CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
18. Ketahuan


__ADS_3

...Happy Reading...


Saat seseorang menerima rasa nyaman dari seorang laki-laki atau perempuan, ia bisa menyerahkan hatinya seutuhnya. Pada dasarnya setiap manusia ingin dicintai sekali untuk selamanya. Tak mau hati ini dibagi. Bahkan tak mau bila dijadikan prioritas kedua. Ketika sudah berada di samping seseorang yang memberi rasa nyaman, susah untuk melepas atau meninggalkannya. Yang ada malah rasa cemas atau khawatir jika suatu hari nanti ia pergi dan kita ditinggalkan sendiri.


Rasa takut kehilangan itu sesuatu yang wajar. Kita pastinya selalu ingin bisa bersama orang yang memberi kita rasa nyaman dan mencintai kita sepenuh hati. Hanya saja kita juga perlu tetap berpikir dewasa dan terbuka. Jangan hanya menuntut kenyamanan dan kesempurnaan saja. Tapi juga kita perlu berusaha memberi rasa nyaman dan menyempurnakan hubungan yang dibangun bersama.


Entah mengapa Rinjani pun merasa tak kalah nyaman tidur dipelukan Samuel, bahkan saat pagi menjelang kepalanya sudah berganti posisi bersembunyi dibawah ketiak Samuel.


Saking asyiknya mereka tidur penuh dengan kehangatan, mereka melupakan Yoyo yang seharusnya mereka urus ketika pagi hari, bahkan sampai Niar sudah datang kerumah, mereka tak kunjung keluar dari kamar.


" Selamat pagi Yoyo?" Sapa Niar dengan menampilkan senyum terindah yang dia punya.


" Hmm.." Seperti biasa sikap Yoyo yang selalu cuek kepadanya, namun dia sudah tidak heran lagi, asal dia tidak dikerjain saja, Niar sudah merasa tentram dihidupnya.


" Kemarin gimana pikniknya Yo?"


" Seru nggak?" Niar mencoba mencari topik menarik agar mereka menjadi lebih akrab.


" Daddy kamu saat kakak pergi kekantor sudah tidak ada?"


" Saat kakak tungguin juga, daddymu nggak muncul-muncul sampai sore."


" Pergi keluar kota kali ya Yo?"


" Tapi its okey lah ya, kalian jadi bisa puas bermain seharian kan." Niar berbicara panjang lebar dengan senyum merekah dan merasa bangga bahwa misinya yang dia pikir sudah sempurna.


" Okey bagaimana?"


" Gara-gara info yang nggak valid dari kakak, daddy sampai jatuh pingsan."


" Bahkan penyakit lamanya jadi kambuh lagi!" Yoyo melirik Niar dengan tajam, seakan ingin memulai peperangan.


" Hah? pingsan? kenapa bisa Yo?"


" Memang apa yang terjadi?" Niar memegang bahu Yoyo seakan meminta penjelasan.


" Huh!" Dia langsung menampilkan wajah juteknya kembali.


" Sudahlah... lagian semua sudah terjadi!"


" Males jelasin sama kakak."


" Buang-buang energi saja!" Yoyo melengos tidak mau melihat wajah Niar yang masih sangat penasaran.


" Kamu ini.. ditanyain orang tua jawabnya gitu!"


" Sekarang kak Jani mana?"


" Tadi kakak cari dibawah juga nggak ada, sepi."


" Tante Weni juga ngak ada."


" Pada kemana sih Yo?" Niar clingak-clinguk melihat sekitar, rumah sebesar istana tapi yang terlihat hidup cuma bocah ajaib satu ini.


" Paling masih tidur!" Jawab Yoyo santai saja.


" Masak masih tidur, udah jam berapa ini?"


" Tempat tidur kosong kok." Niar melirik tempat tidur.


" Kamar mandi juga kosong." Niar membuka pintu kamar mandi dan memeriksanya, bahkan lantainya masih terlihat kering.


" Kak Jani mana sih Yo?"


" Nggak mungkin banget jam segini dia belum bangun, bukan dia banget, dia orang paling rajin bangun pagi Yo." Niar mondar mandir sendiri mencari keberadaan Rinjani.


" Mungkin tidur dikamar Daddy." Yoyo masih asyik dengan Tab ditangannya.


" HAAAH..?"

__ADS_1


" Tidur dikamar Daddymu?"


" Pak Samuel maksudmu?" Niar sontak berteriak dan mengguncangkan bahu Yoyo karena terlalu terkejut mendengar hot news ini.


" Awas kak, aku lagi main game ini!"


" Memang daddyku ada berapa sih?" Yoyo langsung menepis tangan Niar dia selalu saja membuat Yoyo badmood.


" Wooooaaaahhhhh..."


" Gilak.. gilak.. gilak..."


" Apa yang sebenarnya terjadi, ngapain dia tidur dikamar pak Sam?"


" Nggak takut apa kalau dicicil tanpa kepastian!" Niar langsung menyingsingkan lengan dibajunya dan segera keluar pergi ke kamar Samuel, dia tidak ingin melewatkan berita menggemparkan seperti ini.


Saat dia sampai didepan pintu, Ide jahil Niar langsung muncul, dia sengaja tidak mengetuk pintu terlebih dahulu, dia ingin tahu apa yang terjadi didalam sana, kamera diponselnya pun sudah stand by untuk merekam sesuatu yang akan menggemparkan dunia persilatan.


" Waduuuuuuhhhh..."


" Mantaaaappp betul kamu ya Jan?"


" Enak banget dikekepin pria tampan?" Niar langsung membuka pintu kamar lebar-lebar dan mengambil foto beberapa kali.


" Berita heboh ini mah?"


" Kalau tante Dewi tahu, bisa langsung diseret kamu ke penghulu Rinjani, haha..."


" Mana ke enakan gitu nggak bangun-bangun lagi!"


" Gw kerjain luu ya!" Niar kembali keluar dan berdiri didepan pintu.


" Tante Dewiiiiiiiiiiiiiii..." Teriak Niar memekakkan telinga.


" Lihatlah kelakuan anakmu ini?" saat melihat ada pergerakan dari dalam, Niar langsung bersidekap dan bersandar dipintu kamar Samuel sambil tersenyum melihat mereka.


" Haah?"


" Astaga.. aku dimana? jam berapa ini?" Jani langsung terbangun dan duduk sambil mengacak rambutnya yang berantakan seperti orang kebingungan.


" Mulai deh!"


" Sok pura-pura lupa ingatan, lagu lama luu.. haha" Niar makin gencar menggodanya.


" Hmm.." Samuel hanya bergumam dan menarik lengan Jani, lalu memeluknya kembali.


" WOW... WOW... WOW.."


" Keren kamu Jan!"


" Pantesan kamu bersedia menginap disini ya? ternyata kamu sudah dapat bantal baru ya, lebih empuk apa bagaimana tuh?"


" Nyaman banget kelihatannya? hahahaha..!" Niar makin bersorak melihat Jani kelimpungan.


" Arrgghh..."


" Awas pak... aku mau bangun ini!" Jani sedikit mendorong tubuh Samuel agar menjauh darinya.


" Ibuuk? mana ibuuk?" Jani langsung loncat dari ranjang, masih dengan ekspresi kebingungan.


" Ibukmu ada dirumah."


" Selamat pagi nona Rinjani?"


" Owh.. apa aku perlu mengganti sebutan lain ya?"


" Emm... may be... nyonya Samuel? wow... selamat pagi nyonya Samuel yang terhormat?" Ledek Niar dengan tatapan penuh curiga.


" Siaall.."

__ADS_1


" Ngagetin gw aja luu, kirain beneran ada ibuk!" Jani langsung berjalan keluar mendekati sahabatnya itu.


" Sudah kik kik belum neng?"


" Dicicil dulu apa gimana nih?"


" Gilaaak... nggak nyangka banget gw lho?


" Rasanya gimana? pasti emm... mantabeeekk dong, hahahahaha...!" Niar tertawa keras yang langsung didekap oleh tangan Jani.


" Diem luu.."


" Jangan berisik, biarkan pak Sam istirahat lagi!" Jani langsung mendorong Niar untuk keluar dari kamar.


" Cieeeeeeeeee..."


" Tadi malam tempur berapa ronde neng?"


" Jam segini masih disuruh istirahat?"


" Lain kali gantian sob, bergilir atas bawah, biar semua kebagian, semua senang, hahahahaha..." Niar paling bisa kalau sudah membahas hal yang in tim gitu.


" Mulutmu bisa direm kagak boneng!"


" Dia itu lagi sakit!" Jani bahkan ingin sekali mem plaster mulut Niar yang tidak berhenti menggoda dirinya.


" Sakit malarindu apa sakit karena cinta nie?" Niar masih saja meledek tidak ada habisnya.


" Beneran dia emang sakit tauk!" Jani menoyor kening sahabatnya yang sudah berani berpikir me sum itu.


" Sakit kok bisa meluk-meluk?"


" Minta nambah lagi tadi?"


" Waah.. sepertinya servismu memu askan ya tadi malam?"


" Rinjani memang selalu terdepan deh, hahahaha.." Perut Niar sampai sakit kebanyakan tertawa.


" Dasar wong edan!"


" Dia benar-benar sakit, kemarin pinsan dia!"


" Dia bahkan punya trauma dimasa lalu, tadi malam kambuh lagi, ngeri banget tau ngliatnya?" Jani ingin mencoba menjelaskan namun bingung harus mulai dari mana.


" Owh ya?"


" Trauma model apa sampai butuh pelukan hangat darimu?"


" Bisa bayangin nggak sih kalau tante Dewi lihat bagaimana ekspresinya?"


" Atau adek luu yang lihat, waahhh... bisa geger seantero jagad raya ini coy! hahaha..."


" Tapi kalian sweet banget tau nggak?"


" Gw sudah mengabadikannya tadi lho."


" Mau lihat nggak? nih.. nih.." Niar menujukkan foto yang dia ambil tadi.


" NIAR...!"


" Hapus nggak!" Jani mengejar Niar yang lari kearah kamar Yoyo.


" Niaaaaaaarrrrrrrr awas kamu ya!" Mereka langsung kejar-kejaran layaknya anak kecil, alasan dari Jani tidak membuat Niar merasa iba ataupun percaya, dia malah makin gencar menggoda sahabatnya itu, karena dia melihat sendiri tadi bagaimana mereka tidur berpelukan dengan mesra, walau dia tahu betul bagaimana sifat Rinjani, dia bukan wanita yang mudah terkena bujuk rayuan setan, apalagi hanya untuk alasan kenik matan sesaat seperti itu, pasti ada alasan tersendiri kenapa mereka bisa tidur bersama, dia hanya sekedar menggoda Rinjani saja.


..." Memiliki sahabat sejati adalah salah satu hadiah terindah dalam hidup, bahkan sahabat terkadang lebih dekat atau bahkan lebih mengetahui siapa dirimu dari pada keluarga sendiri."...


..." Salah satu kualitas paling indah dari persahabatan sejati adalah untuk dipahami dan memahami."...


..." Persahabatan menandai kehidupan yang bahkan lebih dalam dari cinta."...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya?


__ADS_2