
...Happy Reading...
Menyedihkan sekali rasanya, saat kita sudah berusaha semaksimal mungkin, namun semuanya masih belum cukup dimata mereka. Terkadang kita menciptakan sendiri rasa sakit hati melalui ekspektasi. Tidak menaruh kepercayaan terlalu besar kepada seseorang adalah cara terbaik untuk menghindari sebuah pengkhianatan.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk seorang Samuel mendapatkan ganti mobil baru, dengan segala kekuasaan dan jaringan yang ada dimana-mana, Nisa sang sekertaris langsung mencarikan dealer mobil yang paling dekat dengan lokasi keberadaan Samuel, jadi hanya butuh waktu sebentar saja Samuel sudah bisa mengetahui keberadaan Rinjani.
Sepanjang perjalanan dia menoleh kanan kiri untuk melihat mobil Jani, dan ternyata mobil itu diparkirkan tidak jauh dari jalan, jadi Samuel langsung bisa menemukan keberadaan Jani.
Baru saja keluar dari mobil, Samuel sudah disuguhkan pemandangan tidak sedap, saat melihat Jani duduk berdua dengan seorang pria bahkan terlihat sedang bersenda gurau bersama.
" HAH?"
" Pak Samuel?" Niar yang berada lebih dekat dari pintu masuk terkejut dengan kedatangan Samuel, ditambah lagi dengan raut wajahnya yang seperti ingin memakan orang saja, sorot mata yang tajam dan hanya berpusat kepada seseorang yang bahkan tidak melihat kedatangannya itu membuat Niar langsung bergidik ngeri sendiri.
" Sayang, siapa dia?" Kekasih Niar pun ikut terheran melihatnya, karena dia tidak merasa mengundang orang lain selain keluarga dan sahabatnya.
" Dia itu presdir ditempat magangku yank." Ucap Niar yang ragu ingin menyapa atau tidak, maju salah mundur pun salah juga, akhirnya dia hanya terpaku melihatnya saja.
" Trus ngapain dia kesini?"
" Kok dia malah ngeliatin Jani sih?"
" Katanya presdir kamu?" Kekasih Niar semakin bingung dibuatnya.
" Kan aku dan Jani sama tempat magangnya."
" Dan presdir kami itu suka sama Jani." Ucap Niar sambil berbisik, Samuel belum mendekati Rinjani, dia seperti menyimak dahulu apa yang mereka bicarakan.
" Trus kenapa Jani minta dikenalin sama cowok lain?"
" Masak Jani menolak dia sih?"
" Nggak masuk akal banget!"
" Emang Jani mau dijadiin istri kedua apa bagaimana?"
" Kenapa dia menolaknya?" Dito kekasih Niar seakan tidak percaya melihatnya.
" Bukan... dia masih lajang!"
" Panjang ceritanya yank."
" Nggak cukup satu buku kalau dituliskan."
" Biar aku tanyain dulu."
" Aiisshh... Jani ceroboh sekali memang, kenapa pak Sam bisa datang kesini."
" Hancur sudah dunia persilatan." Niar berjalan mendekati Samuel, namun belum sempat dia menyapa, suara bariton Samuel mengagetkan dirinya, bahkan sampai dia memegang da danya sendiri karena terkejut.
" SAYA CALON SUAMINYA..!"
" AMBYAAAAAARRR MAK PYAAARRRRRR... balik kanan bubar jalan, langkah tegak maju, ninggalke harapan palsu, hahaha.." Niar yang sempet mendengar kata-kata Alief sekilas malah jadi tertawa dan bersenandung ria melihat mereka, ternyata Alief sedang mencoba PDKT dan mengucap kata-kata manis dengan Jani, sudah dapat dipastikan Si Pangeran Gila ini mengamuk tujuh hari tujuh malam nantinya.
" HAAAH..?"
" Pak Sam?" Jani menoleh kearahnya seakan tidak percaya dia bisa berdiri tegak didepannya.
" Apa sudah puas kamu bermain-main disini!"
" PULAAAANGGGGG..!" Teriak Samuel sambil menajamkan pandangan kearah Alief yang ikut terkejut sama seperti Jani, karena dia seperti pernah melihat orang didepannya ini.
" Tapi pak, saya baru sebentar lho ini."
" Saya masih------"
" Mau jalan sendiri atau aku seret kamu dari sini." Amarah Samuel benar-benar sudah memuncak, dia paling tidak suka dengan seorang pengkhianat atau pun dikhiananti.
" Niaaaarrr, kau ya!"
" Bagaimana ini?" Jani merasa kesal sendiri saat melihat Niar malah bernyanyi.
" Salah luu sendiri, kenapa dia bisa tahu elu disini."
" Elu yang ceroboh, bukan salah gw!" Ucap Niar tanpa suara dan hanya bisa mengangkat kedua tangannya diudara, yang berarti 'menyerah' karena tidak akan bisa menolongnya kali ini.
" Aargghhh!" Jani hanya bisa berteriak kesal sendiri.
" Iya.. iya.. aku pulang!" Jani ingin beranjak pergi dari sana, tapi dia teringat dengan Alief yang masih duduk tertegun di kursi tadi.
" Kakak.. aku pulang dulu ya."
" Lain kali kita sambung lagi ngobrolnya." Rinjani tersenyum menoleh kearah Alief yang langsung membalas senyuman manis juga, bahkan gigi gingsul yang membuat Jani ngefans pun terlihat dan semakin membuat senyum Jani melebar karenanya.
" JANGAN TERSENYUM KEPADANYA..!" Suara Samuel terdengar menggelegar kembali disana, karena itu merupakan kawasan hutan lindung, bahkan teman-teman adeknya Dito pun serentak menoleh kearah Samuel semua.
" Diiihh.."
" Nggak usah teriak-teriak kali pak!"
" Bikin takut orang saja!" Jani langsung berjalan mendekat kearahnya.
HANCUR sudah harapanku, padahal masih kangen ngobrol sama kak Alief, jarang-jarang bisa ketemu sama dia lho...
" Naik ke mobil!" Samuel masih saja berbicara keras dengan Jani.
" Bisa cepat nggak jalannya!"
" Lelet banget!" Samuel langsung menarik tangan Jani.
" Nggak usah noleh-noleh kebelakang!" Samuel langsung mengarahkan kepala Jani kedepan saat dia berusaha melihat Niar dan dua pria disampingnya yang tidak bisa berbuat apa-apa maupun berkata apa-apa, hanya lambaian tangan Niar sebagai tanda perpisahan mereka untuk hari ini.
" Pak.. mobilku gimana dong?"
" Aku naik mobil sendiri aja ya?" Jani menatap Samuel dengan tatapan lemah.
" NGGAK!"
" Naik ke mobilku sekarang!"
" Nanti aku suruh orang ngambil mobil bututmu itu!"
" Kalaupun hilang aku bisa menggantinya sepuluh bahkan seratus mobil seperti punyamu itu." Ucap Samuel langsung mendorong Jani perlahan untuk masuk kedalam mobilnya, hanya ucapannya saja yang kasar, tangannya tetap lembut memperlakukan Jani.
" Ckk.. jangan!"
" Itu mobil peninggalan almarhum Ayah."
" Mobil kesayangan Bromo itu." Jani masuk kedalam mobil sport milik Samuel dengan wajah yang sudah pasrah dengan keadaan.
" Aku nggak perduli."
" Siapa suruh kamu bohongi aku!" Samuel langsung mencondongkan tubuhnya didepan tubuh Jani.
" Eeeeiiitttt..!"
" Mau ngapain bapak?" Jani langsung memundurkan kepalanya dan membekap mulutnya sendiri.
Ceklik
Seatbealt terpasang dengan sempurna.
" Apa yang ada di otakmu!"
" Mobil bagus tuh, bunyi kalau seat bealtnya depan nggak dipasang!"
" Emang mobil kamu, keluaran delapan puluhan!" Samuel tersenyum miring kearah wajah Jani yang memerah karena menahan malu karena prasangka buruknya.
__ADS_1
" Lagian aku juga lagi malas ngerasain bi bir TUKANG TIPU kayak kamu!"
" Bikin nggak mood saja!" Ucap Samuel langsung menghidupkan mobilnya dan segera berlalu pergi dari kawasan wisata asri itu.
KENAPA? kenapa malas..? astaga, kenapa aku jadi sedih begini?
" Ciiih... bagus kalau begitu." Lain dihati, lain pula yang keluar dari mulutnya.
" Bibirku jadi tidak ternodai lagi!" Jani langsung membuang pandangan ke arah jalanan.
" Jadi kamu pikir bi bir ku ini noda kotoran apa!" Samuel melongo sendiri mendengar ucapan dari mulut Jani.
" He em." Jani bergumam, tanpa merasa bersalah sedikitpun.
" KAU YAA..!"
" Berani-beraninya kamu beranggapan seperti itu!" Samuel langsung meminggirkan mobilnya ke pinggir jalan.
Braaaaaaaaakkk!
Samuel menurunkan sandaran kursi Jani dengan paksa, membuat tubuh Jani mau tidak mau ikut tergeletak bersama diatasnya.
Cup
Samuel langsung menyambarnya dengan sedikit kasar karena merasa tidak terima dengan omongan Jani.
" Emphh.."
" Pe.. pe.. pelan-pelan pak!" Jani sampai kuwalahan menahan tubuh Samuel yang ikut ambruk diatasnya.
" Diem kamu!" Samuel protes disela-sela aktifitasnya, namun dia menurunkan juga ritme ciu mannya menjadi lebih santai dan lembut penuh dengan perasaan.
Naaah... gini kan Wuueeenaakkk pak...!
Jani bahkan mengalungkan tangannya ke leher Samuel sebagai pegangannya, entah mengapa dia tidak keberatan sama sekali kali ini, bahkan terlihat menikmatinya, Samuel pun sampai memejamkan matanya untuk meresapi setiap alurnya, karena Jani menyambut dan membalas ciu mannya.
" HEH.."
" Tumben kamu tidak berontak!" Samuel tersadar dan malah tersenyum seakan meledek Jani.
" Sudah kecanduan kamu sekarang!" Samuel langsung ingat daratan, kalau dia masih ada dijalanan, bisa hancur harga diri dan perusahaannya kalau sampai ada orang lain yang melihat dan mengabadikan moment itu di sosial media.
" HAH?"
" Ermmm... sudah terlanjur ternodai."
" Mau gimana lagi!" Jani memejamkan matanya kesamping serta mencengkeram bajunya sendiri.
Aaaarrggghhh... ada apa denganku? haduuh.. malunya aku..!
" Ciiiihhh..." Samuel berdecih serta melirik Jani sekilas.
" Kamu membalasnya tadi." Samuel langsung tersenyum-senyum sendiri sambil menjalankan mobilnya memecah sunyinya jalanan hutan pinus itu.
Aaaaaaaa... ibuk, pengen balik masuk ke kandungan lagi bisa nggak..!
" Eheeerrmm."
" Argh.. aku ngantuk, pengen tidur!" Jani langsung memejamkan matanya, mulai bersandiwara.
" Nggak usah malu!"
" Bilang aja suka!" Samuel langsung mengacak rambut Jani dengan gemas.
" Mana ada!" Jani bahkan memiringkan tubuhnya kesamping.
" Tapi kenapa kamu harus membohongiku?"
" Katanya kamu buat tugas?"
" Kamu malah bersenang-senang, HAHA HIHI sama pria tadi?"
" Siapa pria itu?" Walaupun bahagia tapi pemandangan tadi sungguh membuat hatinya kembali murka.
" Owh.."
" Tadi itu masih nunggu temen." Mata Jani langsung membulat kembali saat Samuel menanyakan kejadian tadi, dia harus memberikan alasan yang tepat agar Singa gila nya ini tidak mengamuk kembali pikirnya.
" Nunggu temen apaan?"
" Orang saat aku datang tadi, Niar mojok sama cowok itu berangkulan kok."
" Kalian mau ngerjain tugas apa double date!" Emosi Samuel kembali berapi-api.
" Itu tadi cowoknya Niar."
" Ya sambil nunggu sambil pacaran ya nggak papa dong?" Ucap Jani tanpa berani melihat wajah Samuel.
" JADI KAMU JUGA IKUT PACARAN TADI!" Samuel langsung berteriak sambil menarik dagu Jani agar melihat kearahnya.
" Enggak.. enggak..!"
" Dia kakak kelas... iya kakak kelas."
" Beneran pak, aku nggak bohong!"
" Aku nggak pacaran!"
" Sueerrr!" Jani langsung terlihat gemetaran, karena wajah Samuel terlihat memerah.
" Siapa pria itu!" Samuel kembali melihat jalanan.
" Kan sudah aku bilang, kakak kelas." Jani berusaha kembali tenang.
" Kenapa kamu akrab dengannya?"
" Ketawa ketiwi sampai nggak lihat aku datang!"
" Kurang tampan seperti apa aku ini?"
" Sampai mata kamu berani berpaling ke pria lain!" Samuel seakan tidak terima dia diacuhkan begitu saja.
Calm Down Jani.. puji dia.. puji dia, lemparkan dia ke awang-awang, atau keluar angkasa sekalian kalau perlu..!
" Bapak sudah.. sudah.." Jani seakan tidak rela ingin menyanjung Samuel secara terang-terangan.
" SUDAH APA!" Sela Samuel karena dia sudah tidak sabaran.
" TAMPAN.."
" Yaaah.. hehe, sudah tampan!"
Kadang-kadang tapi, kalau sehabis mandi dan saat mata bapak terpejam alias tidur, karena disaat itulah bapak tidak banyak bicara.
" Terus kenapa kamu tertawa dan tersenyum dengan dia?"
" Apa tersenyum denganku saja tidak cukup?" Samuel merasa iri saat Jani tadi meninggalkan senyum manisnya untuk Alief.
" HAH?"
" Orang cuma senyum doang pak, nggak berarti apa-apa dong?"
" Ya... masak aku harus nangis?"
" Ntar dikira ngapain lagi?" Jani bingung sendiri mau jawab apa, cuma masalah senyum aja dipermasalahkan pikirnya.
" CUMA KAMU BILANG?"
__ADS_1
" Jangan menyepelekan sebuah senyuman."
" Senyuman itu bisa menjadi belati tajam."
" Karena dulu juga, aku tertarik denganmu pertama kali saat kamu tersenyum!" Ucap Samuel tanpa sadar.
" Cieeeee..."
" Sebegitu menawankah senyumanku ini?" Jani bahkan bukan lagi tersenyum, dia malah memamerkan deretan gigi putihnya dihadapan Samuel.
" Jangan GR kamu!" Samuel menyentil kening Jani menggunakan tangan kirinya.
" Jangan pernah tersenyum seperti tadi dengan seorang pria, SELAIN AKU..!"
" Paham kamu!" Samuel menegaskan kata-katanya.
" Siaaap komandan!" Jani bahkan memberikan tanda hormat kearah Samuel.
Suka hati bapak sajalah, biar cepet kelar, kalau nggak ada bapak ya bebaslah, mau senyum sama siapa saja, senyum itu baik untuk kesehatan kulit, biar nggak cepat berkerut dan cepat tua tau pak!
" Kamu tidak menaruh perasaan apapunkan dengan dia?" Samuel seakan masih curiga karena dia sedikit mendengarkan ucapan Alief diakhir-akhir tadi.
" Dia siapa?"
" Kak Alief?"
" Ciiihhh..."
" Aku nggak tanya namanya!"
" Nggak mau tahu!"
" Dan nggak perduli juga!" Samuel langsung Sewot mendengarnya, sedangkan Jani malah terlihat bahagia melihatnya.
" Namanya tuh Alief, dia itu dulu ketua OSIS saat aku kelas satu."
" Saat aku kelas dua, aku kan jadi OSIS juga, jadi masih sering dibimbing dia juga."
" Sering ketemu, sering ngobrol juga!" Jani asyik menceritakan tentang Alief.
" Nggak menarik kisahnya." Samuel semakin tidak suka mendengarnya dia sengaja menambah laju mobilnya.
" Siapa bilang?"
" Dia dulu Idola di sekolah lho pak!"
" Banyak banget fans cewek-ceweknya."
" Aku bahkan ikut didalamnya, biar makin seru, hahaha.." Jani dengan PDnya mengatakan hal itu.
" DIEM..!" Samuel seolah makin benci mendengar Jani memujinya, dia pun menambah lagi kecepatan mobilnya.
" Dia siswa berprestasi juga lho!"
" Sama kayak aku tahu pak?"
" Nggak tahu kan bapak, kalau aku ini selain cantik juga berprestasi, hehe.."
" Dulu kami sering naik panggung bareng, saat penerimaan piagam penghargaan di akhir semester."
" Dari situlah kami mulai dekat dan sering ngobrol bareng!" Jani terlihat tidak peduli dengan wajah Samuel yang murka, dia pun enjoy saja saat Samuel semakin lama semakin menambah kecepatan mobil sportnya.
" Bisa diem nggak sih kamu!" Samuel mencengkeram stir mobilnya dan kakinya makin menginjak gas tanpa terkendali.
" Enggak, haha..."
" Bapak kenapa sih?"
" Eeeeeeh... itu?"
" Paaaaakk... awaaaaaasss!"
" Itu ada... aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!" Jani menutup matanya karena ada seorang penjual yang sedang mendorong gerobak melintas didepan mobil dari jarak dekat.
BRAAAAAKKKKK!
Samuel membanting mobilnya kekiri dan menabrak pembatas jalan.
" Aaaaaaaaaaaaaaaa...."
" Allohuakbaaar!" Jani mengusap da danya sendiri, ternyata Tuhan masih melindungi mereka berdua, Jani segera keluar dari mobil dan melihat bapak-bapak yang membawa gerobak tadi.
" Bapak nggak papa?"
" Ada yang rusak nggak?" Jani melihat mobil Samuel hanya peyok bagian depan saja, karena mobil Samuel termasuk mobil mewah yang khusus untuk off Road, jadi banyak pelindung di bamper depan belakang.
" Nggak kok mbak."
" Bapak cuma kaget aja."
" Jangan ngebut-ngebut dong mbak."
" Ini kan jalanan kecil, bukan jalan tol?" Jani langsung melihat tubuh bapak itu dan gerobaknya yang memang tidak mengalami kerusakan apa-apa karena bapak itu mendorong gerobaknya dengan cepat.
" Iya pak.."
" Maaf ya pak?"
" Ini buat bapak beli air minum ya?" Jani mengambil uang seratus ribuan dan memberikan kepada bapak yang ternyata penjual rujak buah itu.
" Biar nggak kaget lagi, hehe.."
" Sekali lagi maaf ya pak?"
" Permisi." Jani akhirnya bisa tersenyum lega, karena tidak ada yang terluka dalam insiden ini.
" Makasih mbak, lain kali hati-hati." Bapak itu memperhatikan langkah Jani.
" Siap pak." Jani tersenyum sambil kembali kedalam mobil.
" Gimana sih pak Sam ini!"
" Bisa nyetir nggak sih?"
" Udah hampir nabrak, nggak mau turun lagi."
" Minta maaf kek, kasih apa kek?"
" Katanya kaya, masak ngasih sedikit uang saja nggak mau!"
" Pelit banget jadi orang, amit-amit dah!" Jani mengumpat Samuel dan siap menceramahinya nanti.
" Paaaaaaakkkkk!"
" Bapak itu gi--------"
Jani menghentikan ocehannya saat melihat Samuel hanya terdiam terpaku melihat kedepan dengan tatapan kosong, bibir gemetar, wajah pucat dan keringat dingin bercucuran dengan derasnya.
Betapa pun manusia berusaha mengelak dari cinta, namun manusia tetap berada dalam genggaman cinta. Karena cinta, melekat dan menjadi bagian dari diri manusia itu sendiri.
Cintailah seseorang itu atas dasar siapa dia sekarang dan bukan siapa dia sebelumnya, kisah silam tidak perlu diungkit lagi jika kamu mencintainya dengan sepenuh hati.
..."Cinta diciptakan untuk mendatangkan kesempurnaan bagi manusia, bukanlah keegoisan yang tidak menentu."...
..." Cinta bukanlah kata murah dan dan lumrah yang dituturkan dari mulut ke mulut."...
..." Dan Cinta bukanlah sebebas kata, tetapi cinta adalah tindakan untuk menyenangkan orang yang kita cintai."...
__ADS_1