
...Happy Reading...
Hari Akbar yang sudah Samuel dan Rinjani nantikan itu akhirnya telah tiba, moment-moment perhelatan sakral pun beberapa saat lagi akan dimulai. Suasana gedung yang sudah ditata dengan apik dan megah itu seolah membuat para tamu undangan takjub saat melihatnya.
Samuel berulang kali mengatur nafasnya, yang entah mengapa terdengar tidak beraturan, dia bahkan lebih terlihat gugup saat ini daripada menghadapi kolega besar diperusahaannya.
Memasuki momen paling spesial dalam seumur hidup tidak mengherankan jika saat hari pernikahan tiba, rasa deg – degan, bahagia, resah dan gelisah bercampur aduk menjadi satu, apalagi bagi mempelai pria, menjabat tangan sang penghulu bukan hanya sekedar mendapat pengakuan SAH saja, namun sebagai pria, sejak saat dia melafazkan ijab qobul, sejak saat itulah dia mengambil alih tanggung jawab seorang wanita yang sudah berganti status menjadi istrinya.
" Daddy?"
" Are you nervous now?" Bocah kecil yang terlihat tampan menggunakan jas berwarna dan bermodel senada dengan Samuel itu, langsung duduk dipangkuan Samuel sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher daddy tercintanya.
" Hrrmm.." Samuel menggangukkan kepalanya, mungkin hanya dengan Yoyo saja dia mau mengaku kalau dia itu nervous, karena rasa gengsinya melebihi segalanya.
" Its okey daddy?"
" Yoyo akan selalu ada dibelakang daddy."
" Menjaga daddy dan juga mommy, right?"
" So... daddy jangan takut."
" Tidak akan ada yang berani menggangu daddy!" Ucap Yoyo dengan mantap.
" Hehehe.."
" Kamu memang anak daddy yang paling pintar!"
" Terima kasih sayang." Saat ini Yoyo dan Rinjanilah penyemangat hidupnya, yang selalu akan dia jaga walau nyawa taruhannya.
" Sam.." Marvin yang juga terlihat tampan itu berjalan mendekat kearah Samuel.
" Tante belom pulang juga?"
" Apa dia nggak bisa hadir di hari pernikahan kamu?" Bisik Marvin yang sedari tadi mencari sosok mamah Samuel namun tidak menemukannya.
" Huuufftt."
" Entahlah, kemarin dia janji mau datang." Samuel hanya bisa menghela nafasnya kembali, dia tidak habis pikir, bagaimana jalan pikiran orang tua yang hanya tinggal satu-satunya itu.
" Atau mungkin masih dijalan?"
" Haruskah aku menunda acara Ijab Qobul kalian?"
" Mundur satu jam juga, pasti pak penghulu tidak akan keberatan."
" Dan masalah tamu undangan aku bisa mengalihkan perhatian mereka."
" Kita kasih sedikit hiburan juga pasti beres." Ucap Marvin yang menjadi penanggung jawab utama di acara pernikahan Samuel dan Rinjani kali ini.
" Tidak perlu!"
" Lakukan sesuai planning awal saja."
" Aku bisa menikah sendiri."
" Lagian mamah juga sudah merestui hubungan kami."
" Tidak akan ada masalah, doa restu dari mamah saja sudah cukup."
" Untuk kehadirannya itu bonus."
" Sedari dulu, setiap moment berhargaku juga bukan mamah yang mewakili."
" Almarhum kakak yang selalu menjadi wakilku." Samuel menundukkan kepalanya sambil memeluk Yoyo yang seolah menyimak pembicaraan orang-orang dewasa.
" Daddy jangan sedih okey?"
" Ada Yoyo yang selalu menemani daddy."
" Nanti kalau grandma pulang, Yoyo yang akan memarahinya."
" Huh." Tingkah imut dari Yoyo lah yang selalu menjadi penyemangat dan hiburan buat Samuel, mungkin dialah makhluk kecil yang diutus Tuhan untuk menggantikan sosok kakak tercintanya.
__ADS_1
" Hmm.."
" You are the best Yo!"
" Daddy nggak sedih kok nak."
" Daddy baik-baik saja okey?"
" Pergilah duduk dengan uncle Bromo disana." Samuel menunjuk Bromo yang terlihat duduk santai dikursi Ijab Qobul, karena dia yang akan menjadi wali nikah kakaknya, menggantikan tanggung jawab ayahnya yang sudah meninggal dunia.
" Daddy harus bersiap dulu ya?"
" Jangan nakal okey?" Samuel mengusap rambut putra kesayangannya dengan senyum perih saat mengingat mami Yoyo yang juga sudah pergi meninggalkan dunia ini.
" Okey daddy... Yoyo tidak akan nakal lagi."
" Karena Yoyo sudah dewasa sekarang."
" Semangat daddy!" Ucap Yoyo kemudian berlari kearah Bromo dengan senyum mengembang, khas anak kecil.
" Sam..."
" Apa kamu yakin tidak ingin menundanya?"
" Masih ada waktu, sebelum pak penghulu memulainya?" Tanya Marvin ragu dan langsung menanyakan kembali.
" Hmm.."
" Tidak perlu ditunda."
" Aku sudah siap lahir batin Vin." Samuel tersenyum walau terlihat penuh kegelisahan, tadi malampun dia sulit untuk tidur, bahkan memilih meminum obatnya walau tidak kambuh, agar dia bisa terlelap walau mungkin hanya sebentar.
Entah apa yang dia fikirkan, namun dia seolah mendapatkan firasat yang kurang menyenangkan dihidupnya, namun dia mencoba berfikir positif, dia seolah menggangap ini hanya kekhawatiran yang berlebihan, saat menjelang hari pernikahan.
" Saudara Samuel Mahavir Bramantyo, apakah anda sudah siap?" Tanya pak penghulu yang sudah ingin memulai acara Ijab Qobulnya, sedangkan Rinjani masih berada didalam ruangan, dia akan keluar disaat kata SAH sudah terucap nantinya.
" Insya Alloh siap pak." Jawab Samuel dengan mantap.
" Pernikahan bukanlah suatu hal yang menjanjikan setiap pasangan untuk hidup selalu senang." Sang penghulu memberikan sedikit nasihat pernikahan sebelum acara Akad nikah itu dimulai.
" Dalam rumah tangga kerap terjadi gejolak yang kerap menyentuh setiap pasangan."
" Namun demikian, kalian harus selalu menyandarkan diri kepada Tuhan sang pencipta alam semesta."
" Memupuk keimanan, ketakwaan, serta kepatuhan dalam beribadah merupakan modal utama dalam membangun sebuah rumah tangga, karena dengan modal tersebut, keberkahan akan melingkupi siapa pun yang berada di dalam rumah tangga tersebut."
" Mengerti nak?" Tanya pak penghulu sambil tersenyum kearah Samuel.
" Mengerti pak." Jawab Samuel dengan mantap.
" Kalau begitu kita bisa memulainya."
" Silahkan jabat tangan adik calon istri anda." Ucap pak penghulu.
" Saudara Samuel Mahavir Bramantyo bin Ahmad Bramantyo almarhum, saya nikahkan dan saya kawinkan kamu dengan kakak saya Rinjani Maheswari binti Gilang Nugroho almarhum dengan mas kawin uang sebesar USD 112.017 dibayar TUNAI." Ucap Bromo dengan suara lantang, karena merupakan suatu kehormatan tersendiri dia bisa menjadi wali nikah kakaknya yang sah.
" Saya terima nikah dan kawinnya Rinjani Maheswari binti Gilang Nugroho almarhum dengan maskawin tersebut dibayar TUNAI." Ucap Samuel dengan satu kali tarikan nafasnya.
" Bagaimana saksi, SAH?" Tanya penghulu kepada kedua saksi.
" SAH.. SAH.." Jawab mereka secara bersamaan.
" Alhamdulilah SAH.." Para tamu undangan dan para keluarga yang hadir ikut tersenyum lega saat mendengarnya.
" Mempelai wanita, dipersilahkan datang kemari."
" Silahkan duduk disamping suami yang sudah Sah beberapa menit yang lalu."
" Woaaahh... cantik sekali ratu kita hari ini." Ucap salah seorang pembawa acara tersebut.
Samuel dan Marvin serentak menoleh kearah sang pengantin wanita yang berjalan didampingi oleh Niar sang sahabat sejati.
" Sayang.." Senyum indah terus saja mengembang menghiasi wajah Samuel yang terpukau melihat istrinya yang terlihat sangat memukau dengan dibalut kebaya berwarna putih dengan dihiasi bunga melati dikepalanya.
__ADS_1
" Niar." Ucap Marvin tanpa sengaja, karena mungkin hanya dia yang memperhatikan pendamping pengantin wanita saat ini, dia pun terpaku melihat kecantikan Niar yang menggunakan baju berwarna senada dengan dirinya, bahkan Marvin langsung mengu lum bi birnya, mengingat Dosa Termanis yang mereka lakukan saat berteduh diarea persawahan kemarin.
" Cantik." Ucap Samuel saat Rinjani mencium tangannya dan mereka segera menyelesaikan tanda tangan untuk surat nikah dan lainnya.
" Selamat ya nak.. akhirnya anak ibuk yang satu ini laku juga." Ingin meledek, namun air mata tidak bisa dibohongi, mengalir begitu saja dengan sendirinya.
" Jangan bandel, jangan manja."
" Dengerin kata-kata suami kamu."
" Jangan pernah melawan suami kamu, durhaka itu namanya." Ibu Jani memeluk putri kesayangannya, sebenarnya dia belum begitu rela, namun cepat atau lambat putrinya itu juga pasti akan menjadi milik seorang pria yaitu suaminya.
" Iya buk." Sebenarnya banyak kata yang ingin Jani utarakan saat itu, namun seolah tersekat dalam tenggorokan, dan hanya air mata yang menjawabnya.
" Nak Sam, ibuk titip putri ibuk ya?"
" Jika dia salah, kamu boleh menasehatinya, kamu boleh menegurnya, tanpa harus membentaknya."
" Tanpa harus melakukan kekerasan dalam rumah tangga."
" Sayangi dia, kasihi dia."
" Jika memang kamu tidak sanggup, bicara dengan ibu, biar ibu yang membawanya pulang."
" Tanpa harus kamu paksa!" Ucap ibuk Jani dengan deraian air mata.
" Jangan dibawa pulang dong buk."
" Dia kan kesayangan aku."
" Aku nggak bisa hidup tanpa dia, walau hanya sebentar saja."
" Apapun yang terjadi, aku akan tetap bersama dia."
" Dia sudah resmi jadi milikku seutuhnya sekarang kan buk?" Ucap Samuel yang tidak sesuai dengan skenario ucapan sang menantu pada umumnya.
" Pak.. yang bener ngomongnya." Bisik Rinjani, dia yang tadi sempat terharu dengan kata-kata ibuknya jadi ingin tertawa saat mendengar jawaban dari suaminya.
" Udah bener itu sayang."
" Emang perkataan mana yang salah?" Samuel bahkan membuat keluarga yang ikut menyaksikannya ikut tertawa.
" Sudah.. sudah."
" Aku percayakan putri ibu denganmu."
" Semoga kamu menjaga amanah ibuk ya."
" Semoga keluarga kalian diliputi kebahagiaan nantinya, menjadi keluarga sakinah, mawadah, warohmah." Ibu Rinjani bahkan tidak jadi menangis lagi, bahkan senyum senjanya langsung terlihat diwajah yang sudah mulai menua itu.
" Amin." Ucap Keduanya serentak.
" Sayang.." Tiba-tiba terdengar suara riang dari arah pintu masuk.
" Maaf mamah datang terlambat ya?"
" Dari kemarin cuaca buruk sayang, jadi penerbangan mamah tertunda." Seorang wanita paruh baya dengan baju dan tas branded berjalan cepat mendekat kearah mereka yang masih berbincang hangat.
" KAMUUUUU..!" Teriak Ibu Jani sambil memegang da danya yang tiba-tiba terasa sesak.
Bruuuk!
" IBUUUUK!"
Teriak Jani yang langsung menangkap tubuh ibunya yang terkulai lemah tidak berdaya diatas pangkuannya.
Dalam hidup, kita tak bisa lepas dari kemarahan atau kejengkelan yang disebabkan perilaku orang lain. Adakalanya, saat emosi memuncak, kamu ingin membalas perbuatan orang tersebut.
Rasa amarah yang terpendam. Rasa itu bisa berasal dari pedihnya pengkhianatan dan perpisahan pahit. Pengkhianatan itu pula yang membuat rasa sakit hati bisa menjadi sangat dalam dan tak bisa sembuh dengan cepat.
..."Manusia adalah makhluk ringkih yang terbuat dari sakit hati dan janji yang teringkari."...
Apa yang terjadi?
__ADS_1
Jangan lupa jempolnya mana hayow?