CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
6. Kurang Kasih Sayang


__ADS_3

...Happy Reading...


Pagi ini Rinjani dan Niar sudah sampai dirumah bak istana kayangan untuk kembali menjalani profesi barunya.


" Kalau dipikirin kasian juga nasip kita ya cuy?"


" Sekolah tinggi-tinggi magangnya jadi baby sister?" Ucap Niar berjalan lunglai menuju kamar Yoyo.


" Ya udah sih.."


" Anggap saja latihan punya anak!"


" Ini juga kan ulah kamu yang suka ngoceh sembarangan!" Rinjani membuka pintu kamar Yoyo.


" Suami juga belom punya, pacar juga masih belom jelas!"


" Udah ngomongin anak aja luu!"


" Kamu kira bikin anak kayak bikin perkedel kentang apa!" Niar mengekori langkah Rinjani.


" Tumben Yoyo belom bangun?"


" Biasanya jam segini sudah buat ulah dia!" Rinjani mendekat kearah tempat tidur Yoyo.


" Tapi rumah sudah sepi?"


" Tante sama pak presdir sepertinya juga sudah berangkat kan?"


" Rumah segede gini kayak kuburan ya!" Niar menengok luar juga terlihat sepi.


" Orang kaya biasalah bro!"


" Hanya bisnis saja yang ada diotaknya!" Rinjani tersenyum miring menanggapi ocehan temannya itu.


" Eehh... badan Yoyo panas Niar?" Badan Yoyo tersenggol oleh lengannya sendiri saat ingin membetulkan selimut Yoyo.


" Owh ya?" Niar langsung meletakkan tangannya dikening Yoyo.


" Eh... iya, demam ini pasti Yoyo."


" Gimana dong?"


" Mana keluarganya sudah pada pergi lagi."


" Cuma ada si bibi tadi, tapi lagi kepasar!" Ucap Niar yang tadi tanpa sengaja melihat asisten rumah tangga Samuel pergi membawa tas belanja.


" Ya sudah, kita kompres aja dulu."


" Nanti kalai belom reda kita bawa kerumah sakit!" Rinjani langsung mengambil handuk kecil dan air untuk mengompresnya.


" Dad..."


" Mom..." Yoyo mengigau memanggil ayah dan ibunya.


" Kayaknya kita bawa ke rumah sakit aja deh Niar!"


" Takut kenapa-kenapa nantinya."


" Kesehatan bocah ini nyawa kita taruhannya." Rinjani tidak tega melihatnya, walau sudah dikompres juga masih tetep panas.


" Okey..."


" Gw pesenin taksi."


" Eluu beresin baju-baju Yoyo."


" Takutnya nginep nanti!" Niar langsung memesan taksi online lewat ponselnya.


" Eh.. lu kabarin daddynya gih?"


" Atau Omanya gitu?" Rinjani dengan sigap memasukkan baju dan perlengkapan mandi Yoyo didalam tas.


" Nggak punya gw!"


" Yang penting bawa aja kerumah sakit dulu!"


" Nanti biar gw susulin kekantor aja deh!" Ucap Niar membantu membawakan tas Yoyo, sedangkan Rinjani menggendong Yoyo sampai kedalam taksi.


" Kasian amat ni bocah?"


" Bergelimang harta tapi kurang kasih sayang orang tua." Rinjani mengusap kepala Yoyo yang tidur dipangkuannya.


" Kenapa pak Samuel nggak nikah lagi ya?"


" Kan biar ada yang bantuin jaga Yoyo kan?"


" Masak iya duda setampan dan setajir dia nggak ada yang minat!" Ucap Niar ceplas-ceplos.


" Emang dia sudah nikah?" Rinjani menatap intens kearah Yoyo.


" Sepertinya Yoyo sama sekali tidak mirip dengan pak presdir kan?"


" Matanya, hidungnya, rambutnya pun beda!" Rinjani mengamati dengan detail sosok Yoyo dan membandingkannya dengan sosok Samuel.


" Nggak tahu juga!"


" Orang dikantor juga nggak pernah ada yang menggosip tentang latar belakang presdir."

__ADS_1


" Mereka hanya tau beliau punya satu anak, itu saja!"


" Atau jangan-jangan dia anak diluar nikah ya cuy!"


" Trus karena mommynya orang biasa, tante nggak merestui hubungan mereka." Niar langsung mulai berandai-andai.


" Huusshhh..."


" Kamu ini kalau ngomong, ngasal njeplak aja!" Jani sengaja menutup telinga Yoyo agar suara mereka tidak membangunkannya.


" Tapi nyatanya hayo?"


" Siapa Mommy Yoyo saja tidak pernah diungkapkan sampai sekarang?" Niar mulai berasumsi sendiri.


" Ckkk..."


" Kamu itu kebanyakan nonton sinetron deh!"


" Ya sudah, belokan depan kamu turun saja!"


" Tinggal jalan kaki sebentar sampai perusahaan."


" Biar aku bawa Yoyo kerumah sakit sendiri, okey?" Ucap Rinjani membagi tugas.


" Okey.."


" Kabarin gw kalau ada apa-apa!" Ucap Niar yang turun duluan.


" Siap bos!"


" Jangan lupa, cari presdir sampai ketemu!"


" Kalau tidak kamu hubungi saja sekertarisnya!" Ucap Rinjani kembali.


Sesampainya dirumah sakit Rinjani langsung mendaftarkan Yoyo dan langsung dibawa keruang rawat anak.


Saat Yoyo terbangun, dia langsung menangis ketika melihat tangannya ada selang infus.


" Aaaa... Daddy!" Teriak Yoyo menangis sambil memejamkan matanya.


" Hei... Yoyo.."


" Jangan nangis sayang ada kakak disini?" Rinjani langsung mendekat dan memeluk Yoyo.


" Kenapa aku disini?"


" Mana Daddy?"


" Mana Oma?" Tanya Yoyo sambil terus menangis dipelukan Rinjani.


" Daddy baru dalam perjalanan kesini." Padahal entah iya atau tidak, karena belom ada kabar juga dari Niar, mungkin masih sibuk atau meeting diluar.


" Oma juga." Apalagi neneknya, entah pergi kemana, entah tau atau tidak.


" Jangan takut ya sayang, kakak akan menemani Yoyo."


" Kakak tidak akan meninggalkan Yoyo sendirian disini okey?" Rinjani mengusap lengan Yoyo perlahan untuk mencoba menenangkannya.


" Kakak bohong!"


" Daddy dan Oma pasti tidak datang!" Yoyo menangis sampai sesenggukan.


" Loh... kenapa kakak harus bohong?"


" Kak Niar sudah pergi ke kantor Daddy sayang."


" Sebentar lagi mereka pasti akan datang!" Rinjani tidak habis pikir, kenapa Yoyo bisa bilang seperti itu pikirnya.


" Mereka tidak akan datang!"


" Mereka pasti sedang bekerja!" Yoyo menyandarkan kepalanya dibahu Jani dan memeluk lengannya.


" Kenapa Yoyo bisa yakin mereka tidak datang?" Tanya Rinjani tersenyum meelihat Yoyo gelendotan dilengannya, dia bahkan seperti ibu kandungnya sungguhan.


" Karena mereka selalu seperti itu!"


" Mereka hanya sibuk mencari uang saja!"


" Padahal Yoyo tidak mau uang mereka."


" Yoyo hanya ingin bermain bersama mereka saja." Mulut mungil itu berbicara seperti layaknya ucapan orang dewasa.


" Bukannya setiap hari Yoyo juga bisa bermain dengan Daddy?" Jani ingin mencoba mengulik kisah presdir galaknya itu.


" Tidak."


" Daddy berangkat pagi pulang malam!" Ucap Yoyo sambil mengerucutkan bibir mungilnya.


" Hmm... begitu?"


" Jadi aktifitas Yoyo apa aja setiap harinya?"


" Selain waktu libur begini?" Yoyo memang tengah libur minggu ini.


" Bangun tidur, makan."


" Belajar with my Teacher."

__ADS_1


" Makan siang, Bobok siang... trus main sama mbak, trus belajar lagi, trus bobok malam deh?" Yoyo berkata panjang lebar menjelaskan kegiatan kesehariannya.


" Belajarnya dirumah aja?"


" Enggak pergi kesekolah Yoyo?" Tanya Jani terheran, padahal katanya dia kelas 1 Sd.


" Noo!"


" Yoyo belajar dirumah!" Yoyo menggelengkan kepalanya.


Owalah... anak ini pasti homescholling, pantesan nggak ada temen-temennya, hmmm... hidupmu memang berat nak!


Rinjani berbicara dalam hati sambil mengusap rambut keriting Yoyo, dia ikut prihatin melihatnya, anak seumuran dia seharusnya bersenang-senang dan bermain dengan teman-temannya.


" Tapi kalau sabtu minggu daddy kan nggak kekantor?"


" Daddy pasti bisa nemenin kamu bermain kan?" Tanya Rinjani kembali.


" Hmm..."


" Dirumah pun Daddy kerja!"


" Main dengan Daddy hanya tebak-tebakan soal pelajaran saja!"


" Nggak seru..!" Ucap Yoyo langsung memonyongkan bibirnya sambil geleng-geleng.


Kasihan anak ini, dia pasti selalu diabaikan dengan orang tuanya, bahkan anak sekecil ini, sudah tahu kalau ayahnya hanya sibuk mencari uang, pantas saja dia nakal, aku rasa dia hanya ingin mencari perhatian orang tuanya saja.


" Yoyo..."


" Daddy kan mencari uang buat beli mainan Yoyo juga kan?"


" Jadi Yoyo nggak boleh sedih ya?"


" Kalaupun nanti Daddy Yoyo nggak bisa datang."


" Kan ada kakak yang nemenin Yoyo."


" Nanti kakak yang akan nemenin Yoyo main okey?" Rinjani tersenyum sambil menangkupkan kedua tangannya dipipi gembul Yoyo.


" Promise?" Yoyo langsung menaikkan jari kelingkingnya.


" Promise!"


" Anak pintar... sekarang Yoyo istirahat ya?"


" Biar cepet sembuh, biar bisa main sama kakak lagi okeey?"


" Nanti kak Jani ajak pergi ke taman bermain!"


" Tapi kalau Yoyo sudah sembuh okey?"


" Tosss dulu kita?" Rinjani tersenyum memeluk Yoyo dan membaringkannya diranjang pasien.


" Yeaaaaayyy...!" Teriak Yoyo dengan semangat kembali.


" Okey kalau begitu Yoyo mau cepat sembuh!" Senyum Yoyo benar-benar membuat Jani sedih, anak sekecil itu tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya.


Tanpa mereka sadari ternyata Samuel dan Niar sudah ada didekat pintu, saat Niar ingin masuk Samuel mencegahnya, dia ingin mendengarkan keluh kesah Yoyo selama ini.


" Kamu pergi keruang administrasi." Ucap Samuel menyuruh Niar.


" Suruh mereka pindahkan Yoyo keruang VIP."


" Pakai ini..!" Samuel memberikan blackcard kepada Niar.


" Aku masih ada meeting nanti."


" Kalian jaga baik-baik Yoyo!" Samuel ingin segera pergi dari sana.


" Tapi pak---" Niar tidak habis pikir, kenapa ada orang tua seperti itu, disaat anaknya opname pun masih memikirkan meeting.


" Jangan risau!"


" Sebagai hadiah kalian, aku akan memberikan nilai tinggi untuk magang kalian!" Samuel langsung melangkah pergi meninggalkan mereka.


" Buseetttt dah!"


" Horang kaya ternyata ngeri juga!"


" Lebih mentingin meeting daripada kesehatan anaknya!" Niar menggedikkan bahunya sendiri.


" But... whatever lah... janji nilai gw sama Rinjani bagus, hihi..."


Orang tua itu layaknya pelita sebagai penerang hidup. Ibarat cahaya lilin yang selalu setia menerangi setiap sudut jalan. Dan sebagai semangat yang menjadi motivasi untuk tetap kuat untuk terus melangkah maju.


Bayangkan saja jika anak kita tidak mendapatkan itu semua, hidupnya pasti terasa gelap, dan hatinya akan kosong.


Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara:


(1) Masa mudamu sebelum datang masa tuamu. (2) Masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu. (3) Masa kayamu sebelum datang masa fakirmu. (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu.


(5) Masa hidupmu sebelum datang masa matimu.


..." Harta dan kekayaan yang dimiliki hanyalah titipan Tuhan dan hidup di dunia ini hanya sementara."...


Jangan lupa ya? Vote dan hadiahnya ditunggu lho ya?

__ADS_1


__ADS_2