
...Happy Reading...
Dalam hubungan manusia, jarak tidak diukur dalam mil tetapi dalam kasih sayang. Dua orang bisa berada tepat di samping satu sama lain, namun terpisah bermil-mil.
Begitu juga sebaliknya dan entah mengapa Rinjani begitu ingin melihat wajah Samuel saat ini, padahal dulu dia sangat ingin pergi jauh dari sisinya, bahkan malas untuk sekedar menatap wajahnya.
Dengan senyum yang mengembang dan hati yang entah mengapa tiba-tiba berdenyut agak cepat, dia melangkah ke dalam perusahaan tempat dia magang, dengan membawa satu kantong plastik makanan yang dia beli direstoran depan kampusnya tadi.
" Mbak Nisa!" Teriak Jani saat sampai didepan ruangan Nisa sang sekertaris.
" Hei... Jan?" Nisa yang tadi sempat terkejut dan ingin marah karena menggangu konsentrasinya, kini langsung tersenyum saat tau bahwa Jani lah pelakunya.
" Kirain siapa?" Akhirnya hanya helaan nafasnya saja yang keluar, karena gadis didepannya itu adalah calon orang nomor dua yang harus dia hormati sekarang.
" Cari pak Sam ya?" Bahkan dia menampilkan senyuman termanis yang dia punya.
" Ada kok didalam, langsung masuk saja."
" Maaf yaa.. aku nggak bisa nganterin, banyak banget pekerjaan yang menumpuk dari kemarin." Ucap Nisa yang memang terlihat lelah karena banyaknya file yang menumpuk didepannya.
" Its okey mbak."
" Aku cuma mampir saja, bawain makan siang buat pak Sam, hehe.." Jani berdalih agar tidak terlalu terlihat kalau sebenarnya dia merindukan tunangannya itu.
" Good."
" Calon istri yang baik." Dia mengacungkan kedua jempolnya.
" Silahkan masuk saja nyonya Bramantyo, presdir pasti tambah cinta banget sama kamu!" Nisa malah sengaja meledek Jani yang langsung terlihat malu-malu itu.
" Apaan sih mbak."
" Kan aku jadi seneng gini, haha.." Jani langsung melengang dengan semangat memasuki ruangan Samuel yang memang tidak dikunci.
Ceklek!
Saat pintu terbuka Jani melihat Samuel menopang kepalanya dengan tangan kanannya dan tangan kiri memijit kepalanya, matanya pun terarah ke layar monitor di laptopnya dengan tatapan sayu.
" Pak Sam!" Jani langsung berlari mendekati Samuel dan meletakkan kantong plastik makanannya di sembarang tempat.
" Ada apa?"
" Apa yang terjadi?" Dia langsung terlihat panik.
" Apa pusing lagi kepalanya?" Jani langsung menangkupkan tangannya diwajah Samuel yang terlihat sedikit terkejut melihat Jani tiba-tiba datang tanpa dia suruh dan tanpa pemberitahuan sama sekali.
" Hmm... sedikit." Samuel menggangukkan kepalanya, karena pekerjaannya memang sangat banyak dari kemarin, cukup menguras tenaga dan pikirannya.
" Sini aku peluk." Jani dengan Percaya dirinya langsung duduk dipangkuan Samuel dan memeluk kepala Samuel ke dalam dekapannya.
" Mengigil nggak tadi?"
__ADS_1
" Atau pusing kepalanya?" Jani bahkan mengusap rambut Samuel dengan mesranya.
" Enggak." Samuel ingin tertawa namun dia juga menikmatinya, seolah rasa lelah karena pekerjaanya hilang seketika saat berada didalam pelukan Jani, aroma tubuh Jani begitu menenangkan bagi Samuel.
" Pantesan dari kemarin bapak nggak hubungin aku." Jani bahkan berbicara sambil memejamkan matanya dan menempelkan pipinya dikepala Samuel, seolah dia merasakan kehangatan disana.
" Lagi nggak enak badan ternyata ya?"
" Harusnya nggak usah berangkat kerja, istirahat saja dirumah."
" Kan ada asisten bapak juga kan?" Jani meregangkan pelukannya ingin melihat wajah Samuel.
" Nggak papa, cuma capek saja." Samuel mengeratkan pelukannya dipinggang Jani.
" Beneran?" Jani kembali mengusap rambut Samuel, dia benar-benar takut kalau penyakit Samuel kambuh dikantor.
" Nggak perlu aku panggilin pak Marvin ini?" Tanya Jani masih terlihat sangat khawatir.
" Iya."
" Beneran cuma capek aja sayang."
" Dari kemarin aku lembur, banyak proposal yang harus aku cek." Samuel menatap mata Jani, dia begitu bahagia melihat Jani seperti ini, dia merasa jadi pria yang dicintai kali ini.
" Aku kira kamu sudah melupakan aku kalau aku tidak menghubungi kamu duluan." Samuel menyandarkan kepalanya dibahu kursi sambil terus memeluk pinggang Jani dan menatap wajah cantiknya.
" Mana mungkin."
" Katanya kemarin sayang, masak hari ini sudah dilupain." Jani memonyongkan bi birnya, entah mengapa dia jadi terlihat manja sekali hari ini, membuat Samuel tidak menyurutkan senyuman diwajahnya, padahal sedari tadi jangan kan tersenyum, wajahnya saja sudah seperti monster karena banyak terjadi kesalahan dibeberapa laporan dari bawahannya.
" Emang iya."
" Dari kemarin sampai kapanpun, akan tetap seperti itu."
" Kamu saja yang enggak!" Ucap Samuel sengaja memancing perasaan Jani.
" Siapa bilang."
" Aku udah sayang tahu sama bapak." Ucap Jani malu-malu.
" Bohong?" Samuel pura-pura melengos, padahal dalam hatinya merasa bahagia tiada terkira, akhirnya kata-kata itu muncul dari bi bir Jani sendiri, bahkan tanpa dia paksa.
" Beneran pak." Jani langsung menangkupkan tangannya kembali ke wajah Samuel agar menatap dirinya.
" Buktinya apa?" Dia memasang wajah datarnya seolah tidak percaya dengan omongan calon istrinya itu.
" Buktinya apa ya?"
" Emmm----" Jani terlihat berpikir secara serius kali ini.
Cup
__ADS_1
Rinjani awalnya ragu, saat ingin menempelkan bi birnya ke bi bir milik Samuel, namun setelah menempel bahkan dia menambahkan sedikit lu matan dengan mesra.
Samuel bahkan membalasnya, namun hanya sekilas dan akhirnya memundurkan kepala Jani yang sebenarnya masih ngarep nambah lagi.
" Cukup."
" Aku sudah percaya." Samuel mengembangkan senyumannya sambil mengusap bi bir Jani yang sedikit basah karena ulahnya.
" Nanti kita lanjut lagi setelah rapatnya selesai." Ucap Samuel dengan santainya.
" HAH?" Jani memicingkan kedua matanya.
" Rapat?" Dia jadi segan karena takut menunda waktu rapat tunangannya itu.
" Bapak mau rapat sekarang?" Jani langsung meregangkan pelukannya.
" Sudah." Ucap Samuel dengan senyum yang terus mengembang.
Degh!
Tiba-tiba perasaan Jani jadi tidak enak, ada perasaan yang aneh saja pikirnya.
" Maksudnya sudah?" Jani menatap pias wajah Samuel yang memang terlihat santai itu.
" Tuuuuhh." Samuel menunjuk layar monitor laptop dengan dagunya sambil terus memandang wajah Rinjani.
Dan saat Jani menoleh ke layar monitor, terlihat sekitar sepuluh orang berpakaian rapi menggunakan jas serba hitam yang duduk mengelilingi satu meja sambil menatap kearah mereka dengan malu-malu, bahkan sebagian diantara mereka menutupi wajahnya dengan lembaran kertas ditangannya. Ternyata Samuel sedang mengadakan rapat Virtual dengan karyawan anak cabangnya, yang berada di Kalimantan sedari tadi.
" BAPAAAAAAAAAK..!" Jani langsung mencengkeram jas Samuel dan memalingkan wajahnya yang sudah merah merona seperti kepiting rebus, rasa malunya sudah tidak terbendung lagi, apalagi dia yang terlihat agresif sedari tadi karena mengira penyakit Samuel kambuh, ternyata dia hanya sedang berpikir dengan kondisi tubuh yang lelah saja.
" Kenapa nggak bilang kalau lagi meeting sih." Jani langsung beringsut ingin berdiri namun kedua tangan Samuel menahannya.
" Kamu kan nggak nanya?" Ucap Samuel dengan santainya.
" Mau tunggu disofa atau mau nemenin aku meeting disini saja?" Tanya Samuel dengan wajah yang tanpa merasa berdosa sama sekali.
" AKU MAU PULANG!" Teriak Jani dan langsung mengigit lengan Samuel agar bisa beringsut turun dari pangkuannya, rasa-rasanya dia ingin sekali menyelam di dasar lautan untuk menghilangkan rasa malunya yang entah sudah sebesar apa.
Ceklik
Samuel mengunci pintu kantornya dengan remot control miliknya.
" PAK BUKA NGGAK!" Teriak Jani yang sudah melesat didepan pintu yang sudah terkunci.
" ENGGAK!" Samuel seolah mendapat hiburan gratis siang ini, karena bisa melihat wajah tunangannya yang entah mengapa malah terlihat sangat menggemaskan kalau seperti ini.
" Tunggu disofa." Ucapnya kemudian.
" Sebentar lagi sudah mau selesai ini."
" Enak saja mau kabur begitu saja, setelah mengacaukan suasana hatiku hari ini." Samuel langsung kembali melanjutkan meeting virtualnya tanpa memperdulikan Jani yang sudah merosot duduk dilantai bersandarkan pintu ruangannya yang terkunci rapat, dia hanya bisa menyembunyikan wajahnya dikedua kakinya, bahkan dia tidak sanggup membayangkan kelakuannya yang terlalu berani tadi, apalagi saat dia berinisiatif untuk menci um Samuel terlebih dulu, bahkan tidak tanggung-tanggung tempatnya, langsung pas di intinya, yaitu bi bir sek si milik pria yang sudah resmi menyandang gelar sebagai Tunangannya itu.
__ADS_1
... "Ketika dua hati dimaksudkan untuk satu sama lain, tidak ada jarak yang terlalu jauh, tidak ada waktu yang terlalu lama dan tidak ada cinta lain yang dapat menghancurkan mereka."...