CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
72. Jebakan Batman


__ADS_3

...Happy Reading...


Ketika hati sudah saling terpaut dan ketika cinta sudah mulai bersemi, dunia akan terasa indah, bahkan masalah yang menghadang seolah tidak akan menjadi rintangan untuk memadu kasih bersama orang tersayang.


" Sayang." Samuel masih duduk dimeja makan setelah memyelesaikan makan siangnya walau penuh dengan drama, karena tangan Samuel tidak mau berpindah dari pinggang istrinya, terus saja menempel disana.


" Hmm." Sedangkan Jani mulai merasakan kenyamanan berada dipangkuan suaminya, karena cuaca disana pun sangat mendukung, semakin sore kabut semakin tebal dan hawanya pun semakin dingin seolah menusuk kulit mereka.


" Dulu... kamu pernah terpikir nggak untuk menjadi istriku?" Sedari tadi dia membenamkan dagunya di bahu Jani untuk merasakan ketenangan disana.


" Ya enggaklah!" Suara Jani terlihat mantap, jelas dan lugas.


" Cepet banget kamu jawabnya!" Samuel langsung melirik wajah istrinya dengan tatapan kesal, kenapa tidak basa basi saja pikirnya, sekedar untuk menyenangkan hati suaminya apa salahnya.


" Hehe... emang begitu kok?" Jani menangkupkan kedua tangannya ke wajah suaminya.


" Karena memang sama sekali nggak kepikiran kak."


" Karena jodoh kan memang begitu?"


" Tidak akan ada yang bisa menebak alurnya seperti apa dan bagaimana, itu semua rahasia yang di Atas."


" Dulu... kakak itu sombongnya beuuuhh... amit-amit dah kak, galaknya ya ampun Gusti." Jani hanya bisa menggelengkan kepalanya saat mengingat wajah pria yang memeluknya ini terlihat menyeramkan saat menjadi big boss nya dulu.


" Bahkan aku dengan Niar selalu keluar keringat dingin kalau sudah berhadapan dengan kakak."


" Rasanya tuh sesak sekali, jam juga seolah terasa lambat berputar, pengen banget cepet pulang ke rumah melepas lelah."


" Tapi itu dulu, sekarang bahkan waktu terasa terlalu cepat berputar, bahkan hari-hariku sering gelisah kalau sehari saja tidak bertemu dengan kakak." Ucap Jani yang mulai jujur dengan dirinya sendiri.


Wajah Samuel yang tadi cemberut dan berkerut, kini mulai mengencang karena kedua sudut bibirnya mulai tertarik keatas dan pelukan diperut Jani pun terasa semakin erat.


" Maaf." Satu kata keluar dari mulut Samuel yang sudah mewakili segalanya tentang dirinya di masa lalu.


" Tidak ada yang salah kak."


" Ini semua sudah digariskan, mungkin kalau kita tidak saling membenci, tidak akan ada rasa saling mengasihi." Jani mengusap lembut rambut Samuel.


" Sayang... sejak kapan kamu mulai mencintaiku?" Tanya Samuel dengan senyum yang terus saja mengembang.

__ADS_1


" Emang siapa yang bilang kalau aku mencintai kakak?" Ledek Jani sambil memiringkan wajahnya.


" Ckk."


" Turun, kamu berat!" Samuel langsung menurunkan tubuh Rinjani dan berlalu menuju kamar tanpa menoleh ke belakang.


" Hehe... kak?"


" Aku cuma bercanda kali?"


" Astaga...ngambeknya beneran lho?" Jani terkekeh sendiri melihat suaminya ngambek layaknya bocah, bahkan dia membanting pintu kamar itu.


Ngambek sono, yang lama sekalian, biar aku tetap masih perawan ting-ting sepulang dari sini, hihi...


Setelah Jani membereskan piring kotor bekas mereka makan tadi, Jani kembali ke kamar ingin melihat keadaan suaminya, masih marah atau malah sudah tertidur.


" Kak?" Jani membuka pintunya perlahan, namun Samuel langsung membelakangi tubuh Jani yang ingin duduk disampingnya.


" Masih marah nih, nonton apa sih serius amat?" Jani ingin melihat apa yang di tonton suaminya di ponsel miliknya.


" Jangan, ini khusus tontonan pria dewasa." Ucapnya tanpa mengalihkan pandangan.


Waaah... jangan-jangan kakak juga nggak tahu caranya, jadi dia juga lihat tutorialnya di intermet kali ya, hihi...


" Mau lihat juga dong?" Pikiran Jani bahkan sudah menjurus ke hal-hal yang mesvm.


" JANGAN!" Samuel langsung menyembunyikan ponselnya dibawah bantal.


" Lihat kak, iihh... pelit banget sih sama istri sendiri?" Semakin dilarang, Jani semakin penasaran dibuatnya.


Masuuuukkk Bu Eko...!


" Ya udah, sini lihat barengan." Samuel langsung membalikkan badan dan menarik Jani ke dalam pelukannya, saat umpannya sudah disambar.


" Jangan menyesal lho ya?" Samuel kembali memutar video yang dia tonton tadi dengan senyuman yang tertahan.


...AZAB istri menolak permintaan suami dan tidak mau memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri....


Jani menajamkan pandangannya saat membaca caption di video yang Samuel putar.

__ADS_1


" Argh... aku mau ke kamar mandi bentar kak." Jani ingin bangkit dari pelukan Samuel.


" Nggak boleh, tadi maksa mau lihat?"


" So, selamat menonton sayang." Samuel semakin mengeratkan pelukannya dan tersenyum berjuta makna.


Aissh... jebakan batman ini namanya, kalau sudah dengerin ceramah pak ustad begini kan jadi takut dosa gw?


" Sayang... jadi boleh nggak aku meminta hakku?" Suara Samuel sudah berubah menjadi serak-serak penuh ha srat.


" Huh.." Jani hanya bisa memejamkan matanya dan membuang nafasnya berulang kali tanpa menjawab pertanyaan suaminya.


" Aku cuma nggak mau dianggap pria yang tidak bisa memenuhi nafkah batin istriku?"


" Tapi kalau kamu menolaknya, aku bisa apa?" Ucap Samuel, namun lain perkataan, lain pula dengan gerakannya.


Apa perlu bertanya dan meminta persetujuan, kalau tangan kakak saja sudah menjalar kemana-mana.


" Aku juga nggak mau dibilang, pria yang tidak bisa memenuhi tanggung jawabku." Bahkan Samuel sudah melempar semua kain yang menempel ditubuh istrinya, bahkan matanya seolah ingin terlepas dari cangkangnya saat melihat lekuk tubuh indah istrinya.


" Jangan begitu lihatnya dong kak." Jani jadi merasa malu sendiri, mau mematikan lampu ternyata memang belum dinyalakan, karena cuaca masih terlihat terang walau diluar kabut sudah menebal.


" Kamu cantik banget yank." Dia langsung membenamkan wajahnya di tempat yang dia sukai sambil terus menikmati hidangan pembuka sore itu.


Ciih.. dasar cowok, kalau sudah dikasih yang beginian langsung deh memuji.


Jani mengumpat dalam hati namun respon ditubuhnya tidak bisa dibohongi, satu persatu kenik matan dia dapatkan dari gerakan-gerakan suaminya yang sudah mulai menguasai arena permainan.


" Sayang boleh ya?" Samuel masih sempat-sempatnya bertanya saat permainannya sudah sampai di pusat intinya.


Astaga... kenapa mesti nanya mulu sih, aku sudah nggak kuat ini? tinggal masuk saja Pak Ekoooo!


Jani hanya bisa mengeluarkan kekesalannya didalam hati, dia malu mengakui untuk sekedar bilang 'iya'.


" Ya sudahlah, tidak jadi saja." Samuel langsung bangkit dari tubuh Jani yang sudah mulai mengejang, lalu menyambar baju miliknya dan berlalu masuk kedalam kamar mandi dengan wajah datarnya tanpa menoleh apalagi merengek dengan istrinya.


" HAH?" Jani malah terkejut sendiri melihat suaminya pergi, dia tadi diam saja bukan berarti menolak, dia hanya menahan segala rasa, namun dia tidak menyangka jika respon Samuel akan seperti ini, padahal tinggal satu kali tanjakan lagi sudah jebol benteng pertahanannya itu.


... "Satu di antara jalan terindah untuk beribadah kepada Allah adalah melalui pernikahan."...

__ADS_1


..."Jika pasanganmu marah, kamu harus tenang, jika yang satu adalah api, yang lainnya haruslah air."...


... "Kamu tak akan pernah menemukan kebahagiaan jika kamu terus mengisi hatimu dengan penuh kesedihan."...


__ADS_2