."
" Biar cepet jadi dedeknya!" Samuel langsung membuka seluruh penutup tubuh istrinya, dan menerjang apa yang bisa dia terjang, tidak peduli dikamar tamu sekalipun, karena memang tidak ada orang lain selain mereka.
" Astaga kakak.. pelan-pelan dong kak?" Jani kuwalahan sendiri dengan perlakuan suaminya yang terus saja menggila itu.
Dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi, tenaga Jani tidak sebanding dengan tenaga Samuel yang sudah kecanduan semua tentang istrinya.
..."Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, karena hasil akhir dari semua urusan di dunia ini sudah ditetapkan oleh Allah....
...Jika sesuatu ditakdirkan untuk menjauh darimu, maka ia tak akan pernah mendatangimu....
...Namun jika ia ditakdirkan bersamamu, maka kau tak akan bisa lari darinya."...
__ADS_1