CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
30. Gara-gara Bang Juki


__ADS_3

...Happy Reading...


Satu kata membebaskan kita dari semua beban dan penderitaan hidup.


Kata itu adalah CINTA.


Therapi penyembuhan pada diri seseorang bisa jadi adalah Cinta dan Kasih sayang dari orang-orang terdekat, Samuel pun merasakan hal itu, setelah hadirnya Rinjani dikehidupannya, dirinya terasa lebih hidup dan berwarna, bahkan perhatian Jani mampu mengalahkan mujarabnya sebuah obat.


Setelah mendengar ocehan Niar didalam sambungan telepon tadi Samuel langsung gerak cepat, dia takut semuanya terlambat, dia memang orang yang tidak pernah bisa terima jika dikalahkan dengan orang lain, tapi itu soal bisnis. Dalam percintaan kisahnya berbanding terbalik dengan urusan bisnis, karena cinta pertamanya yang sangat dia agung-agungkan dulu pun mengkhianatinya dengan mudahnya, walau tidak secara langsung meninggalkannya, namun wanita itu telah pergi kelain hati. Walaupun akhirnya wanita itu kembali mengusiknya dan mengemis-ngemis cinta kepadanya.


" Jani.. cepat kamu mandi sana!"


" Kemarin dibelikan baju ganti juga kan?"


" Cepat bersiap!"


" Kita jemput Yoyo skalian!" Ucap Samuel langsung bergegas kembali ke kamar atas tanpa mencicipi sarapan yang sudah Marvin pesan tadi.


" Tapi pak, kita belom jadi sarapan lho ini?" Teriak Rinjani menoleh ke arah Samuel yang sudah berlari menaiki tangga.


" Astaga.. kenapa lagi tuh orang!"


" Suka bingung aku jadinya."


" Udah mirip kayak Bunglon dia, berubah-ubah sesuka hatinya."


" Ckkkk.."


" Mending sarapan aja dulu deh, dari pada kelaparan nanti, dalam menghadapi tingkah big boss yang maha benar itu."


" Ribet.. bisa Oleng Kapten!" Jani tetap memakan roti isi sayur dan juga daging yang diolesi saos juga mayonais itu dengan nikmatnya, tanpa memperdulikan perintah Samuel untuk segera bersiap.


Rinjani bukan tipe orang yang kalau berdandan harus berjam-jam di meja rias, dia hanya memoles sedikit bedak bayi dan lip gloss saja sudah cukup, dia hanya ingin wajahnya terlihat fresh saja, karena sebenarnya tanpa menggunakan make up sekalipun, wajah Jani sudah putih bersih alami.


" Jani..." Samuel menggedor pintu kamar bawah yang tadi malam dia pakai.


" Sudah belum?" Samuel sudah mondar-mandir didepan pintu saja.


" Iyaa.. iyaa sudah."


" Emangnya mau kemana sih pak?"


" Buru-buru amat?"


" Katanya tadi, hari ini nggak masuk kerja?" Jani keluar dengan menggunakan dress selutut berwarna putih yang semakin membuat wajah cantiknya semakin bersinar.


" Emang enggak."


" Kita pergi jemput Yoyo dulu, setelah itu pergi kerumah kamu."


" Aku nggak mau kecolongan start dengan juragan bakso kamu itu." Ucap Samuel langsung menarik lengan Jani.


" Astaga.. ini pasti gara-gara Niar ngoceh nggak jelas itu." Tangan Jani sudah langsung ditarik oleh Samuel untuk segera pergi dari sana.


" Eeehh... sebentar, aku ambil sarapan bapak di meja makan dulu sebentar." Jani berlari ke meja makan, dia sudah membungkus sarapan Samuel tadi, sayang sekali jika nggak dimakankan, mubadzir, buang-buang uang saja pikirnya.


" Viiiiinnn.."


" Kami pulang!" Teriak Samuel dari bawah.


" Yaaaaa..."


" Pulang kalian sana, biar tenang dan damai rumah ini!" Ucap Marvin yang turun dari tangga karena mendengar omongan mereka yang berisik sampai lantai atas.


" Emang mau ngapain kerumah saya pak?" Jani masih mencoba untuk menolak tanpa harus menyakiti hati Samuel.


" Melamar kamu lah!" Ucap Samuel sambil menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


" HAAAH?" Jani langsung menjerit dan menoleh kearah sumber suara.


" Memangnya kita sudah pacaran?"


" Kenapa langsung mau melamar saja?"


" Semua hal dalam hidup itu ada fasenya pak."


" Harus step by step dong." Jani bingung sendiri mau ngomong apa nanti dengan ibuknya, bisa-bisa dia dikira hamil duluan, punya pacar saja enggak, tiba-tiba sudah mau dilamar saja pikirnya.


" Kenapa harus melakukan step by step?"


" Mereka yang sudah berpacaran bertahun-tahun saja, juga banyak yang nggak jadi menikah, malah cuma jadi tamu undangan saja kan?"


" Emang kamu mau seperti itu?"


" Kalau aku sih enggak!"


" Asal kamu tahu ya."


" Daripada sibuk menebar kata mesra, lebih baik menebar kebaikan atas ridhoNya."


" HATIKU TERLALU BERHARGA, UNTUK CINTA YANG SEMENTARA." Ucap Samuel dengan nada yang sombong.


" Waduuh.."


" Jeruu.. Jeruu.."


" Omongan bapak terlalu dalam dan berat." Jani sampai melongo sendiri mendengarnya.


" Nih makan dulu, aku suapin." Jani membukakan bungkusan roti yang dia bawa tadi.


" Ternyata bukan cuma bapak, perut bapak pun butuh kasih sayang!"


" Biar nggak ngelantur ngomongnya!" Umpat Jani saat melihat Samuel menggigit roti itu hampir separuh dan terlihat menikmatinya sambil terus fokus pada ramainya jalanan pagi ini.


" Itu kamu tahu?" Ucap Samuel dengan santainya.


" Dan cuma kamu yang bisa memberikannya." Padahal Samuel sering kali berkata-kata manis kepada Jani, namun secara tidak langsung, tidak terang-terangan.


" Woah?"


" Bapak mau nembak saya atau bagaimana ini?" Jani malah menggoda Samuel.


" Jangan kayak anak remaja, yang harus mendengar kata-kata cinta."


" Kamu sudah dewasa, kamu pasti tahu perlakuan dan perhatian itu, lebih penting dari pada sebuah ucapan kata I LOVE YOU."


" Cukup kamu tahu, bahwa aku tidak bisa jauh darimu!"


" Dan tidak akan membiarkan kamu pergi dengan orang, selain dengan aku."


" Menaiki tangga menuju kesuksesan dalam pekerjaanku, sudah hampir membuatku melupakan apa itu cinta, semua itu terhenti saat aku bertemu denganmu."


" Apa itu tidak cukup bagimu?" Samuel terus saja berbicara, tanpa berani memandang kearah Rinjani yang sudah termangu melihatnya walau tanpa bicara.

__ADS_1


Bahkan sampai mobil itu masuk kedalam pekarangan rumah Samuel, mereka masih tidak berbicara sama sekali.


" DADDY..!" Teriak Yoyo yang langsung berlari saat Samuel baru keluar dari mobil mewahnya.


" Hei... sayangnya Daddy!" Samuel langsung menangkap tubuh Yoyo dan menggendongnya.


" Kamu sudah mandi?" Tanya Samuel sambil menoel pipi gembul Yoyo.


" Sudah dong Dad." Jawab Yoyo dengan senyum merekah.


" Sudah sarapan belum?"


Kebahagiaan Samuel selain memeluk Rinjani saat tidur adalah melihat senyuman Yoyo yang selalu ceria seperti ini.


" Of Course dong Dad!" Yoyo mengalungkan tangannya ke leher Samuel.


" Kalau begitu mau ikut daddy jalan-jalan nggak?"


" Mau... mau..."


" Kita akan pergi kemana Dad?" Yoyo langsung mengangukkan kepalanya dengan semangat.


" Okey.."


" Kita pergi jalan-jalan kerumah Mommy sekarang!" Samuel sengaja menyebut kata Mommy.


" Mommy?" Yoyo menatap Samuel dengan heran dan berpindah menatap Rinjani yang langsung menggelengkan kepalanya.


" Lets go.. kita berangkat sekarang!" Samuel langsung memasukkan Yoyo kedalam mobilnya kembali di kursi belakang.


" Ayok mommy... kita masuk mobil lagi!" Samuel bahkan menuntun Jani yang masih terbengong dengan ucapan Samuel untuk kembali ke kursi depan.


" Eh.. tunggu.. tunggu!" Jani langsung melepaskan diri dari genggaman Samuel saat melihat Niar berjalan memasuki halaman rumah Samuel.


" Ini dia biang keroknya!" Jani mengepalkan genggaman tangannya dan mendekati Niar yang malah tersenyum tanpa dosa melihatnya.


" Dari mana kamu!" Jani langsung menarik lengan Niar dan berjalan agak menjauh dari mereka.


" Dari toko depan."


" Yoyo minta dibeliin es krim yang rasa coklat tadi, di kulkas habis yang rasa itu." Niar menunjukan kantong kresek belanjaannya.


" Heh.. cepet bilang sama pak Samuel."


" Kalau yang luu bilangin tadi bohong!" Jani langsung memelototkan kedua bola matanya.


" Ckkk.."


" Emang kenapa sih?"


" Yaelah... kayak yang nggak biasanya aja ngomong gitu!" Niar mencebikkan bibirnya melihat permintaan Jani.


" Kenapa.. kenapa!"


" Kalau ngomong sama gw berdua aja terserah eluu."


" Lha ini pak Sam denger."


" Luu kalau ngomong pake toac sih!"


" Satu rumah bisa denger suara cempreng luu!" Rinjani bahkan menjewer telinga Niar saking kesalnya.


" Ya kalau denger emangnya kenapa?"


" Ya masalah lah."


" Luu tau nggak, kita mau kemana?" Ucap Jani semakin dibuat gemas dengan tingkah Niar.


" Mau kemana aja kalian, bodo amat gw mah!"


" Apalagi kalau kalian ngajak Yoyo skalian!"


" Makin seneng gw!"


" MERDEKA cuuyyy!" Niar malah tersenyum bahagia mendengarnya.


" Diiihhh... dasar Boneng!"


" Pak Sam mau dateng kerumah ibuk, dia mau nglamar gw, asal kau tahu!" Jani mencubit kesal perut Niar.


" W-O-W banget dah!"


" Gilak... nggak nyangka gw, kalau eluu bakalan duluan laku dari pada gw?"


" Ini berita heboh dong."


" Seorang CEO perusahaan raksasa di Negara ini, melamar seorang Rinjani."


" Wadidaw... yakin deh, eluu bakalan masuk berita koran besok pagi kalau media tahu."


" Keren banget dah!"


" Gw salut banget ama eluu, bisa nakhlukin hatinya si pria arogant berhati dingin itu." Niar malah bertepuk tangan Ria didepan Rinjani yang makin kalap.


" Keren.. keren gundulmu itu!"


" Ibuk gw bisa terkejut boneng!"


" Kalau dia jantungan gimana coba?"


" Pacar aja nggak punya kok tiba-tiba dilamar!" Jani ingin sekali mere mas wajah Niar yang tanpa merasa bersalah itu.


" Emangnya si Boss beneran naksir sama eluu apa?"


" Kenapa dia merasa tidak terima kalau eluu dilamar orang?" Niar malah jadi penasaran dengan kisah mereka.


" Tauk dah!"


" Gw juga bingung!"


" Nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba banjir aja!" Umpat Jani asal saja mengumpamakan kisahnya.


" Atau mungkin karena keenakan eluu kekepin kali yak?"


" Jadi keterusan gitu?" Niar malah menaikkan kedua alisnya untuk menggoda Jani yang sudah tersulut emosi.


" Enak saja!"


" Kalau ngomong itu mbok ya disaring dulu!" Jani menoyor kening Niar.


" Gara-gara elu sih, bilang katanya juragan bakso mau nglamar sgala."


" Luu kalau ngarang cerita bebas itu jangan dihidup gw!"

__ADS_1


" Noh dibuku, siapa tahu bisa jadi novel." Jani melipatkan kedua tangannya didepan, seolah menghakimi Niar.


" Tapi beneran cuy, si Marjuki juragan bakso itu emang datang kerumah ibuk."


" Beneran dia bawain bakso banyak."


" Ada yang bakso beranak pinak, ada yang bakso mercon isi cabe, yang pedesnya beuuuhh... melebihi omongan luu!" Niar menatap jengah wajah Jani.


" Ya tapi kan bang Juki nggak bilang mau nglamar gw kan!"


" Bawain bakso doang mah belum tentu nglamar boneng!"


" Masak hidup gw seharga bakso doang!"


" Sonoo... buruan bilang sama pak Sam!"


" Gw nggak beneran dilamar!" Jani mendorong tubuh Niar agar berbicara pada Samuel yang sudah memandang mereka sejak tadi sambil bersandar di mobil dengan gaya cool nya.


" Lagian kenapa sih luu tolak!"


" Biarin aja sih dilamar?"


" Orang yang nglamar ganteng, keceh badai gitu?"


" Nggak ada ruginya luu, walau agak miring dikit kalau malam, hehe."


" Tapi kan asoy dikekepin pria tampan tiap malam kan?"


" Buktinya luu bahagia banget tuh, hayow.. haha.." Niar malah kembali menertawakan Jani.


" Diam luu!"


" Pelukan itu tak seindah yang kamu bayangkan tauk!" Jani kembali mendorong tubuh Niar agar berjalan maju.


" Apapun itu, yang penting anget cuy, musim hujan ini."


" Hangatnya bantal guling juga kalah dengan pelukan mesranya, uhuuuyyy..."


" Lagian kan cuy, kita bisa dapet nilai bagus nanti ditempat magang."


" Nggak usah pening-pening kan!" Niar selalu saja ada topik baru untuk meledek temennya yang satu ini.


" Nggak usah banyak cing cong deh!"


" Buruan bilang, atau aku pecat kamu dari list sahabat sejati!" Jani makin gemas saja dengan mulut lemes sahabatnya ini.


" Astaga!"


" Ngancemnya nggak asyik luu!"


" Masak bandingin persahabatan kental kita dengan masalah gini aja!"


" Lemah banget jiwa persahabatan luu!"


" Bodo amat!"


" Atau aku suruh bang Juki aja nglamar eluu skalian!" Umpat Jani yang berjalan dibelakang Niar.


" Diiihh.. ya nggak bisa!"


" Orang dia cinta matinya ama eluu!"


" Berdoa aja luu, semoga si bang Juki nggak gantung diri kalau eluu beneran dilamar orang nantinya!"


" Aduuhh... gimana tapi ngomongnya Jan."


" Ehermm.. ehermm.. " Niar bahkan mengetes nada suaranya terlebih dulu.


" Gw suka gemeteran kalau ngomong langsung sama dia?" Niar berbisik ditelinga Jani.


" Itu Urusaan luu!"


" Yang terpenting luu ngomong aja, kemarin si juragan bakso cuma main doang, nggak beneran mau nglamar gitu!" Jani langsung mendekat kearah mobil dan menggendong Yoyo untuk keluar dari sana.


" Hehe.." Niar memainkan jarinya yang tiba-tiba dingin saat berdiri didepan Samuel itu.


" APA." Tanya Samuel dengan nada datarnya, yang semakin membuat nyali Niar makin mengkerut.


" Hehe.. itu.. anu pak."


" Kemarin itu, yang ditelpon tuh?"


" Aku cuma bercanda, bang Juki nggak beneran mau nglamar Jani kok pak, hehe..."


" Dia cuma main doang." Akhirnya Niar bisa mengatakannya.


" SIAPA LAGI BANG JUKI..!"


" Astaga.. katanya kemarin cuma juragan bakso, kenapa sekarang ada Juki segala!" Bukan makin mereda malah semakin melambung amarah Samuel saat mendengar nama Juki.


" RINJANI...!" Teriak Samuel saat melihat Jani menggendong Yoyo turun dari mobil.


" Mau kabur kemana kamu!"


" Buruan masuk mobil!" Suara Samuel bahkan menggelegar, mungkin suaranya sampai halaman depan.


" Astaga Niar!" Baru saja ingin bernafas dengan tenang, namun suara Samuel kembali menggelegar memekakkan telinganya.


" Bisa ngomong yang bener nggak tuh si Kun yuk!"


" Aaaiiisssshhhh!" Jani memejamkan matanya, sambil menggeratkan giginya.


" Sakit kepalaku mendengarnya!" Jani bahkan mengacak rambutnya yang hitam lurus memanjang itu.


" MASUK..!" Perintah Samuel.


" Tapi pak----" Jani menoleh kearah Samuel dengan tatapan lemah.


" ATAU KITA LANGSUNG KE KUA SAJA!" Teriak Samuel tidak terbantahkan.


" Pffftthhh..."


Niar malah ingin tertawa melihat wajah Rinjani saat ini, antara kasihan dan lucu juga melihatnya.


Jangan pernah mencoba untuk bermain-main dengan cinta, karena hanya akan membuatmu sakit hati. Selain sakit hati, kamu juga bisa menyakiti perasaan seseorang.


Hubungan yang harmonis dan menyenangkan pun bisa berantakan dan menjurus permusuhan ketika rasa cinta kita dibalas dengan candaan.


... "Kita dibentuk dan terbentuk oleh apa yang disebut dengan cinta."...


..."Kamu tahu itu cinta, ketika yang kamu inginkan hanyalah orang itu bahagia, bahkan jika kamu bukan bagian dari kebahagiaan mereka." ...


... "Jaga cinta di hatimu, karena kehidupan tanpanya seperti taman tanpa matahari, lalu bunganya mati."...

__ADS_1


Apapun itu yang penting tampilkan jempol kalian bosque🥰


__ADS_2